NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan Lilia dan Aurelia

"Apa anda keberatan dengan perjodohan yang dilakukan Sarah?"

Nathaniel terdiam sesaat sebelum bergerak menggelengkan kepalanya.

"Tidak sama sekali. Saya hanya tidak suka caranya yang terlalu berlebihan. Padahal.... Menikah bukan hanya soal kecocokan dua keluarga." Jari telunjuknya bergerak mengetuk meja dengan pelan hingga menimbulkan bunyi nyaring yang samar.

"Menikah itu tentang dua orang yang siap menjalani kehidupan bersama. Tanpa ada paksaan ataupun tekanan." Matanya menatap Aurelia lekat.

"Bukan hanya saling mencintai. Tapi harus siap mengalah dan mengesampingkan ego sendiri..."

"Bukan yang saling memendam masalah sendiri tanpa saling bertukar pikiran untuk menyelesaikannya."

Aurelia terpaku sesaat. Wanita itu membalasan tatapan Nathaniel, untuk pertama kalinya ia mendengar Nathaniel berbicara panjang sebagai lawan bicara, bukan sebagai rekan bisnis.

Nathaniel menghentikan jemarinya. Ia sedang menganggap wanita di depannya saat ini sebagai sahabat Sarah, tidak ada keterlibatan bisnis didalamnya.

"Lalu pendapat anda tentang hubungan kita?" Aurelia berkedip beberapa kali dengan tangan yang masih mencengkeram erat celananya.

"Maksudnya.... Saat Sarah bertanya kepada anda." Aurelia bergerak menyelipkan rambutnya kebelakang telinga dengan perlahan.

Nathaniel sedikit memiringkan kepala, memperhatikan setiap kata yang keluar dari mulut wanita itu.

"Saya tidak bisa langsung meng-iyakan ataupun menolak." Jemarinya mengetuk permukaan meja sekali sebelum kembali diam.

"Lalu bagaimana dengan anda?"

Aurelia seakan lupa caranya bernapas. Wanita itu belum siap dengan pertanyaan tiba-tiba dari Nathaniel. Ia pikir, Nathaniel tidak akan bertanya balik. Ia melonggarkan cengkraman tangannya.

"Jawaban saya sama dengan anda..."

Aurelia menghela napas sebentar.

"Apalagi, saya baru memutuskan hubungan dengan mantan kekasih saya." Aurelia ingin bicara terus terang. Ia tidak mau Adriant terlibat dalam kehidupannya mulai dari sekarang. Pikirannya berusaha keras untuk menghapus memori tentang pria itu.

Tatapan Nathaniel tertahan sedikit lebih lama pada wajah Aurelia. Alisnya terangkat tipis.

"Karena itu anda datang kesini?" Nathaniel ingin mencerna alasan Aurelia datang sangat malam ke vila ini. Karena tidak mungkin seorang wanita sepertinya datang sampai larut malam tanpa alasan. Bahkan Nathaniel menduga, Sarah tidak memberi tahu keberadaannya di Vila ini.

Aurelia mengangguk kecil.

"Iya. Saya sedang butuh tempat bercerita."

"Dan kakak saya orangnya?" Ucap Nathaniel dengan senyum kecil. Dirinya tidak menyangkut wanita seperti Kakaknya bisa dijadikan tempat aman untuk seseorang meluapkan keluh kesah. Ia hanya tahu.... Sarah adalah wanita ceroboh yang tidak bisa di ajak serius.

"Iya... Saya juga tidak mengerti kenapa bisa dia." Aurelia menyunggingkan senyum tipis.

"Sarah memang jarang bisa serius. Tapi dia bisa menyimpan cerita jika penting. Dia juga pendengar yang baik. Meskipun..." Aurelia menghentikan kalimatnya. Matanya beredar menatap kearah lain, pada pancuran air yang masih mengalir.

".... ucapannya terkadang menyakitkan. Tapi dia jujur. Tidak ada yang dia sembunyikan." lanjut Aurelia lagi dan beralih menatap Nathaniel yang masih menatapnya. pandangan mereka bertemu.

"Terlalu jujur juga tidak baik." Ucap Nathaniel seraya tersenyum.

Untuk sejenak, Aurelia terpaku pada senyuman yang baru ia lihat untuk pertama kalinya. Senyuman itu tipis, tapi terlihat begitu tulus. Aurelia baru melihat dengan jelas wajah Nathaniel.

"Dia seharusnya bisa menyaring apa yang akan dia ucapkan." Nathaniel menyandarkannya punggungnya di sofa.

Suasana hening begitu saja. Aurelia tidak menyahuti ucapan Nathaniel. Ia lebih memilih mengamati wajah Nathaniel yang menurutnya... Terlalu sulit untuk ia jabarkan.

"Paman Nathan!"

Mereka berdua spontan menoleh pada Lilia yang berlari dengan rambut yang sedikit berantakan. Baju tidur bergambar kartun membuatnya terlihat lebih menggemaskannya. Tangannya bergerak mengucek mata.

"Mama. Ayo. Kenapa lama sekali."

Lilia berhenti dengan napas ngos-ngosan. Tubuhnya membungkuk dengan kedua tangan di atas lutut. Disana, Sarah ikut mengejar Lilia dari belakang.

Lilia celingukan, jemarinya merapihkan rambut panjangnya yang agak kusut.

"Tante cantik, masih disini?" Tanya Lilia, menegakkan tubuhnya dan berjalan perlahan menghampiri Aurelia.

"Heem. Tante masih mau ngobrol sama mama kamu." Jari telunjuk Aurelia menyentuh pelan ujung hidung Lilia. Senyumnya terlihat merekah sempurna.

Lilia mengganggu paham. Ia mendudukkan dirinya di bantu Aurelia karena sofa lumayan tinggi, sedangkan ukuran Lilia tidak sampai untuk duduk dengan mudah. Anak itu duduk tepat di sebelah Aurelia.

Sarah hanya diam memperhatikan, ia meletakkan kedua tangannya di depan dada.

"Bobo yuk, Lilia. Udah malam. Kalau Papa tahu kamu jam segini belum tidur. Papa bisa marah." Rayu Sarah. Ia tidak tahu harus seperti apa membujuk putrinya yang sangat kerasa kepala. Akhir-akhir ini Lilia susah tidur. Mungkin karena efek panas kemarin.

Lilia memalingkan wajahnya dari Sarah dan meletakkan kedua tangannya di dada dada.

"Tidak usah kasih tahu, mama.... Kalau mama tidak kasih tahu, Papa tidak akan malah." Ucap gadis itu dengan nada seolah menggurui.

"Mama tidak boleh bohong sama Papa." Sarah ikut mendudukkan dirinya di samping Nathaniel.

"Biasanya juga bohong."

"Kemalin Mama lagi di mall. Tapi waktu Papa telepon, Mama bilang lagi di lumah."

Aurelia spontan menutup mulutnya, ia sebisa mungkin menahan suara tawa yang ingin meledak sempurna. Rasanya, melihat Sarah yang kalah adalah hal langka. Bisa dilihat... Yang bisa melawan Sarah hanya putrinya.

"Iya... Iya... Tidak apa-apa tidak usah tidur sampai besok pagi." Ketus Sarah. Tangannya bergerak mengambil camilan di atas meja dan memakannya.

Lilia hanya tertawa kecil. Tangannya bergerak menyentuh lengan Aurelia. Matanya menatap Aurelia dan Nathaniel secara bergantian.

"Tante cantik pacalnya om Nathan?"

Aurelia melebarkan pupilnya. Ia menggeleng pelan seraya mengelus lembut surai Lilia. Bibirnya bergerak ingin menyela ucapan Lilia. Tapi Sarah lebih dulu memotong.

"Bukan pacar, Lili."

"Telus apa?"

Sarah melipat bibirnya kedalam. Matanya melirik pada Nathaniel, ia menunjukkan senyuman lebar.

"Calon istri." Sarah beralih menatap Aurelia yang melotot tajam seakan tidak terima dengan ucapan Sarah.

Nathaniel menatap Sarah yang tersenyum seperti tidak terjadi apa-apa. Ia ingin sekali menasehati Kakaknya. Tapi dihadapan Lilia, bukanlah keputusan tepat.

Lilia menaruh jari telunjuknya di atas dagu.

"Calon istli?"

Sarah mengangguk dengan cepat.

"Nanti bakal nikah, kaya Mama sama Papa?"

Aurelia ingin berbicara tapi mengurungkan niatnya setelah melihat Lilia bertepuk tangan dengan tawa girang.

"Hole!" ucap Lilia masih bertepuk tangan. Matanya beralih menatap Aurelia.

"Aku seneng banget. Nanti kita seling ketemu." Lilia memeluk lengan Aurelia dengan erat. Ia juga menyenderkan kepalanya di sana.

"Nikahnya yang cepet ya, tante. Bial aku bisa main sama tante Aulel."

Aurelia hanya membalas dengan senyum kikuk. Ia mengusap surai Lilia dengan gerakan lembut.

"Gimana kalau Lilia tidur sekarang."

Lilia menarik kepalanya, ia menatap Aurelia dengan kantung mata yang memang terlihat sudah mengantuk.

"Kalau Lilia tidur sekarang. Tante bakal belikan mainan besok siang."

Lilia melebarkan pupilnya lebar. Ia mengembangkan senyum lebar.

"Benal tante?" ucapnya dengan penuh semangat.

Aurelia mengangguk kecil.

Lilia kemudian memeluk tubuh Aurelia. Tangan kecil itu menepuk-nepuk punggung Aurelia pelan.

Nathaniel masih duduk bersandar di sofa, satu tangan di atas pembatas, satunya lagi di atas nakas. Ia memperhatikan keduanya tanpa suara. Pandangannya berpindah dari Lilia kepada Aurelia yang masih tersenyum lembut. Ia baru menyadari bahwa Lilia memang jarang bersikap seperti itu kepada orang yang baru ditemui. Tapi dengan Aurelia, anak itu terlihat sudah dekat seolah sudah bertemu sejak lama.

"Terimakasih tante." Ucap Lilia pelan.

Sesaat kemudian, mereka mengurai pelukan.

Aurelia mengelus pelan pipi Lilia, "Sama-sama, Lilia." bibirnya masih mengembangkan senyum.

Lilia buru-buru melompat dari sofa dan menghampiri Sarah.

"Ayok Mama. Aku mau tidul supaya besok dibelikan mainan."

Sarah mengangguk lega. Akhirnya Lilia ingin tidur sendiri tanpa dipaksa. Sebelum Lilia pergi, anak itu menghampiri Nathaniel.

Lilia berdiri dengan senyum lebar. Seolah tahu permintaan Lilia. Nathaniel langsung mencondongkan tubuhnya dengan kepala yang ia miringkan. Dengan gerakan cepat, Lilia mencium pipinya.

"Selamat malam, om."

Nathaniel mencubit pelan hidup Lilia. "Selamat malam juga, sayang." Ia mengacak-acak pelan surai Lilia.

Sarah buru-buru menggendong anak itu sebelum berubah pikiran. Lalu menoleh sebentar pada Aurelia seolah berkata tunggu sebentar.

Aurelia hanya mengangguk pelan, dan melihat punggung Sarah yang mulai menghilang dari balik tembok.

"Apa kalian sudah sedekat ini?"

Aurelia menoleh pada Nathaniel yang bertanya padanya. Ia dengan cepat menggeleng.

"Saya baru pertama kali bertemu Lilia." Ucap Aurelia jujur, matanya jatuh pada celana dan merapihkannya karena terlihat sedikit kusut.

"Tapi dia tidak mudah dekat dengan orang."

Aurelia mengangkat wajahnya. "Benarkah?" ucapnya. Ia merasa senang jika Lilia merasa nyaman padanya.

Nathaniel mengangguk tipis.

"Mungkin karena anda bisa dengan mudah dekat dengan orang baru dan membuat mereka nyaman."

Aurelia menghentikan gerakan tangannya. Ia memiringkan kepalanya, alisnya terangkat tipis.

"Termasuk kepada anda?"

Ucapan itu spontan keluar tanpa Aurelia sadari.

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!