Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22: Malam yang panjang
Lampu-lampu di lorong rumah sakit perlahan diredupkan, menandakan waktu bertandang telah lama usai dan malam telah mencapai puncaknya.
Di ruang rawat inap VIP itu, denting jarum jam dinding berdetak konstan, mengisi keheningan yang terasa begitu menghimpit.
Akibat kondisi Moana yang masih harus berada dalam pengawasan ketat pasca-tindakan lima jahitan di keningnya, Yoga memutuskan bahwa mereka semua terpaksa bermalam di rumah sakit.
Tidak ada yang pulang ke rumah. Kebekuan dan amarah yang meledak tadi sore pun kini mengendap menjadi keheningan yang jauh lebih mencekam.
Di dalam kamar VIP yang cukup luas itu, Moana tertidur lelap di atas ranjang bangsal. Wajah polosnya terlihat pucat di bawah balutan perban putih. Tangan mungilnya yang terbebas dari infus sesekali bergerak halus dalam tidur, seakan mencari-cari kehangatan.
Ayu tak pernah beranjak dari sisi ranjang. Ia duduk di kursi kayu kecil, melipat kedua tangannya di tepi kasur, dan menyandarkan keningnya di sana.
Meskipun matanya terasa amat berat dan badannya pegal luar biasa, Ayu menolak untuk tertidur di sofa empuk yang tersedia. Setiap kali Moana bergumam pelan atau mengerang kecil, Ayu seketika tersentak bangun untuk mengusap kening putri bungsunya dan membisikkan doa.
Sementara Yoga duduk di ujung sofa panjang, memperhatikan gerak-gerik istrinya dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah dan keharuan. Pria itu pun sudah berkali-kali membujuk Ayu untuk beristirahat.
"Ayu... rebahkan badanmu di sofa," bisik Yoga selembut mungkin, seraya melangkah mendekat dan meletakkan telapak tangannya di bahu Ayu. "Kamu sudah terjaga seharian. Biar aku yang menjaga Moana malam ini."
Ayu mendongak pelan, lalu mengulas senyum tipis yang tampak begitu lelah. Matanya yang sembab dan memerah memancarkan kepasrahan yang mendalam.
"Tidak apa-apa, Mas," balas Ayu lirih, sembari mengusap punggung tangan suaminya. "Saya tidak bisa tidur kalau belum memastikan Moana benar-benar tidak merasa kesakitan lagi. Mas saja yang istirahat, Mas pasti capek sekali menyetir dan mengurus administrasi tadi."
"Bagaimana aku bisa tidur nyenyak kalau melihatmu menyiksa diri seperti ini?" desah Yoga, lalu mengusap lembut pipi Ayu yang terasa dingin. "Kata-kata Kenzo dan Lea tadi... tolong jangan terus kamu masukkan ke dalam hati, Ayu. Mereka hanya—"
"Mereka tidak salah, Mas," potong Ayu cepat namun lembut. Ia menatap lurus ke dalam mata Yoga. "Segala hal yang terjadi pada Moana sore tadi adalah karena kelalaian saya. Kalau saja saya lebih waspada, Moana tidak akan berada di atas ranjang ini. Rasa benci Kenzo dan Lea adalah hal yang sangat wajar... Saya yang bersalah."
Yoga memejamkan matanya rapat-rapat, seraya menghembuskan napas yang berat. Ketulusan Ayu yang selalu menyalahkan diri sendiri justru makin mengiris ulu hatinya.
Rasa hormat dan cintanya pada wanita muda ini kian dalam, namun di saat yang sama, rasa frustrasinya terhadap sikap keras kedua anak remajanya mencapai titik jenuh.
Sementara itu, di lorong luar kamar rawat inap, suasana terasa jauh lebih dingin.
Kenzo dan Lea menolak untuk tidur di sofa kamar VIP bersama Ayu. Keduanya memilih bertahan di ruang tunggu lorong luar, duduk membisu di atas kursi besi yang keras dan dingin. Selembar selimut tipis yang dibawakan oleh perawat hanya menutupi kaki Lea.
Lea menyandarkan kepalanya pada bahu Kenzo. Matanya yang bengkak menatap kosong ke arah pintu putih kamar rawat Moana yang tertutup rapat.
"Bang..." panggil Lea dengan suara serak khas orang yang habis menangis lama.
"Kenapa?" sahut Kenzo datar, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya yang redup.
"Abang yakin Moana gak bakal kenapa-kenapa?" bisik Lea ragu. "Aku takut kalau nanti Moana bangun terus kepalanya pusing lagi... Aku benci banget liat perban di jidatnya."
Kenzo menghentikan usapan jemarinya di layar ponsel. Ia menghela napas panjang, dan merangkul bahu adiknya lebih erat untuk mengusir dingin.
"Dokter udah bilang Moana aman," ujar Kenzo. "Luka di jidatnya bakal sembuh. Tapi yang gak boleh kita biarkan itu alasan Papa buat terus-terusan ngebela wanita itu."
Lea menegakkan posisinya, dan menatap wajah kakaknya dari samping. "Jadi Abang beneran mau jadiin kejadian ini buat nekan Papa?"
Kenzo berpaling dan menatap adiknya, matanya menyipit penuh tekad yang dingin. "Lu liat sendiri kan, Lea? Waktu Papa bicara sama kita di bawah pohon pinus tadi siang, Papa udah mulai kena cuci otak. Papa minta kita buka hati buat dia, minta kita terima dia sebagai ibu tiri. Kalau kecelakaan Moana ini gak kita pakai buat menyadarkan Papa, wanita itu bakal makin melunjak di rumah kita."
"Tapi Papa tadi marah banget sama kita, Bang..." cicit Lea pelan, ada sedikit rasa takut memercik di hatinya saat mengingat bentakan ayahnya di lorong IGD tadi.
"Papa marah karena Papa lagi panik," balas Kenzo. "Besok, kalau kita pulang ke rumah, kita bakal tunjukkan sama Papa kalau rumah itu gak akan pernah damai selama ada dia. Biar Papa tau, kehadiran dia di keluarga kita cuma membawa sial dan bencana."
Lea membisu. Kata-kata kakaknya meresap mendalam ke dalam pikirannya. Kebencian yang sudah mendarah daging membuat Lea membutakan matanya dari kenyataan bahwa Ayu lah yang paling telaten merawat Moana malam ini.
______
Sekitar pukul tiga dini hari, keheningan malam mendadak terganggu oleh rintihan kecil dari dalam kamar VIP.
"Ibu... s-sakit..." cicit Moana pelan dalam tidurnya. Gadis kecil itu mulai meronta halus, jemari mungilnya memegangi perban di keningnya.
Seketika itu juga Ayu terbangun dari posisinya. "Moana? Sayang, jangan dipegang lukanya!"
Ayu dengan sigap menahan tangan mungil Moana selembut mungkin. Wajah Moana meringis kesakitan, matanya terpejam rapat dengan peluh dingin menetes di pelipisnya. Pengaruh obat pereda nyeri sepertinya mulai menipis.
Yoga yang tertidur ayam di sofa langsung meloncat berdiri. "Kenapa, Ayu?!"
"Mas, Moana sepertinya kesakitan lagi! Tolong panggilkan perawat, Mas!" seru Ayu panik namun tetap berusaha tenang mengelus dada Moana.
Yoga bergegas menerobos pintu kamar menuju stasiun perawat di lorong. Pintu yang terbuka lebar dan suara panik dari dalam kamar seketika membuat Kenzo dan Lea yang tertidur di kursi tunggu tersentak kaget.
"Moana?" gumam Lea panik, langsung berdiri dan berlari masuk ke dalam kamar tanpa permisi, dan disusul oleh Kenzo.
Di dalam kamar, mereka melihat Ayu sedang membungkuk di atas tubuh Moana. Ayu membisikkan bacaan toyibah dan doa-doa menenangkan di telinga Moana, sambil mengusap lembut kepala anak itu dengan air mata yang menetes perlahan.
"Moana anak pinter... anak kuat... Ada Ibu di sini, Sayang. Sebentar lagi susternya datang ya..." bisik Ayu merdu, seraya menepuk-nepuk pelan dada Moana.
Namun, begitu Lea melihat Ayu memeluk adiknya, impuls emosinya kembali meledak tanpa kendali.
"Lepasin Moana!" jerit Lea, sambil melangkah maju dan berusaha menarik lengan Ayu secara kasar. "Tante gak usah sentuh-sentuh adik aku lagi! Gara-gara Tante dia kesakitan begini!"
"Lea, jangan!" tahan Kenzo yang menyadari kondisi Moana yang sedang meringis.
Ayu tidak membalas dorongan Lea. Ia hanya menatap Lea dengan pandangan mata yang sangat teduh, penuh duka, namun memancarkan ketegasan seorang ibu yang sedang menjaga anaknya.
"Lea... kalau mau marah sama Ibu, nanti saja setelah perawat menangani Moana," tutur Ayu dengan suara yang sangat tenang namun bergetar. "Saat ini Moana butuh ketenangan, bukan teriakanmu."
Lea tertegun seketika. Untuk pertama kalinya, kalimat Ayu yang tenang namun sarat akan wibawa itu membuat bibir Lea terkunci.
Senyuman atau amarah tidak ada di wajah Ayu, yang ada hanya raut seorang wanita yang tulus mengkhawatirkan keselamatan anak bungsunya.
Tak lama kemudian, Yoga kembali bersama seorang dokter piket dan perawat. Mereka dengan cepat memeriksa infus dan memberikan suntikan analgesik tambahan ke dalam selang infus Moana.
Hanya dalam waktu beberapa menit, rintihan Moana perlahan surut. Wajah mungilnya kembali rileks, dan napasnya kembali teratur masuk ke dalam tidur lelapnya.
Dokter mengangguk pelan pada Yoga dan Ayu. "Pasien sudah tenang kembali. Analgesiknya sudah bekerja. Tolong usahakan ruangan tetap tenang ya, Pak, Bu."
"Terima kasih, Dokter," ucap Yoga lega.
Setelah dokter dan perawat berlalu, suasana kamar kembali hening. Kenzo berdiri di sudut ruangan dekat pintu, menatap Ayu yang kembali berlutut di samping ranjang, sambil merapikan selimut Moana tanpa memedulikan badannya sendiri yang sudah gemetar karena kelelahan.
Yoga lalu menatap kedua anak remajanya yang berdiri kaku di dekat pintu.
"Kalian lihat sendiri kan?" bisik Yoga dengan suara yang sangat dingin dan dalam pada Kenzo dan Lea. "Ibu kalian tidak pernah tidur semalaman cuma buat memastikan Moana aman. Kalian boleh membenci keadaan ini, tapi jangan pernah butakan mata kalian dari ketulusan seseorang."
Kenzo tidak menjawab. Ia hanya menarik tangan Lea dengan pelan. "Ayo keluar lagi."
Bersambung...