NovelToon NovelToon
Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Buang Sopan Santunmu, Nikmati Hidup Tanpa Belas Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:24
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

Bima Liem wakes in another's body—a young Chinese-Javanese man in Waringin, East Java, crushed by family pressure, insults, and silent injustice.

This time, he won't stay silent. A mysterious Golden Defiance System binds to him: every time he resists moral blackmail, social pressure, or unfairness, he earns points for extraordinary abilities—god-level legal skills, deadly combat, hacking, spy drones, and hidden wealth.

Armed with law and the system, he begins an unprecedented mission: send every wrongdoer to prison—one by one. Trolls, bullies, corrupt officials, fake doctors, campus thugs, cruel neighbors—none escape the People's Prosecutor.

Everyone sees a humble village youth, unaware behind that calm face lurks a hidden billionaire, national hero, and the most dangerous man in any courtroom. You can choose silence. But if you choose evil—don't expect me to choose good.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Polisi dan Bukti

Briptu Dodik tidak masuk gang seperti orang yang datang untuk menonton keributan.

Begitu melihat pisau di dekat selokan, ia langsung mengangkat tangan kepada warga yang berdesakan di ujung gang.

"Semua mundur. Jangan ada yang injak area ini. Yang merekam silakan, tapi jangan mendekat."

Dua anggota berseragam bergerak cepat. Satu menjaga Calvin, David, dan Purnomo yang masih kesakitan. Satu lagi memasang garis sederhana dari tali plastik yang dipinjam dari warung, cukup untuk memisahkan warga dari barang bukti. Situasinya tidak rapi seperti drama televisi, tapi arah kerjanya jelas: TKP tidak boleh berubah sebelum dicatat.

Dodik menghampiri Bima.

"Korban?"

Bima menunjuk Ratna yang duduk di dekat pagar bersama Koko dan Zahra. "Adik saya. Ada bekas pegangan di pergelangan dan bahu terbentur tembok. Dua temannya juga diancam. Koko sempat dibekap David."

Dodik mengangguk, wajahnya mengeras. "Mbak Ratna, saya Briptu Dodik. Saya akan tanya singkat dulu di sini, nanti keterangan lengkap di kantor. Bisa bicara?"

Ratna menarik napas. Jaket Bima masih menutupi bahunya. "Bisa, Pak."

"Apakah mereka meminta uang sebelumnya?"

"Iya. Lima ratus ribu sebulan. Katanya uang keamanan."

"Apakah hari ini ada sentuhan fisik atau ancaman lain?"

Ratna menelan ludah. Matanya sempat turun ke lantai, ke buku pidana yang kotor, lalu kembali menatap Dodik. "Calvin menyentuh dagu saya. Saya menepis. Dia bicara bahwa saya bisa bayar dengan cara lain. Saya tampar dia. Lalu dia mendorong saya ke tembok."

Zahra langsung menambahkan, "Benar, Pak. Saya lihat. Purnomo menutup jalan. David menutup mulut Koko."

Koko mengangkat tangan yang masih gemetar. "Saya gigit tangannya supaya lepas, Pak."

Dodik mencatat cepat. Ia tidak menyela dengan pertanyaan yang membuat korban merasa bersalah. Bima memperhatikan itu dan menyimpan satu catatan: Dodik layak dipercaya untuk tahap awal.

Dari sisi lain, Calvin mulai berteriak.

"Pak Polisi! Saya yang dipukul! Lihat muka saya! Dia datang langsung hajar kami!"

Dodik menoleh. "Anda diam dulu. Nanti semua diperiksa."

"Lo tahu bokap gue siapa?" Calvin menunjuk Bima sambil meringis. "Ini penganiayaan! Gue bisa visum juga!"

Bima menatapnya datar. "Silakan. Visum justru bagus. Waktu luka kalian akan cocok dengan waktu kalian membawa pisau dan menahan korban."

David pucat. Purnomo mengumpat pelan.

Dodik melirik Bima. "Mas Bima, bukti rekaman?"

"Ada beberapa sumber. Rekaman suara dari Ratna saat pemerasan dua hari lalu. Rekaman video dari kamera pribadi yang menghadap gang, termasuk kejadian hari ini. Saya juga punya tangkapan data awal terkait pola pungutan liar mereka."

"Kamera pribadi di mana?"

Bima menunjuk ke arah atap kos, bukan ke Drone Bayangan yang tentu tidak bisa dijelaskan. "Perangkat kecil. Saya pasang untuk keamanan keluarga, tidak masuk area privat kamar, hanya titik gang umum."

Dodik mengangguk. "Nanti kami buatkan tanda terima salinan bukti digital. Asli tetap disimpan, jangan diedit."

"Sudah saya siapkan salinan mentah."

Bu Tuti akhirnya berani maju. Wajahnya kusut, tapi suaranya lebih kuat daripada beberapa hari lalu.

"Pak Polisi, saya pemilik kos. Saya juga pernah diminta uang. Mereka bilang kalau tidak ikut, motor anak-anak bisa hilang, kaca bisa pecah."

Dodik menatapnya. "Ibu bersedia jadi saksi?"

Bu Tuti melihat Calvin. Calvin membalas dengan mata penuh ancaman.

Bima berdiri di antara arah pandang mereka.

Bu Tuti menarik napas. "Bersedia, Pak."

Satu kata itu membuat beberapa mahasiswa di ujung gang mulai berbisik. Ketakutan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri tiba-tiba menemukan bentuk. Seorang laki-laki berkacamata mengangkat tangan.

"Pak, saya juga pernah bayar seratus ribu. Ada transfer ke nomor David."

Seorang mahasiswi lain menyusul. "Motor teman saya pernah disayat bannya setelah menolak bayar."

Dodik langsung memberi instruksi kepada anggotanya untuk mencatat nama dan kontak awal. Bima tidak memaksa mereka maju. Ia hanya berdiri diam. Kadang orang butuh melihat satu pintu terbuka sebelum berani keluar dari kamar masing-masing.

Tiga puluh menit kemudian, Calvin, David, dan Purnomo dibawa ke kantor polisi. Ratna, Koko, Zahra, Bu Tuti, dan Bima ikut memberi keterangan awal. Wisnu Saputra tiba saat mereka hendak berangkat, kemeja putihnya sedikit kusut karena terburu-buru. Map hitam di tangannya rapi.

"Mas Bima," sapa Wisnu.

"Pak Wisnu. Adik saya dulu."

Wisnu mengangguk. "Tentu."

Di kantor polisi, suasana lebih terang dan dingin. Ratna duduk di ruang pemeriksaan dengan Zahra di sampingnya. Bima menunggu di luar pintu, cukup dekat untuk dilihat, cukup jauh agar keterangan Ratna tidak terasa diarahkan.

Pak Harto dan Bu Sri datang tak lama kemudian.

Bu Sri langsung memeluk Ratna begitu pemeriksaan awal selesai. "Kamu sakit di mana, Nak?"

"Aku baik-baik saja, Ma."

"Jangan bilang begitu kalau tidak baik."

Ratna terdiam, lalu akhirnya memeluk ibunya lebih erat. "Pergelangan sakit. Bahu juga."

Pak Harto menatap Bima. Ada amarah di matanya. Amarah itu tidak tertuju kepada Bima. "Kamu pukul mereka?"

"Saya hentikan mereka, Pa. Mereka membawa pisau."

Pak Harto memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, suaranya berat. "Terima kasih sudah sampai tepat waktu."

Bima tidak menjawab dengan kalimat manis. Ia hanya mengangguk.

Di ruang sebelah, Calvin masih berusaha memainkan nama keluarga. Suaranya terdengar sampai koridor.

"Panggil bokap saya. Kalian tidak tahu ini urusan siapa. Saya korban pengeroyokan!"

Dodik keluar dengan wajah lelah, tapi tidak goyah.

"Mas Bima, kami butuh salinan rekaman dalam flashdisk, hash file kalau ada, dan daftar saksi awal. Untuk luka Mbak Ratna, sebaiknya visum malam ini."

"Sudah saya siapkan."

Wisnu menambahkan, "Saya akan dampingi proses visum dan BAP. Untuk pasal, kita dorong pemerasan, penganiayaan, ancaman, percobaan pelecehan, dan kepemilikan senjata tajam sesuai hasil penyidik."

Dodik mengangguk. "Kami proses sesuai bukti."

Wisnu meminta Ratna tidak membaca komentar warga yang sudah mulai menyebar di grup kampus. "Malam ini fokus tubuhmu dulu," katanya. "Laporan, visum, lalu istirahat. Besok baru kita susun kronologi lengkap."

Ratna mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak kejadian, ia tidak memaksa diri terlihat kuat. Ia duduk di samping Bu Sri, kedua tangannya menggenggam gelas air, sementara Bima menyerahkan flashdisk kepada Dodik dengan tanda terima tertulis. Bukti itu tidak lagi hanya berada di ponsel keluarga. Ia sudah masuk jalur resmi.

Saat itu, ponsel Calvin yang disita sementara berdering terus. Nama yang muncul di layar terlihat sekilas: Papa.

Calvin yang duduk di bangku pemeriksaan menyeringai meski bibirnya bengkak.

"Tunggu saja," katanya kepada Bima dari balik pintu terbuka. "Kalau bokap gue datang, hukum kalian selesai."

Bima menatapnya.

Di tangan Bima, flashdisk berisi rekaman mentah terasa dingin dan kecil. Tapi benda kecil itu cukup untuk membuka lubang di tembok yang selama ini dipakai Calvin untuk bersembunyi.

"Bagus," jawab Bima pelan. "Suruh dia datang. Saya juga ingin tahu berapa harga hukum menurut keluarga kalian."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!