Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Peluk Di tengah Kegelapan 33.
Jarum jam dinding ruang seni menunjukkan pukul 17.30 WIB.
Semburat jingga di luar jendela perlahan meredup, digantikan abu-abu yang suram. Di koridor luar, langkah berat dan seretan sapu Pak Jono terdengar menjauh.
Klek. Srek.
Bunyi besi gembok yang dikunci dari luar menggema ngilu di telinga.
"Pak! Pak Jono! Kami masih di dalam, Pak!" Ulfa menggedor pintu kayu jati itu dengan panik. Telapak tangannya sampai memerah, namun suara motor tua Pak Jono yang menyala di parkiran menjadi jawaban bahwa usaha mereka sia-sia. Sekolah sudah mulai sepi dari rangkaian festival hari ini. Mereka resmi terjebak.
Ulfa membalikkan badan, napasnya memburu. Di sudut ruangan, bersandar pada meja panjang penuh kaleng cat, Langit. Cowok itu menatap ujung sepatunya sendiri, sama sekali tidak berniat membantu Ulfa berteriak sejak tadi.
"Puas?" suara Ulfa bergetar, menahan tangis yang sudah di ujung mata. "Kita kekunci, Lang Semalaman. Di ruang seni yang bahkan nggak ada lampunya karena saklarnya korslet dari minggu lalu!"
Langit mengangkat wajahnya. Guratan bersalah sekaligus keras kepala tercetak jelas di wajah tampannya. "Gue nggak tahu Pak Jono bakal ngunci secepat ini."
"Tapi lo yang narik gue ke sini!" Setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipi Ulfa. Ketakutan, lelah, dan tekanan emosi yang dia pendam sejak siang akhirnya pecah. "Kalau lo nggak narik gue paksa ke ruangan ujung ini, kita nggak bakal kesasar di sini! Ini semua karena cemburu buta lo yang nggak masuk akal itu!"
Langit melangkah mendekat, mencoba meraih tangan Ulfa. "Fa, dengerin gue—"
"Nggak! Jangan dekat-dekat!" Ulfa mundur, punggungnya menempel pada pintu yang terkunci. Tangisnya makin deras, bahunya terguncang. "Lo keterlaluan, Lang. Cuma karena susu kotak sama roti bantal rasa keju, lo langsung narik gue kesini dan ngintimidasi gue seolah gue ngelakuin kejahatan besar? Lo mikir nggak, sih?"
Langit menghentikan langkahnya. Di bawah redup nya cahaya magrib yang makin menipis, matanya menyiratkan luka yang dalam. Rasa bersalah menghantam dadanya begitu melihat air mata gadis yang berstatus sebagai istri rahasianya itu. Iya, rahasia besar di usia belasan tahun yang terpaksa mereka simpan rapat-rapat dari dunia sekolah.
"Gue cemburu, Fa," suara Langit melembut, serak, dan terdengar begitu rapuh. Hilang sudah ego cowok populer yang biasanya dia tunjukkan di kelas dan didepan Zara. "Gue cemburu setengah mati pas lihat lo senyum lebar banget di depan Elang. Lo tahu kan dia Wakil Ketua OSIS yang selalu punya alasan buat dekat-dekat sama lo?"
"Itu cuma roti dan susu, Langit! Elang cuma mau bangunin gue, terus suruh gue pulang dan gue gak tau kalau itu pemberian lu, lagian itu juga salah lu karena diam-diam ngasih susu dan roti itu!" sergah Ulfa di sela isak tangisnya.
"Tapi lo senyum ke dia, Fa. Senyum yang jarang banget lo kasih ke gue akhir-akhir ini di rumah," Langit jujur. Pertahanan dirinya runtuh. "Gue lihat lo megang susu kotak rasa stroberi dan roti bantal keju kesukaan lo itu sambil senyum ke dia. Pikiran gue langsung kalap. Gue ngerasa... posisi gue sebagai suami lo nggak ada artinya kalau di sekolah lo bisa sebahagia itu sama cowok lain, sementara sama kita harus pura-pura nggak kenal."
Langit menundukkan kepala, menjambak rambutnya sendiri dengan frustrasi. "Gue minta maaf. Gue bener-bener minta maaf karena kebodohan gue, kita jadi terjebak di sini. Gue emang egois."
Mendengar pengakuan jujur yang begitu telanjang dari Langit, tangis Ulfa perlahan mereda, menyisakan sesak yang familier. Dia tahu betul rasa tidak aman yang menghantui mereka berdua sejak pernikahan di bawah tangan yang dipaksakan oleh keadaan keluarga mereka beberapa bulan lalu.
Di sekolah, Langit adalah si kapten basket, dan Ulfa adalah ketua osis yang aktif di organisasi. Mereka adalah dua garis paralel yang tidak boleh bersentuhan demi masa depan masing-masing.
Malam pun jatuh sepenuhnya. Ruang seni bertransformasi menjadi kubus hitam yang pekat dan dingin. Angin malam menembus celah-celah ventilasi, membuat Ulfa menggigil di balik seragam putih abu-abunya yang tipis.
Langit bergerak dalam kegelapan yang sudah mulai dibiasakan oleh matanya. Dia membongkar tumpukan properti drama di pojok ruangan, lalu kembali membawa selembar kain beludru tebal berukuran besar—sebuah jubah properti drama yang cukup tebal untuk dijadikan selimut.
Tanpa bersuara, Langit mendekati Ulfa yang duduk meringkuk di lantai. Dia menyelimuti bahu Ulfa, lalu dengan ragu-ragu duduk di sampingnya.
"Malam ini dingin, Fa. Boleh gue...?" Langit menggantung kalimatnya.
Ulfa tidak menjawab, tapi dia menggeser tubuhnya mendekat, membiarkan Langit menariknya ke dalam pelukan. Langit mendekap tubuh kecil Ulfa erat-erat, membagi kehangatan tubuhnya sendiri demi mengusir hawa dingin yang menusuk tulang.
Kain beludru itu membungkus mereka berdua, menciptakan ruang kecil yang hangat di tengah kegelapan total.
Di dalam keheningan malam yang hanya diisi oleh suara detak jantung mereka yang berkejaran, pelukan itu perlahan meruntuhkan sisa-sisa kemarahan.
"Gue juga takut, Lang," bisik Ulfa tiba-tiba, suaranya teredam di dada Langit. Telapak tangan kecilnya meremas seragam cowok itu.
Langit mengecup puncak kepala Ulfa dengan lembut. "Takut apa?"
"Takut kalau rahasia ini terbongkar, lo bakal benci sama keadaan dan ninggalin gue. Tapi di sisi lain, gue juga capek harus selalu jaga jarak sama lo di koridor sekolah. Pas lo pasti di ikutin Zara ke kantin, atau kemanapun. Rasanya gue mau teriak ke mereka kalau lo itu punya gue. Tapi gue nggak bisa," curhat Ulfa, menumpahkan ketakutan terbesarnya yang selama ini terpendam di balik wajah tenangnya.
Langit mempererat pelukannya, seolah meyakinkan bahwa dia tidak akan pergi ke mana pun. "Gue nggak akan pernah ninggalin lo, Fa. Demi apa pun. Ketakutan terbesar gue justru sebaliknya— gue takut lo capek sama hubungan sembunyi-sembunyi ini, lalu lo mutusin buat nyari cowok yang bisa gandeng tangan lo dengan bangga di depan umum. Kayak Elang."
Ulfa mendongak dalam kegelapan, mencoba mencari mata Langit. "Elang nggak punya tempat di sini, Lang. Roti dan susu itu bahkan nggak sebanding sama perasaan gue yang harus gue sembunyiin setiap hari dari pacar lu."
Langit tersenyum tipis, rasa hangat yang menjalar di dadanya bukan lagi karena selimut properti, melainkan karena ketulusan yang akhirnya mereka suarakan.
Di ruang seni yang dingin dan terkunci ini, tanpa ada yang melihat, untuk pertama kalinya mereka tidak perlu berpura-pura menjadi orang asing. Mereka hanya dua remaja yang saling memiliki, mencoba bertahan di tengah badai rahasia yang mereka ciptakan sendiri.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳