NovelToon NovelToon
Where Your Heart Stays

Where Your Heart Stays

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:121
Nilai: 5
Nama Author: Kiara L

Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.

Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Usai sarapan bersama yang dipenuhi riuh tawa dan canda, agenda resmi hari pertama retret karyawan dibuka secara meriah di padang rumput hijau yang membentang luas tepat di tepi pantai resor. Langit Pulau Jeju pagi itu begitu cerah tanpa awan, memantulkan pendar biru samudra yang elok dan diiringi deru ombak yang tak henti-hentinya menyapu tebing batu. Seluruh staf hotel, tanpa terkecuali, telah berganti pakaian santai dan dibagi ke dalam beberapa tim acak. Tujuan utamanya adalah meleburkan batas antar divisi, mempererat kerja sama, dan mencairkan suasana kerja yang selama ini kaku.

Sesi permainan keakraban (outbound) dimulai dengan gelak tawa yang meledak riuh di sekeliling lapangan. Tae-jun, dalam kapasitasnya sebagai Direktur Utama, berdiri anggun di atas tribun kayu pengawas yang diteduhi kanopi putih. Pria itu tampil sangat memikat dengan kaus polo hitam kasual, celana kain abu-abu gelap berpotongan rapi, dan sepasang kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Di luar, ia tampak seperti pemimpin tenang yang sekadar memantau jalannya acara fasilitas karyawan. Namun, di balik kacamata gelap yang menyembunyikan arah pandangnya, fokus mata Tae-jun tak pernah bergeser sedikit pun dari satu sosok, Ji-eun.

Ji-eun tergabung dalam Tim Merah untuk permainan bakiak raksasa. Ji-eun tampak begitu lepas. Rambut panjangnya yang diikat gaya horse tail mengayun indah tiap kali ia melangkah dan berseru memberi komando kepada anggota timnya. Tawa cantiknya membahana bebas di udara terbuka.

Melihat Ji-eun tertawa tanpa beban di bawah terpaan sinar matahari pagi membuat dada Tae-jun dipenuhi rasa hangat yang membuncah luar biasa. Menguras energi menyusun strategi meliburkan satu hotel penuh, merancang sistem staf pengganti, hingga memesan resort mewah ini mendadak terasa terbayar tuntas hanya demi menyaksikan senyuman jujur perempuan yang paling dicintainya itu.

Sorak-sorai makin memuncak saat permainan bakiak selesai dan berlanjut ke sesi benteng interaktif, di mana setiap tim harus berlari saling mengelak untuk mempertahankan bendera. Ji-eun berlari-lari kecil dengan lincah, memandu rekannya untuk menyusup ke area lawan.

Namun, di tengah keriuhan yang memuncak, nasib sial tak terelakkan. Permukaan rumput lapangan yang agak licin akibat sisa embun pagi dan percikan air laut tak mampu menopang pijakan Ji-eun saat ia mendadak mengubah arah larinya untuk menghindari kejaran staf lawan.

Srett!

Kaki kiri Ji-eun tergelincir hebat. Angkelnya terlipat ke dalam dengan sudut yang tidak alami.

"Aah!" ringis Ji-eun pelan saat tubuhnya ambruk dan terduduk keras di atas rumput basah. Rasa nyeri tajam yang mendadak menusuk di pergelangan kakinya membuat wajahnya seketika pucat pasi.

"Manajer Han! Anda tidak apa-apa?!" seru beberapa rekan timnya panik, seketika menghentikan permainan dan berlari mengerumuninya.

Dari atas tribun pengawas, sudut pandang Tae-jun menangkap momen kejatuhan itu. Tubuhnya refleks berdiri tegak secara mendadak. Cangkir kopi di tangannya nyaris terlepas. Raut wajahnya yang tadinya tenang dan santai lenyap tak berbekas dalam hitungan detik, berganti menjadi ketegangan dan kecemasan yang amat luar biasa. Naluri terdalamnya berteriak histeris, menyuruhnya melompat turun dari tribun, berlari menembus lapangan, dan merengkuh Ji-eun ke dalam pelukannya saat itu juga.

Namun, tepat saat kakinya hendak melangkah turun, akal sehat dan realitas menamparnya keras. Puluhan pasang mata staf hotel berada di sekeliling lapangan. Jika sang Direktur Utama mendadak berlari panik dan menunjukkan proteksi berlebihan pada seorang manajer, rahasia hubungan yang selama ini mereka jaga setengah mati akan hancur seketika. Gosip liar akan menghancurkan reputasi Ji-eun.

Tae-jun menghentikan langkahnya di tepi tribun. Rahangnya mengatup rapat hingga urat-urat di lehernya menegang. Kedua tangannya terbenam di dalam saku celana, mengepal begitu keras hingga buku-buku jarinya memutih. Di balik kacamata hitamnya, matanya membelalak penuh rasa frustrasi dan cemas yang membakar dada. Sungguh sebuah siksaan tiada tara melihat wanita yang paling ia cintai meringis kesakitan di atas rumput, sementara ia terpaksa berdiri membeku bagai patung batu demi menjaga norma profesionalisme.

"Aduh, pergelangan kakinya tampaknya membengkak!" seru Manajer Park yang kebetulan berada paling dekat dengan lokasi jatuhnya Ji-eun.

"Biar saya bantu! Jangan dipaksa berdiri dulu, Manajer Han," ucap Manajer Park cepat. Pria itu dengan sigap berlutut, lalu perlahan menyangga tubuh Ji-eun dan membantunya bangkit dengan merangkul pinggang Ji-eun secara sopan. "Kaki kiri Anda tidak boleh menumpu beban. Mari, saya rangkul menuju gedung utama untuk ke klinik medis."

"Terima kasih banyak, Manajer Park... maaf merepotkan," bisik Ji-eun meringis pelan, memegang bahu Manajer Park untuk menyeimbangkan tubuhnya yang pincang.

Dari atas tribun, Tae-jun menyaksikan pemandangan itu dengan napas yang memburu dan tertahan di tenggorokan. Rasa cemas yang menggebu bersatu padu dengan gejolak frustrasi karena tidak bisa menjadi sosok yang menopang Ji-eun saat perempuan itu membutuhkan pertolongan. Tiap kali Ji-eun meringis menahan sakit saat melangkah pincang, dada Tae-jun terasa dihantam balok berat.

Beberapa manajer senior di dekat tribun mulai berbisik cemas, memandang ke arah Ji-eun yang perlahan dituntun menjauh. Tae-jun memaksa dirinya untuk berdehem pelan, menetralkan guncangan emosi di dadanya sebelum suaranya bergetar di depan bawahan.

"Manajer Park," panggil Tae-jun dengan suara berat yang diatur sesempurna mungkin agar terdengar dingin dan berwibawa, meski dadanya bergemuruh hebat.

Manajer Park menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah tribun. "Ya, Direktur Seo?"

"Pastikan dokter memeriksa kondisinya dengan teliti dan berikan perawatan terbaik," perintah Tae-jun, mempertahankan ekspresi wajahnya yang tanpa cela dari balik kacamata hitam. "Untuk staf yang lain bisa melanjutkan permainan."

"Baik, Direktur Seo." sahut Manajer Park patuh, lalu kembali menuntun Ji-eun melangkah perlahan menuju gedung resort.

Sebelum menghilang di balik pintu kaca bangunan utama, Ji-eun sempat menolehkan kepalanya sedikit ke arah tribun. Melalui jarak yang membentang, matanya beradu dengan arah pandang Tae-jun. Meski Tae-jun mengenakan kacamata gelap, Ji-eun bisa merasakan pendar kecemasan yang mendalam dan tatapan penuh penyesalan yang dipancarkan pria itu. Ji-eun memberikan anggukan kepala yang amat tipis, sebuah pesan tersirat untuk menenangkan kekasihnya bahwa ia akan baik-baik saja.

Begitu rombongan yang menuntun Ji-eun benar-benar hilang dari pandangan, Tae-jun berbalik membelakangi lapangan. Pria itu menghela napas panjang yang terasa sangat sesak. Sekuat tenaga ia menahan dorongan di jiwanya untuk tidak langsung menyusul ke klinik detik itu juga. Di bawah terik matahari Jeju yang kian memanas, Tae-jun menghitung setiap detik yang berlalu dengan dada yang bergemuruh penuh cemas, menunggu waktu yang tepat di mana ia bisa memeluk Ji-eun secara rahasia tanpa ada satu pasang mata pun yang mengawasi mereka.

...****************...

1
Bintang star_nurul22
Semangat author
Kiara L: terimakasih☺️🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!