Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemukiman Setan
Di dalam hutan belantara
"Lihat siapa yang kembali",
"Dulu dia adalah primadona di hutan ini',
Lentik pulang ke tempat asalnya.
Di pedalaman hutan belantara rumah orang-orang dan setan hidup bersama.
"Kontrak mu sudah habis dengan manusia laknat itu",
"Suaminya sudah mati",
Lentik disambut oleh para suwanggi yang sama tuanya.
Di dalam gua itu tidak ada aturan.
Malam pertamanya pulang kandang.
Lentik dikerumuni suwanggi suwanggi sampai pagi.
"Seharusnya salah satu dari kami yang mendapatkan kamu Lentik",
Kuyang yang sudah berumur itu hanya bisa pasrah.
Dia memang sedang berkorban.
Pagi harinya dengan langkah yang mengangkang.
Lentik berkumpul dengan para manusia kuyang.
"Selamat datang kembali",
"Bagaimana semalam?",
Lentik hanya tersenyum menanggapi.
"Apa kabarnya tempat ini sekarang?",
"Apa yang terjadi setelah malam itu?",
Yang dimaksud oleh kuyang yang dituakan itu adalah peristiwa ketika para penjaga menyerang mereka.
"Kami menyembuhkan diri",
"Membakar yang benar-benar sudah mati",
"Membangkitkan yang masih bisa dihidupkan kembali",
"Berapa jumlah kita yang tersisa?",
"Semuanya tinggal puluhan",
"Apakah termasuk para suwanggi?",
"Termasuk mereka",
"Termasuk juga yang masih kecil",
"Apa rencana mereka ke depannya?",
"Mereka akan membunuh anak-anak mu untuk balas dendam",
"Matinya Prawiro menghapus rasa sungkan",
"Termasuk anak perempuan mu yang kamu kirim ke luar pulau",
"Bagaimana kalian bisa tahu?",
"Tidak semua manusia di luar sana dapat dipercaya",
"Lentik... ",
"Pemimpin Suwanggi memanggilmu",
"Mau apa tua bangka itu memanggil ku pagi-pagi?",
"Paling dia mau kamu melayaninya",
"Seluruh penghuni tempat ini tidak rela dan cemburu ketika dulu kamu kawin dengan seorang manusia penjaga",
Kampung dalam
Rumah Unang
Unang terbangun di tengah malam.
Ia mendengar suara gaduh dari belakang rumah.
Unang membawa tongkat untuk memastikan bunyi itu bukan sesuatu yang berbahaya.
"Mau apa kamu di sini?",
"Pergi sana",
Di hadapan Unang, di bawah lindungan bayang-bayang kegelapan.
Sosok manusia itu tidak terlihat dengan jelas seperti apa rupanya.
Tapi Unang paham betul siapa dia.
"Tidak lama lagi kami akan membuat perhitungan dengan mu",
"Dan juga seluruh keluarga mu",
"Aku sudah tahu",
"Pergilah sana aku mau tidur",
Suwanggi itu terbang tinggi meninggalkan kampung dalam.
Yang barusan itu bukanlah sekedar ancaman omong kosong belaka.
Mereka yang masih tinggal sudah diperingatkan oleh Ibu dan juga lewat surat wasiat.
Unang sebagai anak tertua sedang mempersiapkan segalanya.
Rencana yang terbaik untuk mengahadapi kemungkinan yang terburuk.
Ia yang akan memimpin jika waktunya tiba.
Sabdo juga tengah sibuk dengan tugasnya.
Begitu juga dengan Karyo yang harus memikul beban yang paling berat.
Kontrakan Karyo
"Mas Karyo mau pergi kemana sih?",
Karyo diam-diam sudah mewujudkan mimpinya.
Menikah dengan Bunga, pramuria di rumah esek-esek penghuni kamar nomor lima.
Walaupun nikahnya baru sampai siri.
"Aku ada perlu sebentar",
"Perlu apa mas?",
"Ada perempuan lain ya?",
"Mana mungkin sayang",
Bunga sifatnya cemburu buta.
"Aku tidak akan pernah sanggup menduakan cintamu barang satu kedipan mata-mata",
"Janji ya tidak nakal di luar",
"Aku Karyo bin Prawiro berjanji tidak akan pernah nakal dimana pun sayang",
"Sumpahku hanya demi Allah",
"Memangnya mas Karyo ada perlu apa?",
"Aku diminta untuk mengambil barang",
"Barang apa?",
"Barang penting",
"Sini aku kasih tahu pelan-pelan",
"Jangan sampai ada orang lain yang tahu",
"Bisa bahaya",
"Ah... Mas Karyo",
Bukannya keluar kata-kata rahasia dari bibirnya.
Malah lidah berludah yang menjilat.
Basah pun kuping kiri Bunga.