Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 masih butuh
Kesepakatan resmi akhirnya terjalin. AR Restoran & Catering ditunjuk sebagai vendor penyedia makan siang untuk 100 porsi per hari selama dua bulan ke depan. Setelah masa percobaan dua bulan tersebut selesai, pihak PT Yamaichi akan mengevaluasi apakah AR mampu menaikkan kapasitas produksi hingga 1.000 porsi per hari untuk seluruh divisi operasional mereka.
“Untuk teknis pelaksanaan dan administrasi harian, Anda bisa berkoordinasi langsung dengan Ibu Lisa. Beliau adalah tangan kanan saya selain Santi,” ujar Tuan Yamada dengan nada tenang namun berwibawa.
Amira mengangguk penuh penghormatan. “Baik, Tuan Yamada. Terima kasih atas kepercayaan ini.”
Tuan Yamada yang biasanya dikenal sangat dingin, kaku, dan berjarak di lingkungan korporasi, hari itu menampilkan sisi humanis yang sangat jarang terlihat. Raut wajahnya tampak sangat ramah, terutama saat Amira mengajarinya beberapa gerakan bahasa isyarat sederhana agar ia bisa menyapa Fitri secara langsung. Tuan Yamada bahkan secara khusus meminta untuk berswafoto bersama Tono dan Toni di area dapur.
Ibu Santi yang menyaksikan momen itu dari dekat hanya bisa terpana. Lima belas tahun mendampingi Tuan Yamada sejak masa-masa sulit di bangku kuliah membuat Ibu Santi paham betul betapa tertutupnya sang atasan. Keceriaan dan kehangatan yang terpancar dari wajah Tuan Yamada hari ini adalah sebuah pemandangan langka yang amat berharga.
Setelah menikmati santap siang bersama di salah satu sudut meja VIP AR Restoran, Tuan Yamada bersiap memutus rangkaian inspeksi hari itu. Semua orang di ruangan tersebut diliputi perasaan gembira—kecuali Adam dan Alya.
“Amira-san, saya harus segera bertolak kembali ke Jepang hari ini. Minggu depan kemungkinan besar saya akan kembali ke Jakarta untuk meninjau perkembangan awal,” pamit Tuan Yamada.
“Baik, Tuan. Semoga perjalanan Anda lancar dan selamat sampai di tujuan,” jawab Amira santun.
“Terima kasih. Senang sekali bisa mengenal dan bekerja sama denganmu.”
Tuan Yamada kemudian melirik jam tangannya dan menatap Ibu Santi.
Ibu Santi memberi isyarat pelan, “Satu jam lagi kita harus sudah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Tuan.”
Tuan Yamada menghela napas pendek seraya terkekeh tipis. “Ah, aku benar-benar tersiksa oleh jadwal waktu yang ketat ini... Baiklah, kalau begitu aku berangkat sekarang.”
Seperti kebiasaannya, Tuan Yamada selalu bergerak cepat dan sigap. Tanpa membuang waktu, ia dan Ibu Santi melangkah meninggalkan area restoran menuju mobil jemputan khusus bandara. Alya dan Adam ditinggalkan begitu saja di pelataran tanpa petunjuk, instruksi, atau kejelasan nasib dari atasan mereka.
Melihat rombongan pimpinan sudah berlalu, Alya melangkah lebar mendekati Amira dengan wajah menyala penuh kebencian.
“Puas kamu sekarang, Amira?!” desis Alya tajam.
Amira menatap Alya dari atas ke bawah, lalu menyunggingkan senyum tipis yang amat tenang. “Puas dong... Bagaimana tidak puas kalau bisa memenangkan kerja sama dengan perusahaan internasional?”
Gigi Alya bergemerutuk menahan amarah yang membakar dada. “Ingat ya, Amira... ini belum selesai!”
“Sebaiknya kamu simpan energimu baik-baik, Alya,” potong Amira dingin. “Gunakan energi itu untuk mulai mencari pekerjaan baru.”
“Kamu...!” Tatapan mata Alya seolah ingin merobek wajah Amira saat itu juga.
Adam yang merasa situasi kian tak terkendali segera melangkah maju, memegang lengan Alya. Matanya sempat mencuri pandang ke arah Amira—ada rasa malu, sesal, dan kekosongan yang amat dalam di matanya. “Alya, ayo kita pergi dari sini.”
“Kalau sampai aku dipecat dari kantor, ini semua gara-gara kamu, Amira!” amuk Alya tak terima.
“Alya, ayo!” tegas Adam, setengah menyeret tangan istrinya keluar dari restoran.
Adam dan Alya meninggalkan restoran dengan perasaan campur aduk. Berbeda dengan Alya yang terlalu tinggi hati dan gengsi, Adam tadi sempat membawa beberapa kotak makanan yang dibungkuskan secara gratis oleh pihak AR Restoran untuk dibawa pulang.
Sore harinya mereka tiba di rumah. Mereka sengaja tidak kembali ke kantor karena kepala Alya terasa mau pecah menahan emosi dan pusing.
Langkah Alya tertahan saat melintas di depan meja makan. Rasa gusar kembali memuncak tatkala melihat meja kayu itu kosong melompong tanpa ada hidangan apa pun.
“Ibumu ini bagaimana sih, Mas?!” omel Alya meluapkan kekesalannya. “Aku lapar banget! Kok Ibu tidak masak sama sekali dari tadi?”
Adam yang sedang melepas sepatu menghentikan gerakannya. Perkataan Alya terasa sangat menyengat di telinganya. Ada rasa tidak nyaman yang merayapi hatinya—seharusnya Alya sebagai menantu yang melayani ibunya, bukan malah terus-terusan menuntut untuk dilayani.
“Mas! Kenapa kamu diam saja? Kamu marah sama aku?” cecar Alya melipat tangan di dada. “Aku memang tidak bisa masak, Mas! Kamu marah karena aku menyuruh ibumu masak?!”
Adam menghembuskan napas berat. “Aku tidak marah, Al... Cuma kamu kurang sopan kalau bicara soal Ibu.”
“Aku lapar, Mas! Kejadian di resto tadi sudah bikin kepalaku mau pecah!” bentak Alya tak mau kalah. “Sekarang pulang ke rumah malah tidak ada makanan sama sekali!”
“Aku bawa makanan kok tadi dari AR Restoran,” sahut Adam seraya meraih kantong plastik dari atas meja dan memperlihatkannya. Adam menaruh wadah itu kembali.
Namun, emosi Alya yang sudah meluap-luap tak tertahan lagi.
WOSSS!
Dengan kasar, Alya mengibaskan tangannya menepis kantong plastik itu hingga terlempar dan jatuh ke lantai. Beruntung kotak makanan di dalamnya tertutup rapat sehingga operatesnya tidak berserakan.
“Alya! Jangan keterlaluan kamu!” bentak Adam dengan suara meninggi. Napasnya memburu keras. “Kamu pikir cuma kamu saja yang lelah, hah?! Aku sudah berinisiatif membungkus makanan dari AR karena diberi gratis, dan sekarang kamu buang begitu saja?!”
“Tapi itu makanan dari Amira, Mas! Mau ditaruh di mana mukaku kalau harus makan pemberian bekas istri kamu?!”
“Ya lalu kenapa?!” balas Adam teguh, matanya menatap Alya tajam. “Uang tabungan kita yang tinggal sedikit itu sudah habis terbuang untuk menyogok Hera! Dan hasilnya apa?! NOL! Hera tidak menghasilkan apa-apa untuk menyelamatkan kita! Besok kita baru gajian! Terserah kamu mau bagaimana, yang jelas aku juga capek! Aku tidak bisa masak untuk kamu malam ini!”
Nada suara Adam terdengar sangat tegas dan retak. Tanpa mempedulikan Alya lagi, Adam melangkah lebar menuju dapur. Ia memungut kotak makanan dari lantai, lalu duduk di kursi makan. Dadanya terasa sesak, perutnya lapar, dan ia hanya ingin makan dengan tenang tanpa peduli dari mana makanan itu berasal.
Alya berdiri mematung di tengah ruangan, memandangi punggung Adam dengan mata menyala-nyala.
Kurang ajar kamu, Mas! maki Alya dalam hati. Lihat saja... Besok kamu gajian dan aku butuh semua uangmu. Andai saja kamu tidak punya gaji lagi, sudah dari kemarin-kemarin kamu aku buang ke tempat sampah!
Alya menarik napas panjang, mencoba menekan egonya dalam-dalam. Baiklah, aku harus mengalah dulu malam ini. Aku harus merayu pria bodoh ini demi mengamankan gajinya besok.
Seluruh pertengkaran hebat dan adu mulut itu terdengar jelas oleh Mirna yang mengurung diri di dalam kamar. Air mata Mirna menetes perlahan menelusuri pipinya yang mulai keriput. Hatinya teriris perih melihat putra kebanggaannya—pria yang dulu begitu terhormat—kini dibentak-bentak dan diperlakukan kasar oleh Alya.
Selama dua tahun Amira menjadi menantunya, tak pernah sekalipun Amira memarahi Adam, apalagi menaikkan nada bicara di depan Mirna. Penyesalan dahsyat mulai menyusup dan meremukkan dada Mirna. Namun semuanya sudah terlambat; Mirna tahu dirinya ikut andil besar merusak rumah tangga Adam dan Amira demi membela Alya.
Di ruang makan, Alya berjalan pelan mendekati Adam yang sedang mengunyah makanannya dengan tatapan kosong menatap ke luar jendela.
Pasti pria sialan ini sedang memikirkan Amira! batin Alya penuh dendam.
Alya kemudian melingkarkan kedua tangannya dari belakang, memeluk leher Adam dengan lembut.
“Mas...” bisik Alya halus di telinga Adam. “Maafin aku ya, Mas... Aku terlalu emosi tadi.”
Adam menghentikan kunyahannya. Helaan napas berat terdengar dari dadanya. Ia memegang jemari Alya yang melingkar di dadanya, lalu berbalik. “Mas juga minta maaf ya sudah membentak kamu tadi...”
Alya duduk di kursi samping Adam, tersenyum manja. “Iya, Mas... Aku maafin kok. Aku tahu Mas lagi stres berat.”
“Ya sudah, kamu makan ya?” tawar Adam.
“Suapin...” rengek Alya manja, menyandarkan kepalanya di bahu Adam.
Dengan sabar, Adam menyuapi Alya sendok demi sendok. Alya bergelendotan manja, berpura-pura menjadi istri yang manis demi meluluhkan hati Adam.
Namun usai makan, Alya langsung berdiri begitu saja tanpa menyentuh piring kotornya. Pada akhirnya, Adam pula yang harus berdiri di depan wastafel, mencuci piring dan merapikan sisa makanan sendirian.
Malam kian larut. Mirna tetap mengurung diri di kamar, enggan keluar ruangan. Ia terlalu lelah dan muak menyaksikan dinamika rumah tangga anaknya. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, posisi Adam tidak lagi terlihat seperti seorang suami, melainkan tak ubahnya seperti pembantu harian bagi Alya.
Di dalam kamar tidur mereka, Alya sedang menatap layar ponselnya dengan raut wajah gusar.
“Mbak Hera sama sekali tidak bisa dihubungi, Mas!” seru Alya kesal.
Adam yang sedang berbaring terlentang meletakkan ponselnya di atas nakas. “Buat apa kamu hubungi dia lagi, Al?”
“Aku mau minta balik uang dua juta rupiah yang kemarin aku kasih ke dia!”
“Sudahlah...” cegah Adam lelah. “Kalau kamu terus cecar dia dan dia malah membocorkan ke Pak Yusuf bahwa kamu mencoba menyogoknya, posisi kita justru makin hancur. Sekarang lebih baik kita pusingkan jawaban apa yang harus kita sampaikan saat berhadapan dengan Pak Yusuf besok.”
Pagi hari datang terlalu cepat.
Dada Adam terasa bagaikan dihimpit batu besar saat melangkah memasuki koridor kantor. Kepalanya dipenuhi ketakutan luar biasa—jika hari ini ia dipecat, ia tidak tahu harus memberi makan keluarganya dengan apa.
Di sampingnya, Alya melangkah dengan pikiran yang jauh berbeda. Alya sudah menyusun rencana matang: begitu uang gaji Adam masuk ke rekening hari ini, ia akan langsung menguras habis seluruh uang itu. Setelah itu, ia akan langsung mengemas barang-barangnya dan meninggalkan Adam. Tabungan rahasia Alya sudah cukup untuk membiayai hidupnya sendiri selama satu tahun penuh tanpa perlu bergantung pada pria tak berguna seperti Adam.
Baru saja mereka menginjakkan kaki di area divisi operasional, seorang sekretaris memanggil nama mereka.
“Pak Adam, Bu Alya... Anda berdua dipanggil untuk segera menghadap Pak Yusuf di ruangannya sekarang juga.
Firasat Bu Mirna tentang kepergian Alya,perlu diberi /Good/
kelrg ada sama aliya 11/12🤭