NovelToon NovelToon
Silam 1989

Silam 1989

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kutukan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: The Hollow Archive

Di penghujung tahun 1989, Kota Marunda digegerkan oleh hilangnya Nirmala Hadiningrat, anak perempuan berusia tujuh tahun dari keluarga terkaya dan paling berpengaruh di kota tersebut. Tanpa ada tuntutan uang tebusan, satu-satunya petunjuk yang ditinggalkan pelaku di kamar korban hanyalah sebutir talas hutan misterius yang dibungkus kain kafan kusam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon The Hollow Archive, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jatuh

Ketakutan membuat Drs. Mulya kehilangan akal sehatnya. Alih-alih mengangkat tangan, Sekretaris Kota yang necis itu mendadak menerjang ke arah ranjang, menyambar koper diplomatik kulit hitamnya, lalu memutar tubuhnya dengan liar.

Menggunakan sudut koper besi yang keras, dia menghantamkan seluruh kekuatannya ke arah kaca jendela besar Kamar 204. PRANGGG!Kaca jendela hotel itu hancur berantakan.

Serpihan tajam berjatuhan ke arah jalanan di bawahnya. Tepat di luar gedung, suara mesin mobil sedan hitam berkapasitas besar, berhenti tepat di bawah jendela yang pecah.

Itu adalah mobil jemputan darurat yang dikirim oleh faksi sekutunya di balai kota. "Mulya! Jangan bergerak!" bentak Aris, namun posisinya terhalang oleh ranjang dan tumpukan kasur. Drs. Mulya tidak memedulikan ancaman itu.

Dia mendorong koper kulit itu keluar jendela, berniat menjatuhkannya ke atas atap mobil jemputan.

Hantaman keras pada kaca tadi merusak kancing pengunci koper diplomatik tersebut. Begitu koper itu melewati ambang jendela, penutupnya terbuka lebar di udara malam, ribuan lembar uang kertas pecahan sepuluh ribu rupiah baru berwarna merah sawo matang terhambur keluar, terbang ditiup angin dan gerimis yang mengguyur Kota Marunda.

Uang darah hasil suap tanah adat Desa Talas itu beterbangan seperti daun kering, menghujani mobil sedan hitam di bawah dan memenuhi aspal jalanan.

Beberapa bundel sertifikat tanah kosong ikut jatuh. "Uangku! Tidak!" jerit Drs. Mulya histeris, menyadari bukti kekayaannya hancur berantakan di udara.

Saat Drs. Mulya melongokkan tubuhnya terlalu jauh ke luar jendela karena panik mencoba meraih lembaran uang yang terbang, keseimbangannya goyah di atas ambang jendela licin akibat air hujan.

Aris melompat melewati ranjang, tangan kirinya menjulur cepat untuk mencengkeram kemeja batik sutra Drs. Mulya tepat satu detik sebelum pejabat korup itu jatuh bebas ke lantai aspal di bawah sana.

DOR! DOR! DOR! Tiba-tiba, rentetan tembakan pistol dari arah kursi penumpang mobil sedan hitam di bawah jendela.

Peluru-peluru tajam itu melesat ke atas, menembus langit-langit kamar dan meretakkan sisa-sisa kusen jendela tempat Aris bertumpu. Salah satu serpihan kayu yang hancur menghantam lengan kiri Aris, menimbulkan rasa perih.

Di bawah hujan peluru yang membuta dan licinnya semen ambang jendela akibat air gerimis, cengkeraman tangan Aris pada kerah kemeja batik sutra Drs. Mulya terlepas.

"Aris! Tidaaaak!" jerit Drs. Mulya.BRAAAK! Tubuh Sekretaris Kota itu jatuh bebas sejauh tiga lantai dan menghantam atap mobil sedan hitam di bawahnya dengan dentuman keras.

Hantaman itu membuat atap mobil penyergap ringsek ke dalam. Drs. Mulya terkapar tak bergerak di atas kap mobil, bersimbah darah di antara ribuan lembar uang sepuluh ribu rupiah yang masih beterbangan mengotori aspal jalanan malam tersebut.

Melihat sang pejabat kota jatuh dalam kondisi kritis, pengemudi sedan hitam itu panik. Tanpa memedulikan sisa uang yang berhamburan, dia menginjak pedal gas. Sedan hitam itu melesat kabur membelah kegelapan malam Marunda, membawa tubuh Drs. Mulya, menuju arah pinggiran kota.

Aris terengah-engah, merunduk di balik dinding bawah jendela. Dia segera berbalik dan bergerak cepat memotong tali yang mengikat tubuh Pak Subroto di sudut ruangan menggunakan pisau sakunya.

"Anda tidak apa-apa, Pak?" tanya Aris sambil membantu pria tua itu berdiri.

"Saya aman, Detektif... tapi Mulya membawa sisa catatan konspirasi itu bersamanya," jawab Pak Subroto.

Aris memungut senter National miliknya yang tergeletak di dekat serpihan cermin meja rias. Meski senter itu kini penyok dan kacanya retak, mesinnya masih menyala. Aris tahu, kejatuhan Drs. Mulya dari Kamar 204 bukan akhir dari segalanya.

Ke mana mobil sedan hitam itu membawa sang Sekretaris Kota yang sekarat.

1
Syauqi Purnama
lanjutt dongggg😭😭😭
The Hollow Archive: D tunggu ya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!