Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Hari berlalu malam itu adalah di mana Rey dan Marcel akan balapan kembali di sirkuit.
Saat ini Rey dan Emily tampak sedang duduk di ruang tamu apartemen Rey.
"Rey??
“Iya, Ily.” ucap Rey datar.
“Lo mau balapan?” tanya Emily pelan.
“Mereka yang nantangin, masa gue harus nolak. Lo mau ke sirkuit?” sahut Rey santai.
“Giliran gue aja balapan nggak boleh, tapi lo malah balapan..” ucap Emily kesal.
“Kan nggak sering, Ily. Seminggu sekali atau seminggu dua kali wajar lah. Lagian gue nggak pernah bener-bener ngelarang lo, cuman lo harus tau batasan aja.” jelas Rey tenang.
“Pasti kalau menang lo langsung parti ke klub ya.” sindir Emily sinis.
“Itu mah elo..” jawab Rey cuek.
“Ya lo juga. Apa bedanya, pasti mabuk-mabukan.” timpal Emily jutek.
“Gue nggak segila itu, Ily. Selesai balapan gue langsung pulang. Lo mau gue boncengin apa mau bawa motor sendiri?” tanya Rey ringan.
“Bawa motor sendiri lah. Mending kita dulu balapan sampai sirkuit.” jawab Emily cepat.
“Nggak seru lu mah ngajakin balapinnya di sirkuit mulu. Kapan lo ngajakin balapan di kasur..” ucap Rey santai.
“Hhhaa.” Emily tertawa.
“Ngapain lo ketawa.
"Lagian kasur lu cuma segitu-gitu aja, masa iya kita mau balapan di kasur. Balapan apa..”
jawab Emily sambil manyun.
“Balapan siapa yang paling duluan kalah..” ucap Rey santai.
“Itu pasti lo, Rey. Hhahah.” Emily tertawa.
“Idih, lo nanti yang lemah duluan..” ucap Rey datar.
“Hhahah, cowo biasanya nafsu doang gede, aslinya sekali tancap langsung pecah.” Emily kembali tertawa.
“Asli ya, gue buktikan..” ucap Rey serius.
“Hhe, nanti lah. Gue masih takut..” ucap Emily pelan.
“Kapan? Kenapa harus takut, Ily. Pelan ko..” tanya Rey lembut.
“Tetep ajah. Gue belum pernah, Rey. Lagian emang lo udah cinta sama gue? Kalo tiba-tiba lo ninggalin gue gimana?” ucap Emily lirih.
“Pikiran lo, Ily. Kita itu bukan pacaran tapi sudah nikah, masa lo kepikiran buat ditinggalin sih..” ucap Rey tegas.
“Yah takut ajah..” jawab Emily singkat.
“Apa perlu pembuktian dulu bahwa gue sayang sama lo..” ucap Rey pelan.
Emily langsung menatap Rey. “Bu.. bukan gitu Rey..” ucapnya gugup.
“Ouh, gue tau. Pada nyatanya lo yang ga punya perasaan apa pun ke gue. Kan buktinya lo masih pacaran sama Alex..” ucap Rey datar.
“Gue udah putusin dia. Tapi dia ajah yang ga terima..” jawab Emily.
“Terus lo masih lengket..” ucap Rey sinis.
“Enak ajah. Ngga yh, gue udah jaga jarak..” jawab Emily cepat.
“Hmm..” Rey menjawab singkat.
“Ayo cabut keburu malam..” ucap Rey.
Seperti biasa mereka membawa motor masing-masing. Emily untuk menonton dan tampil di sirkuit, sedangkan Rey bersiap untuk balapan bersama Marcel.
“Ily, ke pom dulu..” ucap Rey santai.
“Oke, Rey.” jawab Emily singkat.
Saat sedang antre untuk isi pom, Emily yang sudah ikut di belakang Rey tiba-tiba berseru.
“Rey..” panggil Emily lirih.
“Iya.” sahut Rey datar.
“Dompet gue ketinggalan.” ucap Emily kesal.panik.
“Santai..” ucap Rey tenang. “Mba full tank, langsung sama motor cewe gue..”
Entahlah, mendengar Rey mengakui Emily sebagai ceweknya, kenapa Emily tiba-tiba merasakan hal yang aneh. Seperti sedikit salting, atau merasa diakui. Padahal dengan Alex, kelihatan banget Alex yang bucin. Tapi kenapa kalau sama Rey rasanya beda..
Seperti biasa, mereka pasti akan balap-balapan di jalan sampai ke sirkuit. Tapi bukan karena ada yang kalah, melainkan Rey sedang mengirit energi dan juga sengaja mengalah kepada Emily. Biarkan dia senang karena kemenangannya..
Sampai di sirkuit, semua orang sudah menunggu kedatangan mereka. Banyak yang langsung salfok ketika Emily datang. Tak lama, Rey pun menyusul.
“Woyy boss, akhirnya lo datang juga. Mereka udah ngejek, katanya lo pecundang gak datang.” ucap Gio menjelaskan
“Gue nggak sepengecut itu.. apalagi buat ngalahin seekor Marcel. Hhahaha..” timpal Rey sinis.
Lampu-lampu neon yang dipasang sepanjang sirkuit malam itu berkelip, asap knalpot bercampur dengan bau bensin memenuhi udara. Dentuman musik dari sound system di pinggir arena membuat suasana makin panas. Di satu sisi, geng Black Lion Riders (BLR) sudah berkumpul, sorak-sorai mereka menyalak tiap kali nama Rey disebut. Di sisi lain, geng Winner King (WK) berdiri tak mau kalah, membawa spanduk kecil dan teriakan keras untuk menyemangati Marcel.
Emily turun dari motornya, melepas helm, dan berdiri agak ke belakang bersama beberapa teman perempuannya. Walau malam ini dia hanya datang sebagai penonton, semua mata tetap memperhatikannya. Semua orang tahu Emily bukan sekadar cewek biasa—dia juga pembalap, salah satu yang berani menantang cowok-cowok di lintasan.
“Eh, Queen ikut nonton juga rupanya,” goda salah satu anggota BLR.
Emily hanya melirik dingin. “Gue datang bukan buat lo, gue mau liat siapa yang beneran jago di sini.”
Di garis start, Rey sudah duduk di atas motornya. Helm full face hitam dengan strip emas menyamarkan ekspresinya, tapi sorot matanya jelas penuh determinasi. Marcel, di motor sport merah miliknya, juga sudah siap. Tatapan mereka beradu sesaat, seperti dua singa yang siap bertarung di padang pasir.
“Balapan kali ini bakal jadi pembuktian,” teriak salah satu anggota WK.
“BLR nggak pernah kalah di lintasan!” balas Bara, tangan terangkat penuh percaya diri.
Emily menghela napas, matanya bergeser dari Rey ke Marcel. “Jangan sampai lo kalah, Rey…” gumamnya lirih, meski ia tahu Rey tak mungkin dengar.
Bendera start sudah di tangan panitia. Mesin motor meraung-raung, throttle dipelintir keras, knalpot memuntahkan suara yang mengguncang dada penonton. Suara sorakan makin menggila. Semua orang menahan napas, menunggu detik ketika bendera itu diangkat.
“Siap-siap…” teriak panitia.
Rey menunduk, tubuhnya merapat ke motor, jari-jari menekan kopling dengan stabil. Marcel menoleh sekilas ke arah Emily, lalu menyeringai di balik helmnya. Rey menangkap gerakan itu, rahangnya mengeras—seolah tantangan Marcel bukan cuma soal geng, tapi juga soal harga diri di depan seorang Emily.
Karna mereka berdua bukan hanya balapan pria .tapi dua duanya pernah di kalah kan oleh ketua Sport quen ,Emily
Bendera melambai—
BRUUMMM!!!
Dua motor melesat bersamaan, ban belakang meninggalkan jejak asap di aspal. Balapan dimulai.
Dua motor itu langsung memimpin di tikungan pertama. Rey dengan motor hitam emasnya menyalip dari sisi dalam, sedangkan Marcel menutup jalur agresif dari luar. Ban mereka hampir bersentuhan, suara gesekan karet dengan aspal menimbulkan percikan api kecil. Penonton berteriak histeris.
“Gila! Baru tikungan pertama udah senggol-senggolan!” teriak Gio.
“Tenang, bos kita jago!” Bara mengepalkan tinju ke udara.
Emily memegang erat pagar pembatas, jantungnya berdegup keras. Dia tahu betul betapa berbahayanya tikungan tajam di sirkuit itu. Sekali salah perhitungan, motor bisa terpelanting, dan taruhannya nyawa.