Soraya anak bungsu dari tiga bersaudara, ceria, mudah bergaul dan sedikit pintar. Keluarganya berkecukupan tapi sederhana. Hari Pertama SMA kelas 10 bertemu Aldrian yang kelas 12, Aldrian orang yang pendiam, perhatianya tidak diucapkan. Soraya dan Aldrian memiliki hari hari yang canggung disekolah. Banyak interaksi tak pernah terjalin komunikasi. Soraya akhirnya harus terpisah dengan Aldrian. Aldrian yang sudah lebih dulu lulus pergi tanpa kata tanpa berpamitan, membuat hari hari Soraya disekolah selalu mengingat Aldrian.
Setelah 2 tahun terpisah akhirnya mereka bertemu kembali. Aldrian mempunyai keberanian untuk menemui Soraya dirumahnya.
Soraya dan Aldrian dari keluarga yang sangat berbeda, keyakinan yang berbeda membuat mereka mempunyai banyak cerita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MayRedN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu berharga untuk diucapkan
Kak Aldrian tanpa banyak bicara, mengulurkan secara perlahan botol mineral yang dia bawa. Saat botol itu berpindah tangan, jemari tangan kami saling bersentuhan terasa dingin dan gemetar ada semburat merah di pipinya.
Matanya yang biasa dingin menatap lembut kearahku, menyiratkan rasa khawatir, tanpa mengucapkan kata, ia segera memalingkan wajah dengan canggung.
Tanpa menunggu lama, aku membuka botol yang dia berikan, namun ternyata sudah terbuka. Mungkin sebelum memberikanya dia sudah membukakan terlebih dahulu.
Aku mengangkat botol itu lalu meminumnya. Air dingin mengalir membasahi kerongkongan, Setelah beberapa tegukan panjang, aku menaruh botol tersebut, mengembuskan napas lega.
Berlahan aku menolehkan wajahku kesamping kiri, sedikit mencuri tatapan ke kak Aldrian.
"Makasih" kataku lirih
Anggukan kecil menjadi jawaban yang dia berikan padaku.
Kata katanya bak permata yang sangat berarti. Terlalu berharga untuk diucapkan. Aku tidak membenci diamnya.
Sikapnya yang sedingin jemarinya sudah mulai menjadi hal yang biasa buatku. Dia yang tak pandai bersuara atau dia tak pandai mengutarakan suara...
Arya mengambil kursi meletakan diujung meja lalau duduk menatap intens ke arahku "Makanya udah habis Ay?"
Kualihkan pandanganku untuk membalas tatapan Arya "Udah, aku balik duluan ya?"
Aku memundurkan sedikit kebelakang kursi yang aku duduki lalu berdiri "Aku duluan ya kak?"
Kuputar badanku kekiri, badanku bersebelah dengan kak Aldrian. Tangan kananku memegang bahunya sesaat lalu berjalan melewatinya begitu saja.
Aku sengaja memberanikan diri untuk ngisengin dia. Keberanian ini muncul seketika tadi melihat semburat merah di pipinya.
Sebenarnya aku penasaran expresi apa yang ada diwajah Aldrian dengan sentuhan tadi, tapi sayangnya aku tidak bisa melihatnya.
Putri dan Tamiya yang sedari tadi berdiri dibelakangku ikut berpamitan kepada kakak kakak "Duluan ya kak"
Kami bertiga berlahan meninggalkan tempat duduk dikantin menuju ke kelas.
Putri "Agresif amat nih anak? "
Tamiya "Iya katanya nggak peduli tapi pakai pegang pegang bahunya segala"
Aku tersenyum tipis "Sayangnya nggak ada yang bisa lihat expresinya kayak gimana, cuma jarinya yang sentuhan aja sampai dingin, pipinya merah, apalagi disentuh bahunya"
"Aku liat tau, waktu kamu pegang bahunya kak Aldrian tadi seketika tanganya langsung diem, badanya membeku kayak patung hehe" kata Putri sambil tertawa
Tamiya "Semakin kesini kayaknya semakin ngerasa nggak sih kalau kak Aldrian tuh emang beda ke kamu Ya, aneh gitu?"
Aku "Tadi berarti dia kaget ya... Hehe rasain. Nggak tau juga, cuma ngerasa lain aja"
Putri masih dengan tawanya "Berani beraninya kamu nyentuh gunung es Ya... hahaha"
Tamiya "Tar kapan kapan perlu tuh dikerjain lagi ya, coba expresinya kayak gimana lagi"
Kami sampai kelas, masih duduk santai dibangku panjang depan kelas. Kami bertiga duduk berdiam melamun entah sedang memandangi apa dan memikirkan apa.
"Tadi tuh gara gara kamu makan sambel bledek trus kesamber bledek beneran jadi batuk batuk hehe" Tiba tiba Putri bersuara, Putri ini memang pintar dalam mencairkan suasana, kata katanya selalu receh tetapi sangat perhatian.
Aku masih melihat kedepan dengan pandangan kosong menjawab "Mungkin juga gara gara cumi sambel bledek jadi kesedak bledeknya"
Tamiya hanya menjawab "Iya"
Balkon sudah mulai ramai, sepertinya sudah menjadi kebiasaan kalau istirahat pasti pada mememnuhi balkon bukanya duduk santai dikelas.
Kelas seberang juga mulai penuh pada berdatangan. Termasuk Aldrian dan geng nya, mereka berdiri bersandar di pagar balkon, kecuali Arya yang memandang ke arah kami.
Dari kejauhan terlihat Arya mulai berjalan memutari balkon, sepertinya tujuanya mau kesini. Setelah beberapa saat ternyata benar, Arya berbelok ke lorong kelas 10.
Arya melangkah lambat ke arahku. Dia tidak memilih duduk dibangku yang masih ada tempat kosong tetapi secara tiba tiba berjongkok tepat dihadapanku. Arya mendongak dengan senyum tipis, matanya menatap langsung kearahku. Jarak yang begitu dekat ini membuatku merasa nggak enak hati.
Aku mulai nggak nyaman, sedikit canggung membalas pandangan Arya lalu melihat sekeliling yang sudah mulai heboh. Secara reflek aku menghantam keras bahu Arya kebelakang.
Tubuh Arya terjungkal ke belakang, pantatnya menghantam lantai keramik dengan keras, disusul tangannya menahan beban tubuh sehingga cup yang dia pegang terjatuh.
Aku panik sendiri lalu mengulurkan tanganku menawarkan bantuan ke Arya "Sorry Ar, nggak sengaja"
Arya menerima bantuanku, tangan kirinya memegang tanganku lalu berdiri dengan kesakitan, tangan kananya mengambil cup yang terjatuh "Padahal aku cuma mau nganterin minum kamu doang, malah dihantam pukulan"
Aku menggeser pantatku sedikit ke arah kanan ke arah Putri, sehingga ada sedikit ruang untuk Arya duduk "Kan aku dah bilang nggak sengaja, duduk sini, jangan jongkok kayak gitu!! Kan kesanya nggak enak banget dilihat orang"
Disekeliling kami udah pada heboh ngomongin aku dan Arya :
"Cie...perhatian banget deh"
"Ehemmm jadi ganggu nih kita"
"Ngontrak kita ngontrak"
Arya duduk tepat disebelahku, kami berhimpit himpitan "Nggak enak kenapa... Emangnya kita ngapain?"
Aku masih melihat sekeliling "Denger nggak tadi pada bilang apa, dikiri kita pacaran tau Ar?"
Arya menoleh tersenyum ke arahku "Aamiin ya Allah kabulkan lah"
Aku mencubit perut arya "Enak aja!!"
"Aduh... Sakit tau, lha emang harus diapain.. Anggep aja doakan" Arya menjawab dengan penuh senyuman
Putri melihat ke arah Arya "Kak Arya sukanya mencari gara gara nih, sapa coba yang nggak ngomongin kalian kalau sedeket ini"
Aku "Tuh kan Ar... Putri aja sampai bilang kayak gitu"
Tamiya berdiri dari tempat duduknya, bersandar di pagar melihat ke arah kami "Iyalah, kita yang jelas jelas tau kalian nggak pacaran aja ngerasa kayak gitu, apalagi yang nggak tau ceritanya"
Arya kembali menoleh ke arahku, melihat lebih dalam "kenapa tadi kamu minum dari Aldrian, kenapa nggak minum es teh mu yang di cup ini?"
Aku tanpa berpikir panjang, langsung saja berdiri dari dudukku, merapatkan punggungku pada pagar balkon di belakangku. Tangganku memegangi atas pagar sambil menggerak gerakan jemariku. Aku mencoba tersenyum, meski tahu wajahku pasti sudah terlihat panik.
"Kamu ngapain nanyain hal hal kayak gitu, nggak penting tau!!"
Arya masih belum juga mengalihkan pandanganya dia tetap mencecarku dengan pertanyaanya "Ada hubungan apa kamu sama Aldrian?"
Aku menjadi sedikit emosi Arya menanyakan tentang Aldrian, berjalan ke kelas meninggalkan Arya "Pertanyaanmu lama lama nggak masuk akal"
Dikelas terlihat Punggung Arya dari balik jendela kaca, Arya termenung sesaat masih memegang cup yang dia bawa tadi.
Arya berdiri, memberikan cup tadi ke Putri tanda kata lalu pergi begitu saja.
Putri masuk kedalam duduk disebelahku, menaruh cup didepanku tanpa kata tanpa suara.
Kami duduk terdiam beberapa saat lalu bel berbunyi.
Triinggggggg...... Triinggggggg......
Yang diluar kelas mulai masuk kedalam, diluar agak terlihat sepi, aku menoleh ke kelas seberang yang balkonnya juga sudah sepi.
Putri menghela nafas pelan "Kalau aku tidak begitu memikirkan kata kata kak Arya "Ada hubungan apa kamu sama Aldrian?" . Aku malah berfikir dan mencurigai ada apa kak Arya dengan kamu"
HUFFF...
Kulepaskan nafasku secara pelan dan berat, berlahan ku hadapkan kepalaku ke arah ke Putri lalu tangan kananku yang menyangga telinga "Aku harus apa?"
Senyumku tiba tiba hambar, aku seperti terjebak dalam sekat. Teka teki yang tanpa arah ini membuatku bimbang.
Debaran jantungku membuatku pilu. Sekarang harus apa??? Aku tak ada jawaban. Aku semakin terjebak dalam pertanyaan pertanyaan yang tak pernah ada jawabanya. Aku hanya bisa terdiam terbelenggu bimbang yang dibuat sendiri olehku.