NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Dua Jenderal Bayangan

Udara di dalam laboratorium forensik bawah tanah itu terasa membeku. Suara dari ponsel Arthur memecah keheningan yang ditinggalkan oleh mayat-mayat tentara bayaran di sekelilingnya.

"Permainan baru saja dimulai, Tuan Summers. Mari kita lihat seberapa cepat rajawali bisa terbang menyusul mangsanya."

Suara Sang Bayangan Pertama dari seberang telepon terdengar sangat tenang, memancarkan arogansi seorang pembunuh yang merasa telah memegang kelemahan targetnya. "Nona Mia Zimmer saat ini berada di sebuah rumah kumuh di pinggiran ibu kota. Dalam lima menit, anak buahku akan mendobrak pintu rumah itu. Pilihan ada di tanganmu, Jenderal... tetap di sana dan lindungi gulungan alkimia itu, atau terbang ke ibu kota sekarang dan saksikan gadis kecil itu menghembuskan napas terakhirnya."

Mendengar ancaman langsung yang ditujukan pada wanita yang mulai berarti baginya, wajah Arthur seketika menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam.

Maya Lin, yang berdiri di belakang Arthur, memucat. Ia tahu betul jarak antara kota metropolis ini dengan ibu kota membutuhkan waktu setidaknya dua jam menggunakan helikopter tercepat. Tidak mungkin Arthur bisa tiba tepat waktu.

"Bos..." bisik Maya dengan suara bergetar. "Mia dalam bahaya. Apa yang harus kita lakukan?"

Namun, alih-alih meledak dalam kepanikan atau berlari keluar ruangan seperti pahlawan yang kehilangan akal sehatnya, Arthur hanya berdiri diam. Ia menutup mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, dan saat ia membuka matanya kembali, amarah binatang buas itu telah terkunci rapat, digantikan oleh tatapan kalkulatif seorang grandmaster catur.

Arthur mengangkat ponselnya perlahan. "Kau membuat satu kesalahan fatal dalam permainanmu, Bayangan."

"Oh? Dan apakah itu, Arthur?" ejek suara di seberang sana.

"Kau mengira kau adalah pemain catur yang mengendalikan bidakku," desis Arthur dengan senyum sinis yang mematikan. "Padahal, kau baru saja melangkah masuk ke dalam papan caturku."

Arthur memutuskan panggilan itu secara sepihak. Ia tidak bergegas pergi. Ia justru berbalik dan mulai membantu Maya merapikan data-data dekripsi Formula Somatik.

"Bos?! Apa yang Anda lakukan? Kita tidak akan menyelamatkan Mia?" tanya Maya histeris, tidak percaya dengan sikap tenang bosnya.

"Kita tetap di sini, Maya. Kita harus mengamankan laboratorium ini," jawab Arthur tenang. Melihat kebingungan muridnya, Arthur menepuk pundak Maya perlahan. "Di dunia militer, musuh akan selalu menyerang apa yang mereka pikir menjadi titik terlemahmu. Tapi mereka lupa, pelindung yang kukirimkan untuk Mia bukanlah bidak sembarangan."

Di dalam struktur organisasi asing paling besar yang dibangun oleh Arthur, kekuatan mutlaknya ditopang oleh keberadaan lima orang raja dan delapan belas orang jenderal yang tunduk padanya. Dan malam ini, Arthur telah menempatkan dua dari delapan belas jenderal terbaiknya Zain dan Clark untuk memimpin Shadow Guard yang menyamar melindungi keluarga Zimmer di ibu kota. Mengirimkan pasukan Spetsnaz biasa untuk menghadapi dua jenderal itu sama saja dengan melemparkan kerikil ke dalam badai topan.

Di saat yang bersamaan, di pinggiran ibu kota.

Hujan badai mengguyur atap seng rumah kumuh tempat Mia, Thomas, dan Sarah Zimmer berlindung. Mia duduk memeluk lututnya di sudut ruangan, tubuhnya menggigil kedinginan. Ibunya sudah tertidur karena kelelahan menangis, sementara ayahnya berjaga di dekat jendela yang retak.

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat yang menginjak genangan air di luar rumah. Bukan hanya satu atau dua, melainkan belasan langkah kaki yang terkoordinasi dengan sangat rapi.

Sebuah laser merah dari senapan laras panjang menembus kaca jendela, menyapu dinding ruang tamu. Thomas tersentak, wajahnya pucat pasi. Ia segera menarik Mia untuk merunduk ke lantai.

Di luar, dua belas pembunuh bayaran berpakaian hitam pekat telah mengepung rumah kecil itu. Sang komandan regu memberi isyarat dengan tangannya. Mereka bersiap untuk mendobrak pintu dan menghabisi keluarga malang tersebut sesuai perintah Sang Bayangan Pertama.

Namun, sebelum sepatu bot sang komandan sempat menendang pintu kayu yang lapuk itu, dua buah siluet melompat turun dari atap gedung di seberang jalan, mendarat tepat di tengah kepungan para pembunuh tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Pria pertama bertubuh sangat tinggi dan kekar, mengenakan jaket kulit hitam dengan sepasang belati melengkung di tangannya. Ia adalah Clark, sang Jenderal Penghancur.

Pria kedua memiliki postur lebih ramping namun memancarkan aura sedingin es, tangannya bersedekap dengan santai. Ia adalah Zain, sang Jenderal Hantu.

"Hanya selusin tikus?" Clark mendengus kecewa, memutar belatinya dengan kilatan mematikan. "Aku mengira Kekaisaran Utara akan mengirimkan setidaknya setengah batalion untuk membuat kita berkeringat malam ini."

"Jangan banyak mengeluh, Clark. Arthur memerintahkan kita untuk memastikan tidak ada satu pun dari mereka yang menyentuh gagang pintu rumah ini," ucap Zain pelan. Ia mengangkat tangannya, lalu menjentikkan jarinya.

Malam itu, di bawah guyuran hujan, pembantaian sepihak terjadi. Dua jenderal kepercayaan Arthur bergerak layaknya badai kematian. Clark membantai formasi depan musuh dengan kekuatan fisiknya yang setara beruang grizzly, sementara Zain bergerak seperti bayangan, memotong urat nadi para penembak jitu dari titik buta mereka. Dalam waktu kurang dari dua menit, dua belas pembunuh elit Kekaisaran Utara tergeletak tak bernyawa di tanah berlumpur, tanpa sempat melepaskan satu pun tembakan yang mengganggu tidur keluarga Zimmer di dalam rumah.

Di dalam rumah, Mia yang gemetar mendengar suara dentuman redam dari luar, tiba-tiba melihat layar ponselnya menyala. Nama Arthur tertera di sana.

Dengan tangan bergetar, Mia menjawab panggilan itu. "A-Arthur?"

"Kau aman, Mia. Tidak ada yang akan menyakitimu malam ini," suara bariton Arthur mengalun lembut dan mantap dari seberang telepon, seketika menghapus teror yang mencekik dada gadis itu. "Zain dan Clark sudah membereskan sampah-sampah di halaman depanmu. Kau bisa tidur dengan tenang."

Air mata yang sejak tadi ditahan Mia akhirnya tumpah. Bukan karena sedih, melainkan karena perasaan lega yang luar biasa. Di saat kakeknya tiada, keluarganya hancur, dan nyawanya terancam, pria ini tetap hadir menjadi perisai mutlaknya, meski dari jarak ratusan kilometer.

"Arthur... terima kasih," isak Mia pelan. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa. Maafkan aku karena tidak memberitahumu sejak awal."

"Kita akan membicarakan hal itu nanti, saat aku datang menjemputmu ke ibu kota. Untuk saat ini, percayalah padaku," jawab Arthur. Ketenangan dalam suaranya membuat ikatan emosional di antara mereka menancap semakin dalam. Penyelamatan malam ini bukan sekadar tugas militer, melainkan sebuah janji tak terucap bahwa Mia adalah seseorang yang akan selalu dilindungi oleh sang raja.

Kembali ke ruang bawah tanah Universitas St. Jude.

Arthur memasukkan ponselnya ke dalam saku. Ia menatap Maya yang kini bernapas lega setelah mendengar percakapan itu. Keputusan Arthur untuk membagi fokus dengan mengandalkan jenderalnya telah terbukti sebagai taktik yang brilian. Ia tidak terpancing oleh umpan musuh.

"Musuh telah gagal di ibu kota," ucap Arthur dingin, menatap ke arah pintu laboratorium yang jebol. "Sang Bayangan Pertama menggunakan Mia sebagai pion tawanan hanya untuk memancingku keluar dari sini."

Maya mengernyit. "Jika dia tahu Anda tidak pergi ke ibu kota... lalu di mana dia sekarang?"

Kenyataan kelam yang sempat terlintas di benak Arthur kini menjadi kenyataan. Jika musuh sengaja mengorbankan pasukan di ibu kota dan pasukan Sterling di kampus hanya untuk mengalihkan perhatian, maka tujuan utama musuh selalu berada di satu titik.

Seketika, suhu di dalam laboratorium forensik itu anjlok secara tidak wajar. Napas Maya mulai mengeluarkan kepulan uap putih.

Lampu darurat merah yang berkedip di atas mereka tiba-tiba mati total. Kegelapan menelan ruangan tersebut.

Dari arah langit-langit beton yang diperkuat baja di atas mereka, terdengar suara logam yang meleleh mendesis. Cairan asam tingkat militer yang sangat korosif mulai menetes, menghancurkan atap beton setebal dua puluh sentimeter itu dalam hitungan detik.

"Taktik yang bagus, Komandan Phantom," sebuah suara berbisik dari dalam kegelapan, terdengar seolah datang dari segala arah secara bersamaan. "Kau berhasil menyelamatkan ratumu. Tapi sayangnya... kau baru saja membiarkan rajanya terjebak bersamaku."

BRAK!

Sebongkah besar atap beton runtuh. Di tengah debu reruntuhan yang mengepul, siluet seseorang berjubah hitam turun perlahan, menghunuskan sebilah pedang yang menyala oleh aliran listrik biru, langsung mengarah ke jantung Arthur.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!