NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terlalu dekat

"Lagi buat apa nih?"

Tubuh Naresa langsung tersentak. Ia tidak menyadari Kale sudah berdiri di belakangnya, begitu dekat sampai keberadaan laki-laki itu baru terasa ketika suaranya terdengar tepat di belakang telinganya.

“Eh, sorry,” Kale segera mundur sedikit begitu melihat tubuh Naresa yang sempat terguncang.

Mendengar suara adik iparnya, Naresa berbalik. Namun, gerakannya terhenti sesaat ketika yang pertama kali memenuhi pandangannya adalah tubuh bagian atas Kale yang polos. Laki-laki itu rupanya tidak mengenakan kaus, hanya mengenakan celana pendek yang membuat Naresa buru-buru mengalihkan pandangan.

“Mundur, Kal,” kata Naresa sembari mendongak menatap adik iparnya.

Kale memang tinggi, sama seperti suaminya. Dan entah kenapa laki-laki itu selalu punya kebiasaan berdiri terlalu dekat dengannya.

“Gerah tahu, jangan deket-deket.”

Tak memedulikan raut wajah Naresa yang jelas menunjukkan ketidaknyamanan, Kale justru kembali bertanya, “oh, lagi masak puding?”

“Ya, seperti yang kamu lihat.” Naresa kembali membalikkan badan menghadap kompor dan melanjutkan mengaduk puding instan di dalam panci kecil,

Kale tidak langsung pergi. Ia bergeser ke sisi Naresa, berdiri dengan jarak yang sedikit lebih jauh daripada sebelumnya, lalu memperhatikan perempuan itu kembali mengaduk puding di dalam panci.

Awalnya, pandangan Kale hanya tertuju pada tangan Naresa yang terus mengaduk puding di dalam panci. Gerakan tangannya tenang dan berulang, membuat Kale tanpa sadar memperhatikannya sedikit lebih lama dari yang diperlukan.

Namun, enyak sejak kapan, pandangannya mulai bergerak naik. Dari tangan Naresa, beralih pada sisi wajah perempuan itu yang terlihat dari samping. Rambut panjangnya diikat asal di belakang kepala, menyisakan beberapa helai yang terlepas dan menempel di sisi wajah serta lehernya akibat keringat dan udara dapur yang panas.

Kale terdiam.

Matanya kembali mengikuti garis wajah Naresa, turun perlahan ke lehernya yang jenjang hingga berhenti pada tulang selangka yang terlihat samar di balik kerah kaus rumahan yang dikenakannya.

“Harus diaduk terus?” tanya Kale mengalihkan pikirannya yang mulai ke mana saja.

“Iya.”

“Kenapa?”

Naresa menghela napas panjang sebelum menjawab, “kalau berhenti nanti menggumpal.”

“Oh.”

Hanya itu. Namun, Kale tetap berada di sana.

Naresa meliriknya sekilas dari sudut mata. “Kenapa masih di situ?”

“Lagi lihat.”

“Lihat apa?”

“Pudingnya.”

Naresa mendengus kecil. Sedari tadi tentu saja ia menyadari tatapan Kale padanya. Entah kenapa ia merasa tidak nyaman hanya berdua dengan adik iparnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja Naresa tidak suka ketika seseorang memperhatikan apa yang sedang ia kerjakan, terlebih ketika ia sedang melakukan pekerjaan yang menurutnya tidak perlu dilihat orang lain.

“Udah beres?” tanya Kale sambil sedikit menggeser tubuhnya.

Naresa hanya menjawab dengan dehaman. Setelah mematikan kompor, ia kemudian membawa panci berisi puding yang masih panas ke meja makan. Di sana, 2 cetakan puding besar sudah menunggu. Dengan hati-hati, Naresa menuangkan puding dari dalam panci ke dalam cetakan itu hingga habis, lalu membiarkannya di atas meja agar suhunya turun terlebih dahulu.

Setelah itu, ia membawa panci kosong ke wastafel dan mengisinya dengan air sebelum kembali ke meja makan.

“Ini kalau udah dingin, tolong masukin ke kulkas, ya? Atau nanti kasih tahu mbak. Mbaknya lagi keluar,” Kata Naresa sambil menatap Kale.

“Oke,” jawab Kale sambil menganggukkan kepala.

Naresa pun beranjak meninggalkan dapur. Sementara itu, Kale hanya diam di tempatnya, mengikuti kepergian perempuan itu sampai sosoknya semakin menjauh dari area dapur.

“Gila.”

Kale menggeleng pelan, seakan baru menyadari bahwa sejak tadi perhatiannya sama sekali bukan tertuju pada puding.

Bahkan tujuan awalnya masuk ke dapur untuk mengambil minuman isotonik setelah melakukan gym pun sudah terlupakan.

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!