Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Itu
POV Rastadira
Keretaku baru berangkat pukul 3 sore nanti, masih tersisa 3 jam untuk menghabiskan waktuku di Surabaya. Aku sengaja memesan ojek online untuk mengantarku ke Taman Bungkul, taman favoritku saat kuliah dulu. Sejak pertemuanku dengan Farhan dan Puput beberapa menit lalu aku jadi lupa tujuan utamaku kemari. Jika tadinya aku ingin mencari pria itu, nyatanya sosok Farhan masih begitu kuat menguasai perasaanku. Terbukti hatiku hancur melihatnya tersenyum mesra dengan wanita lain, ditambah perkataan Farhan yang seolah sudah muak denganku.
Menyedihkan sekali, bulan depan putusan cerai akan keluar, Farhan akan segera menikahi gadis pujaannya, lalu mereka dikaruniai momongan dan hidup bahagia selamanya. Berbanding terbalik dengan aku dan insya Allah calon bayiku. Aku harus menjadi janda, single mom, yang jika anakku bertanya siapa ayahnya pasti aku tidak sanggup mengatakannya.
Kuusap perutku perlahan, membayangkan suatu hari nanti perut ini akan membesar dan makhluk kecil di dalamnya menggantungkan hidupnya padaku. Iba hatiku membayangkan nasibnya kelak, mana mungkin pria itu mau menganggapnya sebagai anak, toh aku pun juga enggan jika memiliki suami sepertinya. Pemabuk, kasar, dan kurang ajar. Tak terasa air mataku jatuh kembali mengingat semua yang terjadi di malam itu.
Jika saja Farhan tidak pergi saat itu, tentu kuhabiskan masa suburku bersamanya, dan tidak menutup kemungkinan aku akan mengandung benih cinta kami. Hari saat aku mendatangi Prof Suji bersama Farhan terakhir kali saat itu adalah selesainya masa haidku. Tapi karena kami berselisih paham akhirnya kami melewatkan momen masa subur begitu saja, dan malah membuat orang lain berhasil merebutnya. Demi apapun aku sangat benci dan jijik pada pria itu.
Suara adzan terdengar dari sebuah masjid, menyentakku dari segala kesedihan. Aku beristighfar, mengoreksi gumaman hatiku barusan.
“..... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
Aku terhenyak mengingat sepenggal nasihat dari Surat Al Baqarah ayat 216 tersebut, berulang kali aku menyesali kejadian malam itu berulang kali pula aku mengingat ayat ini. Allah yang paling tahu mengapa ini semua terjadi padaku, setidaknya aku harus berkhusnudzon terlebih dahulu, bukan malah merutuki semuanya.
Kuhela nafas dalam-dalam, hatiku perlahan tenang, ku ucap syukur pada Sang Pencipta karena selalu mengingatkanku setiap setan datang menghasut. Kuambil selembar oil control dari dalam tas lalu kutepukkan ke wajahku. Saking asyiknya menepuk wajah, aku sampai tidak sadar jika ada wanita paruh baya menghampiriku.
“Rujak, neng.” Wanita itu menyodorkan seporsi rujak manis yang dikemas mika plastik kepadaku.
“Tidak, Bu. Terima kasih.” Tolakku.
“Tidak usah beli, neng. Ini tadi ada yang pesan Jumat Berkah ke Ibu, jadi saya bagikan ke para pengunjung.” Ibu itu menjelaskan sambil memberi isyarat lewat matanya bahwa semua pengunjung juga mendapatkan rujak sepertinya.
“Terima kasih, Bu. Semoga dibalas dengan pahala berlipat.” Aku menerima rujak itu dan mengucapkan terima kasih, setelahnya si ibu pun pergi meninggalkanku dan menghampiri pengunjung lain untuk diberi rujak manis juga.
Lidahku berliur melihat rujak manis di genggaman, sepertinya bayiku juga sangat ingin melahapnya. Tunggu ya, nak, kita solat dulu baru makan rujak ini. Bisikku dalam hati pada jabang bayiku. Aku terkekeh karena baru ingat bahwa kini aku sudah tidak sendiri, ada calon anakku yang akan menemaniku kemanapun. Terima kasih, Ya Allah.
Sebelum ke mushola, aku pergi ke gerobak rujak milik ibu yang tadi menghampiriku. Padanya kutitipkan rujak itu dan berjanji akan mengambilnya lagi saat selesai solat.
Dua puluh menit berselang, aku menghampiri gerobak si ibu. Sambil berbasa-basi kutanyakan sejak kapan berjualan disini, karena saat aku masih kuliah dan sering ke taman ini belum pernah aku melihat beliau. Ternyata baru satu tahun belakangan si ibu berjualan disini, sebelumnya beliau berjualan makanan hewan di depan Kebun Binatang Surabaya.
Saat tengah asyik berbincang dengan si ibu, tiba-tiba ada suara pria memanggilku. Aku menoleh ke sumber suara, dan benar saja ada sosok yang membuat seluruh syarafku menegang. Aku hampiri pria itu tanpa berpamitan pada si ibu, tanganku mengepal ingin menghajarnya.
Namun, niatku terhenti saat pria itu berkata ada yang perlu kita bicarakan. Kita? Batinku.
Aku berjalan mendahuluinya, lalu duduk dan memberi kesempatan padanya untuk berbicara lebih dulu. Namun kalimat tanya yang ia ucapkan malah mengenai kabarku, jika aku katakan kabarku buruk apa aku berlebihan? Kugeser dudukku menjauh dari tempatnya duduk, terlalu dekat menurutku dan bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi siapapun yang melihat kami.
“Sudah lama aku cari kamu. Sampai-sampai...” kalimatnya terputus karena langsung kupotong.
“Mau apa cari aku?” tegasku.
Pria itu terlihat gugup menyaksikanku seketus ini. Benarkah dia mencariku selama ini? Jangan-jangan selain pemabuk, kasar, dan kurang ajar dia juga seorang pembual? Oh, lengkap sudah jika memang iya.
Selanjutnya ia lontarkan kalimat maaf dan penyesalan padaku, maaf karena sudah melakukan hal yang tidak seharusnya padaku. Bahkan ia mengatakan bahwa aku pantas membunuh atau melaporkannya ke polisi.
Aku memejamkan mata, mencoba menetralisir hatiku. Tidak dapat dipungkiri keinginan-keinginan itu ada namun mana mungkin aku bisa melakukannya begitu saja. Banyak hal yang terlintas di otakku kala itu, tentang bagaimana hukum negara ini menilaiku jika aku membunuhnya, juga tentang bagaimana komentar keluarga dan orang terdekat jika aku melaporkannya ke polisi. Dan lagi jika aku melaporkannya maka akan semakin banyak orang yang tahu bahwa aku diperkosa kakak iparku.
Iya, dialah pria itu. Pernah kukatakan bahwa ia adalah pria yang harus kuhormati namun nyatanya ia tega berbuat lancang padaku. Bagaimana jika Farhan tahu semua ini? Laki-laki manapun tidak akan sudi menyentuh wanitanya kembali jika sudah ternodai oleh laki-laki lain, apalagi jika laki-laki itu adalah saudara kandungnya. Biarlah aku dianggap bodoh dan tidak mengikuti saran dari komnas perempuan bahwa sejatinya kekerasan sekecil apapun sudah seharusnya dilaporkan ke polisi. Tidak, aku tidak akan melakukannya. Banyak pihak yang akan tersakiti jika aku melakukannya, termasuk ibuku. Aku tidak ingin menumpahkan segala kesedihanku padanya, butuh waktu jika aku benar-benar mengatakan kepada beliau.
Seperti yang kuduga sebelumnya, bahwa percakapan kami tidak akan berujung. Mas Fariq berulang kali bertanya hukuman apa yang paling pantas untuknya supaya aku bisa memaafkannya. Tak hanya itu, ia pun juga menawarkan tanggung jawab apa yang harus ia lakukan supaya bisa menebus kesalahannya. Aku tertawa dalam hati, memangnya tanggung jawab apa yang bisa ia lakukan saat ini. Menikahiku? Meski nanti aku resmi bercerai aku tidak akan pernah mau menikah dengannya. Apa yang bisa dibanggakan dari pernikahan itu nanti jika dasarnya kami tidak saling cinta? Dan lagi siapa yang rela menghabiskan sisa usianya dengan seorang pemabuk sepertinya?
“Aku hamil. Dan aku yakin itu akibat dari kejadian malam itu. Aku tidak menuntut apapun, juga tidak akan mengatakannya pada siapapun. Tapi tolong jangan ganggu aku apalagi berniat buruk padaku, aku akan menjaganya. Tenang saja, aku tidak akan menjadikannya senjata untuk menghantui kehidupan Mas Fariq. Sebentar lagi aku akan menjauh dari kehidupan keluarga kalian. Cuma itu yang aku minta, jangan sakiti aku lagi, aku tidak akan mengganggu kalian.”
Aku terisak menuturkannya. Aku mencarinya karena ingin mengatakan hal ini. Semoga dia benar-benar memahami maksud perkataanku, dan benar-benar mengabulkan permintaanku untuk tidak berniat buruk padaku juga calon anakku. Aku akan menjauh, menghilangkan bayanganku di keluarga besarnya.
Mas Fariq tertegun seolah tak percaya. Tidak ada kalimat yang ia lontarkan. Mungkin dia masih mengira perkataanku tadi hanya omong kosong. Terserah, aku juga tidak butuh segala bentuk tanggung jawab yang mungkin ia tawarkan.
Kuputuskan untuk pergi dari hadapannya tanpa berpamitan. Berharap hari setelah hari ini bisa kulalui tanpa perasaan yang mengganjal lagi. Semoga.