Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 11
SENDIRI
Laura berdiri mematung di tengah kamar, tangan saling meremas di depan perutnya, langkahnya tak menentu. Ia berulang kali melangkah ke arah pintu lalu berbalik kembali, seakan kata-kata yang tertahan di kerongkongannya tak menemukan jalan keluar. Saat pintu terbuka, ia tersentak hebat, tubuhnya menegang seketika, menatap sosok yang melangkah masuk tanpa mengetuk.
Killian berhenti tak jauh dari ambang pintu, menatapnya lekat.
“Ka-kau... Aku pikir sudah pergi.” kata Laura pelan.
"Aku akan pergi malam ini," ucapnya datar, tanpa basa-basi. "Dua hari lagi aku baru akan kembali."
Laura menghela napas pendek, perasaan lega bercampur kecemasan melintas sejenak. "Lebih baik begitu," jawabnya, nada suaranya masih menyisakan kekesalan yang tak sepenuhnya hilang. "Aku berarti tidak akan bertemu denganmu."
Killian mengamati wajahnya sejenak, seakan mencari sesuatu di balik tatapan gadis itu.
"Ada yang ingin kau katakan? Ada rahasia di wajah cantikmu." tanyanya datar namun tegas.
Laura menggigit bibir bawahnya sejenak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan. "Aku... bolehkah aku meminjam ponsel atau telepon apa pun? Aku ingin menghubungi adikku."
Mendengar itu Killian mengerutkan kening, menatapnya lebih tajam. "Apa yang akan kau katakan padanya?"
"Aku hanya ingin tahu keadaannya!" jawabnya cepat, kekhawatiran menguasai dirinya sepenuhnya hingga ia tak lagi peduli seberapa terbuka suaranya terdengar. "Aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Itu saja."
Pria itu menatapnya lama, lalu berbalik perlahan melangkah menuju pintu.
"Di ruang kerja pribadi ayahku ada telepon rumah," ucapnya tanpa menoleh. "Pergilah ke sana. Sampaikan maksudmu langsung kepada pria tua itu."
Ia melangkah keluar, namun sebelum pintu tertutup sepenuhnya, langkahnya terhenti. Sesuatu yang terucap dan tersembunyi tadi tiba-tiba mengganjal di benaknya — anak kedua McManaman, yang masih kecil, yang tak pernah disebutkan namanya. Ia berbalik perlahan, menatap gadis itu lekat-lekat, penuh kecurigaan yang tak disembunyikan.
Laura tertegun. "A-ada apa?"
Killian melangkah mendekatinya perlahan, setiap langkah terasa berat dan mencekam. "Siapa adikmu?" tanyanya rendah.
Laura menegang, jantungnya berpacu liar, namun ia memaksakan diri berdiri tegap, tak mundur selangkah pun meski pria itu kini berdiri sangat dekat.
"Bobby McManaman," jawabnya, menatap tajam ke mata biru yang mengerutkan kening itu, seakan ia sedang mengamati setiap inci wajahnya untuk mencari jejak kebohongan.
Killian diam sejenak, lalu berkata pelan namun penuh peringatan. "Jauhilah bahaya di rumah ini. Jika kau ingin tetap selamat, jangan mencoba hal yang dapat membakar dirimu sendiri."
Ia berbalik dan pergi, meninggalkan Laura sendirian di ruangan yang tiba-tiba terasa jauh lebih dingin. Gadis itu menunduk, matanya berkaca-kaca, menahan gemetar yang menjalar ke seluruh tubuhnya hingga meremas tangannya sendiri yang berkeringat dingin. Ia berusaha tampil berani, namun setiap kali bertatapan dengan pria itu, ada rasa takut yang tak dapat ia sembunyikan sepenuhnya.
Di ruang santai yang berpenampilan mewah namun dingin, Sandra duduk menyilang kakinya, menatap tajam ke arah pintu masuk.
“Melly!”
Melly bergegas menghampirinya, menunduk hormat. “I-iya, Nyonya!”
"Astaga... Lihat pakaianmu," ucap Sandra tegas, matanya menyala marah. "Kancing itu lepas, kainnya kusut... seakan kau baru saja selesai bercumbu dengan seseorang. Haruskah aku menontonnya?"
Melly menunduk lebih dalam, tangannya bergerak cepat memperbaiki pakaian itu dengan wajah yang tetap tenang, penuh hormat sekaligus keangkuhan. "Maafkan kelalaian saya, Nyonya. Apa lagi yang Nyonya inginkan?"
Sandra menggeleng malas. "Sajikan teh seperti biasa," jawab Sandra singkat.
Tak lama kemudian, keduanya melihat Killian melintas di depan pintu ruangan itu. Aura yang ia bawa begitu tajam dan kuat, membuat siapa pun yang melihatnya tak berani memanggil. Melly tersenyum tipis, menatap punggung pria itu kagum sekaligus menyesal.
"Sayang sekali Tuan Killian harus menikah dengan seorang putri dari keluarga musuh," gumamnya pelan.
"Diamlah jika kau tidak ingin kehilangan nyawamu," tegur Sandra dingin yang langsung membuat pelayan itu menunduk faham.
Namun mata Sandra tak beralih dari kepergian pria itu, menyeringai kecil seakan memiliki rencana tersendiri di kepalanya.
***
Beberapa jam berlalu, menjelang malam. Laura tak lagi memikirkan keberadaan Killian yang telah hilang sejak siang tadi.
Dengan pakaian santai yang rapi dan rambut dikuncir rendah, ia melangkah keluar kamar, mencari seseorang untuk menanyakan arah. Seorang pelayan muda menuntunnya hingga ke pintu ruangan yang dimaksud.
"Terima kasih," ucapnya pelan, lalu mengangkat tangan mengetuk pintu berat itu.
"Masuk," terdengar suara berat, sedikit serak dan berwibawa dari balik pintu.
Laura menarik napas panjang sebelum membukanya. Ruangan itu luas, berbau kayu tua dan asap cerutu yang pekat. Vincenzo duduk di kursi besar berbalut kulit, tubuhnya tegap dan gagah, mengenakan setelan jas yang rapi. Tatapannya menatap lurus ke arah gadis itu, tajam dan mencengkam.
Laura memberanikan diri mendekat. "Maaf. Aku datang ingin meminjam telepon rumah. Killian yang menyuruhku ke sini untuk meminta izin kepada Anda."
Vincenzo menatap sejenak lalu mengangguk pelan, menunjuk ke arah meja di sisi kiri ruangan. "Di sana. Gunakanlah."
"Terima kasih."
Laura bergegas menghampiri meja itu, jari-jarinya gemetar saat menekan nomor yang ia hafal di luar kepala — nomor Lily. Ia menunggu, menahan napas, berharap suara gadis itu akan terdengar di seberang sana. “Aku mohon .. Aku mohon, angkat Lily.”
Namun yang didengar hanyalah nada panggil yang berulang, lalu pesan singkat bahwa nomor tersebut tidak aktif.
Ia meletakkan gagang telepon perlahan, perasaan cemas yang sedari tadi ditahannya kini meluap. Lily tidak mengangkat — karena tidak bisa. Ia yakin keluarga McManaman benar-benar menahannya.
Vincenzo memperhatikannya dari kejauhan. "Mereka tidak mengangkat telepon mu?”
Laura menoleh, menatap pria tua itu tanpa senyum. "Ya.”
"Di kediaman Marcano, kau akan aman. Apa kau takut?” ucapnya tenang.
“Tidak.” Laura menggeleng pelan, suaranya mantap meski hatinya hancur. "Aku tidak akan pernah benar-benar aman selama di sini, Tuan Marcano. Ini urusan dua pemimpin keluarga. Tidak seharusnya anak-anak yang bertanggung jawab.”
“Aku mengerti kehancuran mu.”
“Kau tidak akan mengerti. Aku permisi.”
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan pergi, meninggalkan pria tua itu sendirian di ruangan yang dipenuhi asap dan keheningan. Namun sorot mata Vincenzo semakin tajam melihat kepergian Laura usai mendengar perkataan berani wanita itu.
.
.
.
Sebuah jet pribadi sudah ada di depan mata. Pria tubuh tegap dan gagah berbalut kemeja hitam serta mantel panjang hitam, berdiri tepat di dekat tangga jet.
“Awasi keadaan di rumah, terutama Laura McManaman.” pinta Killian kepada anak buahnya yang lain.
“Dimengerti, Tuan.”
Tak berlangsung lama saat Killian segera masuk ke jet tersebut, membelah di kegelapan malam yang hening.