NovelToon NovelToon
SENOPATI TERAKHIR

SENOPATI TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perperangan / Action
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Raden Jayengrana, seorang Senopati kepercayaan Kerajaan Mataram, dikhianati dan dibantai secara keji oleh sahabat karibnya sendiri, Wiradipa, demi sebuah intrik kekuasaan Dewan Perang. Namun, kematian bukannya menjadi akhir. Jayengrana bangkit kembali dari liang kubur setelah menyepakati sebuah kontrak darah kelam dengan entitas mistis misterius yang dijuluki (Senopati Terakhir).
​Terbangun dalam raga yang tak lagi sepenuhnya manusia dan ditandai oleh ukiran melingkar di dadanya, Jayengrana ditemani oleh Ki Jagabaya—mantan gurunya. Ia mempelajari kenyataan pahit bahwa kebangkitannya menuntut harga mahal: jiwanya perlahan terikat, kekuatannya meminjam milik entitas gaib, dan keadaannya memancarkan gelombang yang mulai menarik perhatian makhluk-makhluk misterius serta pusaka tuanya yang enggan mati.
​Di saat namanya dihancurkan oleh istana—dituduh sebagai pengkhianat negara dengan ganjaran kepala lima puluh keping perak—Jayengrana memulai perjalanannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33

Di dalam ruang tengah rumah Tumenggung, udara terasa lebih tenang daripada di luar. Dinding kayu gelap, tikar lama yang masih terawat, dan sebilah keris tua tersimpan di rak tinggi. Tidak ada prajurit yang ikut masuk. Pintu ditutup.

Tumenggung itu—yang dulu pernah bertarung bahu-membahu dengan Jayengrana di beberapa medan—duduk bersila di seberang. Ia menuang air ke dalam dua gelas tembaga, lalu mendorong salah satunya ke depan.

“Minum. Kau terlihat seperti orang yang sudah terlalu lama tidak duduk dengan tenang.”

Jayengrana menerima gelas itu, tetapi tidak langsung minum. “Aku tidak punya banyak waktu.”

“Aku sudah menebaknya.” Tumenggung menatap wajah aslinya yang kini terbuka. “Mereka mengumumkan kematianmu dengan sangat rapi. Ada saksi. Ada laporan. Bahkan ada upacara kecil di markas untuk ‘menghormati’ Senopati yang gugur. Aku datang ke upacara itu. Aku berdiri di antara orang-orang yang pura-pura berduka.” Ia tersenyum tipis, pahit. “Dan sekarang kau duduk di rumahku.”

“Aku tidak mati,” jawab Jayengrana singkat. “Tapi aku juga tidak sepenuhnya hidup seperti dulu.”

Tumenggung mengamatinya lebih lama. Matanya turun ke dada Jayengrana, seolah bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di balik kain. “Kau membawa bau yang aneh. Bukan bau darah biasa. Bukan bau pusaka. Bau… yang lebih tua.”

Jayengrana tidak menjelaskan. Ia hanya berkata, “Istriku akan aman di sini?”

“Aman.” Jawaban itu tegas. “Selama namaku masih dihormati di wilayah ini, tidak ada yang akan berani menyentuhnya. Aku akan bilang dia kerabat jauh yang datang mengungsi. Tidak lebih.” Ia mencondongkan tubuh sedikit. “Tapi aku ingin tahu. Apa yang sebenarnya terjadi di Hutan Kematian? Dan mengapa kau sekarang berjalan dengan anak kecil serta pengemis tua yang matanya terlalu tajam untuk orang biasa?”

Jayengrana menatapnya lurus. “Ada konspirasi di dalam Dewan Perang. Wiradipa adalah salah satunya, tetapi bukan yang tertinggi. Mereka membunuhku, mencoreng namaku, menahan istriku, dan… kemungkinan besar menyembunyikan anakku.” Ia berhenti sejenak. “Aku akan mengambil anakku kembali. Setelah itu, aku akan menyelesaikan sisanya.”

Tumenggung terdiam cukup lama. Kemudian ia menghela napas. “Kau masih sama. Langsung ke inti. Tidak suka berputar-putar.” Ia mengangguk pelan. “Baik. Istrimu tinggal di sini. Aku akan menjaganya seperti menjaga nyawaku sendiri. Tapi kau… berhati-hatilah. Kabar tentang seseorang yang mirip denganmu sudah mulai beredar lagi di jalur-jalur pedagang. Mereka belum menyebut namamu secara terbuka, tetapi cirinya semakin jelas.”

Jayengrana berdiri. “Itu cukup.”

Ia berjalan ke ruang samping di mana istrinya menunggu bersama Jaka. Pengemis Tua berdiri di dekat jendela, seolah tidak ingin terlalu masuk ke dalam pembicaraan.

Istri Jayengrana langsung menatapnya. “Kau pergi sekarang?”

“Ya.” Jayengrana meraih kedua tangan istrinya. “Tinggal di sini. Jangan keluar kecuali perlu. Jangan percaya siapa pun yang datang membawa kabar tentang aku, kecuali dia membawa tanda yang hanya kita tahu.”

Istrinya menelan ludah. “Dan jika kau tidak kembali?”

“Aku akan kembali.” Suaranya rendah, tetapi tidak goyah. “Aku sudah mati sekali. Aku tidak berniat mati lagi sebelum melihat anak kita aman.”

Mereka saling menatap cukup lama. Tidak ada ciuman panjang. Tidak ada air mata yang jatuh. Hanya genggaman tangan yang erat, lalu dilepaskan.

Jayengrana berlutut sejenak di depan Jaka. “Kau ikut denganku. Tetap dekat. Jika aku bilang bersembunyi, bersembunyilah.”

Jaka mengangguk. “Aku tahu.”

Pengemis Tua sudah menunggu di ambang pintu. “Kita harus keluar sebelum matahari terlalu condong. Semakin lama kau menunjukkan wajah aslimu di satu tempat, semakin cepat jejak itu mengeras.”

Jayengrana mengaktifkan kembali Topeng Jiwa. Wajahnya berubah dalam persepsi orang lain—kembali menjadi Saka yang tidak mencolok. Ia menatap sahabatnya sekali lagi.

“Jika ada yang datang mencari istriku dengan membawa nama Wiradipa atau Dewan Perang… jangan serahkan. Kirim kabar lewat jalur lama yang hanya kita tahu.”

Tumenggung mengangguk. “Pergilah. Dan jangan mati sebelum kau menyelesaikan apa yang harus kau selesaikan.”

Jayengrana tidak menjawab. Ia hanya memberi anggukan singkat, lalu keluar bersama Jaka dan Pengemis Tua.

Di belakang mereka, pintu pagar ditutup. Suara gerbang bambu yang dikunci terdengar jelas di siang yang mulai panas.

Mereka berjalan menjauh dari kompleks itu, kembali ke jalur yang mengarah ke selatan. Kali ini hanya bertiga.

Di dadanya, tanda perjanjian berdenyut pelan. Bukan karena bahaya langsung, melainkan karena keputusan yang baru saja diambil: melepaskan sementara orang yang paling ia lindungi, demi mengejar orang yang masih hilang.

Penunggang akhirnya berbisik, suaranya hampir seperti angin di antara daun.

*“Kau semakin tahu cara menahan. Dan semakin tahu cara melepaskan. Keduanya… dicatat.”*

Jayengrana tidak membalas.

Ia hanya menatap ke depan, ke arah yang jauh di mana ibu kota dan Gedung Utara menunggu, sementara api kecil yang kini semakin mudah ia panggil di ujung jari tetap ia tahan agar tidak menyala.

Mereka meninggalkan wilayah kekuasaan Tumenggung sebelum bayangan pohon benar-benar memanjang ke timur. Jalan yang mereka pilih kali ini lebih lebar dari jalur setapak sebelumnya—bekas jalur gerobak yang jarang dipakai, cukup untuk dilalui kuda, tetapi cukup sepi untuk menghindari keramaian.

Jayengrana berjalan di depan. Topeng Jiwa aktif, wajahnya kembali menjadi Saka yang tidak menarik perhatian. Di belakangnya, Jaka menyusul dengan langkah yang hampir tidak bersuara. Pengemis Tua menutup barisan, sesekali menoleh ke belakang seolah memastikan tidak ada yang mengikuti dari jarak pandang biasa.

Tidak ada yang berbicara untuk waktu yang cukup lama. Hanya bunyi angin di antara pepohonan jati dan suara jauh seekor burung elang.

Menjelang sore, mereka berhenti di sebuah sumber air kecil yang keluar dari celah batu. Jayengrana berjongkok, membasuh wajah dan leher. Airnya dingin. Ketika ia mengangkat tangan kanan untuk mengusap air yang menetes, api hitam-kemerahan yang sangat kecil muncul lagi di ujung jari telunjuknya. Kali ini ia tidak langsung memadamkannya. Ia biarkan api itu menyala beberapa detak jantung, mengamati warnanya, merasakan getarannya di bawah kulit.

Jaka memperhatikan dari samping. “Api itu… semakin menurutimu.”

Jayengrana menutup kepalan, memadamkannya. “Belum. Ia hanya muncul ketika aku memikirkannya terlalu lama.”

Pengemis Tua yang duduk di batu seberang berkata pelan, “Semakin sering muncul, semakin mudah jejaknya terbaca oleh yang tahu cara membaca. Kau sudah menandai diri sendiri setiap kali membiarkannya menyala.”

“Aku tahu.” Jayengrana berdiri. “Tapi aku juga tidak bisa terus pura-pura ia tidak ada.”

Mereka melanjutkan perjalanan hingga langit mulai berubah jingga. Di kejauhan, di balik deretan bukit rendah, mulai terlihat asap-asap tipis dari pemukiman yang lebih besar. Bukan ibu kota, tetapi kota kecamatan yang menjadi salah satu jalur masuk menuju wilayah Kotaraja.

Pengemis Tua menghentikan mereka di balik semak.

“Dari sini, pemeriksaan akan lebih ketat. Pasukan rutin memeriksa gerobak dan orang asing. Cirimu sudah mulai beredar, meski masih samar. Lebih baik kita masuk setelah gelap, atau mencari jalur memutar.”

Jayengrana menatap kota di kejauhan. “Kita butuh informasi lebih akurat tentang Gedung Utara. Tentang bagian bawah yang kau sebutkan. Tentang anak-anak yang ‘disimpan’.”

“Informasi seperti itu tidak dijual di pasar,” jawab Pengemis Tua. “Hanya beredar di antara orang-orang yang sudah terbiasa berjalan di bayangan. Dan orang-orang itu… biasanya meminta bayaran yang bukan uang.”

Jaka tiba-tiba mengangkat kepala. Matanya menatap ke arah yang sedikit berbeda dari kota, ke hutan di sisi barat jalur.

“Ada seseorang di sana,” bisiknya. “Tidak bergerak. Tapi melihat ke arah kita sejak tadi.”

Jayengrana langsung mengaktifkan pecahan Mata Pemburu. Dunia menjadi lebih tajam. Di antara pohon-pohon di sisi barat, ia menangkap siluet yang hampir menyatu dengan bayangan. Bukan prajurit berseragam. Bukan pula pria bertopeng. Seseorang yang duduk bersila di dahan rendah, tubuhnya tertutup kain gelap, wajahnya tidak terlihat jelas.

Naluri Niat menangkap sesuatu yang aneh: bukan permusuhan yang panas, melainkan rasa ingin tahu yang sangat dalam, bercampur dengan kehati-hatian.

Pengemis Tua sudah menarik tudungnya. “Jangan dekati dulu. Biarkan dia yang bergerak.”

Beberapa saat berlalu. Kemudian siluet itu turun dari dahan dengan gerakan yang sangat ringan, hampir tidak menimbulkan bunyi. Ia tidak mendekat. Hanya berdiri di tepi jalur, masih dalam jarak yang aman, lalu mengangkat satu tangan dengan telapak terbuka—isyarat damai yang biasa dipakai di kalangan orang-orang jalanan.

Suara yang keluar dari balik kain penutup wajahnya pelan, tetapi jelas.

“Kalian membawa bau api legam dan bau perjanjian lama. Aku tidak datang untuk menangkap. Aku datang karena ada orang yang ingin bertemu dengan Senopati yang seharusnya sudah mati.”

Jayengrana tidak menghunus tombak, tetapi genggamannya sudah berubah. “Siapa yang mengirimmu?”

Orang itu sedikit menunduk. “Seseorang yang dulu pernah berdiri di sisi yang sama denganmu. Bukan Tumenggung yang baru kau tinggalkan. Seseorang yang lebih dekat dengan dinding-dinding Kotaraja. Ia bilang… jika kau benar-benar masih hidup, kau akan membutuhkan jalur masuk yang tidak melewati gerbang utama.”

Pengemis Tua bergumam pelan, hampir tidak terdengar. “Ada terlalu banyak orang yang tiba-tiba ingin membantu.”

Jayengrana menatap orang berkaos gelap itu cukup lama. Kemudian ia berkata,

“Sebutkan nama orang yang mengirimmu. Jika namanya tidak kukenal, kita selesai berbicara.”

Orang itu terdiam sejenak. Lalu, dengan suara yang lebih rendah, ia mengucapkan sebuah nama.

Nama yang membuat rahang Jayengrana sedikit mengeras.

Nama seseorang yang dulu pernah menjadi anak buahnya. Seseorang yang seharusnya sudah lama menghilang dari struktur kekuasaan setelah pengkhianatan Wiradipa.

Di dadanya, tanda perjanjian berdenyut sekali.

Penunggang berbisik, hampir seperti peringatan.

*“Hati-hati. Tidak semua yang pernah kau percayai masih berdiri di tempat yang sama.”*

Jayengrana menarik napas pelan.

“Bicaralah,” katanya akhirnya. “Tapi jika ini jebakan… kau tidak akan sempat kembali kepada orang yang mengirimmu.”

1
Semoli Ginon
sedikit demi sedikit lama2 jadi bukit mantapp👍
Semoli Ginon
lanjut thor ...
Semoli Ginon
jut lanjut thor
Semoli Ginon
skill yang mantap mas saka..👍
Semoli Ginon
lanjut thor jangan kendor👍
Semoli Ginon
apakah ini ghostrider versi mataram? 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!