SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 duel di?
BAB 22: "DUEL DI ATAS MENARA KRANE"
Hujan gerimis berubah menjadi curahan air yang makin lebat. Angin malam berembus kencang di ketinggian tiga puluh meter di atas tanah, membuat struktur besi menara krane tua itu berderit ngilu. Lampu-lampu kota di kejauhan tampak buram tertutup kabut tebal.
Di puncak menara, seorang penembak jitu berpakaian taktis serba hitam sedang berlutut di belakang senapan sniper berkaliber berat. Peneropong lasernya sibuk memindai area bawah galangan kapal.
SREK.
Suara gesekan sepatu di atas pijakan besi basah membuat sang penembak jitu refleks melepaskan pegangan senapannya dan mencengkeram pistol di pinggang. Namun, sebelum dia sempat memutar badan—
BAM!
Langit melompati pagar pembatas menara, melayangkan tendangan lurus berkekuatan penuh yang menghantam dada penembak jitu tersebut! Pria itu terlempar menabrak tiang penyangga besi, pistolnya terlepas dan jatuh melayang ke dasar galangan.
"Siapa yang nyuruh lu menembak cewek gue?" desis Langit dengan suara serak yang mematikan. Wajahnya yang biasa tenang kini penuh raut kegelapan yang pekat.
Penembak jitu itu meringis, menyapu darah di bibirnya, lalu mencengkeram pisau komando bergigi dari sarung paha. Dengan raungan keras, dia menerjang Langit, mengayunkan pisau itu ke arah leher.
Langit tidak menghindar. Dia mencengkeram pergelangan tangan musuh di udara, menahannya dengan kekuatan murni hingga tulang pergelangan pria itu berbunyi KREK! Penembak jitu itu menjerit histeris saat pisaunya terlepas. Tanpa jeda, Langit menarik kepala musuh dan menghantamkannya ke pagar besi menara tiga kali berturut-turut!
BUAK! BUAK! BUAK!
Penembak jitu itu ambruk, bersimbah darah dan tak sadarkan diri di atas pijakan besi yang licin.
Langit berdiri tegap, dadanya naik turun memburu. Dia berbalik menuju tepi menara untuk melihat kondisi Aira di bawah. Namun, saat dia melongok ke bawah, matanya membelalak kaget.
Aira tidak ada di balik kontainer aman tempat dia menyuruhnya bersembunyi!
"Shena...?!" panggil Langit panik, suaranya tersapu angin kencang.
"Ngapain lu panggil-panggil nama gue sambil teriak-teriak kayak orang hilang, Kanebo?"
Suara santai Aira bergema dari belakang tiang mesin krane. Aira keluar dari kegelapan sambil mengeringkan sisa air hujan di wajahnya dengan ujung jaket. Di tangannya, dia memegang dua senapan laras panjang milik penjaga pintu tangga yang sudah dia lumpuhkan di lorong pipa bawah.
Langit membeku selama dua detik, lalu melangkah lebar menghampiri Aira. Tangan besarnya langsung merengkuh bahu Aira, memutar tubuh cewek itu untuk memeriksa apakah ada luka baru.
"Lu gak nurut," tegur Langit, suaranya bergetar antara amarah dan lega yang luar biasa. "Gue bilang tunggu di bawah!"
Aira menepis tangan Langit pelan, menyunggingkan senyuman savage khasnya.
"Gue bukan tipe cewek yang cuma bisa nunggu cowoknya bertarung sendirian, Langit. Lu tahu itu dari awal."
Langit menatap mata tajam Aira yang berkilat berani di tengah guyuran hujan. Kesal di dadanya mendadak luluh, berganti menjadi kekaguman yang teramat dalam. Tanpa memedulikan hujan deras yang membasahi kemeja dan rambut mereka, Langit menarik tengkuk Aira dan mendaratkan ciuman dalam yang posesif tepat di bibirnya.
Ciuman itu terasa panas dan intens di tengah dinginnya angin malam pegunungan pesisir. Aira tertegun sejenak sebelum akhirnya menyilangkan tangan kirinya di leher Langit, membalas ciuman itu dengan gairah yang sama kuatnya.
Ketika Langit melepaskan tautan bibir mereka, jari jemarinya tetap mengunci pipi Aira. "Lu bener-bener bikin gue gila, Aira Shena."
"Lu yang gila duluan," balas Aira sambil tersenyum tipis.
KLIK.
Tiba-tiba, suara tepuk tangan perlahan bergema dari pengeras suara raksasa yang terpasang di puncak menara krane.
CLAP... CLAP... CLAP...
"Adegan romantis yang sangat mengagumkan di tengah guyuran hujan," suara berwibawa, dingin, dan penuh intimidasi milik Bramantara Adhitama bergema menembus deru hujan dari speaker. "Aku hampir terharu melihat bagaimana seorang Putra Mahkota Adhitama rela mempertaruhkan nyawanya demi seorang cewek jalanan."
Langit dan Aira langsung memasang posisi siaga, menatap ke arah kamera CCTV yang terpasang di sudut tiang krane.
"Bramantara," desis Langit dingin. "Keluar dari semak-semak dan hadapi gue langsung kalau lu punya keberanian."
"Sabar, Langit," kekeh Bramantara dari balik layar pengawas di tempat tersembunyi. "Permainan malam ini baru saja dimulai. Kalian pikir kalian sudah menang hanya karena melumpuhkan satu tim taktis?"
Layar monitor kecil yang terpasang di samping kamera CCTV mendadak menyala, menampilkan rekaman langsung dari area markas utama geng Averus dan Penthouse tempat tinggal Aira. Di kedua lokasi tersebut, tampak belasan kendaraan taktis hitam Vanguard Holdings sudah mengepung total dan memasang bahan peledak di pintu masuk!
Aira menyipitkan matanya. "Pak Tua gila..."
"Semua tempat yang kalian sayangi sudah berada di bawah kendaliku," lanjut Bramantara dengan nada penuh kemenangan yang dingin.
"Pilihan kalian sederhana, Langit. Serahkan cewek itu secara sukarela malam ini untuk menghentikan seluruh eksekusi... atau saksikan seluruh teman-temanmu di Averus hancur berkeping-keping dalam hitungan menit."
Langit mengepalkan tangannya hingga rahangnya mengeras. Tatapan matanya berubah menjadi haus darah yang sangat pekat. Namun sebelum Langit sempat berteriak membalas, Aira melangkah ke depan kamera CCTV, menatap lurus ke arah lensa dengan senyuman miring yang paling mengejek se-dunia.
Aira mengacungkan jari tengahnya tepat di depan kamera, lalu mendekatkan wajahnya.
"Heh, Bramantara!" seru Aira lantang dengan nada suara yang begitu dingin dan percaya diri.
"Lu pikir ancaman mainan peledak begini bisa bikin kita gemeteran? Coba aja tekan tombolnya kalau lu berani! Karena begitu bom itu meledak... gue sendiri yang bakal datang ke gedung lu, menguliti lu hidup-hidup, dan bikin nama Vanguard Holdings cuma tinggal sejarah sampah!"
Di seberang jaringan pengawas, Bramantara Adhitama hening sejenak, terkejut oleh keberanian tanpa batas dari seorang cewek figuran yang seharusnya ketakutan.
Aira menyambar senapan laras panjang di tangannya, memutarnya lincah, lalu menembak kamera CCTV dan speaker itu hingga hancur berkeping-keping!
DORRR!
Percikan api menyambar udara malam. Aira berbalik menatap Langit yang menatapnya dengan tatapan takjub tak percaya.
"Ayo, Kanebo," kata Aira seraya mengokang senapannya. "Waktunya kita ratakan markas besar bapak lu!"
see you next bab 23
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?