NovelToon NovelToon
Tale Of Mumei

Tale Of Mumei

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Kutukan
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Liang Hou

Setelah kematian Nobunaga Oda, selir keempatnya Ogen yang sedang hamil mengasingkan diri ke tepian hutan Kurama bersama beberapa pengawalnya. Dalam pengasingan selir Nobunaga itu melahirkan anak perempuan yang kelak di beri nama Mumei.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liang Hou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22. Benih Keretakan

Kabut tipis musim panas membumbung tinggi dari dasar lembah, membawa aroma tanah basah, jelaga kayu hangus, serta kebauan amis darah yang tak kunjung basuh di sepanjang parit pertahanan luar Odawara.

Di perkemahan sayap utara yang dihuni oleh klan-klan daimyo kecil dari provinsi pegunungan—mulai dari klan Sanada, klan Sano, klan Satake, hingga sisa-sisa sekutu kecil dari wilayah Shinano—suasana malam itu terasa amat pekat oleh kebencian yang tertahan. Tak ada nyanyian kemenangan, tak ada sorak-sorai di sekeliling api unggun. Yang terdengar hanyalah rintihan parau para prajurit yang lengannya terpotong, gesekan kain kasa yang ternoda nanah, serta ketukan dingin tombak yang ditancapkan ke tanah basah.

Di dalam sebuah tenda medis darurat yang kusam, Sanada Nobushige berdiri menatap deretan prajuritnya yang terbaring kaku. Baju zirah merahnya telah dilepas, menyisakan kimono katun tipis yang bernoda bercak darah kering di bagian lengan.

Anayama Kosuke melangkah masuk, membuang sekelompok kain kasa berdarah ke dalam wadah kayu di sudut ruangan. Wajah sang veteran Shinano itu dipenuhi garis-garis kelelahan dan kemarahan yang membatu.

"Tiga puluh delapan prajurit kita gugur dalam gempuran malam tadi di gerbang sekunder, Tuan Muda," laporan Kosuke, suaranya bergetar rendah oleh kepahitan. "Dua puluh lainnya mengalami luka bakar parah akibat minyak panas Hojo. Dan apa yang dikirimkan oleh markas utama Kuroda Kanbei sore ini? Hanya dua karung beras kusam dan tiga kotak perban bekas!"

Nobushige tidak langsung menjawab. Jemarinya mencengkeram erat belati pendek di pinggangnya. "Bagaimana dengan pasokan mesiu yang dijanjikan Kanbei untuk klan Sano di sayap kiri?"

Kosuke meludah kasar ke tanah. "Ditolak! Utusan klan Sano kembali dengan tangan kosong dari Gunung Ishigaki. Bawahannya Kanbei bilang, pasokan amunisi dan peluru timah diutamakan untuk barisan kavaleri utama Toyotomi dan pasukan klan Tokugawa. Kita—klan-klan kecil dari utara—dianggap sudah 'cukup' dengan pasokan panah kayu!"

"Cukup?" sela sebuah suara parau dari balik pintu tenda.

Sano Fusatsuna, kepala klan Sano dari Provinsi Shimotsuke, melangkah masuk ke dalam tenda dengan langkah terpincang-pincang. Pundak kirinya dibebat rapat oleh kain putih yang memerah. Wajah daimyo kecil itu memucat oleh amarah dan kekecewaan yang tak tertahan lagi.

"Kanbei tidak pernah memperlakukan kita sebagai sekutu, Nobushige-dono!" bentak Fusatsuna dengan nada berbisik yang tajam. "Pria cacat dari Kansai itu menggunakan kita sebagai umpan hidup! Dia menempatkan klan-klan kecil di garis depan agar kita memuntahkan darah, membuang amunisi, dan memancing Hojo membakar sisa-sisa bubuk mesiu mereka! Sementara pasukan inti Toyotomi duduk nyaman di atas Gunung Ishigaki, meminum sakramen dan menonton kita dibantai dari kejauhan!"

Nobushige menatap sang daimyo tetangga dengan mata yang tenang namun dalam. "Kita semua tahu dari awal bahwa ini adalah taktik Kanbei, Fusatsuna-dono."

"Tahu dan dirawat seperti ternak pembantaian adalah dua hal yang berbeda!" potong Fusatsuna, jemarinya mencengkeram gagang katananya hingga buku tangannya memutih. "Lihat klan Satake di sayap utara-timur! Mereka kehilangan hampir separuh prajurit terbaiknya hanya untuk merebut satu parit kayu! Ketika mereka meminta pasukan cadangan dari jenderal Toyotomi di belakang, mereka hanya disuruh 'bertahan sampai mati demi keagungan Tuan Kampaku'!"

Fusatsuna melangkah lebih dekat ke arah Nobushige, matanya menyipit penuh dendam. "Tuan Kampaku dan Kuroda Kanbei sedang melakukan dua hal sekaligus dalam perang ini: meruntuhkan klan Hojo di Odawara, sekaligus menguras habis kekuatan militer klan-klan kecil di utara agar kita kelak tak sanggup angkat senjata melawan Kyoto!"

Kata-kata itu menghantam ruangan kecil itu bagaikan angin beku.

Kosuke menundukkan kepalanya, mengutuki kenyataan pahit tersebut dalam diam. Nobushige pun sadar sepenuhnya bahwa analisis Fusatsuna seratus persen benar. Kuroda Kanbei adalah arsitek yang tak memiliki ruang bagi belas kasihan di dalam kalkulasi militernya. Bagi Kanbei, setiap prajurit klan kecil yang gugur di parit Odawara adalah dua keuntungan sekaligus: mengurangi amunisi Hojo, serta melemahkan potensi pemberontakan lokal di wilayah Kanto dan utara di masa depan.

"Lalu apa yang ingin kau lakukan, Fusatsuna-dono?" tanyakan Nobushige, suaranya tetap terkontrol dingin. "Apakah kau bermaksud menarik pasukanmu malam ini dan memicu kemurkaan Hideyoshi?"

Fusatsuna membeku. Ia mengepalkan tangannya, membuang pandangannya ke arah kegelapan luar tenda dengan kemarahan yang pupus menjadi keputusasaan.

"Mundur berarti kepalaku akan dipenggal sebagai pengkhianat..." bisik Fusatsuna parau. "Maju berarti seluruh pemuda dari desaku akan menjadi bangkai di parit Odawara. Kita semua hanya bidak-bidak kayu di atas papan catur Kanbei..."

Di luar tenda, di bawah naungan pohon cedar tua yang menghadap ke arah kemah klan Sanada, sesosok pria berzirah hitam berdiri bersandar pada batang pohon.

Date Masamune.

Sang Naga Satu Mata dari Oshu itu menyilangkan kedua tangannya di dada, mendengarkan seluruh perdebatan mendidih dari tenda klan Sanada dari kejauhan. Katakura Kojuro berdiri dua langkah di belakangnya, memegang tali kekang kuda hitam Masamune.

"Klan-klan kecil itu mulai menyadari busuknya permainan Kanbei, Pangeran," bisik Kojuro pelan.

Masamune terkekeh dingin—sebuah kekehan pendek tanpa rasa humor. Ia meludah ke atas serakah daun basah di kakinya.

"Kanbei sangat jenius, tapi dia terlalu sombong," ujar Masamune, mata kirinya yang memancarkan kilatan liar menatap ke arah puncak Gunung Ishigaki yang terang benderang oleh obor-obor perkemahan Toyotomi. "Dia pikir dengan memeras darah klan-klan kecil, dia sedang membangun fondasi kekuasaan mutlak untuk klan Toyotomi. Dia tidak sadar bahwa setiap tetes darah prajurit Shinano dan Shimotsuke yang terbuang sia-sia malam ini... sedang menanam benih kebencian yang amat pekat."

"Kebencian yang kelak akan berbuah saat Hideyoshi tiada?" tanya Kojuro.

"Tepat," jawab Masamune seraya membetulkan letak pelindung kepala bulan sabit emasnya. "Hideyoshi menyatukan tanah ini dengan ketakutan dan emas, sementara Kanbei mengikatnya dengan benang kalkulasi yang terlalu kencang. Sekali saja benang itu retak... klan-klan kecil yang terluka malam ini akan menjadi orang pertama yang mencabut katananya untuk meruntuhkan istana Kyoto."

Masamune menoleh sekilas ke arah Tokugawa Ieyasu yang perkemahannya berdiri megah dan tenang di sektor selatan.

"Dan serigala dari Mikawa itu tahu betul hal tersebut," sambung Masamune dengan seringai tipis. "Lihat bagaimana Ieyasu memperlakukan klan-klan kecil yang terdesak. Dia secara sembunyi-sembunyi membagikan pasokan berat dan obat-obatan dari gudang Mikawa kepada sekutu-sekutu kecil yang diabaikan Kanbei. Ieyasu sedang membeli hati orang-orang yang dilukai oleh Kanbei."

Kojuro mengangguk mengerti. "Taktik yang sangat halus..."

"Perang Odawara ini adalah awal dari akhir klan Toyotomi, Kojuro," bisik Masamune seraya membalikkan badan, melangkah kembali menuju perkemahan klan Date. "Biarkan Kanbei menikmati keagungan taktiknya malam ini. Suatu hari nanti, kita akan melihat bagaimana bidak-bidak kecil yang dia hinakan ini akan membalas dendamnya."

***

Sementara gejolak kekecewaan merayap di antara klan-klan kecil di garis depan, di atas puncak Gunung Ishigaki, puncak dari mahakarya Kuroda Kanbei telah siap dieksekusi.

Kuroda Kanbei berdiri di atas panggung menara pengawas benteng kayu raksasa yang baru saja selesai dibangun di tengah kepekatan hutan. Di sekelilingnya, ribuan buruh dan prajurit Toyotomi memegang kapak dan gergaji besar, menunggu aba-aba terakhir.

Di samping Kanbei, Toyotomi Hideyoshi berdiri dengan gaun perang indahnya, menatap ke arah kegelapan Benteng Odawara di bawah sana.

"Apakah seluruh pohon di lereng depan sudah digergaji sampai setengah batang, Kanbei?" tanya Hideyoshi dengan napas tersengal oleh antusiasme yang membakar.

"Seluruhnya, Tuan Kampaku," jawab Kanbei dingin, wajahnya yang tirus tak memancarkan emosi sedikit pun. "Setiap pohon cedar raksasa di lereng ini hanya disangga oleh satu dorongan kecil. Ketika tali-tali penarik diikatkan dan ditarik bersamaan..."

Kanbei mengangkat tangan kirinya, lalu menjatuhkannya secara mendadak ke udara malam.

"Tebang!" perintah Kanbei.

KREEEKKK! BARRR!

Suara gemuruh raksasa membahana membelah keheningan malam Kanto. Ribuan pohon cedar raksasa di sepanjang lereng Gunung Ishigaki roboh serentak dalam hitungan menit, meluncur jatuh ke dasar jurang dengan benturan yang menggetarkan bumi.

Asap debu dan dedaunan membumbung tinggi, dan ketika kabut malam terangkat disapu angin laut—

Di atas puncak Gunung Ishigaki, yang kemarin sore masih berupa hutan belantara yang rapat, kini berdiri sebuah benteng batu dan kayu raksasa beratap genteng hitam dengan dinding-dinding putih berkilat ditimpa cahaya ribuan obor. Benteng tandingan Toyotomi muncul secara gaib tepat di atas kepala klan Hojo dalam waktu satu malam.

Di dalam Benteng Odawara, ketakutan masal meletus seketika. Para penjaga Hojo di atas tembok menjatuhkan senjata mereka, bersujud di atas lantai batu sambil menjerit histeris, yakin bahwa pasukan dari Kansai membawa sihir iblis yang tak sanggup dilawan oleh nalar manusia.

Kuroda Kanbei menatap kepanikan di Odawara dari atas menara benteng tandingannya. Matanya yang dingin dan rasional berbinar oleh kepuasan taktis yang sempurna. Kemenangan tanpa perlu meretas tembok dalam telah berada di dalam genggamannya.

1
Xiao Qiao
ngakak tengil bnget nih bocah wkwk🤣
Liang Hou: sesuai sifat aslinya kak 😭😭
total 1 replies
Xiao Qiao
bentar banget thor pertarungannya
Liang Hou: masih agak bingung bikin pertarungan panjang lawan Yokai 🙏
total 1 replies
Xiao Qiao
hmm lumayanlah untuk fiksi sejarah, tapi politiknya terlalu kental jadi agak susah dicerna
Liang Hou: thanks udah baca
total 1 replies
Liang Hou
🤏
penajalanan_
gak jelas banget authornya arc 1 gini doang
penajalanan_
kurang menarik
penajalanan_
bertele-tele sampah
penajalanan_
campur aduk, ini cerita sejarah apa fantasi sih. Sejak kapan tengu ikut perang, lagian mana ada tengu di desa tengu itu tinggal di gunung
penajalanan_
sotoi, Takenaka Hanbei aja udah meninggal tahun 1579 masa ketemu sama Hanbei saat menuju Yamazaki emangnya bisa hidup lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!