Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Kepedulian Jove
Jove baru saja sampai di lantai bawah ketika melihat kedua adiknya baru tiba di rumah.
Jonathan dan Jordy yang baru saja masuk langsung berhenti ketika melihat kakak perempuan mereka berdiri di ruang keluarga.
Keduanya saling berpandangan, lalu menatap Jove lagi seolah tidak percaya.
“Kak,” panggil Jonathan. “Ya Tuhan, lihat, Jord. Siapa yang ada di depan kita?”
“Kakak kita yang paling cantik, lah. Siapa lagi memangnya?” sahut Jordy santai.
Tanpa aba-aba, kedua pria itu langsung menghampiri dan memeluk Jove bersamaan.
“Ya ampun, kalian tuh.” Jove tertawa di dalam pelukan kedua adiknya yang tentu saja memiliki tubuh lebih besar darinya.
“Kalian seperti tidak pernah bertemu denganku. Padahal di kantor kita setiap hari bertemu,” ucap Jove sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan mereka.
“Tapi kan beda, Kak,” kata Jordy. “Di kantor, Kakak itu ya atasan kami. Kami tidak bisa menjahili, apalagi menggoda Kakak. Kalau di rumah, kami bisa sepuasnya menggoda Kakak.”
“Sepakat,” sahut Jonathan cepat.
“Hm, kalian ini.” Jove tersenyum melihat tingkah kedua adik kembarnya.
Jihan yang melihat ketiganya segera menghampiri.
“Kalian cepat mandi, jangan ganggu kakak kalian.”
“Ah, Mommy. Kami masih merindukan Kak Jove,” protes Jonathan.
“Bohong, Mom. Di kantor setiap ketemu cuekin aku terus,” balas Jove.
“Abisnya kalau disapa, nanti ditanya soal kerjaan terus,” kata Jordy sambil tertawa. “Belum lagi kalau lagi evaluasi. Kak Jove berubah seperti Ibu Tiri yang kejam.”
Jove melotot.
“Kamu berani sekali, Jord.”
Jordy malah tertawa semakin lepas.
Tak lama kemudian Alaska yang baru saja tiba ikut bergabung. Pria itu langsung merangkul istrinya sebelum menatap ketiga anaknya.
“Sudah-sudah.”
Tatapannya kemudian beralih kepada Jove.
“Di mana suamimu, Sayang?”
“Masih di kamar, Dad. Sebentar lagi juga turun.”
“Ya sudah, kalian cepatlah mandi. Nanti kita berkumpul lagi dengan Kak Jove.”
Alaska menunjuk Jonathan dan Jordy sebelum kembali menatap putrinya.
“Temani dulu suamimu, Sayang. Ajak turun.”
Jove mengangguk.
“Iya, Dad.”
Jove pun kembali menaiki tangga menuju lantai dua.
Begitu membuka pintu kamar, Jove langsung melihat Nic masih tertidur di sofa.
Pria itu bahkan masih mengenakan pakaian yang sama seperti sebelumnya.
Jasnya sudah diletakkan di keranjang cucian, tetapi kaus dan celana panjang yang dikenakannya masih sama. Bahkan sepertinya Nic belum membersihkan diri setelah pulang dari kantor.
Jove mengernyitkan dahi.
Ia mendekat dan mencoba membangunkan pria itu.
“Nic, bangun. Ini sudah mau makan malam.”
Tidak ada jawaban.
Jove kembali memanggilnya.
“Nic.”
Tangannya menyentuh lengan Nic.
Seketika Jove merasakan sesuatu yang berbeda.
Tubuh Nic terasa lebih hangat dari biasanya.
Jove langsung menempelkan telapak tangannya ke kening pria itu.
“Kamu sakit, Nic? Tubuhmu panas.”
Nic mengerang pelan dan membuka matanya.
“Hm… aku pusing sekali.”
Jove langsung terlihat khawatir.
“Ayo pindah ke kasur.”
Ia mencoba menarik tangan Nic dengan perlahan.
Nic yang masih lemas akhirnya menurut.
Jove memapahnya hingga ke tempat tidur. Setelah Nic berbaring, Jove membantu menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.
“Tunggu di sini. Aku carikan obat dulu.”
Jove segera keluar dari kamar.
Di lantai bawah, ia mencari salah satu pelayan yang sedang berada di dekat ruang keluarga.
“Bi, ada obat penurun panas?”
“Untuk siapa, Nona?”
Jove terdiam sesaat.
“Untuk suamiku.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Namun, setelah mengucapkannya, Jove justru terdiam.
Suamiku.
Untuk pertama kalinya, ia menyebut Nic sebagai suaminya kepada orang lain.
Ada perasaan aneh yang menyelinap di dadanya.
Namun, Jove segera mengabaikannya.
Pelayan itu kemudian mengambil obat dari lemari obat keluarga dan menyerahkannya.
“Non, ini paracetamol. Tapi sebelum diminum, harus makan dulu.”
“Kalau masak bubur kelamaan, ya, Bi?”
“Ada sup ayam, Nona. Mau?”
Jove langsung mengangguk.
“Tolong bawakan ke kamarku, ya.”
“Baik, Nona.”
Jove baru saja hendak kembali menaiki tangga ketika Alaska memanggilnya.
“Jove, apa itu?”
Alaska menunjuk obat yang berada di tangan putrinya.
“Nic demam, Dad.”
“Panggil saja dokter.”
“Obat dulu saja, Dad. Nanti kalau demamnya tidak turun, baru ke dokter.”
Alaska mengangguk.
“Mungkin suamimu sedang kelelahan.”
Jove mengangguk kecil.
“Iya, Dad. Kemarin kami baru saja pulang dari luar kota bersama Papa dan Mama Nic. Terus tadi Nic langsung bekerja.”
“Hm, bisa jadi karena kelelahan.”
Alaska kemudian ikut menaiki tangga bersama Jove.
Ia ingin melihat keadaan menantunya.
Sesampainya di kamar, Jove langsung menghampiri tempat tidur.
“Nic, makan dulu. Setelah itu minum obat.”
Nic membuka matanya sedikit.
“Nanti saja, Sayang.”
Jove seketika terdiam.
Wajahnya kembali memerah.
Sayang lagi.
Ia melirik ke arah Alaska yang berdiri tidak jauh dari tempat tidur.
Mungkin kali ini Nic sedang menjalankan dramanya.
Namun, Jove tidak menyangka pria itu tetap menggunakan panggilan tersebut bahkan ketika sedang sakit.
Sementara itu, Alaska justru tersenyum mendengar menantunya memanggil putrinya dengan panggilan sayang.
Tatapan Alaska kemudian beralih kepada Nic.
Ada sesuatu yang membuatnya merasa tenang.
Tatapan pria itu kepada Jove terlihat hangat.
Bukan sekadar tatapan seorang pria kepada istrinya karena kewajiban.
Ada perhatian yang sulit dijelaskan.
Alaska lalu menatap putrinya.
Jove memang masih terlihat kaku ketika berada di dekat Nic. Namun, melihat bagaimana ia berlari mencari obat, meminta sup, dan sekarang duduk di sisi tempat tidur demi memastikan Nic makan, Alaska bisa melihat sesuatu yang mungkin bahkan belum disadari putrinya sendiri.
Jove mulai peduli.
Mungkin belum sebagai seorang perempuan yang jatuh cinta kepada suaminya.
Namun, setidaknya sebagai seseorang yang tidak ingin melihat Nic sendirian ketika sedang sakit.
Dan bagi Alaska, itu sudah cukup untuk membuat hatinya sedikit lega.
“Jove,” panggil Alaska.
Jove menoleh.
“Kamu makan malam saja di kamar. Nanti Daddy suruh pelayan untuk mengantar makan malammu ke sini. Temani suamimu yang sedang sakit,” kata Alaska dengan bijak.
“Tidak usah, Dad.”
Bukan Jove yang menjawab, melainkan Nic.
“Mungkin Jove sedang rindu makan malam bersama keluarganya,” lanjut Nic penuh pengertian.
Alaska tersenyum tipis.
“Besok kalian masih menginap di sini. Kalian masih bisa makan malam bersama kalau kondisimu sudah membaik, Nic.”
Alaska menjeda ucapannya sejenak, kemudian menatap Jove dan bergantian dengan Nic.
“Tugas dan kewajiban seorang anak perempuan yang sudah menikah adalah berbakti kepada suaminya. Apalagi sekarang kondisimu sedang sakit.”
Nic terdiam mendengar perkataan ayah mertuanya itu.
Ia tidak menyangka jika Jove dididik dengan begitu baik oleh kedua orang tuanya.
Tidak ada paksaan dalam ucapan Alaska. Tidak pula terdengar seperti sebuah perintah. Namun, sebagai seorang ayah, Alaska hanya ingin mengingatkan Jove bahwa setelah menikah, ada seseorang yang kini menjadi tanggung jawab dan bagian dari kehidupannya.
Nic menundukkan pandangan.
Entah mengapa, perkataan Alaska membuat pikirannya kembali pada ucapan Marry kemarin.
“Nic tidak salah memilih istri.”
Saat itu ia hanya menganggap ucapan ibunya sebagai bentuk kebahagiaan karena akhirnya putranya menikah.
Namun sekarang, Nic mulai mengerti maksudnya.
Jove bukan hanya perempuan yang cantik, mandiri, dan memiliki kemampuan luar biasa sebagai seorang CEO.
Di balik sikapnya yang terkadang dingin dan keras kepala, Jove ternyata memiliki hati yang begitu hangat untuk keluarganya.
Dan sekarang, bahkan ketika mereka hanya menjalani pernikahan yang seharusnya sebatas kesepakatan, Jove tetap berada di sisinya ketika dirinya sakit.
Nic perlahan mengangkat wajah.
Tatapannya jatuh kepada Jove.
Untuk beberapa detik, ia hanya memandangi wanita itu tanpa mengatakan apa pun.
Tatapan yang semakin sulit diartikan bahkan oleh dirinya sendiri.
Ada rasa nyaman.
Ada rasa kagum.
Ada rasa ingin menjaga.
Dan entah sejak kapan, ada sesuatu yang lebih dari sekadar itu.
Sesuatu yang membuat dadanya kembali bergemuruh hanya karena melihat Jove duduk di sisinya.
Nic menghela napas pelan.
Ia mulai takut pada satu kemungkinan.
Jangan-jangan, pernikahan yang awalnya hanya mereka anggap sebagai sebuah drama perlahan mulai terasa nyata baginya.
tinggal mnunggu nic atw jove junior
meletus balon coklat🤣🤭
lnjut kk othor💪🙏
lanjut thor..