NovelToon NovelToon
Misteri Kematian Bapak

Misteri Kematian Bapak

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Tumbal
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Kematian Pak Broto yang mendadak meninggalkan duka sekaligus keanehan yang tak masuk akal bagi anak-anaknya. Dari jasad yang beratnya tidak wajar, bau tanah basah bercampur kemenyan saat dimandikan, hingga tanah liang lahat yang mendadak amblas.

​Bu Retno, sang ibu, melimpahkan dukanya dengan mengurung diri selama berbulan-bulan di kamarnya, dan menutup total Warung Nasi Broto—usaha kuliner keluarga di pinggir jalan raya Madiun-Ngawi yang selama ini menghidupi mereka. Atas desakan dan perjuangan keras Galang, anak ketiga yang paling berbakti, Bu Retno akhirnya mau kembali bangkit.

​Namun, kebangkitan Bu Retno membawa teror baru. Hanya dua bulan kemudian, Bu Retno memperkenalkan seorang pria misterius yang dingin sebagai calon suami barunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 - Bungkusan Kain Kafan

Keheningan sisa malam itu menggantung teramat berat di kamar tidur. Pertiwi masih terbaring menggigil, napasnya patah-patah menyuarakan penderitaan tak kasat mata.

Ruam kehitaman yang membias samar di lehernya kian menegaskan bahwa waktu mereka tidak banyak lagi.

Galang mengompres dahi Pertiwi dengan kain basah, namun rasa panas yang terpancar dari kulit gadis itu terasa seperti bara api yang membakar dari dalam pembuluh darah.

Pukul empat pagi, sebelum fajar menyingsing dan dapur mulai mengepulkan asap kuali, Galang beranjak keluar kamar. Hatinya bergemuruh oleh tekad yang nekat. Ia tidak bisa lagi bertindak pasif atau sekadar bersembunyi di balik ketakutan.

Jika Pak Sapta menanamkan jangkar pesugihan ini di seluruh sudut Warung Nasi Broto, pasti ada titik fondasi mistis tempat energi ghaib itu dialirkan—sebuah tempat di mana perikatan darah itu dikunci secara fisik.

Galang berjalan menyusuri lorong depan, mengintai ke arah kamar utama. Pintu kayu jati itu masih tertutup rapat. Dari dalam, tiada lagi suara mantra, hanya sunyi yang merayap dingin.

Galang berbelok ke area depan warung yang sepi. Meja-meja kayu berbaris rapi, dan aroma sisa kuah rawon kemarin masih menggantung tipis bersaing dengan dinginnya udara subuh. Pemandangan kotak kasir di ujung meja utama mendadak menyedot perhatian Galang.

Sejak warung dibuka kembali di bawah kendali Pak Sapta, meja kasir itu menjadi pusat daya tarik. Ratusan lembar uang kertas setiap hari berputar di sana.

Namun, saat Galang berdiri di depan meja jati tua peninggalan ayahnya itu, inderanya menangkap bau yang asing. Bukan bau tinta uang atau kayu jati lama, melainkan bau tanah basah yang membusuk, persis seperti tanah yang baru digali di TPU pinggiran Madiun.

Galang berlutut di bawah meja kasir. Udara di kolong meja terasa begitu lembap dan dingin, membuat bulu kuduknya berdiri tegak. Ia merogoh ke dalam kegelapan kolong kayu yang berdebu tebal. Tangannya menyapu lantai semen yang dingin, hingga jarinya menyentuh sebuah ganjalan tak biasa di sudut paling dalam.

Ada struktur papan lantai semen yang longgar.

Galang menggeser ganjalan kayu pelan-pelan agar tak menimbulkan bunyi nyaring. Jemarinya meraba celah di antara papan semen dasar meja kasir. Di sana, tertanam sebuah rongga kecil berukuran sempit yang sengaja dibuat tersembunyi dari pandangan mata biasa.

Dengan sisa tenaganya, Galang mengangkat potongan papan semen itu.

Aroma busuk yang menyengat langsung menyembur keluar, menghantam wajah Galang hingga ia terbatuk-batuk kecil. Di dalam rongga yang gelap itu, tergeletak sebuah benda yang dibalut kain kusam.

Galang merogoh rongga tersebut dan menarik bungkusan itu keluar ke atas lantai.

Benda itu berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa. Pembungkusnya adalah kain linen putih kusam yang telah tercemar bercak-bercak cokelat tua dan kehitaman—kain kafan bekas yang telah terkelupas dari makam tua. Bungkusan itu diikat kencang menggunakan benang lawe berwarna merah darah dengan tujuh simpul mati.

Kedua tangan Galang gemetar hebat saat ia mencoba membuka ikatan simpul benang merah itu. Setiap kali jarinya menyentuh kain kafan tersebut, rasa dingin yang membekukan seolah merambat naik menyusuri lengannya, membisikkan erangan-erangan halus di dalam kepalanya.

Sret!

Galang memutus benang lawe merah itu dengan paksa. Ia menyibak lipatan kain kafan kusam yang berdebu.

Di dalam bungkusan tersebut terdapat segenggam tanah merah pekat yang masih terasa basah dan bergumpal-gumpal. Di tengah tumpukan tanah kuburan itu, tertanam tiga buah benda ganjil: sepotong kuku manusia yang telah membusuk kehitaman, beberapa helai rambut panjang yang terikat kembang kantil layu, dan seikat kertas merang tua yang ditulisi nama-nama menggunakan tinta darah pekat.

Galang mendekatkan kertas merang tua itu ke pendar remang lampu jalan yang menembus jendela depan.

Darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir seketika.

Di atas kertas merang itu, tertulis barisan nama seluruh anak biologis almarhum Pak Broto. Nama Bayu Broto berada di paling atas, namun garis merah tebal telah dicoretkan di atas nama itu—sebuah tanda bahwa tumbal pertama telah ditagih dan diterima oleh entitas pesugihan.

Dan di baris kedua, nama Pertiwi Broto tertulis dengan tinta darah yang masih tampak basah dan memancarkan pendar merah samar.

"Tanah dari kuburan anak pertama ...," bisik sebuah suara dingin yang amat dikenal Galang dari arah belakang.

Galang tersentak hebat. Ia memutar tubuhnya seketika, masih berlutut di bawah meja kasir dengan bungkusan kain kafan tergelar di depannya.

Pak Sapta berdiri di ambang pintu lorong tengah. Pria paruh baya itu mengenakan sarung tenun gelap dan baju koko hitam. Tangannya memegang tongkat berkepala naga, dan kacamata berbingkai emasnya memantulkan pendar kegelapan pagi.

Di belakangnya, Bu Retno berdiri mematung bagaikan bayangan tanpa jiwa, wajahnya yang pucat tersenyum kaku menatap lurus ke arah Galang.

"Pak Sapta ...," desis Galang, suaranya sarat akan kebencian yang meluap-luap. Ia menggenggam bungkusan kain kafan itu erat-erat. "Bapak menanam tanah kuburan Mas Bayu di bawah kasir ini?!"

Pak Sapta melangkah maju tanpa terburu-buru. Ketukan tongkat kayunya menyuarakan ritme yang teratur di atas lantai semen.

"Bukan sekadar tanah kuburan, Galang," kata Pak Sapta dengan nada suara yang teramat santai, seolah sedang membicarakan hal biasa. "Itu adalah jangkar penarik Rezeki Darah. Setiap lembar uang yang dimasukkan para pembeli ke dalam kasir ini ... harus melewati 'Pintu' tanah kuburan anak pertama. Hanya dengan begitu, uang yang kita dapatkan akan berlipat ganda dan tak pernah habis."

"Bapak gila!" jerit Galang tertahan, "Kalian semua sudah gila!"

Ia berdiri tegak seraya mengacungkan bungkusan kain kafan itu ke arah Pak Sapta.

"Bapak menggunakan jasad Mas Bayu buat menarik uang pesugihan! Dan sekarang ... Bapak mau menumbalkan Pertiwi juga?!"

Pak Sapta menghentikan langkahnya, menatap Galang dengan tatapan dingin dan penuh rasa iba yang dibuat-buat.

"Pertiwi sudah masuk dalam hitungan, Galang. Itu bukan kemauan saya. Itu adalah kontrak yang ditandatangani ayahmu belasan tahun lalu saat dia meminta warung ini ramai untuk pertama kalinya. Saya hanya juru tagih yang memastikan perjanjian itu berjalan sesuai Hukum."

Bu Retno yang berada di belakang Pak Sapta melangkah maju beberapa milimeter, bibirnya yang kaku bergerak pelan mengeluarkan suara parau yang amat asing.

"Serahkan ... tanah itu, Galang. Jangan ganggu ... rezeki keluarga kita."

Mendengar suara ibunya sendiri yang telah sepenuhnya dikendalikan oleh kegelapan pesugihan, dada Galang bagai dihantam godam raksasa. Ibunya tidak lagi memikirkan nyawa anak-anaknya; wanita itu telah menjadi budak dari tumpukan uang kertas dan kepalsuan kejayaan.

"Nggak!" seru Galang histeris. "Aku nggak akan biarkan tanah haram ini ada di sini! Aku akan bakar bungkusan ini!"

Galang merogoh saku celananya, hendak mengeluarkan korek api kayu yang selalu ia bawa untuk menyalakan tungku. Namun sebelum tangannya sempat menyalakan gesekan korek, Pak Sapta menghentakkan tongkat berkepala naganya ke lantai.

BUMM!

Hawa dingin yang dahsyat mendadak menyapu ruang depan warung. Angin kencang bertiup keluar dari kegelapan lorong, memadamkan satu-satunya lampu gantung di atap.

Dalam kegelapan yang mendadak pekat itu, dua tangan kekar pengawal Pak Sapta merangsek dari kegelapan sisi kiri dan kanan Galang. Cengkeraman besi mereka menghantam pergelangan tangan Galang, mencengkeramnya dengan kekuatan luar biasa hingga korek api dan bungkusan kain kafan itu terlepas dari genggamannya dan jatuh menghantam lantai semen.

"Arghh!" jerit Galang kesakitan saat tubuhnya ditekan paksa berlutut ke lantai oleh kedua pengawal tersebut.

Pak Sapta membungkuk pelan, memungut bungkusan kain kafan tua dan kertas merang yang berisi daftar nama tersebut. Ia membersihkan debu tipis yang menempel di kain kafan itu dengan ujung jarinya yang berhias batu akik merah darah, lalu memasukkannya kembali ke dalam rongga rahasia di bawah meja kasir dengan rapi.

"Kamu anak yang gigih, Galang," bisik Pak Sapta seraya berdiri kembali dan menatap Galang dari atas. "Tapi kamu lupa satu hal, kamu hanyalah anak angkat di rumah ini. Kamu tidak punya ikatan darah dengan pesugihan ini, yang berarti ... kamu tidak punya kuasa untuk memutus rantainya. Tau dirilah, Galang."

Pak Sapta mengisyaratkan kepada kedua pengawal untuk melepaskan cengkeraman mereka. Galang tersungkur di lantai, dadanya kembang kempis menahan napas yang menyesakkan.

"Sekarang, berdirilah," perintah Pak Sapta, suaranya kembali berubah menjadi berwibawa dan dingin. "Nyalakan lampu dapur. Hari ini pembeli akan datang lebih awal. Dan saudarimu, Pertiwi ... biarkan dia menikmati sisa hari-harinya di atas tempat tidur. Demamnya baru saja dimulai."

Pak Sapta berbalik dan melangkah tenang menuju area belakang warung, diikuti oleh Bu Retno yang berjalan kaku bagaikan boneka tanpa jiwa.

Galang mengepalkan tangannya kencang di atas lantai semen yang dingin, air mata amarah dan keputusasaan menetes membasahi keramik tua.

Bungkusan kain kafan itu telah dikunci kembali di bawah meja kasir, dan di dalam kamar belakang, Pertiwi sedang mengerang kesakitan oleh ruam hitam yang kian menyebar—menandakan bahwa lingkaran maut kini telah mengepungnya tanpa ampun.

1
kinoy
dah ah g MW komen..SKT hati baca y..bnr2 kesetanan si Retno ..abisin aj keturunan kau..nanggung. jgn ada sisa..
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tersisa Rian dan ....... Gilang !
mereka menunggu giliran meninggal untuk diambil nyawanya oleh penagih pesugihan pakk Broto
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Sekarang kamu tahu bahwa pakk Sapta itu hanyalah fiktif alias jelmaan iblisss sang penagih tumbal garis keturunan.
Terus sekarang kamu tergesa gesa pulang ke Madiun tanpa tahu bagaimana caranya menghentikan pesugihan ini, ya sama aja bohong.
kamu tetap tidak bisa menyelamatkan nyawa Mia.
kamu datang ke Madiun hanya akan melihat nyawa Mia , sedangkan nyawa Rian dan Gilang pun masih menunggu giliran
kinoy
etdah..deg deg an..apa Mia KD tumbal ketiga kah
kinoy
iiiihhhh..tmbh seru baca y..gemes aq
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
eehhh ... authornya ngajak ke Ngawi 😄
aku belum pernah kesana , Thor ....
paling lewaT aja lalu naik kereta mau ke Surabaya
kinoy
ayo Galang slmtkan sisa adikmu..KLO MW JD tumbal si Retno aj
kinoy
nunggu smua anak broto JD tumbal x y..kasian ATH..noh ada ustadz g BS bantuin gt..geram AQ ma si sapta
kinoy
ya ALLAH kasian km Tiwi..JD tumbal..sapa donk yg BS nolongin Galang ni teh
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jadi korban selanjutnya .... Mia.
setelah itu Rian .... terus Gilang.
5 garis keturunan.
ditambah janin anak sulung dan pakk Broto sendiri menjadi 7.

Benarkah Galang akan menyaksikan kembali kematian 3 tumbal yang tersisa?
apakah Galang benar benar tidak bisa menyelamatkan sisanya??
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
katanya udah kaya , warung banjir dengan pelanggan , lah ko lampu kamarr Pertiwi masih pakai bohlam kuning 5 Watt 🤔
kinoy
otak si Galang krng muter..dah tau BKN SKT medis..BW ke ustad ke..lah ni mlh dibw kermh LG .nunggu mati JD tumbal..si Sapta omongan y krng ajar bgt y..fisik Tiwi kering duit tmbh numpuk ..bnr2 gila
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jawaban profesional seorang dokter .... ya begini.

Meski dokternya tahu bahwa ini bukan penyakit biasa, seorang dokter tidak akan menyarankan berobat ke kyai .
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Lahhh ... bukannya kamu udah tahu sendiri, Galang ....
kalau penyakit adikmu ini berhubungan dengan hal ghaib .

Jadi kacamata dokter tidak akan mendeteksi adanya penyakit di tubuh Pertiwi
kinoy
ALLAHU RABBI..KK otor tolongin Pertiwi ngapa..si Retno ay yg JD tumbal deh..kasian anak2nya..gemes AQ baca y
kinoy
kasian Pertiwi..si Retno ih bnr2 bikin gedek..Galang kyknya mst berstrategi ngadepin si sapta
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Jarak eksekusi Bayu ke Pertiwi 7 hari.

Dan Galang ... menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri ketika Bayu dan sekarang Pertiwi meninggal karena sudah waktunya ditumbalkan.
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Ohhh .... ternyata potongan kain linen yang dipegang Galang ada semua nama calon tumbalnya ......
kinoy
dasar setan..si Sapta ktnya dtng bt mencegah spy gd tumbal LG eh mlh dia yg ngatur 1 per satu anak broto komit..si b Retno jg sama aj
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ☠️⃝𝓢𝓾𝓼ͫ𝔀ͣ𝓪ͬ𝓽𝓲ᷤ🍻
Tumbal selanjutnya ..... Pertiwi

dan

Galang sudah mengetahui tumbal garis keturunan ini , dan dia hanya bisa menyaksikan 1 per 1 tumbal diambil nyawanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!