NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: KLUB YANG BERUBAH DRASTIS.

Hari yang baru telah tiba.

​Pagi ini, Raka harus kembali bersiap berangkat ke sekolah setelah serangkaian kejadian kemarin yang sukses menguras tenaga dan pikirannya. Begitu suara alarm ponsel memecah keheningan kamar, Raka mengerang pelan, lalu memaksakan tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur.

​Ia melangkah gontai menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi dan mengenakan seragam, Raka menyempatkan diri menyantap sarapan di meja makan. Begitu suapan terakhirnya tandas, ia meminum air, melesat menuju garasi, lalu melaju membelah jalanan pagi menuju sekolah.

​Sesampainya di parkiran, Raka mematikan mesin motornya. Ia berjalan menyusuri koridor menuju kelas dengan langkah berat dan wajah lesu.

​"Haaa... masih teringat kejadian kemarin," gumam Raka pelan pada dirinya sendiri. "Tapi untung saja semalam gue bisa tidur lumayan nyenyak. Kalau enggak, bisa-bisa kena omel lagi."

​Dari arah belakang, Dimas yang baru saja tiba menangkap sosok sahabatnya itu. Mengabaikan langkah santai, Dimas berlari kecil menghampiri dan langsung melingkarkan lengannya di leher Raka dengan santai.

​"Wah, lesu amat mukanya, Rak! Ada masalah, nih?" ledek Dimas sambil terkekeh.

​Raka menepuk tangan Dimas agar melepaskan rangkulannya. "Gak apa-apa."

​Dimas memiringkan kepalanya, menatap Raka curiga. "Hmm... oke deh. Tapi kalau ada masalah ceritain aja kali."

​"Ah, palingan nanti lu jadiin bahan bercandaan," balas Raka malas.

​"Yaa... enggak juga lah! Lu pikir gue masih bocil apa?" omel Dimas tak terima.

​Raka meliriknya datar. "Iya."

​"Sialan, apalah!" Dimas mendengkus, lalu menepuk bahu Raka keras-keras. "Yaudah lah, skip aja. Btw, Rak, lu penasaran gak sih sama klub kita yang katanya udah berubah?"

​Raka mengetuk-ngetukan jarinya di dagu. "Hmm... iya sih, gue jujur penasaran. Nanti kita lihat bareng pas jam istirahat."

​"Sip, okay!"

​Tepat saat mereka melangkah memasuki ruang kelas, pengumuman dari speaker sekolah terdengar. Seluruh siswa-siswi diinstruksikan untuk segera turun ke lapangan guna melaksanakan upacara bendera. Satu per satu murid mulai berhamburan keluar dari kelas.

​Sesampainya di lapangan, jalannya upacara berlangsung sangat khidmat. Pengibaran bendera dan pembacaan teks berjalan tenang tanpa kendala, membuat Raka dan Dimas justru saling pandang dengan wajah kaget—benar-benar gak terbiasa melihat suasana sekolah yang sekondusif ini.

​Selesai upacara, para murid kembali ke kelas masing-masing. Tepat ketika Alya dan Aira melangkah masuk dan duduk di kursi mereka, bel jam pertama pun berbunyi nyaring.

​Pelajaran pertama hari ini adalah Bahasa Inggris. Sang guru meminta seluruh siswa-siswi untuk membuat beberapa kalimat latihan. Tanpa terasa, jam pertama pun usai dan disambung oleh bel pelajaran kedua: PJOK.

​Seluruh murid berbaris di lapangan luar untuk melakukan pemanasan sebelum materi dasar dribbling bola basket dimulai. Suasana kelas yang riuh dan menguras fisik itu akhirnya terbayar tuntas ketika bel istirahat berbunyi nyaring ke seluruh penjuru sekolah.

​Tanpa membuang waktu sedetik pun, Raka dan Dimas langsung merapikan buku serta alat tulis mereka di meja. Mereka melesat cepat melewati pintu keluar kelas, berniat langsung menuju markas klub untuk melihat wujud baru ruangan mereka yang sekarang!

Langkah kaki Raka dan Dimas terhenti tepat di ambang pintu markas klub.

​Seketika, kedua mata mereka terbelalak. Ruangan yang dulunya terkesan kumuh dan berantakan itu kini tampak rapi tiada tara. Rak-rak kayu baru berdiri kukuh di sudut ruangan, tersusun rapi oleh buku-buku panduan desain, komik referensi, hingga artbook. Warna cat dindingnya pun tampak menyegarkan.

​Namun, bukan itu yang membuat napas Dimas tersengal kaget. Melainkan sebuah kotak putih mengilap yang bertengger gagah di atas meja utama.

​"Wah... keren banget ya, Rak, klub kita sekarang," gumam Dimas terpukau.

​Raka cuma bisa mengangguk polos. "Iya..."

​Dimas melangkah masuk lebih dalam, mengedarkan pandangannya ke setiap sudut. Tepat saat matanya menangkap objek di atas meja secara lebih jelas, antusiasmenya langsung meledak.

​"Lihat, Rak! Ada PS5! Siapa anjir yang beli?!" seru Dimas heboh sambil menunjuk-nunjuk barang tersebut.

​Raka memutar bola matanya malas. "Apalah... mana ada PS5 di markas sekolah."

​"Lihat ke depan makanya, Monyet!"

​Raka menolehkan pandangannya ke arah meja. Seketika matanya membelalak lebar. "Lah... iya!"

​Dimas dan Raka saling berpandangan. Detik berikutnya, ulasan senyum jahil dan bersekongkol terpancar dari wajah mereka berdua.

​"Wah... lu tahu kan, Mas, pikiran gue sekarang?" kekeh Raka.

​"Gue juga sepemikiran sama lu, Rak! Hehe..." Dimas menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

​"Ayo main!"

​"LET'S GOOO!" sahut Dimas dengan nada semangat yang berkobar-kobar!

​Tanpa membuang waktu, Raka dan Dimas melesat menghampiri konsol tersebut. Dengan gerakan sigap, mereka langsung menyambungkan kabel-kabelnya ke TV layar datar baru yang terpasang rapi di dekatnya.

​"Wah, enaknya main apa nih, Rak?" tanya Dimas sambil menatap deretan kaset game di samping TV.

​"Hmm... iya ya, banyak banget pilihan game-nya," jawab Raka sambil memilah-milah casing game.

​"Gimana kalau main game bola, Rak?" usul Dimas.

​Raka menggeleng cepat. "Bosan main itu mah."

​"Terus main apa dong?"

​"Game balap aja yuk! Siapa yang kalah, nanti traktir makan!" tantang Raka.

​Dimas menyeringai lebar. "Ayo! Siapa takut?!"

​Sementara dua bujang itu asyik meracik keseruan di dalam ruangan, sosok Alya yang sedari tadi diam-diam menguntit di belakang kini berdiri di depan pintu. Ia mengintip lewat celah pintu sambil menahan tawa melihat reaksi norak Raka dan Dimas.

​"Hehe... kayaknya mereka suka banget sama PS5 dan TV baru yang barusan kubeli," gumam Alya dalam hati, merasa puas penawarannya sukses besar.

​"DORR!"

​Alya tersentak kaget, melompat kecil sambil menepuk dadanya. "Duh! Apa sih, Aira?! Ngagetin aja!"

​Aira yang berdiri di belakangnya cuma menatap heran sambil memiringkan kepala. "Wah, ada apa nih? Gue ketinggalan berita kayaknya. Habisnya gue tadi ke toilet dulu sih..."

​"Gak ada apa-apa," potong Alya cepat, mencoba bersikap biasa saja. "Mending masuk aja."

​"Okay~"

​Mereka berdua melepas sepatu di depan pintu lalu melangkahkan kaki memasuki markas klub yang kini sudah berubah drastis tersebut.

​Aira seketika terpukau begitu matanya menelusuri setiap sudut ruangan yang sudah dicat ulang dengan perabotan-perabotan baru yang tertata manis.

​"Wah... ini mah kayak habis direncanakan renovasi total, anjay!" seru Aira takjub.

​"Dikit lagi nih gue ngejar Lu, Rak!" seru Dimas fokus menatap layar TV, jarinya menekan tombol controller dengan gila-gilaan.

​Raka tertawa mengejek. "Tunggu aja, gue mau pakai NOS biar Lu makin ketinggalan jauh di belakang!"

​"Siapa takut!"

​Mendengar suara keriuhan mesin mobil balap dan teriakan dua bujang tersebut, Aira melangkah menghampiri sumber suara di sudut ruangan. Begitu menyadari siapa yang sedang keasyikan, Aira langsung nimbrung.

​"Wah, main game gak ngajak-ngajak nih!" cerocos Aira santai.

​Dimas yang fokusnya terganggu mendesis kesal tanpa menoleh. "Siapa sih? Ganggu aja!"

​Namun, saat Dimas sekilas menoleh ke belakang, matanya mendadak membelalak. Di sana, Alya berdiri anggun bersama Aira, menatap mereka berdua dengan tatapan datar yang sulit diartikan.

​Seketika, mobil sport milik Dimas di layar TV menabrak pembatas jalan dan berhenti total. Posisi balapannya tertinggal jauh, tapi Dimas tak peduli lagi soal taruhan traktir makan. Yang jadi prioritas utamanya sekarang adalah keselamatan nyawanya sendiri!

​Dengan panik, Dimas menepuk-nepuk paha Raka berkali-kali.

​"Rak! Rak! Udah dulu mainnya, Rak!" bisik Dimas panik.

​Raka masih asyik menekan tombol stick. "Lah, kenapa? Terus kenapa mobil Lu bisa ketinggalan jauh gitu? Wah, udah siap mental ya traktir gue makan nanti, hehe!"

​"Aduh, persetan dengan traktiran, Rak! Lihat dulu ke belakang Lu!"

​"Ada apa sih—"

​Raka memutar kepalanya ke belakang. Seketika gerak jarinya membeku. Alya dan Aira sedang berdiri berdampingan, mengawasi tingkah absurd mereka yang keasyikan bermain game sejak pertama kali masuk.

​Raka buru-buru meletakkan controller-nya dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ehh... ada Alya. Maaf ya, kita gak maksud bermalas-malasan begini..."

​Alya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. "Gak apa-apa kok. Toh PS5 sama TV itu emang aku yang beli."

​"SERIUS?!" seru Dimas dengan mata membelalak hampir keluar, benar-benar shock.

​Alya mengangguk santai. "Iya... anggap aja ini tanda permintaan maaf aku soal kejadian kemarin."

​Dimas bernapas lega, mengelus dadanya yang sempat berdegup kencang. "Ohh... gitu? Baguslah kalau bukan mau ngamuk!"

​Raka dan Dimas saling berpandangan, lalu mengembuskan napas lega secara bersamaan. Atmosfer markas klub yang kini terasa mewah dan nyaman membaur dengan gelak tawa tipis di antara mereka berempat. Meski berawal dari tempat kumuh yang nyaris dilupakan, ruangan kecil itu kini resmi menjelma menjadi markas impian—tempat di mana cerita, tawa, dan kekonyolan klub mereka baru saja dimulai.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!