NovelToon NovelToon
Najin

Najin

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri / Penyelamat
Popularitas:323
Nilai: 5
Nama Author: Van pen.

​Pada tahun 1940-an di Jayakarta, Bella Anastasya, seorang pemburu jejak (tracker) tangguh, bertaruh nyawa demi mencari ibunya yang hilang secara misterius selama sepuluh tahun.

​Demi melacak petunjuk, Bella terpaksa bekerja sama dengan Gilang Fahrezi, pengusaha kaya pemilik jaringan informan terbesar di kota. Penelusuran berdarah ini membawa mereka menyusup ke fasilitas militer rahasia, tempat eksperimen parasit ilegal yang mengubah manusia menjadi monster mengerikan. Di sana, Bella harus berjuang melawan ancaman monster sekaligus menghadapi kenyataan pahit tentang takdir sang ibu.

akankah Bella menemukan sang Ibu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Anak buah Ichikawa bergegas melapor kepada bosnya mengenai pergerakan Gilang. Saat itu, Gilang tengah sibuk bermain mahjong bersama Tuan Wang yang berasal dari Tiongkok. Di balik penampilannya sebagai pengusaha biasa, Tuan Wang sebenarnya adalah seorang penjual senjata gelap dan amunisi terselubung.

Gilang duduk santai sambil merokok bersama tiga orang lainnya di meja permainan. Ia menghembuskan asap rokoknya perlahan ke udara, lalu menyunggingkan senyum tipis.

“Aku menang,” ucap Tuan Wang riang.

Pria Tiongkok itu mengumpulkan uang milik Gilang yang dipasang di meja taruhan. Saat membalikkan tumpukan uang atas kemenangannya itu, tampak secarik kertas terselip di sana bertuliskan: Kembang api, yang tak lain adalah kode pesanan amunisi dari Gilang.

Setelah permainan usai, Gilang melangkah keluar dan menaiki sebuah becak. Dari kejauhan, bawahan Ichikawa yang terus membuntutinya langsung melaporkan bahwa Gilang hanya berkeliling kota tanpa tujuan jelas selama tiga puluh menit.

Dia berkeliling tanpa tujuan? pikir Ichikawa heran.

Sementara itu, seorang mata-mata suruhan Ichikawa mengintip dari luar jendela sebuah toko. Di atas toko tersebut terpampang papan nama bertuliskan: Toko Penjahit Italia. Padahal, pemilik toko baju ini sebenarnya adalah seorang informan rahasia. Di dalam, Gilang tampak sedang diukur tubuhnya oleh sang pemilik toko.

“Datang dari Tokyo bulan lalu, wol murni buatan Amerika. Mungkin kau lebih suka kain pilihan yang kedua,” ujar pemilik toko menyarankan.

Gilang membalikkan kain kedua yang disodorkan. Ia sengaja meletakkan kain tersebut di atas kursi sedemikian rupa agar menghalangi pandangan mata-mata di luar jendela. Di balik kain itu, Gilang melihat sebuah kertas kecil bergambar seorang wanita berliontin daun semanggi, lengkap dengan tulisan: Bar Cahaya Bulan.

“Itu semalam dikirim dari Bar Cahaya Bulan,” bisik pemilik toko pelan.

Gilang sedikit mengernyitkan dahinya, lalu tersenyum samar.

Beberapa menit kemudian, Gilang sudah berada di Bar Cahaya Bulan. Ia menunjukkan kertas bergambar wanita berliontin yang didapatnya dari toko penjahit Italia tadi kepada pemilik bar.

“Siapa dia?” tanya Gilang penasaran.

“Entahlah,” sahut wanita pemilik bar santai.

Wanita anggun bermata tajam itu mengenakan gaun berwarna hijau. Sambil memegang batang rokok yang menyala, ia duduk santai di meja bar, sementara Gilang berdiri di sampingnya.

“Aku tidak tahu siapa wanita di dalam gambar ini. Tapi aku tahu siapa yang menggambarnya. Dia orang Jepang,” lanjut pemilik bar.

“Namanya…”

“Aku yakin namanya Sachimoto,” potongnya yakin.

Gilang terdiam sejenak. Tanpa ragu, ia merogoh sakunya lalu meletakkan segepok uang tunai di atas meja bar.

“Ayo ceritakan lagi. Dia kerja untuk siapa? Dan tinggal di mana?” cecar Gilang bertubi-tubi.

Pemilik bar itu menyesap rokoknya perlahan. “Kau suka makanan Tiongkok? Aku tunggu malam ini jam delapan di Sahaeru.”

Gilang sempat salah mengira dan berpikir wanita itu sedang menggodanya untuk makan malam bersama.

“Maaf, tapi malam ini aku tidak berniat untuk itu,” tolak Gilang dingin.

Pemilik bar terkekeh geli melihat tanggapan Gilang. “Bukan denganku, tapi Sachimoto. Aku ada janji bertemu dengan Sachimoto di Sahaeru malam ini.”

“Malam ini?” tanya Gilang memastikan, matanya membelalak kecil.

“Jam delapan. Jangan terlambat, ya,” ucap wanita itu mengingatkan.

Wanita itu lantas menyapu segepok uang pemberian Gilang dari meja bar, lalu meneguk gelas wine-nya santai. Gilang mengerutkan alisnya, menyadari bahwa waktunya kian sempit.

Sementara itu, di dalam ruang alat kebersihan Rumah Sakit Jayakarta, Rekki membentangkan kain putih bergambar denah rumah sakit di atas meja usang. Dengan jemari bergetar, ia menunjukkan setiap detail ruangan bawah tanah yang dipenuhi pos-pos penjagaan tentara. Ia berharap, setelah berhasil menyelamatkan Emma, mereka semua bisa keluar hidup-hidup dari tempat terkutuk itu.

Arman menyarankan agar pemuda botak ini segera kembali ke bangsalnya sebelum dicurigai, namun Rekki menolak keras. Sorot matanya memancarkan ketakutan luar biasa.

Bella menatap Rekki penuh simpati, sementara Arman dan ayah Bella memandanginya dengan cemas.

“Sementara ini kita tunggu di posisi masing-masing hingga ada isyarat dari luar. Kau juga, kembalilah ke pasukanmu,” Arman kembali memberikan saran.

Rekki menoleh ke arah Arman dengan raut wajah panik, lalu menggelengkan kepalanya kuat-kuat. “Tidak mau! Aku tidak mau kembali ke sana!”

“Jika mereka menggeledah bangsal untuk mencarimu, nanti bisa celaka. Kedua orang ini mungkin saja ketahuan, lalu seluruh operasi kita berakhir!” ucap Arman memberikan nasihat rasional.

Rekki membelalakkan mata. Matanya mendadak berkaca-kaca, lalu ia menundukkan kepala dalam-dalam. Sebenarnya, ia sangat trauma untuk kembali ke sana karena para tentara sering memperlakukannya secara tidak manusiawi.

“Kita semua harus bisa keluar,” gumam Bella lembut, menatap Rekki dengan yakin. Rekki perlahan mengangkat wajahnya menatap Bella. “Aku yakin kita bisa,” tambah Bella menguatkan.

Arman menghela napas panjang. “Kalau begitu, sampai nanti,” ucapnya seraya berjalan mendekati pintu hendak keluar.

“Tolong…” gumam Rekki sangat pelan.

Arman menghentikan langkahnya dan menoleh kembali ke arah Rekki.

“Jangan lupakan aku,” bisik Rekki seraya menoleh lagi ke arah Bella. Ia menatap gadis itu penuh harap, lalu kembali menunduk.

Bella dan ayahnya menatap Rekki tajam, lalu mengangguk mantap memberi kepastian.

Rekki mengambil kembali senapannya, lalu melangkah keluar mendorong gerobak bersama Arman sang petugas kebersihan. Mereka berlalu menyusuri lorong yang sepi.

Sepeninggal Rekki dan Arman, Bella dan ayahnya kembali berfokus menatap denah di atas meja. Namun, mendadak Bella menyadari sesuatu dari tata letak bangunan tersebut. Denah itu terasa tidak asing, sangat mirip dengan denah fasilitas yang pernah mereka temui di Bandung.

“Apakah Ayah menyadarinya? Tata letak ini…” tanya Bella pelan, suaranya tercekat.

“Iya… mirip dengan laboratorium bawah tanah di Bandung,” ujar sang ayah, mengiyakan kecurigaan putrinya.

“Bukankah ini patut untuk dicoba?” tanya Bella lagi.

Pengalaman kelam di Bandung membayang di benak mereka. Bella makin yakin bahwa pihak Jepang juga sedang menjalankan eksperimen manusia yang sama di rumah sakit ini. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata yang sangat serius.

“Apa yang terjadi di laboratorium bawah tanah itu… Hal yang sangat mengerikan yang dialami orang-orang di sana…” gumam Bella bergetar.

“Bella,” panggil sang ayah lembut, menangkap raut kecemasan yang makin dalam dari wajah putrinya.

“Jika hal yang sama terjadi di sini, artinya kali ini kita harus berhasil, bukan?” ucap Bella. Matanya mulai menggenang oleh air mata yang siap tumpah.

Ayah Bella terdiam sejenak, menimbang risiko besar di depan mata. Ia memegang pundak putri cantiknya itu seraya menyarankan agar Bella tetap tenang dan menunggu isyarat sinyal dari luar. Bella hanya bisa termenung, membiarkan dadanya bergemuruh oleh rasa cemas dan tekad yang membara.

1
Tri Rahayu Amoorea
jos
Coco: Terima kasih kakak 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!