Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kring kring!
Suara alarm dari ponsel keluaran terbaru berbunyi nyaring membangunkan Raka dari tidur pulasnya.
Raka menggeliat malas di atas kasur berukuran besar yang seprai putihnya terasa sangat lembut di kulit.
"Ah, nikmatnya tidur tanpa takut digigit nyamuk got atau diusir satpam," gumam Raka sambil meregangkan kedua tangannya.
Krucuk!
Perutnya kembali berbunyi pelan meminta jatah sarapan pagi pertamanya sebagai orang kaya.
Raka mengambil ponselnya lalu membuka aplikasi pesan antar makanan online dengan mata setengah terpejam.
"Dulu gue cuma bisa ngeliatin abang ojol bawa makanan enak, sekarang gue borong semuanya."
Ting tong!
Setengah jam kemudian bel pintu apartemennya berbunyi menandakan pesanan sarapannya telah tiba.
Raka membuka pintu dan menerima tiga kantong besar berisi dimsum, bubur ayam porsi jumbo, dan segelas kopi susu dingin.
Nyam nyam nyam.
Ia memakan semuanya dengan sangat lahap di meja makan ruang tengah sambil menonton televisi layar datar raksasa.
Setelah perutnya kenyang, Raka kembali fokus pada rencana mencari markas permanen yang lebih aman.
Apartemen ini memang nyaman, tapi ia tidak bisa terus-terusan membuka gerbang sihir di tempat yang penuh tetangga.
Ia mengetik kata kunci pencarian agen properti khusus gudang di mesin pencari ponselnya.
Mata Raka tertuju pada sebuah iklan dari agen properti ternama bernama Pak Budi yang menawarkan gudang sepi di pinggiran kota.
Raka langsung menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Tut tut tut.
"Halo, selamat pagi. Dengan agen properti Pak Budi di sini, ada yang bisa saya bantu?" sapa suara pria paruh baya dari seberang telepon.
"Pagi, Pak Budi. Saya Raka, saya sedang mencari gudang besar yang lokasinya tertutup dan jarang dilewati orang," jawab Raka langsung ke intinya.
"Oh, kebetulan sekali Tuan Raka! Saya punya beberapa daftar gudang bekas pabrik tekstil yang sangat cocok dengan kriteria Anda."
"Bagus, harganya tidak masalah asalkan tempatnya aman dari intaian warga sekitar."
"Baik Tuan Raka, bagaimana kalau kita bertemu siang ini jam satu di Cafe Senja kawasan Sudirman untuk membahas detailnya?" tawar Pak Budi penuh semangat.
"Boleh, sampai ketemu di sana jam satu siang," tutup Raka mematikan panggilan teleponnya.
Sementara itu di tempat lain, Sasa sedang duduk elegan di kursi kebesarannya menatap layar tablet.
Bima berdiri tegak di samping meja kerja bosnya itu dengan wajah datar seperti biasa.
"Nona Sasa, orang dalam kita di bank baru saja melaporkan adanya transaksi pemesanan tempat dari rekening atas nama Raka Mahesa."
"Dia memesan tempat di mana, Bima?" tanya Sasa tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet.
"Di Cafe Senja Nona, target mendaftarkan meja atas nama Pak Budi seorang agen properti tanah dan bangunan."
Bibir Sasa menyeringai tipis membentuk senyuman licik yang sangat menawan sekaligus berbahaya.
"Agen properti? Gembel itu rupanya sedang mencari gudang untuk menyembunyikan sisa barang pusakanya."
Sasa meletakkan tabletnya di atas meja lalu berdiri merapikan setelan blazernya yang rapi.
"Hubungi Pak Budi itu sekarang juga dan berikan dia uang tutup mulut sepuluh juta rupiah."
Bima mengangguk pelan mencatat perintah bosnya tersebut di luar kepala.
"Katakan padanya untuk membatalkan pertemuan hari ini dan biarkan aku yang menggantikan posisinya menemui Raka di cafe itu," perintah Sasa mutlak.
"Baik Nona Sasa, saya akan segera mengaturnya sekarang," jawab Bima patuh lalu berjalan keluar ruangan.
Sasa menatap pantulan dirinya di kaca jendela ruang kerjanya yang menampilkan pemandangan kota Jakarta dari atas gedung pencakar langit.
"Kau tidak akan bisa lari dari pantauanku, Raka Mahesa."
"Aku akan membuatmu menyerahkan semua rahasiamu padaku dengan sukarela siang ini juga."
Tepat pukul satu siang, Raka melangkah masuk ke dalam Cafe Senja yang suasananya sangat mewah dan sepi.
Cafe ini rupanya adalah tempat khusus bagi para pebisnis kelas atas untuk melakukan lobi-lobi rahasia tanpa gangguan wartawan.
Raka memakai jaket kulit hitamnya dan celana jeans baru yang membuatnya terlihat tampan seperti anak muda dari keluarga kaya raya.
Ia berjalan menuju meja nomor tujuh di sudut ruangan sesuai kesepakatan dengan agen properti tadi pagi.
Namun langkah Raka terhenti mendadak saat matanya melihat siapa yang duduk santai di meja tersebut.
Bukan seorang pria paruh baya bernama Budi, melainkan seorang wanita cantik berkacamata hitam dengan aroma parfum mawar yang sangat khas.
"Nona Sasa? Sedang apa Anda di sini?" tanya Raka mengerutkan dahinya bingung.
Sasa melepas kacamata hitamnya perlahan lalu menatap Raka dengan tatapan mengintimidasi yang sangat kuat.
"Duduklah, Raka. Kita punya banyak hal untuk dibicarakan siang ini," perintah Sasa sambil menunjuk kursi kosong di depannya.
Raka menarik nafas panjang mencoba menenangkan detak jantungnya yang sedikit kaget karena jebakan dadakan ini.
Srek.
Raka menarik kursi itu dan duduk berhadapan langsung dengan wanita paling berkuasa di pasar herbal ibu kota tersebut.
"Di mana Pak Budi agen properti yang janjian dengan saya?" tanya Raka menatap langsung ke mata Sasa.
"Pak Budi sedang sibuk mengurus klien lain, jadi aku mengambil alih jadwalnya untuk menemuimu secara pribadi," jawab Sasa tersenyum sinis.
"Sejak kapan seorang direktur utama grup farmasi besar beralih profesi jadi agen jual beli gudang?" sindir Raka membalas senyuman wanita itu.
Sasa tertawa pelan mendengar sindiran tajam Raka yang tidak menunjukkan rasa takut sama sekali padanya.
"Kau pemuda yang menarik, Raka. Sikap kumalmu kemarin di pasar ternyata cuma kedok untuk menutupi sifat aslimu yang sangat keras kepala."
Sasa mencondongkan tubuhnya ke depan menumpu dagunya dengan kedua tangan yang dihiasi jam tangan miliaran rupiah.
"Aku tidak akan berbasa-basi lagi denganmu, dari mana kau mendapatkan ginseng berumur seribu tahun itu?"
"Itu rahasia dapur saya Nona Sasa, saya tidak mungkin memberikan sumber pasokan saya pada sembarang pembeli."
Brak!
Sasa memukul meja pelan namun cukup keras untuk membuat Raka sedikit terkejut.
"Kau pikir kau bisa bermain-main denganku di kota ini sendirian tanpa perlindungan siapa pun?" ancam Sasa merendahkan suaranya agar tidak didengar pelayan.
"Mantan preman pasar sepertimu akan mati konyol diburu para mafia obat jika mereka tahu kau memegang barang seharga triliunan."
Raka terdiam sejenak mencerna ucapan Sasa yang sayangnya memang seratus persen benar adanya.