NovelToon NovelToon
Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Di Dunia Orang Bodoh, Akulah Sang Jenius

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

Arya Pratama dikeluarkan dari sekolah. Nilai jelek, masa depan hancur, semua orang bilang dia tidak berguna. Tapi hari itu, dia menyadari sesuatu yang mengubah segalanya — bukan dia yang bodoh... seluruh dunia yang bodoh.

Apoteker tidak bisa hitung tambah-kurang. Profesor universitas menulis rumus yang salah selama ratusan tahun tanpa ada yang sadar. Juara catur dunia bisa dikalahkan dalam sepuluh langkah. Di dunia ini, pengetahuan SMA biasa adalah kekuatan tertinggi — dan Arya adalah satu-satunya orang yang memilikinya.

Dari siswa yang dibuang, dia naik menjadi legenda yang tidak pernah menunjukkan wajah aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 30: Medan Baru di Atas Papan

Undangan Turnamen Gomoku Nasional datang dengan amplop tebal dan bahasa yang terlalu percaya diri.

Di halaman depan tertulis Festival Strategi Nusantara: Catur Lima Batu Terbuka. Di halaman kedua tertulis daftar sponsor, jadwal siaran, hadiah, dan nama-nama unggulan. Di halaman ketiga, baru tertulis aturan dasar: papan sembilan belas kali sembilan belas, hitam jalan lebih dulu, lima batu segaris menang, batas waktu lima belas menit per pemain pada babak awal, empat puluh lima menit pada semifinal dan final.

Rizky membaca aturan itu dan mengerutkan kening. "Tunggu. Ini gomoku, tapi acaranya memakai kata catur. Kenapa?"

Pak Surya menjawab, "Istilah catur lebih dikenal publik."

Arya berkata, "Jadi mereka memilih istilah yang salah karena lebih mudah dijual. Konsisten dengan dunia ini."

Putri menahan senyum. Pak Surya pura-pura tidak mendengar bagian terakhir.

Mereka berada di ruang kepala sekolah. Rafi dari UNG ikut melalui panggilan video aman. Budi duduk di sisi Arya, tangan terlipat, wajah seorang ayah yang baru membaca kata media nasional terlalu sering dalam satu dokumen.

"Apa urgensinya ikut?" tanya Budi.

Rafi menjawab, "Turnamen ini punya pengamanan resmi, siaran terbuka, dan peserta dari komunitas strategi nasional. Jika Arya tampil, Bayangan sulit bergerak fisik. Selain itu, pola permainan papan memberi data kognitif yang berbeda dari lomba pengetahuan."

Arya menatap layar. "Bapak bicara seolah saya objek uji."

Rafi berhenti setengah detik. "Maaf. Pola permainanmu bisa membantu kami memahami risiko dan kebutuhanmu. Itu versi yang lebih manusiawi."

"Sedikit lebih baik."

Pak Surya membuka daftar peserta. "Grandmaster Hendra Kusuma ikut. Dia ikon nasional. Tujuh tahun tidak kalah di turnamen terbuka."

Rizky langsung mencari namanya di ponsel. Video Hendra memenuhi layar: pria lima puluhan dengan rambut rapi, senyum tipis, dan cara meletakkan batu seperti sedang memberi hukuman. Komentator menyebutnya raja catur lima batu Indonesia.

Arya menonton tiga pertandingan. Pada pertandingan pertama, Hendra menang karena lawan terlambat menutup garpu ganda. Pada pertandingan kedua, Hendra memancing lawan menyerang sisi yang salah. Pada pertandingan ketiga, ia menang lewat tekanan psikologis; lawan membuat kesalahan sebelum posisi benar-benar buruk.

"Bagaimana?" tanya Pak Surya.

"Kuat untuk standar nasional. Lemah untuk standar permainan yang sudah matang."

Rizky menutup mulut. "Aku merasa kalimat itu bisa membuat satu negara marah."

Putri bertanya, "Apa kelemahannya?"

Arya menunjuk layar. "Pembukaan terlalu longgar, terlalu percaya pada kemampuan membaca lawan. Ia memberi ruang karena yakin bisa menghukum kesalahan. Melawan pemain yang tidak membuat kesalahan lokal, ruang itu menjadi hutang."

Rafi mencatat dari layar. "Kamu sudah punya strategi?"

"Paksa posisi simetris palsu, buka ancaman tiga arah, lalu ubah ritme sebelum ia bisa memakai intuisi manusia."

Rizky mengangkat tangan. "Saya paham semua kata itu secara terpisah. Jika digabung, mereka berubah menjadi kabut."

Budi menatap Arya. "Kamu yakin tidak terlalu cepat meremehkan orang terkenal?"

Arya memutar ulang langkah Hendra di video kedua. "Terkenal berarti banyak orang melihat. Bukan berarti banyak orang mengerti."

Kalimat itu membuat Pak Surya menghela napas. Ia mulai membayangkan konferensi pers nasional dan merasa kepalanya sakit sebelum acara dimulai.

Persiapan berlangsung seminggu. Arya tidak berlatih seperti orang lain. Ia tidak menghafal partai Hendra sampai malam. Ia membuat pohon posisi di buku kotak-kotak, menandai cabang yang sering dianggap aman oleh pemain lokal, lalu menulis cara menghancurkannya. Putri membantunya mencari arsip pertandingan. Rizky membuat katalog video dengan nama folder seperti korban papan satu sampai korban papan dua belas. Pak Surya melarang nama itu dipakai di laptop sekolah.

Dimas dari tim pengetahuan datang sekali untuk melihat latihan, lalu menyerah setelah lima menit. "Aku lebih suka soal banjir kota. Papan ini terlihat diam tapi mengancam."

"Karena ancamannya tertunda," kata Arya. "Orang buruk membaca tertunda sebagai aman."

Rafi mengirim satu dokumen tambahan: profil Hendra, kebiasaan wawancara, sponsor, dan kemungkinan tekanan media. Di bagian akhir ada catatan Maya: jangan jadikan Hendra musuh pribadi. Panggung ini tentang strategi. Penghinaan hanya akan mengaburkan tujuan.

Arya membalas singkat: Saya tidak menghina orang. Saya menghina langkah buruk.

Maya membalas melalui Rafi: bagi sebagian orang, bedanya tidak terasa.

Hari keberangkatan tiba. Stasiun penuh suara, tetapi rombongan Garuda Cendekia bergerak rapi. Budi ikut. Pak Surya ikut. Putri mendapat izin orang tua dengan syarat mengabari setiap perpindahan. Rizky ikut sebagai dokumentasi tidak resmi dan sumber gangguan moral yang katanya penting.

Di kereta menuju Jakarta, Arya duduk dekat jendela. Papan latihan magnetik terbuka di meja kecil. Ia menaruh batu hitam di tengah, lalu batu putih di sisi kanan. Putri melihat pola itu.

"Itu pembukaan Hendra?"

"Itu kebiasaan buruk Hendra."

"Bedanya?"

"Pembukaan dipilih karena kuat. Kebiasaan dipilih karena nyaman. Saya menyerang kenyamanannya."

Rizky dari kursi depan berbisik, "Saya akan menulis itu sebagai kutipan motivasi yang membuat orang takut."

Sebelum berangkat, Pak Surya mengadakan simulasi konferensi pers di ruang multimedia. Ia meminta Arya menjawab tiga pertanyaan tanpa membuat kepala sekolah terkena serangan jantung. Pertanyaan pertama: apakah Arya yakin bisa mengalahkan Hendra? Arya menjawab, "Saya yakin bisa bermain benar." Pak Surya puas. Pertanyaan kedua: apakah Hendra sudah tua? Arya menjawab, "Usia tidak masalah jika langkahnya benar." Pak Surya makin puas. Pertanyaan ketiga: apa kelemahan Hendra? Arya menjawab, "Terlalu banyak." Simulasi dihentikan.

Rizky mencatat di papan: daftar kalimat yang tidak boleh diucapkan Arya. Dalam lima menit, daftar itu penuh. Putri menambahkan satu aturan: jika wartawan bertanya dengan senyum terlalu lebar, Arya boleh menjawab pendek dan menyerahkan sisanya kepada Pak Surya.

Budi melihat latihan itu dari belakang ruangan. Ia tidak mengerti gomoku, tetapi ia mengerti orang dewasa takut pada kejujuran anaknya. Anehnya, itu membuatnya sedikit tenang. Selama orang takut pada kata-kata Arya, mereka mungkin belum siap menghadapi pikirannya.

Di malam sebelum berangkat, Arya juga bermain sepuluh partai cepat melawan program gomoku sederhana yang ditemukan Rizky. Program itu buruk, tetapi berguna untuk menguji kecepatan tangan. Setelah partai ketiga, Arya menulis ulang sebagian aturan evaluasi program di kertas karena menurutnya mesin itu memilih langkah seperti panitia lomba memilih istilah: percaya diri dan salah arah.

Rizky menatap layar yang kalah lagi. "Aku kasihan pada komputer ini."

"Komputer tidak butuh kasihan. Ia butuh algoritma yang tidak memalukan."

Putri berbisik, "Kadang aku bersyukur kamu tidak menjadi guru TK."

Kereta melaju. Di depan mereka ada Jakarta, panggung nasional, dan seorang Grandmaster yang belum tahu bahwa anak SMA dari Garuda Cendekia sedang membawa daftar semua kesalahannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!