NovelToon NovelToon
KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

KSATRIA BAJA : Bangkitnya Bayu Anggara

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sci-Fi / Sistem
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Bercerita tentang mahasiswa IT yang membuat AI secara mandiri di dalam sebuah Android kentangnya, dan merubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Sintesis Mahakarya Mikro

Dengung halus mesin pencetak 3D presisi tinggi bergema konstan di dalam bengkel riset yang tertutup rapat. Lampu indikator hijau pada panel kontrol berkedip dengan ritme yang teratur. Di atas meja kerja baja tahan karat, lengan laser pencetak bergerak dengan kecepatan serta tingkat ketelitian yang luar biasa, meleburkan batangan paduan titanium menjadi struktur cangkang jam tangan yang sangat halus dan padat.

Dimas mengamati proses perakitan tersebut dengan mata tak berkedip, menyandarkan kedua sikunya di tepi meja kerja. "Gila... Pergerakan sinar lasernya presisi banget, Bay. Cangkang titaniumnya kelihatan mengilap sempurna tanpa ada cacat sedikit pun."

Bayu berdiri di samping Dimas, membetulkan letak kacamata tebalnya sambil memandangi layar monitor kontrol yang menampilkan grafik proses perakitan secara riil. "Itu karena Jarvis mengendalikan setiap mikron titik lebur materialnya, Dim. Tidak boleh ada rongga atau gelembung udara sekecil apa pun pada struktur paduan titaniumnya."

"Proses pembentukan cangkang utama dan ruang kompresi internal telah mencapai delapan puluh lima persen," suara Jarvis terdengar jernih dari earphone di telinga Bayu dan pengeras suara internal laboratorium. "Selanjutnya, saya akan memulai integrasi kristal pemroses frekuensi mikro dan pelat sirkuit emas."

"Jarvis," panggil Dimas penasaran. "Itu komponen kristal semikonduktor sekecil biji wijen begitu, bagaimana cara memasangnya ke dalam ruang cangkang jam yang sempit?"

"Menggunakan sinar laser pemantau kepadatan molekuler, Dimas," sahut Jarvis tenang. "Komponen mikro akan ditempatkan di atas papan sirkuit utama dengan toleransi kesalahan di bawah nol koma nol zero satu milimeter."

Lengan mekanis printer dengan ujung jarum mikro menjepit lempengan kristal silikon dan pelat emas, lalu menyatukannya ke dalam cangkang titanium yang baru saja terbentuk. Pendar cahaya kebiruan menyala redup saat proses penyolderan laser terjadi di tingkat mikron.

"Presisi yang luar biasa," puji Bayu dengan nada kagum yang mendalam. "Lalu bagaimana dengan saluran sirkulasi untuk fluida nano-cell-nya, Jarvis?"

"Pertanyaan yang sangat krusial, Bayu," jawab Jarvis mendetail. "Dinding bagian dalam cangkang jam tangan ini telah dilengkapi dengan ribuan saluran mikro berukuran tiga ratus nanometer. Saluran-saluran ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sekaligus jalur pelepasan kapsul fluida nano-cell saat sistem pelindung diaktifkan."

Dimas menggeleng-gelengkan kepalanya penuh takjub. "Saluran selebar tiga ratus nanometer? Benda sekecil itu bahkan tidak bisa dilihat pakai mata telanjang, Bay!"

"Itulah kenapa kita membutuhkan teknologi tingkat tinggi ini, Dim," timpal Bayu santai namun serius. "Tanpa presisi skala nanometer, sel-sel nano tidak akan bisa mengalir lancar keluar membungkus tubuh dalam waktu satu detik."

"Proses pembentukan cangkang dan instalasi sirkuit utama telah selesai," sela Jarvis mengalihkan perhatian. "Tahap berikutnya: Pengisian fluida nano-cell ke dalam ruang kompresi mikron."

Bayu meraih botol kaca berisi cairan keruh berkilauan perak yang berada di atas meja. Dengan jemari yang mantap, ia menghubungkan tabung injeksi khusus dari botol tersebut ke port mesin pencetak.

"Cairan perak ini benar-benar berisi miliaran sel nano pelindung, Jarvis?" tanya Dimas seraya memperhatikan cairan perak tersebut dengan rasa cemas bercampur takjub.

"Secara tepat, Dimas," terang Jarvis. "Cairan tersebut memuat matriks sel mikro terkompresi. Ketika pompa vakum mesin menyuntikkannya ke dalam cangkang jam, cairan ini akan terperangkap dalam tekanan tinggi tanpa ada risiko kebocoran sama sekali."

Suara desisan halus berbunyi dari mesin pencetak saat cairan nano-cell tersedot penuh masuk ke dalam kompartemen tersembunyi di dalam cangkang jam tangan titanium tersebut. Indikator kapasitas pada layar monitor merambat naik: lima puluh persen... delapan puluh persen... hingga menyentuh seratus persen penuh.

"Pengisian fluida nano-cell berhasil seratus persen," gumam Bayu lega setelah melihat indikator hijau menyala stabil.

"Memasuki fase akhir perakitan: Pemasangan kenop biometrik dan kalibrasi sistem pengaktif sidik jari tiga lapis," umum Jarvis.

Lengan mekanis meletakkan sebuah tombol kenop bundar berbahan kristal safir hitam di sisi kanan cangkang jam tangan. Klik halus yang sangat renyah terdengar saat komponen akhir tersebut terkunci sempurna.

"Akhirnya selesai juga bentuk fisiknya!" seru Dimas antusias. "Bentuknya keren banget, Bay! Kelihatan elegan, mewah, tapi tidak kelihatan pamer sama sekali."

"Jangan senang dulu, Dim," sela Bayu mengingatkan. "Kita masih harus mengalibrasi sensor biometriknya. Tanpa kalibrasi ini, jam tangan canggih ini cuma sekadar perhiasan mati."

Mesin pencetak 3D perlahan membuka penutup kaca pelindungnya. Sebuah jam tangan pintar berbalut paduan titanium hitam pekat dengan kenop kristal safir terletak anggun di atas tatakan. Bayu mengulurkan tangannya dan mengambil jam tangan tersebut. Benda itu terasa hangat di telapak tangannya, memiliki bobot yang sangat pas, dan terasa amat kokoh.

"Jarvis, bagaimana prosedur kalibrasi biometriknya?" tanya Bayu seraya mengamati permukaan jam tangan yang polos tanpa tombol mekanis biasa.

"Silakan kenakan jam tangan tersebut di pergelangan tangan kiri Anda, Bayu," instruksi Jarvis presisi. "Setelah itu, tekan dan tahan ibu jari kanan Anda pada kenop kristal safir selama sepuluh detik tanpa bergeser."

Bayu mengangguk penuh konsentrasi. Ia melingkarkan tali jam berbahan serat karbon fleksibel itu ke pergelangan tangan kirinya. Gesper titanium terkunci rapi dengan bunyi klik yang mantap. Bayu kemudian menempelkan ibu jari kanannya tepat di atas kenop kristal safir hitam.

Seketika itu juga, pendar cahaya merah tipis melingkari kenop kristal safir.

"Memulai pindaian biometrik Lapis Pertama: Pemetaan pola garis sidik jari sepuluh titik utama," bisik Jarvis melalui earphone.

"Terasa dingin di jempolmu tidak, Bay?" bisik Dimas ingin tahu.

"Tidak terasa dingin, Dim. Hanya ada getaran mikro yang sangat halus," sahut Bayu tetap menahan posisi tangannya secara stabil.

"Pola sidik jari terverifikasi," lanjut Jarvis. "Melanjutkan pindaian Lapis Kedua: Analisis frekuensi bio-listrik kulit dan impuls saraf epidermis. Mengukur konduktivitas biologis unik tubuh Pengguna Bayu."

Pendar cahaya di kenop berangsur berubah dari merah menjadi hijau zamrud yang hangat.

"Lapis Kedua terverifikasi. Melanjutkan pindaian Lapis Ketiga: Pemetaan pembuluh darah subkutan menggunakan sensor infra-merah jarak pendek."

Cahaya hijau itu berkedip tiga kali secara perlahan sebelum akhirnya melebur menjadi pendar biru lembut yang mengalir cepat mengelilingi seluruh pinggiran layar jam tangan. Tampilan antarmuka digital berwarna biru dingin mendadak muncul secara magis dari bawah permukaan kristal jam tangan yang tadinya polos hitam pekat.

[Biometric Verification: COMPLETE] [User Identified: Bayu Anggara] [Nano-Cell System: ARMED & READY]

"Berhasil!" sorak Dimas kegirangan sambil menepuk pundak Bayu. "Tampilan antarmukanya muncul! Keren banget, Bay!"

Bayu menarik ibu jarinya dari kenop. Tampilan jam tangan itu secara otomatis kembali menjadi jam analog sederhana dengan jarum detik yang bergerak halus, menyamarkan seluruh fungsi canggih di dalamnya.

"Jarvis, konfirmasi integrasi sistem nano-cell dengan profil biologisku," ujar Bayu sambil memandangi jam tangan baru di pergelangan tangannya.

"Integrasi sempurna, Bayu," jawab Jarvis jernih. "Sensor biometrik tiga lapis kini telah merekam profil biologis Anda secara absolut. Jam tangan ini hanya akan merespon sentuhan serta impuls saraf Anda. Jika diakses oleh pihak lain, seluruh sistem nano-cell dan modul komunikasi akan terkunci secara permanen."

"Uji coba responsifnya bagaimana, Jarvis?" tanya Bayu mendetail.

"Anda cukup memberikan perintah suara terenkripsi atau menekan kenop biometrik sebanyak dua kali cepat untuk memicu penyebaran sel nano-cell pelindung," terang Jarvis. "Seluruh proses pengerahan zirah pelindung fisik akan selesai dalam kurun waktu satu koma dua detik."

Dimas mengitari Bayu, memandangi jam tangan tersebut dari berbagai sudut dengan rasa takjub yang tak kunjung padam. "Bay... ini bener-bener mahakarya paling gila yang pernah gue lihat seumur hidup gue. Lu baru saja merakit teknologi masa depan di dalam bengkel sepi ini."

Bayu mengelus permukaan kristal safir jam tangannya yang halus, merasakan koneksi langsung antara pikiran, AI Jarvis, dan perangkat pelindung canggih yang kini melingkar manis di pergelangan tangannya.

"Ini semua berkat perencanaan presisi dari Jarvis dan bantuan tanpa lelah darimu, Dim," kata Bayu tulus, menatap sahabatnya dengan senyum puas.

"Ah, gue cuma bantu bawa kotak sama nontonin mesin pencetak," kekeh Dimas santai. "Tapi serius, Bay, sekarang lu sudah punya perlindungan fisik terbaik. Lu bukan lagi Bayu yang lemah dan bisa diintimidasi orang lain."

Bayu mengepalkan tangan kirinya pelan, merasakan kekokohan dan kepastian yang menyatu di dalam dirinya. "Benar, Dim. Mulai detik ini, tidak ada lagi yang bisa mengancam keselamatan Ibu maupun kehidupan kita."

Di dalam bengkel riset yang tenang itu, proses perakitan dan integrasi jam tangan pintar nano-cell telah selesai dengan akurasi seratus persen. Bayu Anggara kini tidak hanya memegang kendali atas finansialnya, melainkan juga memegang perlindungan mutlak bagi masa depannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!