NovelToon NovelToon
Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Kau Menolakku, CEO Itu Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: masadepan_

Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.

Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.

Awalnya hanya kontrak.

Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan yang kembali hadir

Pertemuan itu seharusnya hanya berlangsung beberapa jam. Namun, entah kenapa, percakapan bersama Sarah dan Nathaniel terus terlintas di pikiran Aurelia.

Mobil melaju membelah jalanan kota yang mulai dipadati kendaraan. Aurelia duduk diam di kursi belakang, memandangi gedung-gedung tinggi yang bergerak perlahan di balik kaca jendela.

Tangannya bertumpu di atas tas, sementara pikirannya masih tertinggal di cafe tadi.

Aurelia menghela napas panjang. Ia bahkan masih memiliki kekasih. Bagaimana mungkin dirinya mempertimbangkan pria lain? Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya.

Benarkah ia ingin terus menunggu Adriant?

Tyana melirik pantulan wajah Aurelia di kaca kecil yang menggantung di tengah, "kita akan pergi kemana, nona?" Jemarinya terus bergerak menepuk pahanya yang berjejer rapih pada kursi mobil.

Aurelia teralihkan pada Tyana. Wanita itu terdiam sebentar lalu mengeluarkan suara.

"Ke kantor." Ucapnya pelan seraya menyenderkan punggungnya di kursi. Sesaat setelah ia terdiam, bunyi ponsel terdengar, Aurelia merasakan getaran itu di dalam tas miliknya. Tangannya bergerak mengambil ponsel dan melihat nama di layar.

Papa.

Aurelia langsung mengangkat panggilan itu tanpa berpikir panjang, ia menempelkan benda pipih itu di telinga dan mendengarkan suara dari seberang sana.

"Temui Papa sekarang, kalau memang tidak ada pekerjaan penting."

"Tapi sepertinya tidak ada... Papa sudah menelpon resepsionis, dia berkata kamu belum masuk kantor."

Jemari Aurelia mulai meremas ponselnya erat.

"Iya, pa."

"Aku akan pulang dan menemui Papa."

Sambungan terputus secara sepihak. Aurelia memasukkan kembali ponselnya kedalam tas.

Tyana mendengarkan percakapan itu secara sengaja, karena memang terdengar jelas di telinganya.

"Kita akan pulang, nona?" Tyana lebih dulu bertanya, karena sudah tahu apa yang akan Aurelia sampaikan.

Aurelia tersenyum tipis.

"Iya, Tyana." Sesaat setelah itu, Aurelia mengalihkan pandangannya ke luar kaca mobil. Namun, ia mulai merasakan kepalanya yang semakin terasa berat. Di cafe tadi, ia memang sudah merasakan pusing, tapi tidak separah sekarang.

Ia mengalihkan pandangannya kembali ke depan dan mencari posisi ternyaman untuk tubuhnya. Ia sandarkan kepalanya dengan perlahan lalu memejamkan mata sejenak sebelum sampai ke rumah.

Aurelia tidak benar-benar tertidur, ia hanya sedang menetralkan rasa pusing di kepalanya yang mulai terasa.

Setelah beberapa menit berlalu, ia mulai merasakan mobil yang perlahan berhenti.

"Sudah sampai, nona."

Aurelia mulai mendengar pintu mobil yang terbuka lalu ia mulai membuka mata dengan perlahan. Mansion itu dapat ia lihat di balik kaca mobil. Detik berikutnya, pintu terbuka, Aurelia mengambil tas dan turun dari mobil secara perlahan.

Aurelia mulai berjalan dengan langkah tenang. Penjaga membungkukkan tubuh setelah melihat kedatangan Aurelia, lalu mulai bergerak membukakan pintu utama.

Begitu kakinya sampai di ruangan, bau alkohol menyeruak indera penciuman Aurelia. Ia menutup hidungnya dengan telapak tangan, sudah beberapa tahun yang lalu bau ini tidak pernah ada, tapi hari ini kembali Aurelia hirup.

Ia berhenti di pertengahan ruang tamu. Matanya menangkap beberapa botol wine yang berjajar. Lebih dari tiga gelas sudah terisi minuman itu. Ia yakin, Giovani akan mengundang teman-temannya untuk datang.

Perlahan, kedua tangan Aurelia membentuk sebuah kepalan hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras seketika, ia kembali merasakan sesak di dadanya kala beberapa ingatan itu kembali muncul.

Suara ketukan sepatu mengalihkan pandangan Aurelia. Ia melihat Giovani yang mulai berjalan ke arahnya dengan sebotol minuman di tangan.

"Kau mau duduk atau terus berdiri?" Giovani masih melangkahkan kakinya menuju sofa, lalu mendudukkannya dirinya dengan kaki yang saling bersilang.

Tangan Aurelia bergetar. "Papa tahu aku nggak pernah suka ini." ia berucap dengan menekan setiap kalimat yang keluar.

Giovanni hanya tertawa, pria itu mulai meletakkan botol minumannya di meja dengan hentakan keras yang menimbulkan suara hingga menggema dalam ruangan.

"Saya tidak pernah meminta kamu untuk menyukai apa yang saya lakukan." Suara itu terdengar berat.

"Duduk."

Satu perintah yang ingin sekali Aurelia bantah. Tapi ia tetap mengikuti instruksi Giovani, kakinya melangkah perlahan dan duduk di atas sofa. Ia mengatupkan giginya erat, ingin sekali rasanya membuang botol-botol itu sekarang juga.

"Kamu akan bertemu pria itu besok malam." Ucap Giovani membuka pembicaraan tanpa basa-basi.

Aurelia menatap Giovani seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Aku..." Suaranya tercekat. Aurelia berada dalam bayang-bayang satu kejadian yang begitu menyesakkan hatinya.

"Aku nggak bisa, pa. Beri aku waktu untuk membujuk Adriant."

Giovani menunjukkan senyuman smirk.

"Apa kurang cukup waktu yang saya berikan selama ini?"

Bibir Aurelia bergetar, ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk membujuk Giovani. Baginya, semua terasa lebih berat kali ini. Tangannya perlahan mulai mencengkram sofa dengan erat.

"Aku akan bertemu dengan Adriant sekarang."

"Kalau dia tidak memberi kepastian juga..." Aurelia menahan kalimatnya, ia sulit mengatakan kalimat yang tidak ingin ia katakan.

"Aku akan menuruti kemauan Papa." Pandangan Aurelia jatuh pada lantai yang menunjukkan pantulan dirinya dengan samar. Ia kemudian menelan salivanya susah payah.

Giovani terlihat tersenyum penuh kemenangan.

"Bagus."

"Sekarang kamu boleh pergi." Hanya pembahasan singkat namun begitu memberikan pengaruh besar untuk kehidupan Aurelia.

Aurelia memandang Giovani lagi, tubuhnya terdiam sesaat. Ingin sekali rasanya menanyakan apa yang selama ini ia pendam sendiri. Tapi lagi-lagi ia mengurungkan niatnya, ia hanya tersenyum getir dan beranjak dari sana.

Aurelia membalikkan badannya dan beralih menatap Tyana yang berdiri di belakangnya sedari tadi. Langkahnya mendekat ke arah Tyana, tangannya terangkat dan berhenti di pundak Tyana.

"Kamu urus beberapa proposal di kantor Tya." Ucapnya dengan senyum tipis.

Tyana mengangguk patuh sebagai jawaban.

"Aku akan pergi sendiri menemui Adriant." Aurelia melangkah melewati Tyana, ia mulai berjalan meninggalkan mansion dengan langkah cepat.

Wanita itu akan mengendarai mobil sendiri tanpa Leon. Ia sudah masuk ke dalam mobil setelah Leon memberikan kuncinya. Tanpa menunggu lama, ia mulai melajukannya dengan kecepatan tinggi.

Di pertengahan jalan. Bayang-bayang kejadian itu terlintas lagi di kepalanya. Suara teriakan mulai memenuhi telinganya yang tiba-tiba saja berdengung.

"Kamu selingkuh."

Bau alkohol itu begitu menyengat.

Suara teriakan yang beradu, menggema dalam ruangan.

Aurelia mencengkeram setir begitu erat. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali.

"Nggak Aurel. Sadar. Kejadian itu sudah berlalu."

Ia berusaha menenangkan pikiran dan mulai mengusir ingatan-ingatan itu jauh. Perlahan, ia mulai menenangkan pikirannya.

Mobilnya meleset cepat membelah jalanan. Jarak mansion dan apartemen Adriant dekat, sehingga dalam waktu beberapa menit, Aurelia sudah menghentikan mobilnya.

Ia bergegas turun dari mobil dan mulai melangkahkan kakinya cepat. Ia mengabaikan kepalanya yang berdenyut sakit. Kakinya mulai melewati resepsionis bahkan tak menghiraukan sapaan mereka. Ia buru-buru naik ke dalam lift, beberapa menit kemudian, pintu terbuka setelah sampai di lantai dua puluh lima.

Aurelia benar-benar merasa tidak tenang. kakinya melangkah melewati setiap lorong hingga menemukan kamar Adriant.

Ia memiliki akses kartu cadangan, sehingga langsung menempelkan kartu itu dan membukanya. Langkah Aurelia berhenti setelah menutup pintu kembali. Ia melihat pemandangan yang lebih buruk daripada rasa sakit yang ia rasakan tadi.

Adriant sedang melakukan hubungan badan dengan seorang wanita di atas sofa dalam keadaan telanjang bulat.

Tubuh Aurelia membeku, kedua kakinya terasa lemas hingga tak terasa luruh di lantai, ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.

Brak!

Ia jatuh lunglai. Sesaat setelah mendengar suara, Adriant dan wanita itu menoleh pada Aurelia. Ekspresi mereka menunjukkan keterkejutan.

Adriant langsung bergegas turun dari tubuh wanita itu dan buru-buru mengenakkan celananya dengan cepat, ia juga memungut dan memakai kemejanya yang tergeletak di lantai. lalu melemparkan selimut di tubuh wanita itu.

"Cepat pergi, sekarang." Wanita itu terlihat takut dan membungkus tubuhnya, lalu bergerak mengambil pakaiannya yang berserakan, ia langsung pergi ke kamar untuk mengenakkan pakainya.

"Sayang."

Adriant menghampiri Aurelia dengan kemeja yang belum ia kancingkan.

Plak

1
Lalapouu
dmi apaa makin seru
Lalapouu
siapa?
Lalapouu
betull ituuu
Muhtarom Ardianto
semangat
Muhtarom Ardianto
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!