NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Pesantren dan Janji di Bawah Langit Senja

Cahaya matahari yang hangat memantul di atas permukaan air kolam ikan hias di halaman belakang istana, menciptakan pendar berkilau yang menenangkan. Dua hari telah berlalu sejak malam mencekam ketika istana perbukitan itu diserang oleh kelompok bayaran The Black Serpent. Kini, suasana kembali damai, diisi oleh tawa renyah dan obrolan ringan antara Kenzie Al-Ghazali dan Aisyah Humaira yang sedang menikmati teh sore di gazebo kaca.

Meskipun ancaman dari Valeria telah berhasil diredam setelah Vito dan pasukannya menyerahkan seluruh bukti keterlibatan sindikat internasional itu ke jalur hukum berstandar tinggi, Kenzie tetap tidak mau menurunkan kewaspadaannya. Pengalaman pahit beberapa hari lalu membuatnya sadar bahwa keselamatan Aisyah adalah harga mati yang tidak bisa ditawar dengan apapun.

"Mas..." panggil Aisyah lembut, memecah keheningan sore itu. Ia mengenakan abaya berwarna sage green yang anggun, dengan khimar senada, sementara cadar hitamnya dibiarkan terbuka karena mereka sedang berada di area privat istana bersama Kenzie. "Sudah beberapa minggu kita tidak menjenguk Abi dan Ummi di Pondok Pesantren Al Ihsan. Aku... sedikit merindukan suasana di sana, juga masakan Ummi."

Kenzie menoleh, menatap wajah istrinya dengan sorot penuh kasih sayang. Jemari hangatnya terulur untuk menggenggam jemari Aisyah di atas meja kayu jati.

"Kamu benar, Sayang," jawab Kenzie dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Aku juga berencana mengajakmu berkunjung ke sana besok lusa. Selain bersilaturahmi, aku ingin meminta doa restu langsung dari Abi agar urusan pengalihan seluruh aset perusahaan hitamku ke yayasan amal Islam bisa segera tuntas tanpa hambatan."

Aisyah tersenyum manis di balik tatapannya yang berbinar. Kebesaran hati suaminya untuk meninggalkan sepenuhnya sisa-sisa harta dari dunia kelam dan mengalihkannya untuk kebaikan selalu berhasil membuat rasa kagum di hatinya semakin bertambah. "Alhamdulillah... Aisyah yakin Abi dan Ummi pasti akan sangat bahagia mendengar niat baik Mas Kenzie."

Namun, di tengah kehangatan obrolan sore itu, ketenangan di istana perbukitan mendadak terusik oleh dering ponsel pribadi Vito yang bergetar keras dari arah ruang kerja utama lantai bawah. Tak lama kemudian, pintu kaca gazebo terbuka, dan Vito melangkah mendekat dengan ekspresi wajah yang jauh lebih tegang dari biasanya.

Kenzie langsung menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Aisyah, lalu bangkit berdiri menyambut tangan kanannya.

"Ada apa, Vito?" tanya Kenzie dingin, nadanya langsung berubah serius.

Vito menelan ludah sejenak, melirik ke arah Aisyah sebelum akhirnya menatap bosnya lekat-lekat. "Maaf mengganggu waktu sore Anda, Boss. Tapi baru saja kita mendapatkan laporan darurat dari jaringan intelijen kita di wilayah perbatasan kota dekat Pondok Pesantren Al Ihsan."

Deg! Jantung Aisyah seolah berhenti berdetak sesaat mendengar nama tempat tinggal orang tuanya disebut. Ia ikut bangkit dari duduknya, mendekati Kenzie dengan rasa cemas yang mendadak merayap naik.

"Katakan dengan jelas, apa yang terjadi?" desak Kenzie, rahangnya mulai mengeras.

"Kelompok sisa-sisa dari jaringan The Black Serpent yang dipimpin oleh tangan kanan kepercayaan Valeria yang lolos malam itu... terlihat sedang memantau wilayah sekitar pesantren milik keluarga Nyonya Aisyah," lapor Vito cepat dan tegas. "Mereka tahu bahwa Boss tidak bisa diserang langsung di istana ini, jadi mereka mencoba mencari celah melalui orang-orang terdekat Anda."

Mendengar kalimat itu, suhu di sekitar gazebo mendadak terasa membeku. Manik mata hitam Kenzie memancarkan amarah yang luar biasa pekat. Berani-beraninya bajingan-bajingan itu mengalihkan target ancaman ke Pondok Pesantren Al Ihsan tempat suci di mana Aisyah dibesarkan, tempat di mana Abi dan Ummi mengabdikan hidup mereka untuk mendidik para santri.

Aisyah menutup mulutnya dengan kedua tangan, air matanya serta-merta menetes membasahi pipinya. "Abi... Ummi..." lirihnya gemetar. "Mas, bagaimana keadaan mereka di sana? Kita harus segera pergi ke sana sekarang!"

Kenzie langsung merengkuh pundak istrinya, mendekap tubuh Aisyah yang mulai bergetar hebat ke dadanya. Ia mencium puncak kepala istrinya dengan penuh keyakinan untuk menyalurkan kekuatan.

"Tenang, Aisyah... Tenanglah, Sayang," bisik Kenzie tegas namun penuh kelembutan. Ia menatap tajam ke arah Vito. "Vito, siapkan seluruh unit pengamanan lapis pertama. Kita berangkat ke pesantren malam ini juga. Jangan biarkan satu pun orang-orang berengsek itu menyentuh sehelai rambut pun keluarga mertuaku!"

"Siap, Boss! Mobil konvoi dan pasukan sudah siap di halaman depan," jawab Vito tanpa buang waktu.

Dua jam kemudian, konvoi tiga mobil SUV hitam milik Kenzie membelah jalanan gelap perbukitan menuju arah Pondok Pesantren Al Ihsan. Suasana di dalam mobil utama begitu pekat oleh ketegangan. Kenzie terus menggenggam erat tangan dingin Aisyah, memberikan sandaran penuh bagi istrinya yang terus-menerus melafalkan doa di dalam hatinya.

Setibanya di gerbang utama Pondok Pesantren Al Ihsan, suasana tampak jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu penerangan kompleks pesantren menyala remang-remang di bawah terpaan angin malam.

Kenzie turun lebih dulu, diikuti oleh Vito dan enam orang pengawal bersenjata lengkap yang bergerak sigap mengamankan area sekitar gerbang.

"Tetap di dalam mobil bersama pengawal, Aisyah. Aku akan memeriksa keadaan Abi dan Ummi di ndalem," instruksi Kenzie lembut namun mutlak.

Aisyah mengangguk patuh meskipun air matanya masih mengalir deras di balik cadarnya. "Hati-hati, Mas..."

Kenzie melangkah cepat menyusuri jalan setapak paving blok menuju bangunan utama kediaman pengasuh pesantren (ndalem). Bersama Vito, ia memeriksa setiap sudut halaman. Namun, insting militernya langsung bergejolak ketika ia melihat pintu samping bangunan ndalem terbuka sedikit dan tampak bekas jejak sepatu bot asing di teras rumah.

"Vito, waspada. Ada penyusup," bisik Kenzie tajam, mengokang senjata laras pendek yang terselip di balik jaket kulitnya.

Mereka mendobrak pelan pintu utama kediaman. Di ruang tengah, pemandangan yang tersaji membuat darah Kenzie mendidih seketika.

Dua orang santri senior penjaga malam tampak tergeletak pingsan di lantai akibat hantaman benda tumpul di kepala mereka. Sementara di ujung ruangan, Kiai Haji Ahmad (Abi Aisyah) dan Nyai Hajjah Fatimah (Ummi Aisyah) tampak duduk di kursi sofa dengan tangan terikat tali tambang, dikelilingi oleh tiga orang pria bertubuh kekar berbadan penuh tato sisa anak buah Valeria yang mengenakan topeng hitam penutup wajah.

"Jangan bergerak! Atau leher tua kiai ini putus sekarang juga!" bentak pemimpin penyusup itu sambil menempelkan bilah pisau belati tajam tepat di leher Kiai Ahmad.

Kiai Ahmad, meskipun usianya sudah sepuh dan dalam keadaan terancam, tetap menampakkan ketenangan luar biasa di wajahnya. Tidak ada secercah rasa takut pun di matanya. Beliau justru menatap tajam ke arah penyusup tersebut dengan penuh wibawa.

Nyai Fatimah di sampingnya terus melafalkan zikir pelan, berusaha menguatkan diri di tengah situasi yang menegangkan.

Kenzie menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu ruang tengah. Manik mata hitamnya menatap tajam para penyusup tersebut dengan aura kematian yang sangat pekat. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, namun atmosfer di dalam ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat mencekam.

"Wah... wah... lihat siapa yang datang," ucap pemimpin penyusup itu menyeringai di balik topengnya, menatap Kenzie dengan nada meremehkan. "Mantan bos besar sindikat yang sekarang jadi suami anak kiai. Kau pikir dengan membawa beberapa pengawal picisan ini kau bisa menyelamatkan mertuamu, Kenzie?"

Kenzie menarik napas dalam-dalam. Suaranya terdengar sangat berat, rendah, namun mengguncang seluruh dinding ruangan.

"Kalian boleh mengarahkan pisau itu ke mana saja..." ucap Kenzie dingin, melangkah maju perlahan tanpa gentar. "...tapi pastikan kalian sudah menyiapkan liang kubur sebelum matahari terbit besok pagi, karena tidak seorang pun dari kalian yang akan keluar dari kompleks pesantren ini hidup-hidup."

Mendengar ancaman mengerikan itu, tawa pemimpin penyusup pecah. "Sombong sekali! Coba saja melangkah satu langkah lagi dan lihat leher tua ini—"

DOR!

Sebelum kalimat ancaman itu selesai, sebuah tembakan presisi dari laras senapan Vito yang mengarah dari jendela samping melesat cepat, menembus tepat pergelangan tangan sang pemimpin penyusup hingga pisau belati di tangannya terpental jauh disertai jeritan kesakitan yang histeris.

Arghhh! Sialan!

Dalam hitungan per sekian detik, Kenzie menerjang maju bagaikan kilat. Ia menghantamkan tendangan telak ke dada penyusup kedua, lalu membanting penyusup ketiga ke atas meja kayu hingga hancur berkeping-keping. Gerakannya begitu cepat, terlatih, dan tanpa ampun mencerminkan kemarahan seorang suami sekaligus menantu yang keluarganya telah disentuh oleh orang yang salah.

Vito dan anak buahnya langsung bergerak cepat membekuk sisa penyusup yang tersisa dan membebaskan ikatan tali di tangan Kiai Ahmad serta Nyai Fatimah.

Kenzie segera berlutut di hadapan mertuanya, memeriksa keadaan mereka dengan penuh rasa cemas. "Abi... Ummi... apa ada yang terluka? Maafkan saya yang terlambat datang..."

Kiai Ahmad tersenyum teduh, lalu menepuk pelan pundak menantunya dengan penuh kehangatan. "Alhamdulillah, Kenzie... Kami tidak apa-apa. Allah Maha Besar yang telah mengirimkanmu tepat waktu. Tenangkan dirimu, Nak."

Nyai Fatimah menghela napas lega, merapikan kerudungnya. "Di luar sana... Aisyah pasti sangat mengkhawatirkan kami. Cepat susul istrimu, Kenzie."

Mendengar nama Aisyah, Kenzie mengangguk cepat. Ia membantu mertuanya berdiri, lalu menyerahkan pengamanan sisa kepada Vito. Kenzie bergegas berlari keluar menuju mobil tempat Aisyah menunggu dengan debar cemas yang luar biasa.

Begitu pintu mobil terbuka, Aisyah langsung melompat keluar dengan air mata berlinang. Ia melihat kedua orang tuanya berjalan keluar dari bangunan ndalem didampingi oleh Vito dalam keadaan selamat. Tanpa membuang waktu, Aisyah berlari kencang, langsung menghambur memeluk Abi dan Umminya erat-erat di halaman pesantren.

"Abi... Ummi..." tangis Aisyah pecah di pelukan kedua orang tuanya, menciumi tangan mereka berulang-ulang. "Aisyah takut sekali... Aisyah takut kehilangan kalian..."

Kiai Ahmad memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang, sementara tangan kanannya merangkul pundak Kenzie yang berdiri tepat di samping mereka. Di bawah temaram cahaya lampu pesantren dan langit senja malam yang perlahan mulai diselimuti bintang, keluarga kecil itu bersatu kembali dalam kehangatan iman dan perlindungan Allah SWT.

Kenzie berdiri mengawasi mereka dengan senyuman tulus di bibirnya. Ia tahu, badai di dunia hitam mungkin tidak akan pernah berhenti sepenuhnya mencoba mencari celah untuk merusaknya. Namun, selama ia masih bernapas, Kenzie bersumpah di dalam lubuk hatinya bahwa ia akan melindungi setiap jengkal kebahagiaan, kehormatan, dan orang-orang tercinta yang kini menjadi bagian dari ibadah dan sisa hidupnya.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!