NovelToon NovelToon
Preman Pasar Belahan Jiwaku

Preman Pasar Belahan Jiwaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Chicklit / CEO / Romansa
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dayang, seorang penjual ikan berparas cantik sekaligus "preman pasar" bertangan dingin, memegang teguh prinsipnya untuk hanya melayani rakyat kecil, bukan tengkulak atau bisnis besar. Keteguhannya ditantang oleh Rimba, seorang CEO kaya raya yang berambisi memborong seluruh dagangannya. Setelah gertakan anak buah hingga sogokan uang tunai gagal total di tangan Dayang, Rimba yang terluka gengsinya nekad menyamar sebagai pria miskin yang kelaparan dan pingsan di depan lapak Dayang.
Luluh oleh rasa iba, Dayang menampung Rimba di rumahnya dengan syarat pria itu harus bekerja menjadi kuli pengangkut ikan. Niat awal Rimba yang hanya ingin menundukkan kesombongan si preman pasar perlahan goyah saat kemeja mewahnya berganti kaos lusuh beraroma amis. Di tengah kerasnya kehidupan pasar dan hangatnya perhatian yang tulus, batas antara akal-akalan licik dan perasaan nyata mulai kabur, memaksa sang bos besar mempertanyakan apakah ia akan berhasil meruntuhkan benteng Dayang atau hatinya yang leleh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Matahari siang menerobos sela-sela jendela kamar rumah kayu, menjatuhkan berkas cahaya hangat di atas kasur bambu.

Perlahan tapi berat, kelopak mata Dayang terbuka.

Kepala gadis itu masih terasa pening dan berat akibat sisa-sisa efek obat bius yang sempat merenggut kesadarannya.

Hal pertama yang ia tangkap di pandangannya adalah sosok Bintang.

Adik kecilnya itu duduk setia di sebelah kasur dengan mata sembap dan wajah yang pucat pasi karena cemas.

"Mbak," panggil Bintang lirih.

Suaranya bergetar menahan tangis yang hendak pecah kembali begitu melihat sang kakak akhirnya siuman.

Air mata seketika menetes dari sudut mata Dayang, membasahi bantalnya.

Ingatan pahit sebelum ia tak sadarkan diri kembali menyeruak—cengkraman kasar Bayu dan kain berbau menyengat yang membungkus wajahnya.

"Apa, Bayu melakukannya?" tanya Dayang dengan suara parau dan gemetar, dipenuhi rasa takut serta trauma mendalam.

Bintang cepat-cepat menggelengkan kepalanya seraya menggenggam erat jemari kakaknya.

"Nggak, Mbak. Nggak. Bayu ndak sempat bertindak jahat. Aku tadi pulang sekolah lebih awal dan merusak rencananya. Waktu aku teriak panggil warga, dia langsung lari kabur."

Dayang menghela napas panjang, meresapi rasa lega yang membuncah di dadanya.

Namun, kelegaan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum kepedihan lain yang lebih besar kembali menekan dadanya. Ia memutar pandangannya menatap sekeliling kamar yang sepi.

Bintang menatap kakaknya dengan mata bening yang sarat akan pertanyaan.

"Mbak, sebenarnya Mas Bima ke mana? Kenapa dari tadi subuh Mas Bima ndak ada? Waktu kejadian tadi juga dia tidak kelihatan."

Dayang hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

Air matanya mengalir makin deras membasahi pipi.

Ia tak sanggup menjawab, tak sanggup menceritakan bahwa pria yang sangat mereka harapkan itu telah pergi meninggalkan mereka secara sukarela tanpa menguncapkan sebaris kata pamit.

Langkah kaki pelan terdengar mendekat ke area kamar.

Jamal melangkah masuk dengan wajah tertunduk lesu, menenteng sebuah tas kecil berisi uang hasil penjualan ikan di pasar hari ini.

Melihat Dayang yang biasanya begitu gagah, pemberani, dan tak pernah gentar kini terbaring lemah di atas kasur dengan mata sembap, dada Jamal terasa sesak.

Pria pemuda pasar itu tidak tega melihat junjungannya sekaligus sosok kakak bagi anak-anak pelelangan menjadi serapuh ini.

"Mbak Dayang," panggil Jamal pelan, menyodorkan tas kecil itu ke atas meja samping kasur.

"Ini uang hasil dagangan hari ini. Tadi semua ikan bersih terjual disapu pelanggan."

Dayang menoleh pelan, menatap tas uang itu tanpa binar kebahagiaan yang biasanya selalu terpancar di wajahnya.

"Mal," panggil Dayang dengan suara parau.

"Besok kamu yang urus lapaknya ya."

Jamal tersentak kaget. Selama bertahun-tahun mengenal Dayang, gadis itu tidak pernah sekalipun meninggalkan lapak ikannya, sesakit atau selelah apa pun kondisinya.

"Mbak Dayang mau ke mana?" tanya Jamal cemas, mengernyitkan keningnya.

Dayang tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya pelan, lalu memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan setetes air mata kembali meleleh menyusuri pipinya.

Hatinya terlalu remuk untuk sekadar menjelaskan kebingungan dan kehampaan yang kini menggerogoti jiwanya.

Jamal melangkah keluar dari kamar dengan wajah berat, diikuti oleh Bintang yang menutup pintu kayu itu sepelan mungkin.

Suasana di luar kamar begitu hening, menyisakan ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.

Bintang menatap Jamal dengan mata yang masih basah.

"Mas Jamal, sebenarnya Mas Bima ke mana?" tanya Bintang lirih, memegang lengan kemeja Jamal dengan tatapan penuh keputusasaan.

"Kenapa dia hilang gitu aja waktu Mbak Dayang lagi butuh dia?"

Jamal mendesah panjang, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Nggak ada yang tahu, Bin. Tadi di pasar Pak Mat sama anak-anak pelelangan juga nyariin, tapi nggak ada satu pun yang lihat dia jalan keluar."

Jamal mengusap bahu Bintang, mencoba memberi ketenangan walau hatinya sendiri ikut teriris melihat kehancuran keluarga kecil itu.

"Kasihan Mbak kamu, Bin. Baru kali ini Mas lihat Mbak Dayang terpukul banget kayak gini," ucap Jamal dengan suara dalam.

"Kamu jaga Mbakmu baik-baik ya. Jangan dibiarkan sendirian dulu."

Bintang menganggukkan kepalanya pelan, menggigit bibir bawahnya menahan tangis yang hendak pecah lagi.

"Iya, Mas Jamal. Bintang bakal jaga Mbak Dayang."

Jamal mengangguk pelan, menepuk bahu Bintang sekali lagi untuk memberi kekuatan, lalu berpamitan keluar dari rumah kayu tersebut.

Sepeninggal Jamal, Bintang menyapu air matanya.

Ia melangkah ke dapur, menyalakan kompor, dan mulai mengolah pasokan cumi segar yang sempat dibawa dari pasar.

Dengan penuh telaten, Bintang memasak cumi goreng tepung renyah—makanan kesukaan Dayang yang biasanya selalu sanggup mengembalikan keceriaan dan semangat kakaknya.

Lima belas menit kemudian, aroma gurih cumi goreng yang menggugah selera memenuhi ruangan.

Bintang menata semangkuk nasi hangat dan piring cumi itu di atas baki kayu, lalu membawanya masuk ke dalam kamar.

"Mbak, ayo makan dulu," panggil Bintang dengan suara selembut mungkin seraya meletakkan baki di atas meja samping kasur.

"Aku sudah masak cumi kesukaan Mbak Dayang. Masih hangat, Mbak."

Dayang tetap terbaring miring, membelakangi Bintang. Ia tidak bergeming sedikit pun, bahkan saat aroma cumi goreng kesukaannya menyerbak di dalam kamar.

"Mbak Dayang," Bintang menyentuh bahu kakaknya pelan.

"Mbak nggak lapar, Bin. Bawa saja keluar," sahut Dayang parau tanpa membalikkan badan.

Dayang sama sekali tidak mau menyentuh makanan itu.

Dinding pertahanan Srikandi Pasar yang biasa begitu tangguh kini benar-benar runtuh, menyisakan ruang hampa yang teramat dingin di dadanya.

Makanan selezat apa pun tak sanggup mengikis rasa sesak akibat pengkhianatan dan kepergian bisu pria yang sangat ia percayai.

Melihat kakaknya menolak makan sama sekali, Bintang berdiri mematung.

Kebingungan dan rasa cemas yang makin besar membendung di dadanya, tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menyembuhkan luka batin Mbak Dayang.

Sementara itu, ratusan kilometer jauhnya di pusat kota, Rimba baru saja menyelesaikan meeting maraton bersama para direksi Suryo Group.

Langkah kakinya yang dibalut sepatu kulit mahal melangkah cepat membelah koridor kantor menuju mobil yang membawanya langsung ke apartemen pribadinya.

Begitu pintu apartemen mewah di lantai atas gedung pencakar langit itu tertutup, kesunyian mendadak mengepung Rimba.

Kemewahan dan keluasan tempat tinggalnya terasa dingin serta membeku.

Rimba melangkah masuk ke dalam kamar mandi berlapis marmer.

Ia menanggalkan jas dan kemeja sutranya, lalu berdiri di bawah gemercik air shower dingin yang membilas seluruh tubuh tegapnya.

Air yang mengalir membasahi wajah dan rambut hitamnya tak sanggup mendinginkan rasa bergejolak di dalam dadanya.

Di bawah guyuran air dingin itu, ingatan Rimba melayang kembali ke teras rumah kayu yang bersahaja.

Sentuhan lembut jemari Dayang, aroma tubuhnya yang murni, serta ciuman manis di bawah pendar rembulan semalam kembali menyergap inderanya dengan begitu nyata.

Setiap detik saat bibir mereka bertemu berputar berulang kali di kepalanya bagai kaset tua.

Rimba memejamkan matanya rapat-rapat, menyandarkan satu tangannya pada dinding kaca shower.

Rasa penyesalan, kehangatan, dan kepedihan akibat kebohongan yang ia ciptakan menyatu menjadi satu hantaman keras di dadanya.

"Dayang, aku mencintaimu," ucap Rimba serak, suaranya nyaris tenggelam di antara suara gemercik air shower.

Pengakuan tulus itu akhirnya meluncur dari bibir sang CEO—sebuah ungkapan cinta murni yang tak sempat ia bisikkan langsung di hadapan wanita yang telah mencuri seluruh jiwanya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
Muft Smoker
km harus berusaha keras buat ngeluluhin hati dayang rimba ,, dayang itu hidup di dunia yg keras ,, JD tulang punggung keluarga demi adik ny ,,
jdi wajar kalo dayang menjadi keras kepala dan berpendirian yg kuat ,,
tinggal km gmn cara ny membuktikan ma dayang klo km bnr2 menyesal ,,
Muft Smoker
akhirnya kebohongan terbongkar juga ,, menyisa kan kekecewaan bagi banyak org ,, terutama dayang ,,
ayoo rimba tunjukan ma dayang kalo perasaan km , perlindungan km , dan perhatian km tu tulus ,, meskiii di mulai dr kebohongan bisnis ,,
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Muft Smoker
nah kan ,, sudah ku bilang ,,, hapus penyamaran ,, sudah ku bilang ,, toh jujur saja ,, kalo dr awal kontrak ny begini ,, penjelasan ny jelas ,, tanpa kekerasan ,, mungkin dayang bisa berfikir ulang ,,
kalo skarang Mlah di curigai kan 🤭🤭😂😂
Muft Smoker
hati2 rimba jgn bermain terlalu jauh ,, nanti klo terbongkar dayang mengetahui sypa km sbnrnya ,, entah ap yg bakal gmn reaksi dayang ,, yg pasti bukan sesuatu yg bagus
Muft Smoker
hati2 rimba km milih lawan yg salah ,, 🤭🤭🤭
Muft Smoker
lanjuut kak ,, cerita ny seruuu
Muft Smoker
yx kalian yg beres ma si dayang di jadiin ikan asin 🤭🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
hai kak mampir lgi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!