NovelToon NovelToon
Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Dicerai Karena Mandul, Kini Aku Bunda Kembar Tiga Sang Jenderal

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikahi tentara / Penyesalan Suami / Mandul
Popularitas:148
Nilai: 5
Nama Author: Laras Jingga

Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*

Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.

Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*

Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**

Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:

*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22

Penjaga di Ambang Pintu

Sekar terbangun karena suara langkah di luar pintunya.

Tubuhnya masih berat akibat syok dan obat penenang ringan dari dokter. Cahaya pagi masuk melalui celah tirai. Ketika ia membuka pintu, Arka duduk di kursi lorong dengan kepala bersandar ke dinding, masih memakai kemeja semalam.

Matanya langsung terbuka.

"Ada apa?"

"Tidak ada. Saya hanya ingin mengambil air."

Arka berdiri. "Tunggu di kamar."

"Saya tidak sakit parah."

"Dokter bilang Anda harus istirahat."

"Dokter juga tidak menyuruh seorang jenderal berjaga di depan pintu."

"Bagian itu keputusan saya."

Ia turun dan kembali membawa segelas air hangat serta obat yang sudah diberi label waktu. Tidak ada kalimat manis. Tidak ada usaha masuk ke kamar. Arka meletakkan semuanya di meja dekat pintu dan mundur.

"Bening masih di rumah sakit," katanya. "Yudha menambah petugas keamanan di batas properti. Mereka berkoordinasi dengan polisi setempat dan tidak masuk ke area pribadi kecuali dipanggil."

"Anda tidak perlu melakukan sebanyak ini."

"Pelaku menggunakan jalur yang juga dilewati pengiriman logistik. Penyelidikan menyangkut keamanan wilayah."

Sekar tahu itu hanya sebagian alasan, tetapi cara Arka menjaga batas membuatnya sulit menolak.

Selama beberapa hari berikutnya, lelaki itu bolak-balik antara pos koordinasi dan vila. Kadang ia datang membawa laporan dari Yudha. Kadang ia hanya mengantar Bimo dan Nala setelah sekolah daring, lalu bekerja dari teras sambil menunggu mereka bermain.

Ia mengingat jadwal obat Sekar tanpa pernah menyuruhnya minum seperti memerintah bawahan. Ia meminta dapur mengurangi kopi dan mengirim sup hangat. Ketika Sekar tertidur di sofa ruang kerja, ia menutup pintu agar suara anak-anak tidak membangunkannya.

Perhatian itu justru membuat Sekar gelisah.

Ratih menelepon pada hari kedua. Suaranya bergetar ketika mendengar tentang penyerangan.

"Mama akan datang."

"Jangan sekarang, Ma. Ayah pasti mengawasi. Polisi sudah berjaga dan aku tidak terluka."

"Kamu selalu bilang tidak terluka sampai Mama melihat bekasnya sendiri."

Sekar memandang memar yang mulai menguning di lutut. "Bening yang terluka. Aku hanya jatuh."

Arka berdiri di luar pintu ketika pembicaraan berlangsung. Setelah telepon berakhir, ia tidak bertanya siapa yang menelepon. Ia hanya menyerahkan selembar daftar yang memuat nama semua petugas, jadwal penjagaan, serta nomor laporan polisi.

"Agar Anda tahu siapa yang berada di sekitar rumah," katanya. "Kalau ada nama yang tidak tercantum, jangan buka gerbang."

"Anda memberi saya seluruh jadwal pengamanan?"

"Keamanan yang membuat orang di dalam merasa diawasi bukan keamanan. Anda berhak tahu."

Sekar membaca daftar itu. Setiap pergantian petugas memiliki batas waktu. Tidak seorang pun diizinkan memasuki ruang keluarga atau membuka arsip. Aturannya melindungi dirinya dari penjaga, bukan hanya dari orang luar.

"Rendra pernah menyuruh orang mengikuti saya dan menyebutnya perlindungan," kata Sekar tanpa sengaja.

Arka terdiam sesaat. "Kalau Anda tidak bisa menolak atau mengetahui batasnya, itu pengawasan. Bukan perlindungan."

Perbedaan itu hanya satu kalimat di atas kertas. Bagi Sekar, rasanya seperti jendela dibuka di ruangan yang lama pengap.

"Aku tidak mau bergantung kepadanya," katanya kepada Ningsih.

"Menerima bantuan selama penyelidikan bukan berarti bergantung seumur hidup."

"Bantuan selalu punya harga."

Pak Djoyo yang sedang menyusun arsip mengangkat kepala. "Tidak semua orang menagih kebaikan dengan kepemilikan, Mbak."

Sekar tidak menjawab.

Sore itu ia berjalan ke taman belakang. Di sudut dekat dinding tumbuh pohon delima tua milik vila. Batangnya tidak lurus, buahnya hanya dua, dan bunga-bunganya lebih kecil daripada pohon di Menteng.

Sekar berhenti di depannya.

"Pak Djoyo bilang pohon itu ditanam Eyang Wiryo saat Bu Ratih lahir," kata Arka dari belakang.

Sekar menoleh. "Anda sudah mewawancarai seluruh rumah?"

"Hanya bertanya kenapa Anda menatap pohon seolah ingin menebangnya."

"Saya pernah menebang satu."

Arka berdiri di sampingnya dengan jarak satu lengan. "Yang ini juga harus ditebang?"

"Tidak. Pohon itu tidak bersalah."

"Pohon sebelumnya?"

"Juga tidak. Tapi saya membutuhkan suara ketika sesuatu benar-benar putus."

Arka tidak bertanya siapa yang menanamnya. Ia hanya memandang bunga merah yang bergerak ditiup angin.

"Kalau suatu hari Anda ingin menanam yang baru," katanya, "pilih tempat yang akarnya tidak bisa dipindahkan orang lain."

Dada Sekar menghangat, lalu ia segera mengalihkan pandangan.

***

Malam berikutnya, Nala demam.

Anak itu terbangun sambil menggigil di kamar Eyang Darmi. Termometer menunjukkan suhu tinggi. Arka menghubungi dokter anak, sementara Sekar menyiapkan air minum dan kompres sesuai petunjuk.

"Ayah, jangan ke mana-mana," rengek Nala.

"Ayah di sini."

Arka duduk di sisi ranjang. Sekar berada di sisi lain, mengganti kain di dahi Nala. Bimo berdiri di pintu dengan wajah cemas.

"Bimo harus tidur," kata Arka.

"Aku tidak mengantuk."

Sekar mengangkat selimut di kursi dekat ranjang. "Kalau begitu duduk di sini. Tapi kita bicara pelan supaya Nala bisa istirahat."

Bimo duduk dan, beberapa menit kemudian, tertidur sambil memegang ujung selimut adiknya.

Demam Nala tidak turun dalam satu jam pertama. Arka tetap tenang, mencatat waktu obat dan mengirimkan hasil suhu kepada dokter. Ketika Nala muntah sedikit, Sekar memiringkan tubuhnya dan membersihkan tanpa panik.

"Anda terbiasa merawat anak?" tanya Arka.

"Tidak. Mama dulu sering sakit. Saya hanya melakukan apa yang dokter minta."

Menjelang dini hari, suhu Nala mulai turun. Anak itu tertidur dengan satu tangan memegang jari Arka dan satu lagi menggenggam tangan Sekar.

Mereka tidak bisa bergerak tanpa membangunkannya.

Dalam cahaya lampu tidur, Sekar melihat kelelahan di wajah Arka. Lelaki itu melihat hal yang sama pada dirinya.

"Terima kasih," ucap Arka.

"Kita hanya menjaga demam."

"Anda selalu mengecilkan hal yang Anda lakukan."

"Dan Anda selalu membuatnya terdengar lebih besar."

Sudut bibir Arka bergerak. "Mungkin kita bertemu di tengah."

Sekar ikut tersenyum tipis. Untuk beberapa saat, kamar itu terasa seperti ruang keluarga biasa: seorang anak sakit, kakaknya tertidur di kursi, dan dua orang dewasa berjaga bersama.

Pikiran itu membuat mereka sama-sama diam.

Saat matahari terbit, Nala sudah tidak demam. Dokter memastikan ia hanya perlu istirahat dan cukup cairan. Arka memindahkan Bimo ke kamar tanpa membangunkannya, lalu kembali menemukan Sekar tertidur di kursi.

Selimutnya melorot dari bahu.

Arka menarik ujungnya perlahan, menutup bahu Sekar. Tangannya berhenti ketika perempuan itu membuka mata.

Jarak mereka terlalu dekat.

Sekar tidak bergerak. Arka juga tidak.

Langkah Yudha terdengar di lorong.

"Komandan, polisi mengirim pembaruan," panggilnya dari luar.

Tatapan Arka masih tertahan pada Sekar. Ada sesuatu yang nyaris terucap di antara mereka, terlalu lembut untuk disebut dan terlalu nyata untuk diabaikan.

Arka menarik tangan tepat sebelum pintu terbuka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!