Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemilihan (2)
"Yang namanya di panggil harap maju kedepan, yang pertama, Ayame Kisaragi, dengan Rank A dan Class Knight."
Kisaragi pun keluar dari barisan dan maju kedepan.
"Yang kedua, Kanon Amane, dengan Rank A dan Class Mage."
"Permisi..." Amane keluar dari barisan dan maju ke depan.
"Yang ketiga, Takamasa, dengan Rank B dan Class Tanker."
Takamasa keluar dari barisan dan maju kedepan.
Setelah itu, disebutkan juga pahlawan 3 Rank B lainnya yang bernama, Yukimura Akari Class Mage, Amakusa Daiki Class Knight, dan Kurogane Ren Class Knight.
“Karena sudah selesai, bagaimana pendapat para pahlawan sekalian, mulai dari Guild Fallen Leaf.”
“Hmm…” Sougo memegang dagunya sambil merem, tidak lama ia membuka matanya.
“Kurasa semuanya cukup bagus.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan Guild Lake Snow?”
“Lumayan.” Koyuki menatap datar ke arah 6 murid di depan panggung.
“Ah baik, kalo begitu bagaimana pendapat dari perwakilan pemerintah?"
“Aku jawab seadanya aja deh.” pikir Akira.
“Tidak ada yang spesial.”
Orang-orang yang mendengar perkataan Akira, pada menatapnya sambil berbisik bisik.
“Padahal dirinya sendiri hanya Rank F.”
“Kadang orang lemah tidak mengetahui dirinya lemah.”
“Kalau begitu, ke tiga pahlawan yang datang, berhak memilih dua dari ke enam murid terbaik.”
“Apa aku boleh duluan?” Sougo mengangkat tangan sambil menatap pembawa acara.
“Jika yang lain tidak keberatan.”
“Aku gak keberatan,” ucap Koyuki.
“Aku juga,” ucap Akira.
“Kalau begitu Anda memilih duluan.”
“Hmm~ Aku pilih… kau dan kau.” Sougo menunjuk ke arah Takamasa dan Kisaragi.
“Sebagai murid yang dipilih, kalian berhak menolak jika mau, namun ingat, kesempatan tidak datang dua kali,” ucap pembawa acara.
“Aku menerimanya,” ucap Takamasa.
“Jadi Takamasa yang memilih ikut orang lain, walaupun tujuanku dia juga, tapi aku hanya bisa ambil dua murid doang, kurasa dia akan menerima pelatihan lebih baik di Guild Pahlawan Rank A.” pikir Akira.
Kisaragi yang berada di sebelah Takamasa, melirik Takamasa.
Takamasa menyadarinya dan melirik sebentar lalu berbisik,
“Maaf.”
Kisaragi yang mendengar itu hanya memejamkan matanya dan membiarkan pilihan Takamasa.
“Kalau begitu, bagaimana denganmu Kisaragi?”
Kisaragi membuka matanya dan menatap ke atas panggung, dengan tegas ia berbicara,
“Aku menolak!”
“Hah?! Apa dia bodoh?!”
“Sombong sekali, mentang-mentang Rank A.”
“Mungkin dia berharap diterima oleh peringkat S.”
Suara bisikan terdengar jelas dari belakang Kisaragi, namun dia tidak memperdulikannya.
“Apa kau yakin?” tanya Sougo.
“Iya.”
“Sayang sekali~ ya sudah aku pilih dia,” ucap Sougo sambil menunjuk Ren.
“Terimakasih banyak telah memilih saya,” ucap Ren.
“Lanjut, dari Guild Lake Snow, Anda memilih siapa?”
Koyuki mengamati sebentar, lalu berkata,
“Aku pilih 2 anak itu.” Koyuki menunjuk ke arah Amane dan Akari.
“Saya menerimanya dengan senang hati,” ucap Akari sambil sedikit menunduk.
Disisi lain Amane terdiam seperti lagi kebingungan.
“Amane?” tanya pembawa acara.
“Ah iya! ma-maaf saya menolaknya.” ucap Amane sambil sedikit menunduk.
“Kalau begitu—” Koyuki menatap sekilas Kisaragi, lalu menatap ke arah Daiki.
“Aku pilih dia saja.” Koyuki menunjuk Daiki.
“Terimakasih banyak telah memilih saya,” ucap Daiki sambil sedikit menunduk.
“Yang terakhir, Yoshikawa, karena murid terbaiknya hanya sisa dua, jadi anda hanya bisa menerimanya."
“Tidak masalah.” jawab Akira.
“Alhasil mereka jadi dipilih Rank F itu.”
“Biarlah mereka menyesal.”
“Murid yang dipilih akan diliburkan seminggu dan dilatih dan tinggal ditempat yang disediakan oleh pahlawan yang memilihnya, untuk izin dari orang tua pihak sekolah yang akan mengurusnya."
......................
Beberapa Menit Sebelum Acara dimulai.
Di salah satu ruangan sekolah yang gelap, terlihat sosok bayangan perempuan, mukanya tidak terlihat jelas dan seperti sedang berbicara sendiri.
“Ya, semuanya sudah sesuai rencana, Tapi— tidak jadi, akan kulakukan sebaik mungkin.”
......................
Kembali ke waktu sekarang, acara sudah selesai, dan di luar gerbang sekolah, para murid yang dipilih segera diantar oleh pahlawan senior, begitu pula dengan Akira bersama yang lain, yang dimana mereka dijemput oleh Amamiya dan Kato.
Akira, Nako dan Lumina naik mobil bersama dengan Kato, lalu Akira duduk di depan bersebelahan dengan Kato.
“Bagaimana rencanaku?” tanya Kato.
“Aku tidak bisa berkomentar.”
“Hahaha! Santai saja, sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui, setelah mereka duel, mau kalah atau menang mereka bisa jadi milik pemerintah.”
“Itu kan kemauanmu.”
"Memang sih, tapi mereka jadi bisa masuk keluar Dungeon dengan izinku, lagian tidak mudah juga untuk anak muda masuk ke sebuah Guild.”
“Ya terserahlah.”
......................
Beberapa Jam Berlalu...
“Sampai jumpa! Aku sudah menaruh berbagai perlengkapan dan kebutuhan kalian selama seminggu!” Kato melambaikan tangan dari jendela mobil yang sedang berjalan.
"Rasanya aku seperti dikuntit," pikir Akira.
“Kita berlatih disini?” tanya Amane dengan heran karena di depannya jelas jelas hanya sebuah rumah bukan sesuatu yang dia harapkan seperti sebuah gedung besar.
“Bisa dibilang begitu,” ucap Akira.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah, begitu di ruang tamu, Nako langsung berlari dan tengkurap di sofa.
“Huahh! Dari tadi berdiri terus... capek sekali~”
“Untuk kamarnya ada 4 kamar lagi yang kosong, kalian bisa memakai salah satunya di lantai atas.”
“Ah iya terimakasih.” ucap Amane sambil sedikit menunduk.
“Mohon maaf, boleh aku bertanya.” ucap Kisaragi sambil mengangkat satu tangannya.
“Mau tanya apa?” tanya Akira.
“Kita tidak langsung latihan?”
“Tidak perlu buru-buru, tapi jika memang kamu mau latihan sekarang, aku kurang cocok untukmu, maka dari itu—” Akira menatap ke arah Lumina.
“Lumina yang akan menjadi guru latihanmu.”
“Aku?” ucap Lumina sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Apa kamu tidak mau?"
"Bukan begitu, aku akan melatihnya!"
“Makasih, lalu, apa kamu mau langsung latihan, Amane?”
“Tentu saja saya mau! Mohon kerja samanya!” ucap Amane dengan keras sambil sedikit menunduk.
“Kalau begitu—”
Mereka berempat ke halaman belakang rumah yang banyak hutan dan sebuah bekas tebasan Lumina yang sangat besar ke arah hutan.
“A-apa ini?” Kisaragi yang melihat tebasan ke arah hutan membuatnya penasaran.
“Ohh ini, Lumina yang melakukannya, tidak usah dipedulikan.”
“Aku tau dia memang kuat, tapi, bagaimana bisa manusia membuat bekas seperti ini, ini sih sudah seperti Monster,” pikir Kisaragi sambil menelan ludah setelah mengetahui kebenarannya.
“Kalau begitu, bagaimana menurutmu untuk cara latihannya, Lumina?”
“Menurutku? Hmm…” Lumina memegang dagunya sambil menatap ke bawah.
“Bagaimana dengan duel tanpa senjata? Murni bela diri saja, kurasa ini penting.”
“Begitu ya… kuserahkan padamu—”
“Oii! Aku gak diajak?!” Nako berlari keluar dari rumah sambil berteriak menghampiri Akira.
“Tadi katanya capek.”
“Sudah hilang!” Nako tersenyum dengan wajah berseri-seri.
“Yasudah, bantu Lumina jadi wasit saja.”
“Okey!”
Setelah itu Nako berada di tengah dan Lumina di sebelah kanan sedang berdiri berhadapan dengan Kisaragi, sedangkan Akira bersama Amane sedang dibelakang menonton mereka.
“Kurasa aku cukup yakin dengan bela diriku, tapi kalau lawannya dia... aku jadi merasa kurang yakin,” pikir Kisaragi.
“Baiklah! Dalam hitungan ketiga! duel akan dimulai!” Nako mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi sambil tersenyum.
Lumina dan Kisaragi mulai saling menatap serius sambil memasang kuda-kuda.
“3… 2… 1!!”
FWOOOSH!
Kisaragi langsung melesat cepat dengan kakinya hingga meninggalkan jejak.
“Jika aku menyerang duluan, peluang menangku lebih ting—”
BRAK!
“Eh?”
Kisaragi tengkurap di tanah dengan kedua tangan dikunci oleh Lumina yang sedang berada di atasnya.
“Dalam waktu singkat, dia seperti memprediksi gerakanku.” pikir Kisaragi.
“Pemenangnya Kak Lumina!” ucap Nako.
“Hasilnya memang sudah jelas sih.” pikir Akira.
Lumina melepaskan kunciannya dan mengulurkan tangan untuk Kisaragi sambil berkata,
“Maaf jika aku berlebihan.”
“Tidak apa-apa.” Kisaragi memegang tangan Lumina dan langsung berdiri.
Akira maju menghampiri mereka berdua dan berkata,
“Bagaimana Lumina?”
“Kurasa dia cukup terlatih.”
“Kalau begitu, apa selama 1 Minggu kamu bisa terus melatihnya?”
“Aku bisa melakukannya.”
“Baiklah, sepertinya sudah selesai, tinggal Amane.”
Akira berbalik badan lalu berjalan mendekati Amane sambil berpikir,
Akira yang sudah berada di depan Amane, bertanya,
“Amane, Skill apa yang kamu punya?”
“Aku sudah tau skillnya, hanya saja aku bertanya agar aku tidak dicurigai bisa melihat skillnya.” pikirnya.
“Aku punya skill Fire Lance, Fire Ball, Fire Sword, dan Water Shield yang baru kudapat.”
“Skill seorang Mage memang banyak dan bisa digunakan bertubi-tubi, tapi masalahnya ada pada mananya.” pikir Akira sambil memegang dagunya.
“Kakak! Apa butuh bantuan?!” Suara nako terdengar dari belakang Akira.
Akira melihat kebelakang dan mendapati Kisaragi dan Lumina sedang berduel, lalu ia menatap ke arah Nako dan bertanya,
“Apa kamu gak membantu Lumina?”
“Sepertinya mereka gak terlalu butuh aku, jadi aku bosan.”
“Kalau gitu, apa kamu punya ide untuk membantu pelatihan Amane?”
“Bisa saja sih, dia seorang Mage kan?”
“Iya.”
“Kalau gitu, gampang saja, tinggal pakai Skill terus menerus hingga mana miliknya habis.”
“Bukannya buang-buang mana?” tanya Akira.
“Aku gak tau kakak latihan bagaimana, tapi—”
“Sayangnya aku gak berlatih.” pikir Akira.
“Mana itu kayak otot manusia, semakin rusak dan kembali sembuh, maka akan menjadi lebih kuat, jadi jangan terlalu terpaku pada status.”
“Ternyata sesimple itu, Nako juga saat menaruh banyak mana di pedang yang memiliki kesadaran, dia tidak terlihat kelelahan.” pikir Akira.
“Benarkah?! Begitu saja?!” Amane muncul dari sebelah Akira dengan mata berbinar menatap ke arah Nako.
“Ya, hanya begitu.”
“Wahh! kau pintar sekali, padahal masih kecil.”
“Sembarangan! Aku berumur 16!” protes Nako.
“Tapi aku berumur 18 loh, kalo gitu apa kamu akan memanggilku kakak?” Amane tersenyum berharap menatap ke arah Nako.
“Tidak mau!” Nako melipat kedua tangannya sambil menghindari tatapan Amane.
“Ehh~ aku agak sedikit kecewa, kalau begitu, apa bisa ajarkan aku lebih banyak aja?”
“Kalau itu tidak masalah, asal Kakak mengizinkannya,” ucap Nako sambil menatap Akira.
“Kuserahkan padamu,” ucap Akira.
“Baik!” ucap Nako sambil tersenyum.
Akira pun pergi dan berdiri bersandar di tembok, melihat mereka berempat yang sedang berlatih sambil berpikir,
“Rasanya jadi gak enak, apa aku bisa melakukan sesuatu ya...”