NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bastian yang Tak Lagi Sama

Bastian: Sayang, ke kantor, dong. Aku mau makan siang sama kamu.

Diandra yang baru saja meneguk air putih langsung tersedak kecil begitu membaca pesan dari suaminya. Ia buru-buru meletakkan gelas, sementara Bi Lastri yang berada di dekatnya segera menyodorkan tisu.

“Pelan-pelan, Non. Memangnya ada apa?”

Diandra masih menatap layar ponselnya dengan wajah tak percaya.

“Lihat ini, Bi.” Ia menunjukkan pesan dari Bastian. “Mas Bastian ngajak aku makan siang. Tumben banget, kan?”

Bi Lastri membaca pesan itu, lalu tersenyum lebar.

“Wah, akhirnya Tuan Bastian mulai menunjukkan perhatian juga. Bibi ikut senang.”

Diandra berusaha menahan senyum, tetapi percuma. Hatinya sudah telanjur berbunga-bunga. Sesederhana ajakan makan siang dari suaminya saja mampu membuat dadanya terasa hangat.

“Ya ampun, Bi. Cuma dikirimi chat begini aja aku sudah senang banget.”

“Namanya juga istri. Digombali suami sendiri sedikit saja, hatinya langsung berbunga.”

Diandra terkekeh malu.

“Iya, Bi. Aku ganti baju dulu. Doain makan siangku sama Mas Bastian lancar, ya. Semoga nggak ada gangguan dari Serly.”

“Bibi selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”

“Terima kasih, Bi.”

Diandra memeluk Bi Lastri sebentar sebelum bergegas menuju tangga.

“Hati-hati, Non. Jangan terburu-buru.”

“Iya!”

Begitu tiba di kamar, Diandra langsung menuju kamar mandi. Ia ingin tampil sebaik mungkin di hadapan suaminya. Bukan karena Bastian pernah memintanya berdandan, tetapi setelah sekian lama hubungan mereka terasa hambar, ajakan sederhana seperti ini membuat Diandra ingin memberikan kesan terbaik.

Dulu Bastian memang pernah mengajaknya makan siang berdua. Namun, kejadian itu sudah begitu lama hingga Diandra sendiri hampir lupa kapan terakhir kali mereka benar-benar menikmati waktu sebagai pasangan.

Selama ini sebagian besar waktunya ia habiskan di rumah, mengurus keluarga dan anak-anak. Diandra sebenarnya tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Sejak sebelum menikah, ia sudah sepakat untuk fokus mengurus rumah tangga.

Setelah selesai mandi, Diandra masuk ke walk-in closet. Pandangannya berhenti pada sebuah gaun biru selutut dengan potongan sederhana yang tetap membuatnya terlihat anggun.

“Yang ini saja.”

Ia mengenakannya, lalu duduk di depan meja rias.

Tangannya mulai merapikan rambut dan memoles wajahnya dengan riasan tipis. Namun sepanjang proses itu, senyum tak pernah benar-benar hilang dari wajahnya.

“Ya ampun, cuma makan siang, kenapa aku sampai segininya?”

Diandra menatap pantulan dirinya di cermin. Jantungnya justru semakin berdebar.

“Aku seperti anak SMA yang mau bertemu orang yang disukai.”

Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.

“Tenang, Diandra. Ini cuma makan siang bersama suami sendiri.”

Namun detak jantungnya tetap tidak mau diajak bekerja sama.

“Masih deg-degan juga.”

Diandra mengibaskan tangan di depan wajahnya yang mulai terasa panas, padahal pendingin ruangan di kamar menyala cukup dingin.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu kembali menatap cermin.

“Hai, kamu yang ada di sana.”

Diandra menyentuh dadanya pelan.

“Kamu pasti sedang menertawakan aku, ya?”

Senyumnya perlahan berubah menjadi senyum getir.

“Beberapa hari lalu aku begitu yakin ingin meninggalkan Bastian. Sekarang, hanya karena dia mengajakku makan siang, aku sudah sebahagia ini.”

Diandra terdiam.

Mungkin hatinya memang belum benar-benar menyerah kepada suaminya.

Atau mungkin, jauh di dalam dirinya, ia masih berharap Bastian benar-benar berubah.

Untuk sekali ini saja, Diandra ingin percaya bahwa perhatian kecil dari suaminya bukan sekadar kebetulan.

Ia hanya ingin menikmati kebahagiaan sederhana itu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya.

“Setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, kan?”

Diandra menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan penuh harap.

“Bastian bilang dia mau berubah. Jadi aku akan mencoba mempercayainya.” Ia menunjuk pantulan dirinya sendiri dengan telunjuk. “Jadi, jangan sekali-kali menganggap aku bodoh hanya karena aku masih berharap.”

Setelah memastikan penampilannya rapi, Diandra segera keluar dari kamar. Hampir satu jam berlalu sejak Bastian mengirim pesan kepadanya. Padahal, waktu yang ia butuhkan untuk berdandan sebenarnya tidak selama itu.

Sebagian besar waktunya habis untuk melamun, bertanya-tanya, dan memikirkan terlalu banyak kemungkinan.

Namun, baru beberapa langkah keluar rumah, Diandra langsung menghentikan langkahnya.

Sebuah mobil yang sangat dikenalnya baru saja memasuki halaman.

“Lho? Mas Bastian?” Diandra mengerjapkan mata.

Bastian turun dari mobil dan berjalan menghampirinya.

“Bukannya Mas mau ngajak aku makan siang? Kok malah pulang?”

Bastian tersenyum tipis.

“Aku pikir kamu berubah pikiran dan nggak jadi ikut. Daripada menunggu terlalu lama, aku putuskan pulang dan menjemput kamu sendiri.”

Diandra terdiam.

Entah kenapa, kalimat sederhana itu membuat hatinya tersentuh. Ia sama sekali tidak menyangka Bastian akan datang sendiri hanya untuk menjemputnya.

“Oh, aku tadi lama karena...” Diandra tersenyum kikuk. “Biasalah, cewek.”

Bastian mengangkat alis, lalu memperhatikannya dari atas sampai bawah.

“Jadi ini hasil dandan selama hampir satu jam?”

“Mas Bastian!”

“Mas penasaran. Coba sini, biar Mas lihat lebih dekat.”

Diandra mundur selangkah ketika Bastian mendekat.

“Apaan sih, Mas?”

“Hmm...” Bastian sengaja mengamatinya beberapa detik. “Ternyata hasilnya nggak mengecewakan.”

Ia tersenyum, lalu berkata dengan nada menggoda,

“Kamu cantik banget.”

Pipi Diandra seketika memanas.

“Istri siapa sih ini?”

“Istri kamu, lah.”

“Oh...” Bastian berpura-pura berpikir. “Kirain istrinya Pak Ujang.”

Tatapan Bastian kemudian beralih kepada tukang kebun mereka yang sedang sibuk merapikan tanaman.

“Halo, Pak Ujang. Gadis cantik ini istrinya Pak Ujang, bukan?”

Pak Ujang langsung tertawa.

“Den Bastian, aya-aya wae.”

Ia kembali melanjutkan pekerjaannya, sementara Diandra menatap suaminya dengan kesal bercampur malu.

“Mas, sudah dong. Jahil banget.”

Diandra mencubit pelan sisi tubuh Bastian.

Bastian tertawa. Tanpa diduga, ia kemudian meraih tubuh Diandra dan menariknya ke dalam pelukan.

Diandra langsung terdiam.

Tubuhnya kaku beberapa saat.

Bukan karena ia tidak menyukai pelukan itu, melainkan karena sudah begitu lama Bastian tidak memberinya perhatian seperti ini. Rasanya asing, tetapi di saat yang sama ada kebahagiaan kecil yang perlahan memenuhi dadanya.

Bastian benar-benar terlihat berbeda.

Lebih hangat. Lebih perhatian.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Diandra ingin percaya bahwa perubahan itu nyata.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Ia juga tidak ingin kembali terluka karena berharap terlalu tinggi.

Namun, jika Bastian benar-benar ingin memperbaiki rumah tangga mereka, Diandra ingin memberinya kesempatan.

“Mas...” Diandra mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.

Bastian masih belum melepaskannya.

“Kenapa?”

“Sudah, malu.”

Diandra melirik ke arah Helena dan Pak Ujang yang berada tidak jauh dari mereka.

“Dilihat sama Bi Lastri dan tukang kebun kamu.”

Bastian justru terkekeh pelan.

“Biar saja.”

Diandra menghela napas, tetapi tanpa sadar sudut bibirnya terangkat.

Untuk pertama kalinya, ia berharap pelukan ini bukan sekadar kebahagiaan sesaat.

Semoga kali ini, Bastian benar-benar serius dengan ucapannya.

Semoga kali ini, ia tidak lagi menjadi satu-satunya orang yang berusaha mempertahankan pernikahan mereka.

Bastian seolah tidak mendengar protes istrinya. Bukannya melepaskan, ia justru semakin mengeratkan pelukannya.

Diandra hanya bisa menghela napas pasrah.

Beberapa menit kemudian, barulah Bastian mengendurkan pelukannya.

“Ayo, Mas. Kita makan. Aku sudah lapar banget.”

“Kita makan di rumah saja, ya.”

Diandra langsung mengernyit.

“Lho? Katanya mau makan di luar?”

Bastian menatapnya santai.

“Mas berubah pikiran. Mas nggak rela istrinya yang cantik dilihatin laki-laki lain.”

Diandra mendengus.

“Enak saja. Aku sudah dandan secantik ini, loh.”

“Oh, jadi kamu dandan cantik begini supaya bisa menarik perhatian laki-laki lain?”

Diandra memasang wajah polos.

“Siapa tahu ada CEO tampan dan kaya raya yang jatuh hati sama aku.”

Bastian langsung menunjuk dirinya sendiri.

“CEO tampan dan kaya raya seperti Mas nggak masuk hitungan?”

“Idih, percaya diri banget.”

“Bukan percaya diri. Itu fakta.”

Bastian merapikan rambutnya dengan gaya sok keren, lalu mengedipkan mata.

Diandra spontan tertawa.

“Sudah, narsisnya nanti saja. Aku benar-benar lapar. Ayo, kita ke restoran.”

Diandra menarik tangan suaminya menuju mobil.

Bastian akhirnya menyerah. Ia membukakan pintu untuk Diandra sebelum masuk ke kursi pengemudi.

“Kalau nanti kekenyangan, jangan salahkan Mas.”

“Yang penting makan.”

Sepanjang perjalanan, Diandra sibuk menentukan restoran yang ingin mereka datangi. Pada akhirnya, Bastian mengalah dan membawa istrinya ke restoran Padang pilihan Diandra.

Begitu sampai, mata Diandra langsung berbinar melihat berbagai hidangan yang tersaji.

“Aku sudah bisa mencium aroma rendangnya dari sini.”

Bastian terkekeh.

“Kamu memang kalau urusan makanan paling semangat.”

Mereka memilih meja yang cukup nyaman. Begitu duduk, Diandra langsung memperhatikan hidangan yang tersaji di hadapan mereka.

“Mas, coba rendangnya. Ini kelihatannya enak banget.”

“Baru juga duduk.”

“Justru itu. Aku sudah nggak sabar.”

Bastian menggeleng geli.

“Semua makanan kelihatannya enak buat kamu.”

“Lebih baik aku tukang makan daripada tukang...” Diandra sengaja menggantung kalimatnya.

Bastian mengangkat alis.

“Daripada tukang selingkuh?”

Diandra langsung tertawa.

“Aku belum bilang apa-apa, kok Mas sudah menyimpulkan sendiri?”

“Wajah kamu sudah mengatakan semuanya.”

Tak lama kemudian, makanan yang mereka pesan datang. Diandra langsung menyantap rendang kesukaannya tanpa banyak basa-basi.

Tidak ada sikap jaim sedikit pun.

Bastian memperhatikannya sambil tersenyum.

Itulah salah satu hal yang dulu ia sukai dari Diandra. Sejak masih bekerja sebagai sekretarisnya hingga akhirnya menjadi istrinya, perempuan itu selalu berusaha menjadi dirinya sendiri.

Hanya saja, setelah menikah, Diandra berubah.

Ia menjadi lebih pendiam. Tawanya tidak lagi sesering dulu.

Bastian menyadari, mungkin tanpa sadar ia telah menjadi alasan hilangnya keceriaan perempuan yang pernah begitu ia cintai.

Dalam hati, Bastian berjanji akan berusaha mengembalikan senyum itu.

Ia ingin melihat Diandra kembali menjadi perempuan yang ceria, bukan seseorang yang terus-menerus menahan perasaan demi mempertahankan rumah tangga mereka.

“Mas?”

Suara Diandra membuat Bastian tersadar.

“Kok nggak makan? Nih, coba rendangnya. Enak banget.”

Bastian tersenyum.

“Mas sudah kenyang.”

“Padahal belum makan.”

“Mas kenyang lihat kamu menikmati makanan.”

Diandra terdiam sesaat, lalu wajahnya memerah.

“Gombal.”

“Serius.”

“Kalau begitu diam saja. Biar aku habiskan semuanya.”

Bastian tertawa kecil.

“Silakan.”

Diandra kembali fokus pada makanannya.

Sementara itu, diam-diam hatinya terasa begitu hangat.

Mungkin bagi orang lain, makan siang bersama suami bukan sesuatu yang istimewa.

Namun bagi Diandra, momen sederhana ini terasa sangat berharga.

Setelah sekian lama merasa sendirian dalam pernikahannya, hari ini ia bisa duduk berhadapan dengan Bastian, bercanda, dan menikmati makanan kesukaannya.

Entah apakah perubahan Bastian akan bertahan lama atau tidak.

Untuk saat ini, Diandra memilih menikmati kebahagiaan kecil itu.

Dan anehnya, makanan yang biasanya sudah ia sukai terasa jauh lebih nikmat hari ini.

Mungkin bukan karena rendangnya lebih enak.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menikmatinya bersama suaminya.

Diandra akhirnya memahami kenapa banyak orang mengatakan bahwa cinta bisa menjadi obat.

Dulu, ketika hatinya dipenuhi kecewa, nafsu makannya sering tidak menentu. Makanan lezat, barang mahal, bahkan berbagai kemewahan yang bisa diberikan Bastian tidak pernah benar-benar mampu mengusir kesedihan dari hatinya.

Namun hari ini berbeda.

Hanya karena bisa makan bersama Bastian, Diandra merasa jauh lebih bahagia. Nafsu makannya bahkan bertambah seolah semua makanan terasa lebih nikmat dari biasanya.

Tapi Diandra juga tahu, cinta bisa menjadi luka paling dalam.

Ia pernah merasakan sendiri bagaimana sakitnya mencintai seseorang yang justru membuat hatinya terluka. Tidak ada kemewahan yang mampu menggantikan rasa aman dan kasih sayang yang ia rindukan.

“Kenyang,” ucap Diandra setelah menyelesaikan makanannya.

Bastian tersenyum melihat piring istrinya yang sudah hampir bersih.

“Senang?”

Diandra mengangguk.

“Senang.”

“Kalau begitu, sekarang kamu mau ke mana?”

Diandra menatap suaminya.

“Ke mana?”

“Hari ini Mas kosong. Kita bisa pergi ke mana saja. Mas sudah minta sekretaris membatalkan jadwal sampai sore.”

“Serius?”

“Memangnya wajah Mas terlihat sedang bercanda?”

Diandra mendengus.

“Wajah kamu memang selalu kelihatan menyebalkan, Mas. Setiap lihat kamu, rasanya pengin mukul.”

Bastian tersenyum jahil.

“Masa? Bukannya pengin cium?”

Mata Diandra langsung membulat.

Pipinya pun berubah merah.

“Apaan sih, Mas! Siapa juga yang mau cium?”

Karena malu, Diandra segera berdiri dan meninggalkan meja lebih dulu menuju mobil.

Dari belakang, Bastian hanya tertawa kecil melihat tingkah istrinya.

Setelah menyelesaikan pembayaran, ia menyusul Diandra.

Begitu masuk ke dalam mobil, Diandra langsung menatap suaminya.

“Setelah ini kita ke mana? Aku nggak kepikiran mau pergi ke mana.”

“Kamu sendiri yang pilih.”

“Masalahnya kamu ngajaknya mendadak banget.”

Bastian memasang wajah santai.

“Justru yang mendadak biasanya lebih menarik.”

“Menarik apanya?”

“Contohnya seperti ini.”

Diandra belum sempat bertanya lebih jauh.

Bastian tiba-tiba mendekat dan mengecup bibir istrinya singkat.

Diandra membeku selama beberapa detik.

Ia benar-benar tidak menyangka Bastian akan melakukan itu secara tiba-tiba.

Ketika Bastian kembali bersandar di kursinya, Diandra masih menatapnya dengan wajah merah.

“Mas!”

Bastian justru tertawa melihat ekspresinya.

“Kenapa?”

“Kamu itu suka bikin kaget!”

Diandra memukul pelan dada suaminya.

Bastian tersenyum puas.

“Hmm...”

Ia berpura-pura berpikir.

“Rasanya seperti nasi Padang.”

Diandra yang semula kesal akhirnya tertawa.

“Ya iyalah! Kita kan baru selesai makan nasi Padang. Kamu sendiri yang tiba-tiba nyium.”

“Tapi tetap enak.”

“Yang terasa itu rasa nasi Padangnya, bukan rasa bibirku!”

Diandra tertawa semakin keras.

Bastian ikut tertawa.

Untuk sesaat, tidak ada pertengkaran, tidak ada masa lalu yang menyakitkan, dan tidak ada ketakutan tentang hari esok.

Hanya ada mereka berdua.

Dan bagi Diandra, kebahagiaan sederhana seperti ini ternyata sudah cukup untuk membuat hatinya kembali berharap.

“Sudah, kita jalan saja sambil memikirkan mau ke mana lagi,” ujar Diandra.

Bastian hanya tersenyum lalu kembali menjalankan mobilnya.

Beberapa menit mereka menyusuri jalan, Diandra tiba-tiba teringat sesuatu.

“Tadi makanan Padangnya enak, kan, Mas?”

“Lumayan.”

“Lain kali kita ke sana lagi, ya. Ajak anak-anak juga. Azzam dan Azzura pasti suka.”

Bastian melirik istrinya sekilas. Senyum tipis muncul di wajahnya.

Dalam keadaan seperti apa pun, Diandra selalu mengingat anak-anak mereka.

Perempuan itu begitu tulus menyayangi Azzam dan Azzura. Begitu juga sebaliknya. Dulu Azzura bahkan sangat dekat dengan Diandra, lebih manja dibandingkan Azzam.

Hanya saja, belakangan sikap Azzura berubah. Entah apa yang membuat putrinya tiba-tiba menjaga jarak dan seolah tidak menyukai Diandra lagi.

Bastian menghela napas pelan.

Ia berharap suatu hari nanti hubungan mereka kembali seperti dulu.

“Di.”

“Hm?”

“Sini tangannya.”

Diandra menoleh bingung.

“Tangan aku?”

Bastian mengulurkan tangan kanannya tanpa menjelaskan apa-apa.

Karena penasaran, Diandra akhirnya meletakkan tangannya di telapak tangan suaminya.

Bastian langsung menyelipkan jemarinya di antara jemari Diandra.

“Eh...”

Diandra sedikit terkejut.

Bastian tersenyum puas.

“Pas.”

Ia mengangkat tangan mereka yang kini saling bertaut.

“Lihat? Tangan kita cocok.”

Diandra tertawa kecil.

“Sejak kapan Mas Bastian jadi pandai menggombal begini?”

“Sejak Mas punya tujuan baru.”

“Tujuan apa?”

Bastian menoleh kepadanya, lalu mengecup lembut punggung tangan Diandra yang masih berada dalam genggamannya.

“Membuat kamu jatuh cinta lagi sama Mas.”

Diandra terdiam.

“Mas ingin kamu mengingat semua hal baik tentang kita. Jadi nanti kalau kamu bertemu laki-laki lain, kamu akan membandingkan mereka dengan suamimu ini.”

“Idih, percaya diri banget.”

Diandra mencubit pipi Bastian gemas.

Bastian tertawa, tetapi tidak melepaskan tangannya.

“Bukan percaya diri. Mas sedang berusaha memperbaiki kesalahan.”

Kalimat itu membuat Diandra terdiam sesaat.

Ia menatap wajah suaminya.

Ada kesungguhan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Bastian lalu kembali fokus menyetir. Karena mereka belum menentukan tujuan, mobil terus melaju tanpa arah pasti.

Namun panasnya udara Jakarta siang itu akhirnya membuat Bastian memutuskan untuk mencari tempat yang lebih nyaman.

“Kita ke kafe saja, ya. Panas banget.”

Diandra mengangguk.

Setelah mobil berhenti, mereka turun hampir bersamaan.

“Ayo,” kata Diandra sambil berjalan lebih dulu.

Namun beberapa langkah kemudian ia sadar Bastian tidak mengikutinya.

Diandra menoleh.

“Ayo, Mas. Katanya panas.”

Bastian berdiri di samping mobil sambil menatapnya.

“Di, kamu menganggap Mas ini suami kamu atau bukan?”

Diandra mengerutkan kening lalu kembali menghampirinya.

“Tentu saja kamu suamiku. Aku juga istrimu.”

“Kalau begitu, masa kamu masuk ke kafe duluan?”

“Memangnya harus bagaimana?”

Bastian mengulurkan tangannya.

“Begini.”

Diandra menatap tangan itu.

“Mulai sekarang kalau kita pergi berdua, tangan kamu harus ada di tangan Mas.”

“Ya ampun, Mas. Kamu benar-benar berubah.”

Bastian tersenyum lebar.

“Bukan berubah.”

Ia menggenggam tangan Diandra dengan erat.

“Kesambet.”

Diandra terkekeh.

“Kesambet apa?”

“Kesambet cinta sama kamu.”

Bastian kemudian mendekat, membuat Diandra spontan mundur setengah langkah karena tahu suaminya hendak melakukan sesuatu.

Benar saja, Bastian mengecup pipinya dengan cepat.

Diandra langsung membelalakkan mata.

“Mas!”

Bastian tertawa melihat wajah merah istrinya.

“Kenapa?”

“Di depan umum main begitu saja!”

“Memangnya kenapa? Kamu kan istri Mas.”

Diandra menutup wajahnya dengan satu tangan, berusaha menyembunyikan senyum yang justru semakin sulit ditahan.

Mungkin Bastian memang sedang berubah.

Dan tanpa sadar, perubahan kecil itu perlahan membuat dinding di hati Diandra mulai runtuh.

Bastian terkekeh melihat wajah malu istrinya. Ia mengangkat tangan mereka yang masih saling bertaut, lalu mengecup punggung tangan Diandra dengan lembut.

“Ayo masuk.”

Mereka pun berjalan berdampingan menuju kafe, masih dengan tangan yang tidak terpisahkan.

Sejujurnya, Diandra merasa agak canggung. Baginya, sikap Bastian kali ini terasa sedikit berlebihan. Dari beberapa pasangan yang baru masuk ke kafe, hanya mereka yang berjalan sambil bergandengan tangan.

Beberapa pengunjung bahkan sempat melirik ke arah mereka.

Diandra langsung menundukkan kepala.

“Mas, orang-orang lihat.”

“Biarin.”

“Maluuu.”

Bastian malah tersenyum santai.

“Memangnya kita melakukan sesuatu yang salah?”

Diandra hanya menggeleng.

Setelah memesan beberapa makanan dan minuman, mereka memilih tempat duduk yang nyaman.

Namun ternyata Bastian belum berniat melepaskan tangannya.

Tangannya tetap menggenggam jemari Diandra di atas meja. Sesekali ia memainkan jari-jari istrinya dengan gerakan ringan.

“Mas, malu dilihat anak-anak muda.”

Bastian mengangkat alis.

“Kenapa harus malu?”

“Nanti dikira kita lebay.”

“Justru kita jangan kalah dari mereka.”

Diandra tertawa kecil.

“Mas ini kenapa sih?”

Bastian tersenyum.

“Lagipula kita masih muda. Dan kamu tahu sendiri, umur itu cuma angka.”

Diandra hanya bisa menggeleng melihat tingkah suaminya.

Namun jauh di dalam hati, ia tidak benar-benar keberatan.

Bahkan, diam-diam ia menikmati setiap perhatian kecil yang diberikan Bastian.

Selama bertahun-tahun menjadi istri, inilah perlakuan yang sebenarnya selalu ia harapkan. Bukan hadiah mahal atau kehidupan mewah, melainkan perasaan bahwa dirinya benar-benar dianggap sebagai seorang istri yang dicintai.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang.

Bastian memesan klapertart dan macchiato, sedangkan Diandra memesan potato wedges, waffle, pancake pisang, puding roti, dan fruit tea.

Bastian sampai tersenyum melihat begitu banyak makanan di hadapan istrinya.

“Masih sama seperti dulu.”

“Apa?”

“Kalau pesan makanan selalu banyak.”

“Kan aku lapar.”

Bastian terkekeh.

“Tapi kenapa nggak pesan klapertart? Dulu waktu masih jadi sekretaris Mas, hampir setiap minggu kamu beli.”

Diandra menunjuk mangkuk milik suaminya.

“Mas sudah pesan. Nanti aku cicip punya Mas.”

Bastian menghela napas seolah pasrah.

“Ya sudah.”

Ia mengambil sedikit klapertart dengan sendok, lalu mengarahkannya ke mulut Diandra.

“Nih.”

Diandra langsung membulatkan mata.

“Ya ampun, Mas. Nggak usah suap-suapan. Malu dilihat orang.”

“Siapa yang peduli? Mereka juga sibuk dengan urusan masing-masing.”

Bastian masih mengulurkan sendok.

“Ayo, buka mulut.”

Diandra sempat ragu, tetapi akhirnya membuka mulut dan menerima suapan itu.

“Enak?”

Diandra mengangguk.

“Enak.”

Bastian tersenyum puas.

“Kamu nggak mau gantian nyuapin Mas?”

“Mas...”

Diandra menatapnya tidak percaya.

Bastian langsung tertawa melihat ekspresi istrinya.

“Bercanda.”

“Nyebelin.”

Bastian kembali menikmati makanannya sambil mengobrol santai.

Obrolan mereka kemudian beralih ke pekerjaan dan perkembangan bisnis Bastian. Meskipun Diandra sudah cukup lama tidak terlibat langsung dalam pekerjaannya, ia masih memahami banyak hal.

Dulu, sebelum menjadi istrinya, Diandra adalah sekretaris yang selalu mendampingi Bastian dalam berbagai urusan pekerjaan.

Karena itu, ketika Bastian membahas beberapa perkembangan bisnis, Diandra tetap bisa memberikan tanggapan dan sesekali menyampaikan pendapat.

Bastian memperhatikannya sambil tersenyum.

Ia baru menyadari betapa ia merindukan percakapan seperti ini.

Dulu mereka bukan hanya pasangan.

Mereka juga pernah menjadi dua orang yang bisa berbicara tentang apa saja.

Dan hari ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bastian merasa seperti sedang menemukan kembali Diandra yang dulu.

Tanpa terasa, hampir setengah jam berlalu.

Anehnya, percakapan Diandra dan Bastian seperti tidak pernah kehabisan bahan. Bastian bercerita banyak hal tentang pekerjaannya, sementara Diandra menanggapi dengan antusias. Sesekali mereka tertawa bersama, membuat suasana di antara keduanya terasa jauh lebih ringan daripada biasanya.

Bastian menikmati momen itu.

Dulu, ketika masih bersama Serly, ia tidak pernah benar-benar membicarakan pekerjaannya di rumah. Serly memang tidak bekerja setelah lulus kuliah. Ia langsung menikah dan memilih sepenuhnya mengurus rumah tangga.

Bukan berarti Bastian tidak pernah mencoba mengajaknya berbicara tentang bisnis.

Ia pernah.

Namun pembicaraan mereka sering tidak menemukan titik temu. Karena itu, Bastian akhirnya lebih sering mengubah topik ke hal-hal yang memang disukai Serly.

Berbeda dengan Diandra.

Perempuan itu masih memahami dunia bisnisnya. Bahkan setelah bertahun-tahun tidak lagi bekerja sebagai sekretaris, Diandra tetap mampu mengikuti pembicaraan dan memberikan pendapat yang masuk akal.

Bastian tersenyum.

“Kamu tahu nggak? Sepertinya kamu masih cocok jadi sekretaris Mas.”

Diandra tertawa.

“Kalau begitu aku bisa kerja lagi, dong.”

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Jadi sekretaris pribadi Mas saja di rumah.”

Diandra mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

“Setiap Mas pulang, kamu menyambut Mas. Terus kasih pelukan, ciuman...” Bastian sengaja berhenti sejenak dengan senyum penuh arti. “Setelah itu Mas bawa kamu ke kamar dan—”

“Mas!”

Diandra buru-buru memotong ucapan suaminya sebelum pembicaraan mereka semakin jauh.

Bastian tertawa puas melihat wajah istrinya memerah.

“Kenapa? Mas belum selesai bicara.”

“Sudah, jangan diteruskan.”

“Baiklah.”

Diandra menggeleng, tetapi senyum kecil tetap menghiasi wajahnya.

Hari ini benar-benar berbeda.

Ia tidak tahu apakah Bastian akan terus bersikap seperti ini setelah mereka kembali ke rumah. Namun untuk sekarang, Diandra memilih menikmati perhatian yang diberikan suaminya.

Setelah selesai, mereka pun kembali menuju mobil.

Begitu duduk di kursi masing-masing, Diandra menoleh.

“Kita langsung pulang atau masih mau ke mana?”

“Pulang saja.”

“Kenapa?”

Bastian tersenyum nakal.

“Mas mau mencium kamu sampai puas.”

“Mas!”

Wajah Diandra seketika memerah.

Bastian hanya tertawa melihat istrinya yang salah tingkah.

Namun sebelum menyalakan mesin mobil, layar ponselnya menyala.

Sebuah notifikasi masuk.

Bastian meliriknya.

Pesan itu berasal dari Serly.

Bukan hanya satu.

Ada begitu banyak panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk. Dari isinya, Serly meminta Bastian menemaninya hari ini.

Bastian membaca beberapa pesan itu tanpa ekspresi.

Lalu ia mengunci layar ponselnya dan menonaktifkan perangkat tersebut.

Ia tidak ingin hari ini terganggu.

Bastian sudah membuat keputusan untuk menjaga jarak dari Serly dan memberikan lebih banyak perhatian kepada Diandra.

Namun, jauh di dalam pikirannya, alasan Bastian melakukan semua itu belum sepenuhnya seperti yang Diandra bayangkan.

Ia belum benar-benar memahami perasaannya sendiri.

Apakah itu cinta?

Belum.

Setidaknya, belum.

Ada sesuatu yang jauh lebih kuat mendorongnya saat ini—egonya sebagai seorang laki-laki.

Ketika mengetahui Diandra ingin pergi dan ada Sean yang mungkin saja mendekatinya, harga diri Bastian terusik.

Ia tidak rela kehilangan istrinya.

Tidak rela ada laki-laki lain yang mengambil tempatnya.

Karena itu, Bastian berusaha membuat Diandra kembali nyaman berada di sisinya. Ia ingin istrinya merasa diperhatikan, disayangi, dan tidak memiliki alasan untuk mencari kebahagiaan di tempat lain.

Egois?

Tentu saja.

Bastian tahu itu.

Namun, bagi Bastian, Diandra adalah istrinya.

Dan untuk saat ini, ia belum siap membiarkan siapa pun mengambil perempuan itu darinya.

Yang belum Bastian sadari adalah, semakin sering ia memberikan perhatian kepada Diandra, semakin sulit baginya membedakan mana yang hanya sekadar ego dan mana yang perlahan berubah menjadi perasaan.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!