Kejarlah ilmu sampai ke negeri cina, sepertinya berubah makna menjadi cinta. Reza dan keluarganya adalah penduduk lokal asli yang hidup dikawasan kota J, berteman dengan Chintya yang pendatang dari etnis cina bersama keluarganya yang mengelola toko kelontong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaLiAs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir x Permulaan 2
Keesokan paginya, matahari bersinar sangat terik. Reza sudah bangun sejak subuh. Ia menggosok kemeja putih lengan panjangnya yang kerahnya sudah agak menguning, lalu menyetrika celana bahan hitam miliknya sampai garis tengahnya setajam silet. Penampilannya pagi ini adalah starter pack pelamar kerja standar nasional.
Di tangannya, sudah tergenggam erat sebuah map jepit plastik berwarna merah. Di dalamnya berisi fotokopi KTP, Kartu Keluarga, pas foto 4x6 dengan latar belakang merah (di mana wajah Reza terlihat kaku seperti buronan), dan selembar Ijazah SMA. Ijazah terakhir yang kini menjadi satu-satunya senjata yang ia miliki.
Ia mengetuk pintu kamar Poltak. "Tak! Bangun! Udah jam tujuh!"
Poltak membuka pintu dengan mata setengah tertutup, memakai sarung, dan memegang sikat gigi. Begitu melihat penampilan Reza, Poltak ternganga hingga busa odolnya menetes.
"Bah! Rapi kali kau, Za! Mau ngelamar kerja atau ngelamar anak lurah?"
"Ngelamar jadi TKI, Tak. Ayo buruan, motor lo panasin. Nanti Disnaker-nya keburu antre."
Sepanjang perjalanan menggunakan motor bebek Poltak yang knalpotnya suka meledak-ledak sendiri, Poltak tak henti-hentinya mencoba menggoyahkan keputusan Reza. Ia berbicara setengah berteriak agar suaranya mengalahkan bisingnya jalanan.
"Za! Kau pikir-pikir lagilah! Cina itu luas, Kawan! Kalau kau dikirim ke pabrik perakitan yang kerjanya 24 jam gimana? Kalau kau dipaksa bikin handphone bajakan terus ditangkap polisi sana gimana?!"
"Ya gue kerja yang bener, Tak! Yang penting kan legal, berangkatnya lewat jalur resmi pemerintah," balas Reza santai dari jok belakang, tangannya memegang map merah erat-erat agar tidak terbang tertiup angin.
"Tapi kerjaan kasar, Za! Tanganmu ini tangan sastrawan, biasa nulis Hanzi. Nanti di sana disuruh ngaduk semen, bisa patah pergelangan tanganmu itu!"
"Tangan gue biasa ngaduk mi instan 100 mangkok semalam, Tak. Santai aja, otot gue udah ter-training di Warkop Berkah!"
Poltak menyerah. Berdebat dengan Reza saat mode 'Bucin Guangzhou'-nya sedang aktif sama saja dengan menasihati batu bata. Batu batanya diam, yang menasihati malah sakit tenggorokan.
Akhirnya, motor bebek itu pun berbelok memasuki halaman Kantor Dinas Tenaga Kerja. Reza turun dari motor, merapikan kemejanya, dan menatap gedung pemerintahan di depannya dengan napas panjang. Bukan gedung rektorat, bukan kampus impian, tapi dari sinilah jalan menuju janjinya akan kembali dibangun.
...
Di saat Reza sedang mengantre di loket Disnaker, suasana yang sama sekali berbeda terjadi di sebuah kamar rawat inap Rumah Sakit Bunda.
Dini terbaring di atas ranjang rumah sakit dengan tatapan kosong yang mengarah ke langit-langit kamar. Kulitnya pucat, di lengannya terpasang selang infus. Sejak kejadian di Teater Lama, ia belum mengucapkan sepatah kata pun. Dokter mendiagnosisnya mengalami Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) akut. Traumanya begitu dalam hingga otaknya memilih shut down sebagai mekanisme pertahanan diri.
Di sofa sebelah ranjang, Siska dan Maya duduk dengan mata sembab. Mereka sudah dua hari bergantian menginap menemani sahabat mereka itu.
Cklek. Pintu kamar rawat terbuka.
Masuklah Kevin, mengenakan kemeja biru muda yang disetrika licin, membawa sebuah parcel buah super besar dan sebuket bunga mawar merah yang ukurannya cukup untuk menutupi batu nisan. Di belakangnya, Aldo mengekor dengan langkah ragu-ragu dan wajah pucat pasi seperti orang yang sedang kena gejala tipes.
"Hai, Siska, Maya," sapa Kevin dengan suara dilembutkan, penuh empati palsu. "Gimana keadaan Dini pagi ini? Gue bawain buah sama bunga kesukaannya nih."
Siska berdiri, menerima buket bunga itu sambil tersenyum sedih. "Masih sama, Kev. Dia belum mau ngomong. Matanya melek, tapi kayak nggak ada orangnya di dalam. Dokter bilang butuh waktu buat dia ngelewatin masa kritis psikologisnya."
Kevin berjalan mendekati tepi ranjang. Ia menatap Dini yang terdiam membisu. Dalam hati, Kevin menyorak kemenangan. Cantik, lemah, dan nggak berdaya. Sempurna, batinnya iblis.
Ia menarik kursi dan duduk di sebelah ranjang Dini. Dengan berani (dan tak tahu malu), Kevin menggenggam tangan Dini yang terasa dingin. Dini tidak meronta, ia hanya berkedip lambat, seolah sentuhan itu tidak teregistrasi di sarafnya.
"Din," bisik Kevin dengan nada seolah ia adalah aktor peraih Piala Citra. "Aku di sini. Kamu aman sekarang. Si bajingan Reza itu udah di-DO. Dia nggak bakal bisa deketin kamu lagi, apalagi nyakitin kamu. Mulai sekarang, aku yang bakal jagain kamu. Aku janji, nggak ada satu orang pun yang berani nyentuh kamu selama ada aku."
Maya yang melihat adegan itu dari sofa mengusap air matanya dengan tisu. "Kevin baik banget ya, Sis. Di saat Dini hancur begini, dia tetep mau stay dan ngelindungin Dini. Harusnya dari dulu Dini milih Kevin aja daripada si cowok miskin berengsek itu."
Siska mengangguk setuju. Drama sinetron itu sukses membodohi dua sahabat korban.
Namun, tidak semua orang di ruangan itu tertipu. Di dekat pintu, Aldo berdiri kaku. Saat ia mendengar kalimat "nggak ada satu orang pun yang berani nyentuh kamu selama ada aku" keluar dari mulut Kevin, Aldo merasa isi perutnya bergejolak. Rasa mual yang teramat sangat menyerangnya.
Ia tahu siapa yang menyuruh preman itu menyentuh Dini. Ia tahu siapa monster sebenarnya di ruangan ini.
Aldo menatap wajah Dini yang kosong. Gadis itu hancur karena ego temannya. Aldo bukan orang suci, ia sering bolos dan ikut mem- bully maba, tapi ini beda. Ini adalah kejahatan murni. Dan yang paling membuat Aldo ketakutan setengah mati adalah, jika suatu saat Dini tiba-tiba sembuh dan bisa mengingat wajah preman itu... lalu preman itu tertangkap dan bernyanyi ke polisi... maka Aldo yang ikut merencanakan ini di dalam mobil akan ikut terseret ke penjara.
Setiap kali ada suster yang membuka pintu untuk mengecek infus, Aldo terlonjak kaget. Jantungnya berdegup gila-gilaan. Gila, ini suster atau intel polisi nyamar?! pikir Aldo paranoid. Keringat dingin merembes di kerah kemejanya. Ia menatap Kevin yang sedang mengelus rambut Dini dengan lembut.
Kevin udah gila. Psikopat. Gue harus cari cara buat amanin diri gue sendiri sebelum kapal ini karam, batin Aldo gemetar. Rasa takut mulai menggerogoti kesetiaannya pada sang bos borju.