NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Brakkk!

Prang!

Lampu sorot raksasa itu menghantam lantai beton dengan suara benturan yang sangat memekakkan telinga.

Pecahan kaca tebal dan serpihan logam tajam terlempar berserakan ke segala arah.

Salah satu serpihan logam panas itu terbang dan menggores pipi kiri Reyhan.

Darah segar berwarna merah gelap langsung menetes perlahan dari luka goresan tersebut.

"Cut!"

"Cut!"

"Ya Tuhan, apa yang baru saja terjadi?!" teriak Pak Joko dengan suara panik yang menggema ke seluruh ruangan.

Suasana syuting yang tadinya sangat profesional dan tertata mendadak berubah menjadi lautan kepanikan.

Para kru berlarian ke arah tengah set dengan wajah pucat pasi.

Kania yang tadinya duduk santai di kursi istirahat langsung berdiri dan berlari menghampiri Reyhan.

"Reyhan!" teriak Kania cemas.

Debu dan asap sisa jatuhnya lampu itu perlahan mulai menipis.

Bima yang berada di bawah himpitan tubuh Reyhan terlihat gemetar hebat.

Wajah aktor berbadan kekar itu sama putihnya dengan kertas.

Ia menatap pecahan lampu raksasa yang jaraknya hanya beberapa jengkal dari kepalanya.

"Ya Tuhan..." gumam Bima dengan bibir yang terus bergetar.

"Aku... aku hampir saja mati tergencet benda itu."

Reyhan perlahan bangkit berdiri dan mengusap debu dari jas hitamnya.

Ia kemudian menyentuh pipinya yang terasa perih dan melihat darah menempel di jari-jarinya.

"Kau tidak apa-apa, Bima?" tanya Reyhan dengan nada datar.

"Kau menyelamatkan nyawaku, Mas Reyhan."

"Kalau kau tidak menarik bajuku, kepalaku pasti sudah hancur sekarang," ucap Bima sambil menangis tersedu-sedu.

Beberapa kru langsung membantu Bima berdiri dan membawanya menjauh dari area puing-puing.

Pak Joko berlari menghampiri Reyhan dengan wajah yang sangat ketakutan.

"Reyhan, kau terluka!" seru Pak Joko saat melihat darah di pipi aktor utamanya.

"Cepat panggil tenaga medis ke sini sekarang juga!" perintah Pak Joko kepada asistennya.

"Aku tidak apa-apa, Pak Joko, ini hanya goresan kecil," jawab Reyhan menenangkan.

Reyhan menatap tajam ke arah puing-puing lampu raksasa yang hancur berantakan di lantai beton.

"Sistem, coba analisis penyebab jatuhnya lampu ini," perintah Reyhan dalam batinnya.

Sistem versi terbaru itu merespons perintah Reyhan tanpa adanya jeda waktu.

[Memproses pemindaian area sekitar.]

[Hasil analisis: Ditemukan jejak zat asam korosif tingkat tinggi pada sisa potongan kabel baja penyangga lampu.]

[Kesimpulan: Kabel baja tersebut tidak putus karena aus, melainkan sengaja diputuskan secara paksa menggunakan bahan kimia cair.]

Mata Reyhan menyipit tajam membaca teks yang muncul di layar emas gelap tersebut.

"Jadi ini bukan kecelakaan teknis," batin Reyhan dingin.

Ada seseorang yang sengaja merencanakan hal ini untuk mencelakainya.

Reyhan langsung teringat pada pesan misterius berwarna merah darah yang ia terima di rumah sakit satu bulan lalu.

"Organisasi pemilik sistem ini rupanya sudah mulai bergerak," pikir Reyhan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Mereka menyusup ke lokasi syuting yang dijaga sangat ketat tanpa meninggalkan jejak yang mencurigakan.

"Pak Joko, tolong perintahkan semua orang menjauh dari puing-puing ini," perintah Reyhan dengan nada suara yang penuh otoritas.

"Jangan ada satu pun orang yang menyentuh atau membersihkan area ini."

Pak Joko yang masih panik hanya bisa mengangguk patuh mendengar perintah tegas dari Reyhan.

Reyhan merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

Ia mencari sebuah nama di kontak panggilannya dan langsung menekan tombol hijau.

Tut. Tut.

Panggilan itu hanya tersambung sebentar sebelum akhirnya dijawab.

"Halo, Pahlawan Kesorean," sapa suara wanita yang sangat familiar di telinga Reyhan.

Itu adalah Alena, polisi wanita yang kini menjabat sebagai Kepala Unit Khusus.

"Ada angin apa kau meneleponku di siang bolong begini?"

"Bukankah kau seharusnya sedang sibuk berakting menjadi jagoan di depan kamera?" goda Alena dari seberang telepon.

"Alena, ini bukan waktunya untuk bertukar candaan," ucap Reyhan dengan suara yang sangat berat.

Mendengar nada suara Reyhan yang berubah drastis, Alena langsung terdiam.

Terdengar suara kursi digeser dengan kasar, menandakan Alena baru saja berdiri dari meja kerjanya.

"Apa yang terjadi, Reyhan?" tanya Alena, nada suaranya kini berubah menjadi sangat serius dan tegas.

"Ada yang mencoba membunuhku di lokasi syuting."

"Seseorang menyabotase lampu sorot di atas kepalaku menggunakan cairan asam penembus baja."

Terdengar suara helaan napas yang tertahan dari ujung telepon.

"Apa kau terluka?" tanya Alena cepat.

"Hanya goresan kecil di pipi, tapi ini membuktikan ancaman yang kuceritakan padamu bulan lalu itu benar-benar nyata."

"Organisasi itu sudah mengirim orangnya ke sini."

Reyhan menatap ke arah kerumunan kru yang masih saling berbisik panik.

"Alena, aku ingin kau segera mengerahkan Unit Khususmu ke pabrik tua di sektor utara ini sekarang juga."

"Kunci semua akses keluar dan masuk gedung ini."

"Jangan biarkan satu pun kru, figuran, atau siapa pun meninggalkan area pabrik ini sebelum kau tiba," perintah Reyhan panjang lebar.

"Aku mengerti."

"Aku akan membawa tiga peleton pasukan bersenjata lengkap dan menutup seluruh jalan raya menuju pabrikmu."

"Tunggu aku di sana, dan jangan melakukan tindakan bodoh sendirian," pesan Alena sebelum sambungan telepon itu terputus.

Kania berjalan mendekati Reyhan dan menyentuh lengan pria itu dengan ragu-ragu.

"Reyhan, kau menelepon polisi?" tanya Kania berbisik.

"Ini bukan berita yang bisa kau liput secara eksklusif, Kania."

"Sesuatu yang sangat buruk sedang terjadi, dan aku sarankan kau tetap diam di dekat Pak Joko sampai polisi datang," jawab Reyhan memperingatkan.

Reyhan melepaskan tangan Kania dan berjalan menjauh dari kerumunan orang-orang.

Ia memusatkan pikirannya kembali ke dalam sistem.

"Sistem, aktifkan pelacakan suhu tubuh manusia di sekitar area atas pabrik ini."

"Cari anomali pergerakan yang tidak wajar."

[Perintah diterima.]

[Mengaktifkan radar suhu tubuh dengan radius seratus meter dari posisi inang.]

Layar sistem yang berwarna emas gelap itu memunculkan sebuah peta digital tiga dimensi dari gedung pabrik tersebut.

Banyak titik merah yang menyala di bagian bawah peta, mewakili para kru film yang sedang berkumpul.

Namun, mata Reyhan tertuju pada satu titik merah kecil yang berada di bagian paling atas peta.

Titik merah itu bergerak dengan sangat cepat merayap di dalam lorong ventilasi udara menuju ke arah pintu keluar barat.

"Ketemu kau," batin Reyhan sambil menyeringai tipis.

Darah psikopat di dalam sistemnya yang selama ini tertidur lelap kini kembali mendidih.

Reyhan membuka jas hitamnya dan melemparnya sembarangan ke lantai.

Ia mulai berjalan cepat menuju tangga besi berkarat yang menghubungkan lantai dasar dengan lorong ventilasi di atas.

"Kalian pikir bisa mengambil sistem ini dariku begitu saja?"

"Mari kita lihat siapa yang akan menjadi mangsa hari ini," gumam Reyhan dingin sambil menaiki anak tangga itu satu per satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!