DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Sabotase Tak Terlihat
Kabar selesainya hubungan Vino dan Caren secara memalukan masih menjadi topik hangat di SMA Nusa Bangsa. Caren yang terbiasa menjadi pusat perhatian dan disegani, kini harus menanggung rasa malu setiap kali melintasi koridor sekolah. Namun, di balik rasa malunya, dendam Caren terhadap Aira makin membara.
Pagi itu, sebelum jam pelajaran pertama dimulai, Caren berjalan sendirian menuju gedung olahraga di bagian belakang sekolah. Ia berniat mengambil barang-barangnya yang tertinggal di loker ruang ganti.
Koridor menuju gedung olahraga tampak sangat sepi di jam-jam seperti ini. Tanpa Caren sadari, sebuah sosok tinggi mengamatinya dari lantai dua gedung utama.
Darel berdiri di dekat jendela, memegang cangkir kopi hangatnya dengan tenang. Matanya melirik dingin ke arah Caren yang sedang berjalan di bawah sana.
Orang yang sudah berani meludahi barang Aira dan bikin Aira menangis... tidak boleh dibiarkan berkeliaran begitu saja, batin Darel datar tanpa emosi.
Darel meletakkan cangkirnya di atas meja, lalu melangkah santai menuju tangga belakang yang menuju ke arah koridor gedung olahraga.
Sepuluh menit kemudian, Caren keluar dari ruang ganti dengan tas olahraga tersampir di bahunya. Raut wajahnya masih menyiratkan amarah.
Saat ia melangkahi anak tangga semen yang cukup tinggi di samping gedung olahraga untuk kembali ke kelas, tiba-tiba pijakan kakinya terasa sangat licin secara tidak wajar.
Sret!
"Kyaaa?!"
Kaki Caren tergelincir hebat. Tubuhnya kehilangan keseimbangan seketika, membuat Caren jatuh terguling menghantam belasan anak tangga semen yang keras sebelum akhirnya terhempas keras di lantai bawah.
Brak!
"Aagghh! Sakit! Tolong!" jerit Caren histeris. Kaki kanannya terlipat dengan posisi yang aneh, dan darah segar mulai mengalir dari pelipisnya yang terbentur sudut tangga.
Beberapa siswa dan guru yang mendengar jeritan itu langsung berlari menghampiri lokasi kejadian. Suasana seketika menjadi panik dan riuh.
"Caren! Kamu kenapa?!" pekik seorang guru wanita ketakutan melihat kondisi Caren yang mengerang kesakitan di lantai.
"Tangga... tangganya licin banget... hobi banget ada yang numpahin sesuatu..." rintih Caren menahan sakit yang luar biasa di kakinya, air mata bercucuran membasahi wajahnya.
Di tengah kerumunan siswa yang mengerumuni Caren, Darel muncul dengan raut wajah yang sangat cemas dan penuh rasa prihatin—sebuah topeng simpati yang terpasang sangat sempurna.
"Ada apa ini? Ya ampun, Caren!" ucap Darel panik, segera berlutut dan membantu menahan kepala Caren agar tetap tenang. "Pak, sepertinya kakinya patah! Harus segera dibawa ke rumah sakit!"
Darel dengan sigap dan cekatan membantu guru-guru membopong Caren ke dalam mobil ambulans sekolah. Semua orang yang melihat aksi Darel memujinya sebagai senior yang sangat bertanggung jawab, sigap, dan penuh kepedulian.
Tak lama setelah ambulans pergi membawa Caren, beberapa petugas kebersihan sekolah memeriksa area tangga untuk mencari tahu penyebab kecelakaan tersebut.
"Ah, ini cuma ada tumpahan cairan pembersih lantai yang belum kering," kata salah satu petugas kebersihan sambil menunjukkan botol pembersih lantai yang sepertinya tidak sengaja terjatuh dari troli kebersihan dekat situ. "Mungkin tadi ada yang teledor waktu menyapu. Ini murni kecelakaan."
Semua orang—guru, siswa, bahkan pihak sekolah—menyimpulkan bahwa kejadian tersebut adalah kecelakaan murni akibat keteledoran petugas kebersihan.
Tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa beberapa menit sebelum Caren melintas, Darel-lah yang secara sengaja dan tenang memindahkan botol cairan pembersih itu, menyiramkan sedikit cairannya di anak tangga paling atas, lalu mengaturnya sedemikian rupa agar terlihat seperti keteledoran tak disengaja.
Di area taman sekolah yang sepi, Darel berdiri membersihkan tangannya menggunakan tisu basah. Ia membuang tisu itu ke tempat sampah, lalu mengulas senyum tipis yang sangat dingin dan mengerikan.
Bagi Darel, singkirkan Caren adalah hal yang sangat mudah. Siapa pun yang berani menyakiti atau membuat Aira merasa terancam, akan mendapatkan "pembalasan" tanpa pernah bisa menunjuk siapa pelakunya.
Dari kejauhan, Aira dan Vino berjalan bersama setelah melihat kehebohan di gedung olahraga tadi.
Aira tampak agak pucat dan khawatir. "Kak Caren... kasihan banget ya, Vin. Katanya kakinya patah."
Vino menatap ke arah tangga lokasi kejadian dengan dahi berkerut tajam. Sebagai cowok yang cukup jeli, ada sesuatu yang terasa mengganjal di hatinya. Mengapa kecelakaan itu terjadi persis beberapa jam setelah Caren merusak barang Aira dan memutuskan hubungannya?
Mata Vino tak sengaja menangkap sosok Darel yang baru saja keluar dari area taman sambil tersenyum manis menghampiri Aira.
"Aira, kamu enggak apa-apa kan? Tadi di gedung olahraga agak ramai," tanya Darel penuh kehangatan, mengusap pelan bahu Aira.
"Aku enggak apa-apa, Kak Darel..." jawab Aira polos, merasa sangat terlindungi oleh kehadiran Darel yang tampak begitu baik.
Namun Vino di sebelahnya hanya diam membisu, menatap Darel dengan tatapan penuh kecurigaan yang makin mendalam. Insting Vino memberitahunya bahwa di balik senyuman ramah dan kebaikan Darel yang sempurna, ada bahaya besar yang tak terlihat sedang mengintai Aira.