Dulu, dia adalah preman yang hidup dari kekerasan dan ditakuti banyak orang. Namanya dikenal di jalanan, tangannya penuh darah, dan masa depannya seolah tidak akan pernah berubah.
Sampai sebuah kejadian memberinya kesempatan kedua.
Terbangun dengan kehidupan baru, dia justru memilih jalan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya menjadi seorang polisi.
Namun, kebiasaan lamanya belum hilang. Cara berpikirnya terlalu liar, instingnya terlalu tajam, dan metode penyelidikannya sering kali membuat rekan-rekannya geleng-geleng kepala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Mungkinkah kebetulan seperti itu benar-benar terjadi di dunia ini?
Revan berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia hanya terlalu banyak berpikir. Tidak mungkin. Baru saja dia selesai mendengarkan pengarahan mengenai kasus Pemerkosa. Masa iya, dia malah berpapasan langsung dengan pelakunya?
Kemungkinannya bahkan lebih kecil daripada memenangkan judol!
Gelas berisi minuman masih berada di tangannya, tetapi Revan sama sekali tidak bisa menikmatinya. Pria yang mengenakan jaket di sudut bar itu terlalu mencurigakan!
Topi menutupi kepalanya. Wajahnya terus menunduk. Ekspresinya muram, dan seluruh gerak-geriknya terasa aneh.
Revan kembali mengingat penjelasan ketua tim, Pak Dedi, mengenai kasus Pemerkosa Taser.
Semua korban sebelumnya adalah perempuan yang gaya hidupnya cukup bebas. Ciri-ciri itu sangat cocok dengan perempuan yang baru saja keluar bersama pria tersebut.
Bukan hanya itu.
Wajah pelaku dalam kasus itu diketahui mengalami luka gores. Sementara pria berjaket tadi terus menutupi sebagian wajahnya dengan kerah jaket.
Mungkinkah?
Mungkinkah pria berjaket itu benar-benar Pemerkosa Taser?
Begitu pikiran itu muncul, Revan langsung tidak bisa duduk tenang.
Kalaupun dia salah, setidaknya dia harus memastikan sendiri.
Revan meletakkan gelasnya dan buru-buru berjalan menuju pintu keluar, mengikuti arah pria berjaket tadi pergi.
Pintu keluar bar itu hanyalah pintu besi kecil yang sederhana. Begitu Revan mendorongnya, dia langsung masuk ke sebuah gang sempit di belakang deretan ruko.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Gang itu sangat sepi. Hanya cahaya lampu jalan yang temaram menerangi sebagian jalan.
Revan menoleh ke kiri dan kanan.
Tiba-tiba, dari sudut matanya, dia menangkap bayangan seseorang yang berlari menjauh ke arah kanan.
“Hah?”
Kecurigaannya semakin kuat.
Tanpa membuang waktu, Revan langsung mengejarnya.
Urusan mengejar orang bukan sesuatu yang asing bagi Revan.
Langkahnya cepat, tetapi ringan. Dia mampu bergerak tanpa menimbulkan banyak suara sehingga bayangan di depannya sama sekali tidak menyadari kalau sedang dibuntuti.
Orang itu berbelok masuk ke gang yang lebih sempit dan gelap.
Gang tersebut ternyata tembus menuju area parkir di belakang gedung.
Saat melewati beberapa tempat sampah berwarna hijau, Revan tiba-tiba melihat seseorang tergeletak di tanah.
Revan berhenti.
Bukankah dia pria kaya yang tadi pergi bersama perempuan itu?
Namun sekarang pria tersebut terbaring telentang di tanah dalam kondisi tidak sadarkan diri.
“Gila!”
Revan langsung membelalak.
Melihat tubuh pria itu yang kaku dan tidak bergerak, hampir delapan puluh persen keyakinannya mengatakan bahwa pria tersebut baru saja disetrum menggunakan taser!
Kalau pria ini sudah disetrum...
Lalu bagaimana dengan perempuan tadi?
Revan menundukkan kepala dan menatap ke arah gang yang gelap.
Dia tidak bisa melihat apa pun.
Namun, beberapa detik kemudian, terdengar suara seperti sesuatu sedang diseret dari balik tikungan.
Astaga!
Jangan-jangan dugaannya benar?
Jantung Revan mulai berdegup lebih cepat.
Dia menoleh ke samping dan menemukan sebatang kayu pendek tergeletak di dekat tempat sampah.
Tanpa banyak berpikir, Revan mengambilnya.
Dia melangkah perlahan menuju tikungan.
Setelah memastikan keadaan cukup aman, Revan menjulurkan kepalanya sedikit.
Dan benar saja!
Pria berjaket yang tadi berada di dalam bar sedang berjongkok di tanah, sibuk melakukan sesuatu.
Revan memperhatikan lebih saksama.
Perempuan yang tadi bersama pria kaya itu sudah tergeletak tak sadarkan diri.
Sementara pria berjaket tersebut sedang terburu-buru melepaskan pakaiannya!
Mata Revan langsung membesar.
Tidak perlu penjelasan lagi.
Semua potongan kejadian langsung tersambung di kepalanya.
Pelaku yang selama ini diburu polisi ternyata benar-benar berada tepat di depan matanya!
“Baiklah, Nak.”
Revan menggenggam batang kayu di tangannya.
“Nasib lo memang sedang buruk malam ini. Kebetulan lo bertemu gue."
Dia maju selangkah.
“Sudah waktunya masyarakat bebas dari sampah seperti lo!”
Berurusan dengan orang nakal adalah keahlian Revan.
Dia bergerak cepat.
Sebelum pria itu sempat menyadari keberadaannya, Revan mengayunkan batang kayu dan menghantam bagian belakang kepalanya.
Buk!
Revan memang kuat.
Namun dengan bantuan batang kayu, pukulannya menjadi jauh lebih keras.
Suara retakan terdengar cukup keras.
Batang kayu itu bahkan patah menjadi dua!
Pria berjaket tersebut jelas tidak menyangka akan diserang dari belakang.
Tubuhnya tersentak.
Dia kemudian berbalik dan menatap Revan dengan tatapan penuh amarah.
Di tangannya, sebuah taser mengeluarkan suara berderak.
“Jangan-jangan...”
Revan terpaku.
Pria itu seharusnya sudah roboh setelah terkena pukulan sekeras tadi.
Namun dia masih berdiri!
“Jangan bilang kulit orang ini terbuat dari besi?”
Revan menatapnya tak percaya.
Pria itu membalas tatapannya selama beberapa detik.
Kemudian bola matanya berputar ke atas.
Kakinya mendadak lemas.
Bruk!
Dia jatuh ke tanah dan langsung tidak sadarkan diri.
Revan mengembuskan napas panjang.
“Syukurlah...”
Dia segera mengeluarkan ponselnya.
Satu jam kemudian, Revan kembali ke kantor polisi.
Suasana kantor malam itu jauh lebih ramai dibandingkan sebelumnya.
Hampir semua penyidik berkumpul dan menunggu hasil pemeriksaan.
Seorang polisi wanita bernama Nina bahkan terlihat sangat bersemangat. Matanya yang besar berbinar-binar ketika dia mengacungkan kedua jempolnya kepada Revan.
“Kak, Anda benar-benar luar biasa!”
Nina tampak kagum.
“Bisa menangkap pelaku sendirian! Jadi waktu tadi Anda bilang mau minta izin libur, sebenarnya itu cuma kedok, kan?”
Dia mendekat dengan rasa penasaran.
“Jujur saja, Anda sebenarnya sudah menemukan petunjuk tentang pelaku sejak lama, kan?”
Revan hanya memandangnya datar.
Entah kenapa, dia tidak pernah terlalu tertarik dengan gadis-gadis yang terlalu banyak bicara seperti Nina.
Mungkin karena Nina terlihat terlalu muda.
Atau mungkin karena dia memang bukan tipe perempuan yang menarik perhatian Revan.
Melihat Nina terus berbicara tanpa henti, Revan akhirnya menyerah.
“Bisa tolong buatkan aku kopi?”
“Bisa! Tentu saja!”
Nina langsung berlari menuju ruang istirahat.
Di sisi lain, Budi mendengus.
“Jangan terlalu cepat senang.”
Semua orang menoleh.
“Kita bahkan belum memastikan apakah orang yang ditangkap itu benar-benar pelakunya atau bukan. Kalau ternyata salah tangkap, seseorang bisa kena masalah besar.”
Jelas sekali perkataan itu ditujukan kepada Revan.
Namun Revan sudah terlalu lelah untuk menanggapi.
Dia memilih duduk diam.
Baru saja Budi selesai bicara, Ketua Tim Dedi tiba-tiba berlari masuk ke lobi.
Wajahnya dipenuhi kegembiraan.
“Rekan-rekan!”
Semua orang langsung menoleh.
“Hasil pemeriksaannya sudah keluar!”
Ruangan seketika hening.
“Darah dan urine pria itu cocok dengan barang bukti yang ditemukan dalam kasus sebelumnya. Jenis taser yang digunakan juga sama!”
Pak Dedi mengangkat tangannya dengan penuh semangat.
“Sudah dipastikan! Orang yang kita tangkap malam ini adalah pelaku utama dalam kasus Pemerkosa Taser!”
Dia tersenyum lebar.
“Kasus ini resmi ditutup!”
Seketika...
“YES!”
“Berhasil!”
Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan.
Ada yang gembira, ada yang lega, bahkan ada yang diam-diam iri.
Namun satu hal sama.
Tatapan semua orang tertuju kepada Revan.
Hanya satu jam sebelumnya, Revan baru saja bertengkar dengan wakil kapten gara-gara ingin mengambil cuti.
Tidak ada yang menyangka bahwa satu jam kemudian, orang yang berhasil memecahkan kasus paling cepat justru adalah Revan sendiri.
Semua orang benar-benar penasaran.
Metode macam apa yang digunakan Revan sampai bisa menemukan pelaku secepat itu?
Nina kembali membawa secangkir kopi dan meletakkannya di depan Revan.
“Selamat, Kak!”
Dia tersenyum lebar.
“Kalau nanti dapat uang penghargaan, jangan lupa traktir kami makan, ya!”
“Uang penghargaan?”
Revan langsung tertarik.
Dia baru ingat bahwa memang ada aturan khusus bagi anggota kepolisian yang berhasil menangkap pelaku.
Tergantung kasusnya, mereka bisa mendapatkan uang penghargaan.
Selain itu, prestasi tersebut juga akan dicatat dalam rekam jejak mereka.
Bagi seorang polisi, catatan seperti itu bisa sangat membantu ketika mengikuti ujian atau mempertimbangkan kenaikan jabatan.
Revan menyeringai.
“Jadi menangkap penjahat bisa dapat uang?”
Lumayan!
Tatapannya langsung melirik AKP Budi.
Budi yang sejak awal memang sudah tidak menyukai Revan langsung memasang wajah masam.
Ketika melihat Revan tersenyum mengejek ke arahnya, dia menyilangkan tangan di dada dan memilih diam.
Pak Dedi kemudian melanjutkan penjelasannya.
“Menurut hasil pemeriksaan, taser milik pelaku ternyata dimodifikasi sendiri. Tegangannya bisa mencapai sekitar tiga puluh ribu volt. Sekali terkena, seseorang bisa langsung kehilangan kesadaran.”
Dia menghela napas.
“Identitas lengkap pelaku masih belum diketahui. Untuk sementara kita hanya tahu dia masih berstatus pelajar SMA, meskipun ada kemungkinan dia sudah putus sekolah.”
Pak Dedi kemudian melirik Revan.
“Karena mengalami cedera akibat benturan, pelaku sekarang masih dirawat di IGD dan berada di bawah pengawasan polisi. Untuk sementara dia belum bisa diperiksa.”
Dia tersenyum geli.
“Revan, sepertinya pukulanmu tadi agak terlalu keras.”
“Apa?”
Revan langsung membela diri.
“Bapak sendiri bilang tasernya tiga puluh ribu volt. Kalau saya tidak menjatuhkannya, bisa-bisa saya yang masuk rumah sakit!”
Pak Dedi tertawa.
“Dokter bilang karena satu pukulan itu, kemungkinan dia baru akan sadar dalam dua atau tiga hari.”
Dia sama sekali tidak bermaksud menyalahkan Revan.
Kemudian Pak Dedi menoleh kepada Budi.
“Pak Budi, malam ini kita butuh satu orang untuk berjaga di rumah sakit. Bisa tolong atur?”
Budi mengangguk.
Namun beberapa detik kemudian, matanya justru tertuju kepada Revan.
“Kalau begitu... Revan.”
Revan mengangkat alis.
“Karena kamu yang menangkap pelakunya, malam ini sekalian saja kamu yang berjaga di rumah sakit.”
“Ah...”
Revan pura-pura tidak mendengar.
Dia malah mengangkat kedua tangannya, meregangkan tubuh, lalu menguap panjang.
“Gue capek.”
Dia berdiri santai.
“Kalian mau melakukan apa saja, silakan. Gue sudah menangkap pelakunya untuk kalian. Sekarang gue mau pulang dan tidur.”
Revan melambaikan tangan.
“Selamat malam.”
“Revan!”
Wajah Pak Budi langsung memerah.
“Ini kantor polisi! Ada aturan di sini! Sikap kamu itu apa-apaan?”
Revan tetap berjalan santai.
“Memangnya setelah menangkap penjahat, kamu langsung merasa jadi raja dunia?”
Budi semakin kesal.
“Jangan sombong! Kalau menurut saya, kamu cuma kebetulan beruntung!”
Dia menunjuk Revan.
“Memangnya apa yang perlu dibanggakan? Bukankah sebelumnya kamu sendiri yang bilang tidak peduli dengan pekerjaan sebagai polisi?”
Budi terus mengomel.
Namun tiba-tiba dia terdiam.
Matanya tertuju kepada Revan yang mengambil gelas kaca di atas meja.
Wajah Budi langsung berubah.
Dia refleks mundur dan bersembunyi di balik meja.
Revan memperhatikan tingkahnya.
Kemudian dia mengangkat gelas tersebut ke bibir.
Meneguk kopinya.
Tidak ada niat sedikit pun untuk melemparkannya.
Budi yang sudah telanjur bersembunyi di balik meja langsung merasa canggung.
Revan hampir saja tertawa melihat reaksinya.
Namun sebelum sempat menggoda lebih jauh...
Begitu kopi masuk ke perutnya, sebuah suara jernih dan mekanis tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya.
[“Petualangan hari ini telah selesai.”]
[“Tingkat penyelesaian: 75 persen.”]
[“Selamat. Anda memperoleh satu hadiah tak kasatmata.”]
[“Silakan terima.”]