Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Pagi hari di rumah keluarga Adiratna.
Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela kayu yang gordennya di buka, menembus ruang tamu yang sederhana.
Raisa sudah tinggal di rumah peninggalan orang tuanya, dirinya sementara waktu akan tinggal disini sampai proses perceraiannya selesai.
Pagi ini Raisa bukan lagi istri pengacara terkenal, dirinya hanya calon janda yang akan merintis karir dari nol.
Jadi tubuhnya terbalut gaun sederhana dari kain rayon warna coklat bermotif abstrak toska, memang terlihat usang.
Namun, gaun itu masih layak pakai karena lengannya pendek dan panjangnya hanya sebatas lutut.
Terasa longgar untuk kehamilannya yang di sembunyikan sampai dirinya bercerai dari Dion---suaminya yang kejam.
Terlihat jemarinya sangat lentur menjahit menggunakan benang dan jarum, di selembar kain bermotif bunga menjahit secara manual.
Aktivitas menjahitnya terhenti saat terdengar suara ketukan pintu.
Tok...Tok...Tok.
"Siapa ya? apa ada yang mau jahit?" pikirnya.
Raisa bangkit berdiri lalu berjalan menuju pintu utama, pintu yang terbuka menampilkan sosok tinggi berwajah teduh.
Dokter Hassan Razzak.
"Assalamualaikum, Bu Raisa," sapa Dokter Hassan dengan senyuman hangat yang tulus.
"Waalaikumussalam, Dokter Hassan," jawab Raisa.
Dokter Hassan mengenakan kemeja warna merah marun di padukan dengan celana hitam, dan di belakang ada seorang pria paruh baya yang membawa sebuah mesin jahit portable.
"Silahkan masuk Dok," ucap Raisa mempersilahkan Hassan masuk.
Kini keduanya duduk di ruang tamu dengan mesin jahit baru.
"Saya dengar kamu bilang mau menjadi penjahit dan mesin jahitmu rusak, kebetulan tetangga saya ada mesin jahit yang tak terpakai. Kondisinya juga masih bagus dan terawat," ujarnya.
Raisa mengerutkan kening memiringkan sedikit kepalanya.
"Dan berapa harganya Dok?" tanya Raisa.
"Ini buat kamu, Rai. Yah saya pikir mending saya kasih ke kamu aja," ujar sang Dokter.
"Dok, jangan mending saya beli aja, saya nggak mau ada hutang budi ama Dokter," ujar Raisa.
"Anggap aja ini rejeki kamu," sahut singkat Hassan.
"Pak tolong taro di meja ya," pinta Hassan dengan sopan kepada asistennya.
"Iya, Den."
Kini mesin jahit itu sudah terletak di atas meja kayu di dalam ruang tamu, di sebelah tumpukan kain perca dan buku sketsa milik Raisa.
"Baik Den saya pamit dulu," ucapnya.
"Iya pak, hati-hati." Dokter Hassan dan Raisa bicara dan tak lupa mengucapkan terimakasih.
Setelah kepergian asisten pribadinya, Hassan di persilahkan duduk di kursi kayu kuno.
"Terima kasih banyak, Dok. Saya benar-benar tidak tahu harus membalas kebaikan Dokter dengan apa," ucap Raisa lirih
Raisa merasakan perbedaan antara pria asing ini dan suaminya, Dion---suaminya dulu menghancurkan mesin jahit yang menjadi kebahagiaannya.
Sementara, Dokter Hassan malah memberikan kembali kebahagiaannya---mesin jahit yang di inginkan Raisa.
Dokter Hassan menatap Raisa dengan penuh simpati, sebagai Dokter matanya terus menatap ke perut Raisa yang masih rata.
"Bagaimana kandungannya Bu? apa anda mengalami kendala seperti mual di pagi hari?" tanya Dokter Hassan.
Meski Dokter Hassan adalah Dokter spesialis ahli saraf, namun dirinya juga memiliki pengalaman dalam menangani wanita hamil.
"Alhamdulillah, sejauh ini semuanya baik-baik saja, Dok. Hanya mual biasa di pagi hari."
Raisa tersenyum tipis lalu telapak tangan kanannya mengelus lembut perutnya yang masih rata.
Kandungannya baru menginjak tiga minggu, sementara Dokter Hassan hanya menghela napas kecewa.
"Saya benar-benar tidak habis pikir dengan Bapak Dion... Bagaimana mungkin seorang suami, tega menceraikan istrinya dan membiarkannya pergi begitu saja dalam kondisi hamil? Dia bukan pria yang tanggung jawab," ucap Dokter Hassan dengan nada kecewa.
Mendengar nama Dion yang disebut, raut wajah Raisa berubah sendu lalu matanya menatap Dokter Hassan.
"Dokter, saya memang sengaja merahasiakan kehamilan ini dari Mas Dion," ucapnya.
Mendengar itu Hassan mengerutkan keningnya, lalu mencoba menerima penjelasan dan alasannya.
"Karena jika sampai dia tahu saya hamil anaknya maka akan memaksa saya menggugurkan kandungannya, kami menikah karena perjodohan. Masa lalu kami tak baik, dia membenci saya...dia tak mau saya hamil anaknya," ujar Raisa berusaha memberikan penjelasan sesingkat mungkin.
Dokter Hassan yang mendengar itu tertegun sejenak, dadanya bergemuruh dan semakin kagum akan Raisa.
"Saya tak punya siapapun lagi di dunia ini, Dok. Saya hanya memiliki anak ini sekarang," lanjut Raisa.
"Keputusan yang berani, Bu Raisa. Saya berjanji sebagai teman anda akan menjaga rahasia ini dengan nyawa saya, anda tak sendirian."
Seketika Raisa tersenyum kecil ke arah Dokter Hassan, begitu juga sebaliknya.
Sementara di belahan kota Jakarta, Di sebuah kantor Advokat.
Sorot lampu kilat puluhan kamera wartawan berkilauan di bawah terik matahari.
Dion melangkah keluar dari gedung dengan angkuh yang penuh percaya diri, di sampingnya ada Chelsea yang bergelayut manja di lengannya.
Dion mengenakan kemeja hitam formal, di padukan dengan celana panjang berwarna cokelat unta, di lehernya terikat dasi hitam bermotif emas.
Chelsea berjalan dengan bangga karena berhasil menyingkirkan istri sah, tubuhnya mengenakan gaun ketat tanpa lengan berwarna merah muda.
Wanita itu seolah memamerkan bahu dan lekuk tubuhnya, lalu tersenyum lebar ke arah kamera dengan bangga karena dari seorang wanita LC menjadi istri sang Pengacara terkenal.
"Pak Dion! Pak Dion! Benarkah kabar mengenai perceraian Anda dengan Ibu Raisa?" teriak salah seorang wartawan di barisan depan.
Para wartawan dan paparazi langsung merangsek maju berebutan berita, sambil menyodorkan mikrofon dan alat perekam ke wajah Dion dan Chelsea.
Dion berhenti lalu melirik ke arah Chelsea yang menyandarkan kepalanya di bahu miliknya---di hadapan publik.
Dion berdeham, memasang senyum untuk menjawab pertanyaan para pers.
"Ya, kabar itu memang benar. Proses persidangan perceraian kami sedang berjalan dan akan segera diputuskan secara resmi," jawab Dion dengan nada suara yang tenang.
"Lalu, apa alasan Anda memilih bercerai dengan Ibu Raisa, Pak?" tanya wartawan dari portal gibah.com.
"Lalu apa benar karena KDRT?" tanya wartawan dari lambe turah.
Pertanyaan-pertanyaan wartawan itu di jawab santai oleh Dion, malah pria itu merangkul erat pinggang Chelsea.
"Hubungan saya dengan mantan istri saya tetap berjalan baik-baik saja. Kami memutuskan berpisah secara dewasa dan kekeluargaan karena memang sudah tidak ada kecocokan lagi dalam visi misi pernikahan," ucapnya.
"Iya, saya dan Raisa juga tetap jadi teman baik," tambah Chelsea.
Chelsea tersenyum semakin lebar saat mendengar pengakuan Dion di depan media, dirinya merasa menaiki tangga emas.
Dari seorang LC di Club malam, kini nasibnya berubah menjadi istri seorang pengacara terkenal.
Chelsea memenangkan pertempuran untuk menyingkirkan Raisa, Dion menampilkan citranya sebagai Pengacara terkenal yang baik dan bijaksana.
Namun, keduanya tak tahu karma yang menanti.
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.