NovelToon NovelToon
Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Kakek tua penjual barang antik itu menatap batu kotor di tangan Bara dengan tatapan sayu yang terlihat sangat lelah.

"Batu jelek itu tidak ada harganya Nak, kalau kamu memang mau pakai untuk penahan pintu ambil saja seharga lima puluh ribu rupiah," jawab kakek itu dengan suara parau.

Bara berusaha sekuat tenaga menahan senyum lebarnya agar tidak terlihat mencurigakan di mata pedagang lain.

"Lima puluh ribu rasanya terlalu mahal untuk ukuran batu sungai Kek, tapi tidak apa-apa karena aku sedang butuh," ucap Bara sambil mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dompetnya.

Bara meletakkan uang merah itu ke tangan keriput si kakek dan langsung beranjak berdiri dengan santai.

"Kembaliannya ambil saja Kek, hitung-hitung untuk tambahan modal kakek berjualan besok pagi," lanjut Bara sambil berbalik melangkah pergi.

Kakek tua itu mengangguk pelan dan mengucapkan terima kasih berulang kali tanpa tahu harta macam apa yang baru saja dia lepaskan.

Bara segera berjalan cepat meninggalkan area pasar loak itu menuju sebuah toilet umum yang sepi di dekat pelabuhan.

Dia masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan mengunci pintunya rapat-rapat agar tidak ada yang bisa mengintip.

Bara menyalakan keran air di wastafel kecil dan mulai menggosok permukaan batu kotak itu dengan sangat hati-hati.

Lumpur keras yang membatu selama ratusan tahun itu perlahan mulai luntur terkena aliran air dan gosokan ibu jari Bara.

Warna hijau pekat yang sangat bening dan memancarkan cahaya alami perlahan mulai terlihat dari balik lumpur busuk tersebut.

Setelah sepuluh menit membersihkan seluruh permukaannya, napas Bara langsung tertahan melihat benda utuh di tangannya saat ini.

Sebuah stempel giok berbentuk kotak dengan ukiran naga melingkar yang sangat detail dan sempurna kini berada tepat di genggamannya.

Giok ini benar-benar mulus tanpa cacat sedikit pun dan memancarkan aura kemewahan yang sangat luar biasa menawan.

"Pantas saja kacamata sistem menilai benda ini seharga dua setengah miliar rupiah," gumam Bara dengan mata yang hampir tidak berkedip.

"Benda ini jelas adalah barang pusaka peninggalan kaisar zaman dulu yang nilainya sangat fantastis bagi para kolektor kelas atas."

Bara mengeringkan giok itu menggunakan tisu toilet dan membungkusnya dengan hati-hati menggunakan sapu tangan bersih barunya.

Dia kemudian memasukkan bungkusan sangat berharga itu ke dalam saku dalam jaket kulitnya agar aman dari incaran copet di jalanan.

Tujuan Bara selanjutnya adalah Galeri Seni dan Balai Lelang Permata yang berada di pusat distrik bisnis kota metropolis ini.

Itu adalah satu-satunya tempat paling terpercaya yang memiliki cukup banyak uang tunai untuk berani membeli barang seharga miliaran rupiah.

Bara berjalan kaki dengan santai menyusuri trotoar jalan raya besar yang mulai padat oleh kendaraan orang-orang yang berangkat kerja.

Namun saat dia melangkah melewati sebuah gang sempit yang memotong di antara dua gedung tinggi, pendengaran tajam Bara menangkap sebuah suara keributan.

"Tolong lepaskan aku, apa yang sebenarnya kalian inginkan?!"

Teriakan panik seorang wanita terdengar sangat jelas dari dalam gang sempit yang kondisinya agak gelap dan tertutup tersebut.

Bara menolehkan kepalanya dan memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas ke arah dalam gang buntu itu.

Di ujung gang buntu sana, ada empat orang pria berbadan besar dengan tato di sekujur lengan sedang mengepung seorang wanita sendirian.

Wanita itu mengenakan setelan jas kerja wanita berwarna putih yang terlihat sangat elegan dan harganya pasti mahal.

Wajah wanita itu luar biasa cantik dengan rambut hitam panjang yang sedikit berantakan karena berusaha memberontak melepaskan diri.

"Jangan berteriak Nona Nadhira, bos kami hanya ingin kamu menandatangani surat pengalihan saham perusahaanmu ini sekarang juga," ucap salah satu preman berwajah bopeng.

Preman bopeng itu menyodorkan paksa sebuah map berisi dokumen ke depan wajah cantik wanita bernama Nadhira tersebut.

"Aku tidak akan pernah menyerahkan perusahaanku kepada saingan bisnis yang sangat licik seperti bos kalian!" teriak Nadhira dengan tatapan mata penuh kemarahan.

"Kalau begitu kami terpaksa harus sedikit kasar untuk mematahkan beberapa jarimu agar kamu mau menuruti perintah kami," ancam preman lain yang memegang sebatang pipa besi tebal.

Bara mendengus pelan melihat adegan klise penindasan kaum lemah yang sedang terjadi tepat di depan matanya itu.

Dulu saat dia masih menjadi pemulung lemah tanpa daya, dia pasti akan langsung lari ketakutan mencari pos polisi terdekat.

Tapi sekarang dia adalah manusia super yang struktur otot dan tulangnya sudah diperkuat oleh pil ajaib dari Sekte Harmoni.

Tap! Tap! Tap!

Suara langkah sepatu Bara yang berat dan penuh tekanan bergema di dalam gang sempit itu membuat keempat preman tersebut langsung menoleh.

"Hei bocah, ini bukan urusanmu, cepat pergi dari sini kalau kamu masih sayang pada nyawamu!" bentak preman berwajah bopeng itu sambil menunjuk kasar ke arah Bara.

Nadhira menatap Bara dengan pandangan penuh harap yang bercampur dengan rasa kasihan yang mendalam.

"Tolong cepat lari dari sini dan panggil polisi, kumohon jangan ikut campur atau kamu akan mati dipukuli oleh mereka!" teriak Nadhira memperingatkan Bara dengan suara panik.

Bara sama sekali tidak mempercepat atau memperlambat langkahnya, dia terus berjalan mendekat dengan wajah datar yang sangat tenang.

"Aku kebetulan sedang butuh sedikit pemanasan otot pagi ini, dan kalian berempat terlihat seperti samsak tinju yang sangat pas untukku," ucap Bara sambil meregangkan persendian lehernya.

Krek! Krek!

Mendengar ucapan yang sangat meremehkan dari Bara, urat kemarahan langsung bermunculan di dahi keempat preman bayaran tersebut.

"Bocah sombong ini rupanya benar-benar sudah bosan hidup, hajar dia sampai mati!" teriak preman yang memegang pipa besi.

Preman pembawa pipa besi itu langsung berlari menerjang Bara dan mengayunkan senjatanya dengan tenaga penuh ke arah kepala Bara.

Wush!

Ayunan pipa besi yang berat itu membelah udara dengan sangat cepat dan mengerikan.

Namun di mata Bara yang sekarang, gerakan serangan preman berbadan besar itu terlihat sangat lambat seperti adegan gerak lambat di dalam film.

Bara hanya perlu memiringkan kepalanya sedikit ke samping untuk menghindari hantaman mematikan dari pipa besi tersebut.

Sebelum preman itu sempat menarik senjatanya kembali, tangan kanan Bara sudah melesat ke depan membelah udara bagaikan kilat.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Was pray
pengusaha yg punya produk yg sama jadikan kompetitor bersaing secara sehat dengan kualitas, menang tanpa menjatuhkan lawan, untung tanpa menimbulkan musuh
Was pray
sembuhkan Gideon dan dijadikan anak buah yg setia aja bara dia bisa dijadikan mata mata didunia bawah tanah
kiyoe: heheh tunggu update selanjutnya yaa kak 🤣
total 1 replies
Was pray
emang bisa langsung beroperasi tuh pabrik? kan butuh penyesuaian peralatan dan tenaga ahli? kayak sulap dong ... bim salabim langsung muncul... tuh krim kosmetiknya 🤭🤭🤣
Was pray
betul.... tembak kepala bara dia pasti mati Krn perlindungan kaos oblong yg dipakai hanya melindungi tubuhnya doang
Was pray
ntar Nadhira posisi berubah dari teman jadii pacar, terus dari rekamn bisnis menjadi rekan ranjang nih..... terus Nadhira jad adik iparnya Adit Pratama.... 🤣🤣
Was pray
beli rumah dulu bara, ntar jadi lelucon naik mobil sultan tapi rumah kontrakan... masih mending mobil sewaan tapi rumah idaman
Was pray: biar bisa pamer dan nunjukin ke orang2 Nuh gue kaya.... tapi rumah masih nyewa.... mobil kredit... 🤣🤣
total 5 replies
Was pray
utang nyawa Nadhira pada bara dibayar dengan secangkir kopi, amat sepadan buat bara.... 🤣
Was pray
untung yg kram bukan gigi nya.... 🤣🤣
Was pray
mau main sepakbola dong .. sis....
Was pray
daging panggang mewah. daging pasti daging hewan langka nih ... bisa daging rusa bertanduk gading atau sapi berbulu emas... 🤭🤭
Was pray
yg tadi nya rata seperti kayu sekarang kotak kotak kayak papan catur .... 🤭🤣
Was pray: kwk. ... kwk... kwk.. gak biliard aja... kan lebih menantang.... 🤣🤣
total 4 replies
Was pray
kalau sama dadanya mbak -mbak tebal nih dadanya bara? 🤭🤭
kiyoe: heheh
total 1 replies
Was pray
waduh bahaya nih.... ntar bisa terbang tertiup angin.... dan tersangkut di ranting pohon.... gak bisa turun... kan seringan kapas... 🤭🤭🤭🤣
Was pray
bara ini saudaranya Adit ya Thor? karena sama2 memakai nama pratama
kiyoe: Bara gelap gulita 🤣
total 3 replies
Was pray
moga aja alur cerita per bab nyambung dan sistem gak berubah fungsi kayak sistem peternak dan berkebun berubah arah jadi sistem kultivator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!