Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.
Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.
"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."
Lili kira bercanda.
Besoknya lamaran beneran datang.
Kontrak setahun 500 juta.
Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.
Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 - PAPA MAU BICARA DIKANTOR
Jam lima pagi.
Alphard hitam yang kemarin meninggalkan debu merah di halaman rumah biru kini harus mengangkut empat orang, satu kresek plastik bening, dan satu sapu lidi.
Aku duduk di kursi depan dengan bando biru seharga Rp18.000. Di belakang, Mama mengenakan kebaya biru pinjaman dari Bu RT, sementara Ibu memakai kebaya biru tua miliknya sendiri. Di pangkuan Ibu ada kresek berisi akta nikah KUA Balikpapan Timur, fotokopi KTP, dan foto kami berempat saat mengecat rumah.
Ujung sapu lidi menyembul dari kresek itu.
“Bu, kenapa sapu lidinya benar-benar dibawa?” tanyaku.
Ibu menjawab serius, “Buat jaga-jaga.”
Mama ikut menimpali, “Siapa tahu kantor Papa Damian kotor.”
Aku menahan tawa. Damian yang menyetir hanya menggeleng, meskipun sudut bibirnya terangkat sedikit.
Sejujurnya, aku gugup sekali. Pesan Papa semalam masih terngiang-ngiang di kepala.
Besok kembali ke Jakarta. Bawa Lili. Papa mau bicara di kantor. Ini terakhir Papa menghubungi kamu.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya tahu bahwa untuk pertama kalinya, aku akan duduk berhadapan dengan ayah mertuaku yang selama ini lebih sering menganggapku sebagai masalah daripada keluarga.
Pukul tujuh lewat, kami tiba di gedung kantor Papa.
Gedung itu tinggi, dinding kacanya memantulkan cahaya matahari. Kami turun dari mobil dengan penampilan yang jauh berbeda dari orang-orang berdasi yang lalu-lalang di lobi.
Satpam sempat melirik sapu lidi Ibu.
“Bawa apa, Bu?”
“Sapu,” jawab Ibu polos.
Aku buru-buru menarik tangan Ibu sebelum beliau menjelaskan fungsi sapu itu lebih panjang.
Kami naik ke lantai dua belas. Begitu pintu lift terbuka, udara dingin langsung menyambut. Di ruang meeting, Papa sudah duduk di ujung meja panjang. Dua pengacara yang kemarin datang ke rumah biru berada di sampingnya.
Rina tidak terlihat.
“Silakan duduk,” kata Papa singkat.
Aku duduk di samping Damian. Mama dan Ibu mengambil kursi di sebelahku. Kresek bening diletakkan di atas meja mengilap.
Papa meliriknya.
“Itu apa?”
Ibu menjawab tenang, “Bukti rumah biru kami benar-benar ada, Pak.”
Aku menutup mulut supaya tidak tertawa.
Papa membuka map cokelatnya.
“Damian, Papa sudah memeriksa akta nikah kalian. Pernikahan ini tercatat resmi. Papa tidak akan memperdebatkan statusnya lagi.”
Damian mengangguk.
“Terima kasih, Pa.”
“Tapi Papa mau tahu soal kontrak lima ratus juta itu. Kamu menggunakan uang perusahaan untuk menikahi anak magang?”
Damian menarik napas panjang.
“Itu uang pribadi Damian, bukan uang perusahaan. Damian membuat kontrak itu karena saat itu Damian ingin menghentikan tekanan soal perjodohan dengan Rina.”
Papa menatapku.
“Lalu kamu, Lili? Kamu menerima lima ratus juta karena membutuhkan uang?”
Aku tidak menghindar dari tatapannya.
“Iya, Pak.”
Damian meremas tanganku di bawah meja, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja.
“Waktu itu kos saya menunggak, UKT harus dibayar, dan Ibu saya masih berjualan pisang di pasar. Saya pikir, setelah kontraknya selesai, saya bisa membantu Ibu dan kembali menjalani hidup saya sendiri.”
Aku berhenti sebentar, mengingat bagaimana semuanya berubah.
“Tapi ternyata, selama tinggal bersama Damian, saya mengenal dia lebih jauh. Saya melihat sisi dirinya yang tidak semua orang tahu. Saya tahu dia bisa keras kepala, menyebalkan, dan kadang terlalu serius.”
Damian menoleh kepadaku.
“Bagian menyebalkan harus disebut juga?”
Aku mencubit tangannya pelan.
“Harus.”
Mama terkikik. Bahkan salah satu pengacara tersenyum tipis.
Aku kembali menatap Papa.
“Sekarang saya tidak tinggal bersama Damian karena uang lima ratus juta itu. Saya tinggal karena saya mencintainya dan ingin membangun kehidupan bersamanya.”
Ruangan mendadak sunyi.
Mama akhirnya berbicara.
“Pak, selama lima tahun setelah kita bercerai, kamu jarang menghubungi Damian. Saya tahu dia sering menunggu telepon darimu. Setiap ponselnya berbunyi, dia berharap itu kamu.”
Papa mengalihkan pandangan.
“Jangan membawa masalah rumah tangga lama kita.”
“Saya tidak sedang membicarakan kita. Saya sedang membicarakan anak kita.”
Mama duduk lebih tegak.
“Kamu boleh tidak menyukai pilihan Damian, tetapi kamu tidak bisa terus mengatur hidupnya. Saya sudah merestui Lili. Saya ingin anak saya bahagia.”
Papa menatap Mama cukup lama.
“Mami—”
“Jangan panggil saya Mami. Kita sudah bercerai lima tahun. Sekarang saya Mama Lili juga.”
Aku hampir tersedak menahan tawa.
Ibu kemudian membuka kresek beningnya. Beliau mengeluarkan foto kami berempat di depan rumah biru. Dalam foto itu, tanganku belepotan cat, Damian membawa kaleng biru, sementara Mama dan Ibu tersenyum di samping kami.
Ibu meletakkan foto itu di tengah meja.
“Pak, saya tidak paham urusan perusahaan. Saya hanya ibu yang membesarkan Lili dengan berjualan pisang.”
Ibu menunjuk foto tersebut.
“Tapi saya tahu siapa yang datang ketika rumah kami perlu diperbaiki. Damian tidak datang membawa ancaman. Dia datang membawa cat, memperbaiki atap, dan membantu kami.”
Suara Ibu sedikit bergetar.
“Malam kemarin, hujan turun. Atap masih bocor sedikit. Kami mengambil ember dan tidur bersama di tikar. Tidak ada yang mengeluh. Mereka justru tertawa bersama saya.”
Ibu menatap Papa.
“Rumah kami memang kecil. Tapi di sana, anak saya merasa disayangi. Bukankah itu yang seharusnya diinginkan orang tua?”
Papa tidak langsung menjawab.
Salah satu pengacara membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah memeriksa dokumen, pengacara itu berkata, “Pak, pernikahan mereka sah dan tercatat. Mengenai rumah, kita juga perlu memastikan kepemilikannya sebelum menyimpulkan siapa yang memiliki hak atas properti tersebut.”
Papa menutup mapnya.
BRAK!
Aku tersentak dan spontan menggenggam tangan Damian lebih erat.
“Damian, kamu benar-benar memilih perempuan ini daripada Papa?”
Damian bangkit dari kursinya. Dia berdiri di sampingku, lalu merangkul bahuku.
“Damian tidak sedang memilih antara Papa dan Lili. Damian hanya ingin menentukan sendiri siapa yang akan menjadi istrinya.”
Matanya tampak merah.
“Damian sudah lama menunggu Papa hadir dalam hidup Damian. Tapi Damian tidak bisa terus menunggu persetujuan Papa untuk bahagia.”
Papa terdiam.
Aku melepas bando biruku, merapikannya, lalu meletakkannya di atas meja.
“Pak, bando ini harganya Rp18.000. Damian membelikannya untuk saya. Bagi orang lain, mungkin ini barang murah. Tapi bagi saya, bando ini berharga karena mengingatkan saya bahwa ada seseorang yang memperhatikan hal-hal kecil tentang saya.”
Aku menatap Papa.
“Rumah biru kami juga begitu. Rumah itu tidak mewah, tetapi penuh kenangan. Saya tidak meminta Papa menyukai saya. Saya hanya meminta Papa menghormati pilihan Damian.”
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara. Hanya suara pendingin ruangan yang terdengar.
Akhirnya Papa berdiri.
“Saya belum bisa merestui pernikahan ini hari ini.”
Dadaku terasa berat.
Namun, Papa melanjutkan, “Tapi saya tidak akan merobohkan rumah itu. Pulanglah ke Balikpapan. Perbaiki atap yang bocor. Jangan sampai kalian terus menampung air hujan dengan ember.”
Aku mengangkat kepala.
Papa menunjuk Damian.
“Dan lain kali, kalau datang ke kantor, pakai kemeja yang rapi.”
Damian mengangguk kecil.
“Baik, Pa.”
Papa melangkah menuju pintu, lalu berhenti.
“Oh, satu lagi. Singkirkan tiga test pack di atas kulkas itu. Cucu kalian belum tentu datang secepat yang Mama kalian harapkan.”
Aku membeku.
Mama langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
“Papa tahu dari mana?” bisikku kepada Damian.
Damian berbisik balik, “Aku yakin Mama pernah menceritakannya.”
Pintu ruang meeting akhirnya tertutup.
Kami berempat masih duduk di sana. Di tengah meja mengilap tergeletak bando biru, foto rumah kami, dan kresek bening dengan sapu lidi yang ujungnya masih menyembul.
Mama mengambil bando itu, lalu memasangkannya kembali di kepalaku.
“Nah, sekarang sudah lurus.”
Ibu mengangkat sapu lidinya.
“Ayo pulang. Debu merah di rumah belum disapu.”
Aku tertawa, disusul Damian yang sejak tadi berusaha menahan senyum.
Ketika kami berjalan menuju lift, Damian menggenggam tanganku.
“Terima kasih sudah berani bicara tadi.”
Aku menatapnya.
“Kita kan keluarga. Kalau kamu menghadapi sesuatu, aku juga ikut menghadapi.”
Dia mengecup keningku singkat.
Untuk pertama kalinya, aku merasa kami benar-benar datang sebagai keluarga, bukan sebagai CEO dan mantan istri kontraknya.
Kami memang belum mendapatkan restu sepenuhnya. Masih ada masalah yang mungkin menunggu di depan.
Namun, kami sudah menyampaikan kebenaran tanpa harus mengorbankan cinta kami.
Dan ketika lift mulai turun, aku tersenyum melihat bando biru di pantulan pintu logam.
Tetapi hari itu, benda sederhana tersebut mengingatkanku bahwa kebahagiaan tidak selalu bisa diukur dengan uang lima ratus juta.
Kadang, kebahagiaan hadir ketika seseorang akhirnya berani memilih hidupnya sendiri.
Dan Damian sudah memilih.
Dia memilih aku.