NovelToon NovelToon
Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Mengungkap Misteri Kematian Sang Putri.

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Virgo kelabu

Orang tua Yang rela melakukan apapun untuk mengungkap semua misteri Kematian tragis sang putri yang pernah mereka abaikan selama ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 24

Tak banyak kegiatan yang bisa Nismara lakukan tiga hari ini. Dia hanya berdiam diri di kosnya dan cuma keluar sore saat dia pergi ke Mahkota Gym. Beruntung nya Rizal sebagai pemilik kos menepati janjinya. Dia tidak pernah mengusik kehidupan Nismara sedetikpun.

Namun sampai saat ini belum ada petunjuk apapun tentang Sherin. Nismara belum mempunyai teman di pusat kebugaran itu, yang bisa dia korek-korek untuk mendapatkan informasi. Tadinya Nismara mengincar Bobby, tapi ternyata cowok itu bisa datang dan pergi seperti angin, kadang terlihat tapi begitu akan didekati dia entah berada di mana.

Agaknya Nismara harus bersabar dulu. Namun dia yakin, dari tempat itulah pembunuhan Sherin akan terkuat sedikit demi sedikit.

Nismara sedang bersiap untuk pergi ke mahkota Gym. Hari ini dia mengenakan setelan training yang sedikit longgar. Nismara meringis, dia melihat Sofia sebagai gadis yang lugu ketika dia melihat dari pantulan di cermin. Setelah tiga hari berturut-turut Nismara selalu berolahraga dalam balutan kaos dan celana serba ketat dan menggoda, kali ini dia memang ingin tampil sebagai remaja yang polos. Tak lupa dia menguncir rambutnya dengan gaya ekor kuda.

Saat Nismara membuka pintu, dia melihat Maryono memasuki pagar rumah dengan berjalan kaki. Rasanya Nismara ingin balik lagi ke dalam rumah, tetapi dia sudah tertangkap basah.

"Sofia! Kok Kamu tambah cantik?" mata Maryono berbinar-binar seperti biasa bibirnya yang menghitam menyunggingkan senyum mesum.

Mau tidak mau gadis cantik itu tersenyum lebar. Walaupun sebenarnya agak jijik menghadapi Maryono yang dari gestur tubuhnya terlihat jelas dia itu tampak sok sekali, apalagi kalau keringat tangannya yang tiba-tiba nyelonong, tetapi bagaimanapun juga orang itu yang telah menolong Nismara masuk ke mahkota Gym. Kalau tidak ada Maryono, saat itu dia sudah terusir keluar.

"Mau berangkat nge-gym?" tanya Maryono, kini mereka berhadapan dalam satu titik temu.

"Iya, Om." Jawab Nismara. Kakinya sudah mundur selangkah, sebagai antisipasi aksi tangan cepat Maryono.

"Bareng aja, sore ini aku juga tugas. Aku bawa mobil kok, tunggu sebentar di sini ya!" kata Maryono cepat.

"Tapi aku sudah pesan taksi, Om."

"Cancel aja kan bisa. Aku cuma sebentar kok, Okey."

Nismara diam saja. Otaknya berpikir bagaimana cara dia menghindar dari ajakan laki-laki berkulit hitam itu? Dia sama sekali tidak ingin berdua saja di mobil dengan orang itu, membayangkannya saja sudah terasa mual.

Maryono terlihat bergegas masuk ke dalam rumah induk.

Saat itu Nismara berpikir untuk sembunyi sementara waktu di dalam kamar kosnya. Maka cepat-cepat dia berbalik dan masuk. Namun ketika dia menutup pintu, Rizal memergokinya. Laki-laki itu baru saja mencapai pintu pagar yang terbuka. Rizal memandang selama tiga detik, tapi wajahnya datar saja.

Nismara mengunci pintu segera. Dia masuk ke dalam kamarnya, dan tak lupa untuk mengunci juga.

Namun jantungnya tetap berdebar, ketika pintunya diketuk.

"Sof, Sofia! Ayo kita berangkat!" Suara Maryono menggelegar diiringi dengan ketukan.

Nismara diam. Dia membekap mulutnya sendiri saat mendengar handle pintu digerakkan kasar berulang kali. Maryono berusaha keras membuka pintu.

"Sofia! Sofia!" Suara Maryono makin lantang.

"Sofia udah jalan, Om!" terdengar suara Rizal. "Tadi aku papasan di gang."

"Oh, Dia nunggu aku di depan gang kali ya?" Sahut Maryono, terasa sekali ada nada-nada kelegaan.

"Mungkin. Memang Om janjian sama dia?" suara Rizal terdengar sedikit terkejut.

Maryono terkekeh girang. "Iya, dong. Dari pertama Om lihat, Om udah tahu, Dia itu emang tipe-tipe cewek yang bisa di gebet. Maka itulah Zal, Om kan bolak-balik bilang ke kamu, jadi cowok itu yang penting banyak uang, kamu ganteng doang buat apa?"

Lalu suara langkah kaki terdengar menjauh. Seperti nya Maryono setengah berlari.

Nismara tidak ingin gegabah. Dia tetap menunggu beberapa menit. Takut Maryono balik lagi setelah tidak menemukan dirinya di depan gang.

Tok, tok, tok.

Nismara terperan chat dengan bunyi ketukan yang terdengar begitu menggema, bahkan terasa lebih menggema dari yang tadi.

"Kak Sofi!" suara Rizal.

Nismara ragu-ragu keluar dari kamar. Tak tampak bayangan orang di pintu depan.

Tok tok tok.

Yang diketuk ternyata pintu belakang.

"Kak, Sofi ini saya Rizal." suara Rizal setengah berbisik.

Nismara membuka pintu sedikit, memastikan dulu jika Rizal seorang diri saja. Begitu Nismara yakin memang hanya Rizal yang berada di depan pintunya, baru pintu dia buka lebih lebar.

"Ada apa, Mas Rizal?"

Nismara memang menyebut Rizal demikian, mengikuti cara Zidane memanggil kakaknya.

"Maaf tak setia apa benar-benar sama Om saya? Om Maryono?" wajah Rizal terlihat keruh.

Nismara mengangguk.

"Kenal di mana?" Rizal cepat menukas.

Nismara membelalak. Kaget juga dengan sikap Rizal, bukankah dia sudah berjanji untuk tidak mencampuri urusannya selagi dia membayar kos sesuai harganya.

"Eh, maaf, Kak. Bukannya kepo, saya tahu ini pertanyaan nggak sopan. Ta- tapi Om saya itu..... Ah, pasti kakak tadi dengar ucapannya kan?" gestur tubuh Rizal terlihat sangat tidak nyaman. Tangan dan bola matanya bergerak-gerak secara random.

Nismara mengangguk. "Dia tempo hari ke sini, dan nyasar ngetuk pintu depan sini, Mas. Pas itu ada Zidane juga kok, apa Zidan nggak cerita?"

Rizal diam, tetapi pandangannya tajam. "Maaf ya kak. Sebaiknya Kak Sofia jangan ladeni Om saya ya. Dia memang baik sih kalau ke keluarga saya, tapi kalau ke cewek seperti Kak Sofia dia punya maksud lain."

Kali ini Rizal tersenyum penuh arti.

Nismara mengangguk dan ikut tersenyum. "Makasih ya, Mas, udah ngingetin."

Giliran Rizal yang mengangguk.

"Aku boleh tanya nggak Mas?" Nismara kembali tersenyum. Ingin sekali berlaku genit, tapi entah mengapa kalau di depan Rizal dia menjadi canggung. Laki-laki mudah dihadapannya ini memang terlihat selalu serius, seperti memikul banyak beban di pundaknya.

"Tanya apa, Kak?"

"Om Maryono itu kerja di mana sih?"

Rizal terlihat terkejut. "Memang kenapa kak?"

"Nggak apa-apa, aku takut aja kalau ternyata Om kamu itu TNI atau apa, karena posturnya seperti aparat." sahut Nismara berbohong. Padahal maksud sebenarnya adalah jika Rizal mengetahui persis pekerjaan Maryono mahkota Gym, mungkin Nismara dapat mengorek sedikit keterangan dari pemuda itu.

"Oh, kalau itu tenang aja, Kak. Om Maryono itu hanya sopir. Katanya sih jadi sopir pribadi seorang bos."

"Oh, gitu." Nismara mengangguk, padahal bibirnya gatal ingin bertanya, siapa Bos nya? perusahaan apa? Tapi pertanyaan itu hanya bisa dia tahan sekuat tenaga di ujung lidahnya.

"Maaf ya kak Sofi, Saya cuma mau bilang, Kakak jangan sampai terbujuk sama Om Maryono."

Nismara tersenyum. "Makasih ya, Mas. Udah baik banget sama aku."

Rizal tertawa ringan. "Iya, Kak."

"Kayak nya Om kamu nggak akan balik lagi kan ya? Aku mau keluar sekarang."

"Oh, iya, Kak. Kalau gitu saya pamit."

Pintu di tutup.

Ternyata usaha Nismara untuk menghindari Maryono sia-sia saja. Laki-laki kekar berkulit hitam itu menunggu kedatangannya di lobby. Sialnya tidak ada seorangpun yang berada di situ kecuali mereka berdua. Lelaki gemulai yang akhirnya Nismara tahu bernama Katy itu tidak ada di tempat biasanya.

"Sof, Kamu sengaja menghindari aku ya?" Maryono tanpa babibu langsung ke pokoknya.

Nismara tersenyum kecut. "Aku Nggak enak kalau dilihat orang, Om. Apalagi sama Rizal atau Zidan."

"Halah sok banget sih kamu!"

"Hai! ini ada apa?" suara perempuan tiba-tiba menengahi mereka.

"Jangan ikut campur kamu Tin!" Maryono ngegas. Gadis genit yang dia temui saat melayat Joana itu adalah Tina.

Tina tertawa mengikik. "Kalau orangnya nggak mau, jangan dipaksa, Om. Cari yang mau sama mau aja."

Tina mangerling pada Nismara.

"Hai, dia itu utang sama aku Tin."

"Utang apa?" Nismara menyahut. Nadanya ikut meninggi.

"Hai ini ada apa? Pakai teriak-teriak segala. Kenapa ribut?" Katy masuk sambil menatap yang ada satu persatu.

"Nggak ada apa-apa." Maryono dan Tina kompak menyahut.

"Ayo!" Tina menarik tangan Nismara. Sedang Maryono bergegas menuju arah berlawanan dengan mereka.

"Kamu mulai kapan di sini? Aku baru lihat kamu hari ini." Tina bertanya setelah mereka sampai di ruangan fitness.

"Baru tiga hari lalu."

"Kamu masuk ke sini ditolongin Om Mario?" tebak Tina yang langsung membuat Nismara mencelos. "Makanya dia menyebut kamu berhutang sama dia."

Nismara spontan terperangah. "Jadi aku harus bayar dia?"

"Itu terserah kamu, kalau Om Mario bukan minta uang gimana hayooo." Tina meringis, wajahnya berubah menjadi culas.

1
Ar-Rasyid Fikri
ada pesan sebagai orang tua kallau anak adalah titipan walau hadir nya dari sebuah kesalahan, harus di perhatikan, di rawat di sayang, biar GK nyesel. nyesel kan kalau anak sudah salah jalan.

teka teki nya dapat. suka banget.
Ar-Rasyid Fikri
wah bisa-bisa nya muncul ide gitu tho Nis?
Rahma Wati
hayo lho Nis, gimana kalau gk mau dikasih uang. wah berabe ini
Rahma Wati
kasian Sherin dr kcl tdk diharapkan.
Maria
penuh dengan teka teki tp seru. Ada pelajaran yg BS kita ambil dr cerita ini. penyesalan pasti akan datang di belakang, kalau di depan itu namanya pendaftaran.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!