Mo Tianxia pernah berdiri di puncak dunia.
Sebagai seorang kultivator yang telah mencapai Absolute Realm, tidak ada lagi lawan yang mampu menandinginya dan tidak ada lagi batas yang mampu menghalanginya. Namun, setelah mencapai segala sesuatu yang bisa dicapai, yang tersisa baginya hanyalah kebosanan.
Dalam sebuah keputusan yang tidak masuk akal bagi siapa pun, Mo Tianxia menghancurkan jiwanya sendiri dan memulai kembali kehidupannya dari nol.
Kini, ia terbangun dalam tubuh yang lemah dengan kultivasi paling dasar.
Tidak ada kekuatan absolut. Tidak ada kedudukan tinggi. Tidak ada nama besar.
Hanya pengetahuan tentang jalan yang pernah ia tempuh.
Dengan sikap tenang dan pengalaman yang jauh melampaui usianya, Mo Tianxia kembali melangkah di jalan kultivasi. Sekte, turnamen, dunia rahasia, para jenius, dan berbagai ancaman mulai muncul di hadapannya.
Namun kali ini, tujuannya bukan menjadi yang terkuat. Ia hanya ingin menikmati kembali perjalanannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Beberapa hari setelah pertarungan kedua mereka, Zhao Kuang mulai muncul di area latihan yang sama dengan Mo Tianxia—bukan untuk menantang, melainkan hanya untuk berlatih di dekatnya, sesekali mengamati teknik yang digunakan Mo Tianxia dari kejauhan.
Mo Tianxia menyadarinya, namun tidak mengatakan apa pun, membiarkan Zhao Kuang mengamati sesuka hatinya.
...-----...
Suatu sore, ketika Zhao Kuang sedang berlatih rangkaian pukulan dasar klannya sendiri—teknik yang mengandalkan kekuatan fisik murni, khas Klan Zhao—Mo Tianxia berhenti dari latihannya sendiri untuk mengamati.
"Kau terlalu bergantung pada kekuatan," katanya akhirnya, memutuskan untuk memberikan sedikit masukan.
Zhao Kuang berhenti, menoleh dengan alis terangkat. "Teknik klanku memang berbasis kekuatan. Itu warisan leluhurku."
"Aku tidak bilang itu salah," jawab Mo Tianxia. "Tapi kekuatan tanpa kontrol yang tepat hanya akan membuatmu lelah lebih cepat dari lawanmu. Coba perhatikan bagaimana kau bernapas saat menyerang."
Zhao Kuang mencoba mengulangi gerakannya, kali ini dengan lebih memperhatikan pernapasannya.
"Rasanya berbeda," gumamnya, sedikit terkejut.
"Kekuatan klanmu sudah kuat," lanjut Mo Tianxia. "Tapi kalau dipadukan dengan kontrol napas yang tepat, kekuatan itu bisa bertahan jauh lebih lama tanpa membuatmu kelelahan."
Zhao Kuang menatap Mo Tianxia dengan campuran rasa penasaran dan sedikit rasa tidak percaya. "Kenapa kau memberitahuku ini? Aku ini rivalmu."
"Rival bukan berarti musuh," jawab Mo Tianxia sederhana. "Lagipula, kalau kau semakin kuat, pertarungan berikutnya akan semakin menarik bagiku juga."
Jawaban itu membuat Zhao Kuang tertawa kecil, tawa yang tulus bukan tawa mengejek seperti yang biasa ia tunjukkan sebelumnya.
"Kau aneh, Mo Tianxia," katanya. "Tapi baiklah. Aku akan mengingat masukanmu."
Mereka melanjutkan latihan masing-masing dalam keheningan yang nyaman, sesekali bertukar pandangan atau komentar singkat.
'Rival menjadi rekan,' pikir Mo Tianxia, mengamati Zhao Kuang yang kini berlatih dengan lebih fokus dari sebelumnya. 'Perjalanan yang menarik untuk disaksikan.'
Ia teringat kembali ribuan hubungan serupa yang pernah ia saksikan sepanjang seribu dua ratus tahun hidupnya—beberapa berkembang menjadi persahabatan sejati, sebagian lainnya berakhir dengan pengkhianatan atau kehancuran.
'Mari kita lihat ke arah mana hubungan ini akan berkembang,' pikirnya, meski di dalam hati, ia sudah mulai berharap arah yang lebih baik untuk Zhao Kuang.
...------...
Beberapa hari kemudian, Zhao Kuang kembali menemuinya, kali ini dengan wajah yang penuh semangat berbeda dari biasanya.
"Aku mencoba teknik napas yang kau sarankan," katanya, hampir tidak sabar untuk membagikan kabar itu. "Aku berhasil bertahan hampir dua kali lebih lama dalam latihan intensif dibandingkan sebelumnya."
"Itu bagus," jawab Mo Tianxia, mengangguk puas. "Bagaimana rasanya?"
"Aneh pada awalnya," Zhao Kuang mengakui. "Tapi setelah beberapa kali percobaan, rasanya seperti menemukan ritme baru yang tidak pernah kusadari sebelumnya."
Mereka berbincang lebih lama dari biasanya sore itu, membahas berbagai aspek kultivasi. Zhao Kuang bertanya banyak hal tentang teknik dasar dan filosofi pertarungan, sementara Mo Tianxia menjawab dengan hati-hati, memilih kata-kata yang cukup mendalam untuk benar-benar membantu namun tidak terlalu mendalam hingga menimbulkan kecurigaan.
"Kau tahu," kata Zhao Kuang di akhir percakapan mereka, nada suaranya lebih serius, "aku dulu berpikir kekuatan klanku sudah cukup untuk membuktikan diriku. Sekarang aku sadar, ada banyak hal yang belum kupahami."
"Menyadari itu," jawab Mo Tianxia, "sudah menjadi langkah besar dengan sendirinya."
Zhao Kuang tersenyum, senyuman yang jauh lebih tulus dan rendah hati dari yang pernah ia tunjukkan sejak pertama kali mereka bertemu di gerbang sekte.