Bagi Kirana, Kenan Alister adalah definisi iblis berkulit manusia. Sebagai Ketua OSIS SMA Garuda yang dingin, disiplin, dan tak berhati, Kenan selalu punya seribu cara untuk menghukum Kirana, bahkan hanya gara-gara masalah sepele seperti tali tas yang terseret di luar gerbang. Kirana bersumpah membenci cowok es itu seumur hidupnya.
Namun, dunia Kirana mendadak runtuh saat sebuah jamuan makan malam keluarga membongkar rahasia besar, rencana perjodohan dari amanah almarhum kakek mereka. Dalam hitungan hari, status Kirana berubah dari murid biasa menjadi istri siri rahasia dari Ketua OSIS paling ditakuti di sekolahnya.
Kini, kehidupan baru mereka dimulai di bawah satu atap dengan empat aturan ketat.
Akankah pernikahan rahasia ini bertahan di tengah intrik sekolah, tatapan curiga para sahabat, dan benih-benih perasaan yang pelan-pelan mulai tumbuh di balik benteng gengsi masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DM🌚, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 35
Sinar matahari pagi Jumat akhir pekan memantul hangat di atas bubungan atap rumah dua lantai di kawasan Dago Atas, Bandung. Udara pagi pegunungan berhembus sejuk, membawa aroma pinus yang menyegarkan ke seluruh sudut halaman rumah Kenan dan Kirana.
Pukul 08.30 WIB, di ruang keluarga lantai satu, kesibukan kecil tengah terjadi. Kirana, mengenakan cardigan rajut warna krem berpadu celana bahan santai, tampak sigap merapikan vas bunga segar di atas meja tamu. Di sebelah kirinya, Nabila sahabat karib Kirana sejak hari pertama ospek Fikom Unpad datang membantu membawa setoples kue kering buatan rumah yang baru saja ia keluarkan dari kantong belanjaannya.
"Duh, rumah kalian bener-bener aesthetic parah, Kir!" puji Nabila berdecak kagum seraya meletakkan toples kue di atas meja makan.
"Udah udaranya adem, pemandangannya menghadap langsung ke lembah Bandung, ditambah suami siaga macam Kenan... lengkap banget hidup lo!"
Kirana tertawa renyah mendengar ocehan sahabat nya itu sembari menuangkan teh hangat ke dalam cangkir keramik. "Bisa aja lo, Nab. Makasih lho udah repot-repot bawain kue buatan nyokap lo ke sini."
"Ah, santai! Nyokap gue emang sengaja bikin banyak buat kalian," balas Nabila, lalu duduk di kursi meja makan sambil menyeruput teh. "Oh iya, gue ke sini bukan cuma mau numpang ngeteh ya. Gue mau nagih janji soal rencana kita bikin podcast literasi digital bareng anak-anak himpunan Fikom minggu depan."
Sebelum Kirana sempat menjawab, suara ketukan pintu utama terdengar dari arah depan.
"Eh, sebentar ya Nab, kayaknya itu Ayah yang datang," ujar Kirana berbinar senang, lalu bergegas melangkah menuju pintu utama.
Begitu daun pintu terbuka, ayah Kirana, Irfan berdiri dengan senyuman ramah yang sangat menenangkan. Pria paruh baya berusia akhir 50-an itu mengenakan kemeja batik lengan panjang yang rapi, membawa sebuah tas kerja kulit tua namun terawat. Garis wajah Pak Irfan memancarkan sisa-sisa ketampanan dan wibawa seorang dosen senior yang cerdas dan berintegritas.
"Ayah!" sapa Kirana riang, langsung menyambut tangan ayahnya dan mencium punggung tangannya.
Ayah Irfan tersenyum lebar, mengelus puncak kepala putrinya penuh kasih sayang. "Kirana... Wah, rumah kalian benar-benar asri, Nak. Ayah senang lihatnya."
"Ayo masuk, Yah. Di dalam ada Nabila juga, teman kuliah Kirana," sambut Kirana hangat.
Setelah Ayah Irfan meletakkan tasnya dan duduk di ruang tamu, suasana rumah mendadak terasa jauh lebih hidup. Nabila dengan sopan memperkenalkan diri dan menyalami Ayah Irfan, membuat sang dosen senior itu tertawa ramah mendengar celotehan ceria Nabila mengenai tugas kuliah Fikom yang menumpuk.
Tidak lama kemudian, dari arah lantai dua, Kenan turun mengenakan kemeja kasual biru muda. Begitu melihat ayah mertuanya berada di ruang tamu, langkah Kenan mempercepat. Ia berjalan mendekat, lalu membungkuk hormat dan mencium tangan Ayah Irfan.
"Selamat pagi, yah. Maaf Kenan baru turun dari ruang kerja di atas," sapa Kenan sopan dengan suara baritonnya yang hangat.
Ayah Irfan menepuk-nepuk bahu Kenan dengan bangga.
"Pagi juga, Kenan. Tidak apa-apa, Nak. Ayah tahu kamu pasti sibuk mengurus riset kampus yang padat itu. Bagaimana kabar pekerjaan dan kuliahmu?"
"Alhamdulillah semuanya berjalan lancar dan terkendali, Yah," jawab Kenan mantap, lalu duduk di sofa berseberangan dengan Ayah Irfan, sementara Kirana dengan sigap menyajikan secangkir kopi hitam manis buatan khusus untuk ayah tercinta.
Sementara suasana hangat tercipta di kediaman Dago Atas, di belahan kota Bandung yang lain, tepatnya di sebuah restoran mewah kawasan Riau pertemuan keluarga besar Alister tengah berlangsung dalam atmosfer yang jauh lebih kaku.
Ny. Sinta duduk berhadapan dengan adik iparnya, Antoni sekaligus ayah Julian di sebuah meja sudut privat. Pertemuan itu sengaja diinisiasi oleh Antoni untuk membahas ulang proyek investasi holding setelah insiden ketegangan di acara ballroom hotel minggu lalu.
Antoni menyeruput teh hijaunya pelan, lalu menatap Sinta dengan raut wajah serius. "kak Sinta, jujur saja... apa kamu dan mas Baskoro tidak merasa kalau Kenan terlalu keras kepala. Hubungan bisnis keluarga kita dengan Maheswari Group sempat renggang gara-gara insiden Julian dan Hanni kemarin. Padahal aliansi dengan Maheswari bisa melipatgandakan aset holding kita."
Ny. Sinta meletakkan cangkirnya dengan tenang. Punggungnya bersandar elegan di kursi restoran, memancarkan wibawa seorang nyonya besar keluarga Alister utama.
"Antoni" ucap Sinta dengan nada suara yang lembut namun setajam silet. "Kamu sepertinya lupa apa arti dari kehormatan keluarga Alister yang dibangun oleh kakek anak-anak kita dulu. Kenan bukan alat tukar politik bisnis. Dia adalah anak yang tahu persis bagaimana memegang komitmen dan janji suci."
"Tapi Kirana itu—" potong Antoni.
"Kirana adalah menantu pilihan kami!" pangkas Sinta tegas, memotong ucapan kakak iparnya tanpa keraguan.
"Putri dari Irfan adalah gadis berakhlak mulia dan cerdas. Saya dan suami saya sangat bahagia melihat Kenan dan Kirana hidup rukun di Dago. Jadi, tolong hentikan segala upaya kamu atau Julian untuk mencoba mendekatkan Kenan dengan Hanni lagi. Keputusan cabang utama sudah bulat."
Antoni tertegun, mendapati kakak iparnya begitu teguh membela Kirana. Ia menyadari bahwa di bawah kepemimpinan Baskoro dan Sinta, benteng keluarga inti Alister sama sekali tidak bisa ditembus oleh intrik bisnis dari cabang manapun.
….
Kembali ke rumah Dago Atas, pukul 11.30 WIB.
Suasana makan siang di meja makan keluarga terasa begitu meriah. Ayah Irfan menikmati hidangan sop ayam mentega buatan putrinya dengan lahap, memuji masakan Kirana yang rasanya persis seperti masakan istrinya.
"Masakan kamu makin enak saja, Kirana," puji Ayah Irfan tersenyum hangat. "Ayah jadi tenang meninggalkan kalian berdua di Bandung karena Kenan dijaga dan diurus dengan sangat baik oleh istri yang hebat."
Kirana tersipu malu, melirik Kenan di sebelah kanannya. Kenan tersenyum lembut, merangkul pundak Kirana sejenak. "Kirana memang luar biasa, Yah. Tanpa dia, rumah ini rasanya sepi."
Nabila yang duduk di ujung meja ikut terkekeh. "Duh, pengantin baru ini bikin iri yang masih jomblo aja! Oh iya, Om Irfan, ngomong-ngomong soal kuliah, minggu depan Fikom Unpad bakal ngadakan seminar media nasional. Nanti Kenan sama Kirana harus dateng ya sebagai pasangan inspiratif!"
Ayah Irfan tertawa renyah mendengar usulan Nabila. "Wah, ide bagus itu, Nabila. Ayah pasti datang kalau ada waktu senggang untuk melihat kalian berdua di panggung."
Di sela-sela obrolan santai tersebut, ponsel Kenan di atas meja berdering pelan. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Rian, rekan sesama asisten peneliti di lab ITB.
Rian: "Ken, lo di mana? Tadi pihak Dekanat ITB mendadak minta revisi draf alokasi anggaran hibah gelombang pertama karena ada penyesuaian nominal dari pihak donor Maheswari Group. Lo bisa ke lab sebentar siang ini?”
Kenan membaca pesan itu dengan tenang. Garis wajahnya sedikit mengetat, menyadari bahwa Hanni sepertinya kembali mencoba menggunakan celah administratif birokrasi untuk menguji ketahanannya. Gadis itu masih saja mengganggu nya, apa dia tidak bosan setelah penolakan yang ia berikan berkali-kali.
Ayah irfan yang duduk di sebelah Kenan menangkap perubahan ekspresi wajah menantunya. Sebagai seorang dosen senior yang sangat berpengalaman, Ayah Irfan langsung paham cucuran masalah birokrasi kampus.
"Ada kendala di kampus, Kenan?" tanya Ayah Irfan bijak.
Kenan meletakkan ponselnya, lalu menatap ayah mertuanya dengan sopan. "Ada sedikit penyesuaian draf anggaran hibah dari pihak donor di lab, Yah. Sepertinya harus saya tinjau langsung agar tidak ada klausul yang merugikan posisi riset tim Unpad."
Ayah Irfan tersenyum menenangkan, mengangguk paham. "Pergilah, Nak. Urusan akademis dan profesional tidak boleh ditunda. Ayah paham betul bagaimana dunia riset berjalan. Kirana dan Nabila biarkan di rumah dulu, nanti Ayah yang menemani mereka."
Kirana menatap suaminya dengan penuh pengertian. Ia tahu betul suaminya tidak akan meninggalkan rumah di tengah kunjungan sang ayah jika situasinya tidak penting.
"Pergilah, Sayang," bisik Kirana lembut, menyentuh lengan Kenan. "Selesaikan urusan di lab. Ayah ada disini nemenin aku."
Kenan mengangguk. Ia mencium singkat punggung tangan Ayah Irfan dan berpamitan. "Kalau begitu, Kenan ke lab dulu sebentar, Yah. Nanti sore Kenan langsung pulang untuk makan malam sama Ayah."
….
Pukul 13.00 WIB, di Laboratorium Optimasi Sistem ITB Ganesha.
Kenan melangkah masuk dengan langkah tegap. Di ruang rapat kecil laboratorium, Hanni sudah duduk bersama staf administrasi dekanat memegang berkas revisi anggaran.
Begitu melihat kedatangan Kenan, Hanni tersenyum tipis. "Ah, Koordinator Kenan... Terima kasih sudah meluangkan waktu di akhir pekan. Pihak Maheswari Group baru saja mengeluarkan klausul tambahan untuk alokasi dana operasional lapangan."
Kenan duduk di kursi seberang tanpa tersenyum sedikit pun. Ia menarik berkas tersebut, membaca setiap butir pasal dengan teliti. Manik mata hitamnya langsung menangkap ada satu pasal terselubung di halaman terakhir klausul yang mencoba memberikan hak veto kepada pengawas hibah (Hanni) untuk memindahkan jadwal uji coba lapangan tim Unpad secara sepihak.
Hanni menatap Kenan dengan tatapan penuh harap bahwa Kenan akan terpaksa berkompromi. "Klausul tambahan itu diperlukan agar sinkronisasi jadwal lapangan kita lebih fleksibel, Kenan. Mengingat... Lo kan juga punya kesibukan pribadi di rumah."
Kenan mendongak perlahan. Ia menutup berkas itu dengan tenang, lalu menatap Hanni tepat di kedua matanya tanpa keraguan sedikitpun.
"Kak Hanni," ucap Kenan dengan suara bariton rendah yang sangat tajam. "Klausul ini bukan untuk fleksibilitas riset. Ini adalah upaya manipulasi administratif untuk mencampuri jadwal otonomi tim Unpad."
Hanni terperanjat kecil. "Kenan, gue cuma—"
"Saya tandatangani revisi anggaran utama jika pasal ini dicoret sepenuhnya detik ini juga," potong Kenan mutlak, tidak memberi ruang tawar sedikit pun. "Jika tidak, saya akan langsung melaporkan pelanggaran independensi hibah ini ke Dekan Fakultas Teknik dan Rektorat."
Tekanan otoritas dan ketegasan mutlak dari Kenan membuat staf administrasi dekanat yang duduk di sebelah Hanni langsung berkeringat dingin dan mengangguk setuju pada ucapan Kenan. Hanni, yang skenarionya kembali terbongkar mentah-mentah, hanya bisa mengepalkan jemarinya di atas meja dengan napas tertahan.
Kenan berdiri, merapikan jasnya, lalu menatap Hanni untuk terakhir kalinya. "Pekerjaan profesional diselesaikan dengan integritas, bukan akal-akalan pribadi. Saya tunggu draf revisi bersihnya sore ini."
Tanpa menunggu sepatah kata pun dari Hanni, Kenan melangkah keluar laboratorium dengan kepala tegak, kembali menuju mobilnya untuk pulang
Bersambung…