Laras terbangun dengan tubuh nyeri di ranjang asing—di sampingnya, seorang perwira TNI berdada bidang yang bahkan belum ia tahu namanya. Semalam adalah sebuah jebakan. Tapi lelaki dingin itu, **Mayor Bramantya**, justru bersikeras satu hal: *"Saya akan bertanggung jawab. Kita menikah."*
Laras cuma berniat "kerja sama dulu, lihat situasi, kalau tak cocok kabur." Ia punya rahasia: dulu anak angkat yang disiksa dan nyaris dijual ayah tirinya, kabur ke kota besar, menempa diri jadi desainer berbakat dengan tangannya sendiri. Yang tak ia duga—sang Mayor yang garang di luar itu ternyata memuja istrinya sampai ke ubun-ubun:
> *"Siapa pun kamu dulu, yang kucintai kamu yang sekarang."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vira Dusk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9
Tangan yang Bisa Menggambar
"Dia calon istri saya," ulang Bram.
Jawaban itu tidak berubah meski Tania menatapnya seperti menunggu ralat.
Bu Rahayu meminta Bik Inah mengambil kain pel. Kinan mengangkat rantang yang jatuh, sementara Laras berdiri hendak membantu. Bram menahan pergelangan Laras pelan.
"Kamu masih pusing. Duduk."
Tania melihat sentuhan singkat itu. Wajahnya semakin pucat.
"Aku tidak tahu Mas Bram sudah punya calon," katanya.
"Sekarang kamu tahu."
Tania memaksakan senyum kepada Bu Rahayu, lalu berpamitan dengan alasan harus kembali ke rumah sakit. Rantang rawon ditinggalkan begitu saja.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi kepada Laras. Tatapan itu bukan sekadar ingin tahu. Ada rasa kehilangan terhadap sesuatu yang sejak awal tidak pernah menjadi miliknya.
***
Hari ketiga di rumah Adiprawira, Laras bangun sebelum adzan Subuh selesai bergema.
Ia tidak lagi menaruh kursi tepat di depan pintu, hanya di sisi ranjang. Perubahan kecil itu tidak disadari siapa pun, tetapi cukup untuk membuatnya termenung beberapa detik.
Setelah sholat, ia membuka buku sketsa. Pensil pendek bergerak di atas kertas, membentuk garis bahu, pinggang, lalu potongan lengan. Tangannya jauh lebih tenang ketika bekerja daripada saat menjawab pertanyaan tentang hidupnya.
Menjelang pagi, Kinan masuk membawa sebuah blus yang dibeli lewat toko daring.
"Tolong selamatkan ini," katanya. "Di foto bagus. Dipakai malah seperti sarung bantal."
Laras membentangkan blus tersebut di atas ranjang. Jahitannya tidak buruk, tetapi pola bahu terlalu turun dan bagian pinggang dibuat lurus demi menekan biaya produksi.
"Kamu beli ukuran apa?"
"Medium."
"Masalahnya bukan ukuran. Polanya dibuat untuk sebanyak mungkin bentuk tubuh, jadi akhirnya tidak benar-benar cocok untuk siapa pun."
Ia meminta Kinan mengenakannya, lalu menandai kain dengan kapur jahit milik Bik Inah. Bagian sisi disematkan, bahu dinaikkan, dan lengan dilipat hingga jatuhnya lebih bersih.
"Kalau dijahit ulang seperti ini, siluetmu lebih seimbang," jelas Laras.
Kinan berputar di depan cermin. "Ini baju yang sama?"
"Masih. Aku cuma menyuruh kainnya berhenti melawan tubuhmu."
"Kalimat itu terdengar seperti slogan desainer."
"Catat. Nanti kalau aku punya merek sendiri, aku tagih biaya penggunaan."
Mereka tertawa.
Bu Rahayu yang lewat berhenti di pintu. Ia melihat garis kapur dan sketsa perubahan pola.
"Kamu bisa menjahit juga?"
"Bisa, Ibu. Tidak secepat penjahit senior, tapi saya memahami konstruksinya."
"Saya punya kebaya yang bagian lengannya selalu menarik kalau dipakai bergerak. Sudah dua kali diperbaiki, tetap tidak nyaman."
"Boleh saya lihat."
Bu Rahayu membawanya. Laras memeriksa kampuh, lalu menemukan lubang lengan dipotong terlalu sempit. Ia tidak langsung membongkar jahitan, melainkan menggambar dua pilihan koreksi dan menjelaskan risiko masing-masing.
"Kalau hanya dilebarkan di bawah, motifnya bisa bertemu tidak rapi. Pilihan kedua, saya buat sisipan tipis dari kain senada. Geraknya lebih bebas dan tidak terlihat dari depan."
Bu Rahayu mengangguk perlahan. Yang membuatnya terkesan bukan hanya solusi Laras, tetapi caranya menjelaskan tanpa meremehkan penjahit sebelumnya.
***
Dua hari kemudian, Bulik Endah datang bersama Mas Bas untuk makan siang.
Sebagai kepala sekolah, Endah terbiasa menilai pekerjaan dengan teliti. Ia menemukan Laras di ruang keluarga sedang memindahkan koreksi pola ke kertas koran bekas.
"Boleh saya lihat?" tanyanya.
Laras mempersilakan.
Endah memeriksa garis kampuh, tanda serat kain, serta hitungan tambahan kelonggaran. "Ini pola profesional."
"Saya pernah bekerja beberapa tahun di konveksi Bandung dan Jakarta."
"Bagian desain?"
"Awalnya memotong benang dan mengepak pesanan. Lalu seorang pembuat pola mengajari saya sepulang kerja. Setelah bisa, saya membantu sampel dan pesanan khusus."
Kinan muncul dengan blus yang sudah selesai diperbaiki. "Lihat, Bulik. Sekarang bajunya tidak lagi ingin menelanku."
Endah tertawa, lalu memeriksa hasil jahit Laras. Jahitannya kecil dan rapi. Bagian dalam bahkan diselesaikan ulang agar tidak menggesek kulit.
"Kamu seharusnya bekerja di bidang ini," katanya.
"Saya berniat begitu."
Laras mengambil brosur yang ditemukan Bu Rahayu dari koran lokal. Pabrik Makanan Sari Boga membuka sayembara desain kemasan baru untuk produk oleh-oleh Malang. Peserta umum boleh mengirim dua konsep. Hadiahnya tidak besar, tetapi pemenang mendapat kontrak desain.
"Kemasan makanan berbeda dari pakaian," kata Mas Bas yang baru masuk.
"Prinsipnya tetap komunikasi visual," jawab Laras. "Produk harus terlihat dalam dua detik di rak. Warna, bentuk huruf, dan informasi tidak boleh saling berebut. Saya perlu riset pembeli dan pesaing dulu."
Bram berdiri di belakang kakaknya. Ia membawa map formulir dari satuan, tetapi perhatiannya tertuju kepada Laras.
"Kamu mau ikut?" tanyanya.
"Ya. Untuk jangka pendek, saya butuh portofolio dan penghasilan. Untuk jangka panjang, saya ingin melanjutkan pendidikan desain, membuka konveksi kecil, lalu membangun merek sendiri."
Endah menunjuk brosur. "Apa yang akan kamu ubah dari kemasan mereka?"
Laras mengambil dua bungkus produk Sari Boga yang dibeli Bik Inah. Satu diletakkan tegak, satu dimiringkan.
"Nama mereknya tenggelam oleh gambar makanan. Informasi rasa terlalu kecil, padahal pembeli oleh-oleh biasanya memilih beberapa varian sekaligus. Saya akan mempertahankan warna yang sudah dikenal pelanggan lama, lalu membuat sistem warna berbeda untuk tiap rasa."
Ia menutup sebagian kemasan dengan telapak tangan. "Kalau produk berdiri di rak paling bawah, pembeli cuma melihat bagian ini. Jadi identitas utama harus tetap terbaca dari atas."
Mas Bas yang semula terdengar ragu mengambil salah satu bungkus dan mencoba melihatnya dari jarak beberapa langkah.
"Benar, mereknya tidak kelihatan," katanya.
"Karena itu saya perlu ke toko. Saya ingin tahu posisi rak, cahaya, produk pesaing, dan siapa yang paling sering membeli. Desain cantik yang tidak meningkatkan pilihan pembeli hanya hiasan mahal."
Pak Hardjono melipat korannya. Untuk pertama kalinya, tatapannya kepada Laras bukan tatapan orang yang memeriksa ancaman, melainkan seseorang yang sedang menilai rencana kerja.
"Kamu sudah memikirkan modal konveksi?"
"Belum angka akhir, Bapak. Saya tidak mau membuat hitungan sebelum tahu harga mesin, sewa tempat, dan upah di Malang. Tapi saya akan mulai dari pesanan, bukan stok besar. Risiko kain mati lebih kecil."
Tidak ada yang menertawakan rangkaian rencana itu.
Pak Hardjono yang membaca koran di sudut bahkan menurunkannya sedikit. Bu Rahayu tersenyum. Kinan terlihat seolah Laras baru mengumumkan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada pernikahan kilat mereka.
Bram meletakkan map di meja. "Apa yang kamu perlukan untuk sayembara?"
"Kertas yang lebih baik, pensil warna, dan kesempatan melihat produk langsung di toko."
"Besok kita beli."
Laras menatapnya. "Aku akan membayar setelah punya uang."
"Catat sebagai utang kalau itu membuatmu nyaman."
"Dengan bunga?"
"Satu kali makan malam."
Kinan bersiul pelan. Bu Rahayu menyikut putrinya agar diam, meski senyumnya sendiri melebar.
Bulik Endah masih memegang kertas pola Laras. Ia membandingkan garis presisi itu dengan penampilan sederhana perempuan di depannya, lalu mengajukan pertanyaan yang sejak tadi ditahan semua orang.
"Kamu ini bukan gadis kampung biasa. Dari mana kamu belajar ini?"