Chester, Kapten tim khusus Angkatan Darat yang dingin dan tak tersentuh, terpaksa melangkah ke altar memungut kekacauan yang ditinggalkan Haikal.
Ia membenci situasi ini, membenci kelakuan kakaknya, dan kini terjebak mengikat janji suci dengan wanita yang tak pernah ia inginkan.
Di antara dendam, luka yang belum sembuh, dan kebohongan besar di hadapan publik—mampukah pernikahan paksa ini bertahan saat Haikal kembali menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perintah ke Medan Perang
Pagi hari di Markas Besar, koridor divisi operasi khusus yang biasanya tegang dan kaku mendadak berubah riuh.
Begitu langkah kaki Chester yang tegap berderap masuk dengan seragam dinas harian berlogo khusus, beberapa perwira menengah sejawatnya langsung menghadang jalur jalan sang Kapten.
Di sudut ruangan dekat papan peta taktis, anggota Team Eclipse—Zack, Rowan, Ocla, dan Flyn—sudah berkumpul. Mereka bersedekap, menahan senyum geli yang mati-matian disembunyikan di balik wajah sok formal mereka.
Siapa yang tidak penasaran? Pernikahan Chester dan Ayyana Sanders terjadi bagai kilat di siang bolong tanpa ada desas-desus sebelumnya.
"Pagi, Kapten!" seru Mayor Ardi, salah satu rekan sejawat Chester, sembari menepuk bahu Chester cukup keras. "Gila lo, Zero. Diam-diam langsung eksekusi ahli waris Sanders Corp. Apa lo menghamili dia duluan, Capt?!"
Gelak tawa kecil pecah di koridor. Ocla di sudut ruangan sampai harus menutupi mulutnya dengan batuk buatan, sementara Zack menggeleng-gelengkan kepala.
Belum sempat Chester membalas, Kapten Will menimpali dari sisi lain. "Lagian, kenapa tidak ambil cuti, pengantin baru? Masuk kantor jam enam pagi dengan muka datar begitu... kasihan pengantin barunya di rumah, Zero!"
Anak-anak Team Eclipse makin menikmati pemandangan langka ini. Kapten mereka yang terkenal kaku, dingin, dan berdarah besi itu kini jadi bahan godaan seluruh perwira.
Chester sama sekali tidak berubah ekspresi. Pria itu menyapu pandangan dinginnya ke arah rekan-rekannya, merapikan baret di kepalanya dengan gerakan tenang namun mengintimidasi.
"Kalau kalian punya terlalu banyak waktu luang untuk bergosip," suara Chester terdengar rendah, bernada mengancam, "saya bisa atur jadwal simulasi tempur lima belas kilometer untuk skuadron kalian pagi ini."
Seketika tawa di koridor surut. Mayor Ardi dan Kapten Will tertawa canggung sebelum akhirnya bubar melarikan diri ke ruangan masing-masing, tak mau berurusan dengan mode kedisiplinan sang Kapten.
Ketika koridor akhirnya sepi dan hanya menyisakan anak-anak Team Eclipse, Flyn si spesialis infiltrasi melangkah mendekat dengan cengiran jailnya.
Pria itu menyenggol lengan Chester pelan, lalu berbisik dengan nada penuh selidik.
"Bercandaan mereka boleh mentah, Capt... tapi asli, gue penasaran," bisik Flyn, matanya berkilat jahil. "Bagaimana malam pertamanya, Capt? Aman?"
Chester tidak langsung menjawab.
Chaster perlahan memutar tubuhnya, menatap Flyn dengan pasang mata hitamnya yang dingin dan tajam—tatapan khas yang biasa ia gunakan sebelum menugaskan seseorang ke misi bunuh diri.
Flyn otomatis melangkah mundur setengah tindak, mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke, oke, ampun Capt. Cuma nanya."
"Malam pertama gue diisi dengan membersihkan buket bunga yang dilempar ke muka gue dan memotong daging untuk Ayyana," balas Chester datar, suaranya tenang tanpa nada bercanda sedikit pun. "Ada pertanyaan teknis lain, Slick?"
Rowan yang bersandar di dinding langsung mendengus menahan tawa, sementara Ocla terkekeh pelan sembari menyilangkan tangan di dada.
"Buket bunga melayang?" gumam Zack menggelengkan kepala. "Tipikal Nona Sanders. Tapi setidaknya dia tidak melemparkan pisau komando lo 'kan, Capt."
"Sensitif banget istrinya," Flyn menyeringai tipis, kembali memajukan tubuhnya. "Tapi serius, Capt. Rumah dinas sudah bersih total. Jaringan enkripsi lokal sudah aktif, dan Ocla sudah menyiapkan jalur pengiriman logistik harian supaya Nona Sanders—maksud gue, Ibu Kapten—tidak perlu keluar rumah tanpa pengawalan."
Chester mengangguk tipis, raut wajahnya kembali menyatu dalam mode komandan tempur.
Bercandaan khas anggota timnya menguap begitu saja saat fokus utama mereka kembali ke ancaman nyata.
"Bagaimana dengan jaringan digital Harris?" tanya Chester, matanya menyapu keempat anggotanya satu per satu.
"Masih mengendus," sahut Ghost dengan suara rendahnya yang berat. "Tim siber Harris menyisir ulang log arsip pencatatan sipil tiga jam lalu. Mereka curiga ada gap transaksi digital di berkas pernikahan kalian. Tapi virus pembersih buatan Zack berhasil ngunci akses mereka sebelum sempat menyentuh nama Haikal."
"Bagus," pangkas Chester. Pria itu merapikan kerah seragamnya, menatap tim terbaiknya dengan intensitas tinggi. "Harris bakal mencari celah langsung ke rumah dinas. Flyn, posisikan pengawasan jarak jauh mulai sore ini. Ocla, pastikan semua pasokan barang yang masuk ke rumah sudah lewat pemeriksaan tiga tingkat."
"Siap, Capt!" jawab mereka serentak.
"Satu lagi," tambah Chester, langkahnya terhenti sejenak sebelum memasuki ruang kerjanya.
Chaster melirik Flyn dan Ocla. "Bawa beberapa pakaian wanita yang pantas dan ukuran yang sesuai ke rumah dinas nanti siang. Jangan sampai dia tenggelam terus pakai baju gue."
"Weeeew..." Flyn bersiul panjang, matanya berkilat penuh kejahilan sembari menyenggol bahu Ocla. "Perhatian banget, Capt! Katanya cuma pernikahan transaksi politik, tapi udah mikirin ukuran baju istri."
Ocla menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tipis terukir di wajahnya. "Siap, Komandan. Nanti siang pakaian wanita berikut perlengkapan pribadinya langsung meluncur ke rumah dinas lewat pemeriksaan ketat."
Chester hanya melirik Flyn sekilas dengan tatapan membunuh yang sanggup membungkam seisi ruangan, membuat Flyn langsung pura-pura membenarkan posisi baretnya dengan wajah tanpa dosa. Tanpa membalas godaan Flyn lebih lanjut, Chester mendorong pintu ruang kerjanya dan melangkah masuk.
Brak.
Pintu tertutup rapat, memutus kekehan pelan anak-anak Team Eclipse di koridor.
Di dalam ruangan yang hening dan beraroma kertas dokumen serta kopi dingin, Chester menghembuskan napas panjang. Ia menyandarkan kedua tangannya di tepi meja kerja kayu tebal, menunduk menatap layar monitor yang menampilkan baris kode enkripsi dan laporan pengawasan wilayah.
Layar di hadapannya menunjukkan pergerakan beberapa unit intelijen milik Laksamana Muda Harris yang mulai memperketat radius pengawasan di sekitar Kompleks Kediaman Militer.
Harris bertindak lebih cepat dari perkiraannya.
Chester merogoh saku celana dinasnya, menarik keluar ponsel khusus yang terenkripsi.
Jemarinya menari di atas layar, mengetik sebuah pesan pendek ke nomor pribadi yang terhubung langsung ke sistem komunikasi rumah dinasnya.
Baju dan barang-barangmu diantar nanti siang oleh Ocla. Jangan buka pintu untuk siapa pun selain anggota Team Eclipse.
Chester menatap pesan itu sejenak sebelum menekan tombol kirim. Di ujung sana, di rumah dinasnya yang dingin dan sepi, ia tahu Ayyana pasti sedang terjaga dengan kaus hitam jumbo miliknya—bertahan di tengah badai politik yang baru saja dimulai.
......................
Ayyana baru saja membuka mata saat cahaya matahari pagi menembus celah gorden kamar utama.
Tubuhnya masih terasa pegal luar biasa, dan pakaian sweatshirt jumbo milik Chester yang semalam ia kenakan kini tampak makin kedodoran.
Mencari ponselnya yang terletak di atas meja samping tempat tidur, layar perangkat terenkripsi itu menyala, menampilkan satu notifikasi pesan masuk dari kontak yang dinamai Kapten.
Ayyana membaca baris demi baris pesan singkat itu dengan alis berkerut:
Baju dan barang-barangmu diantar nanti siang oleh Ocla. Jangan buka pintu untuk siapa pun selain anggota Team Eclipse.
"Gila..." gumam Ayyana lirik, meraup wajahnya yang baru bangun tidur dengan telapak tangan.
Semua pesan dan nada bicara Chester benar-benar kaku, persis seperti instruksi komando yang dikirim ke medan perang.
Tak ada salam, tak ada kalimat 'bagaimana tidurmu', apalagi basa-basi layaknya seorang suami—meski hanya suami di atas kertas.
Chaster memperlakukannya murni seperti aset berisiko tinggi yang wajib diamankan di dalam bunker.
Ayyana melemparkan ponsel itu kembali ke kasur dengan gusar. Ia mendudukkan dirinya di tepi ranjang, menatap ruangan bernuansa abu-abu dingin yang serba minim ornamen.
"Selamat datang di markas, Ayyana," cibirnya pada diri sendiri sembari menyingsingkan lengan baju Chester yang melorot lagi menutupi jemarinya.