Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily tak mengingat kejadian yang lalu. Akankah keduanya bersatu lagi merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Kediaman Leon Anderson...
Emily membantu suaminya merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia lalu berdiri di samping pria yang terkenal dengan kekejamannya. "Sekarang Tuan adalah pasien saya!"
"Aku tidak masalah menjadi pasienmu, asal aku cepat sembuh dan sehat," kata Leon.
"Baiklah, nanti sore kita mulai latihan berjalan. Jangan pernah membantah atau menolak!" ucap Emily.
"Oke!" Leon pun setuju.
"Saya mau keluar, jika Tuan membutuhkan sesuatu silahkan panggil saya atau pelayan!" kata Emily.
"Memangnya kamu mau ke mana?" tanya Leon.
"Bukankah Tuan yang menyuruh saya agar menjadi wanita-wanita anggun seperti kalangan para bangsawan?" Emily mengingatkan.
"Ya. Aku memang meminta dikirimkan pelatih buat melatih dirimu karena aku tak mau mempunyai istri yang hanya membuatku malu!"
"Tuan tenang saja, saya tidak akan mengecewakan Tuan sebagai suami saya!" Emily berkata penuh keyakinan dengan tersenyum.
Emily keluar kamar menemui seorang wanita yang akan mengajarinya cara menikmati hidangan yang benar dan anggun. Dia juga diajarkan cara berjalan yang baik.
Meskipun ribet dan membosankan Emily tetap menjalaninya demi kelangsungan hidupnya di rumah suaminya.
Makan siang, Emily selesai belajar dan akan dilanjutkan esok hari. Emily mendorong kursi roda suaminya menuju ruang makan. Tak ada obrolan, suasana sangat hening.
Emily kembali ke kamarnya namun tak bersama Leon. Pria itu meninggalkan rumah beberapa menit lalu dengan terburu-buru. Emily melihatnya dari kaca jendela kamarnya.
"Apa sebenarnya bisnis yang dijalaninya? Kenapa Charles selalu membawa pistol kemanapun?" gumamnya.
Dia mengetahuinya karena beberapa kali berpapasan dengan Charles dan melihat pria itu meletakkan senjata apinya dekat pinggang kanannya.
Setelah mobil suaminya dan 2 lainnya menghilang dari pandangannya. Emily mengingat sebuah ruangan bawah tanah. Ia pun penasaran ingin mengetahui tempat itu.
Keluar dari kamar secara pelan-pelan, Emily menoleh ke kanan dan kirinya memastikan tak ada seorang pun yang memergokinya.
Berbekal informasi dari Karin yang menjelaskan seluruh bagian sudut kediaman Leon, dia melangkah menuju ke arah pintu yang menghubungkan istana dengan penjara bawah tanah.
Sekuat tenaganya Emily membuka grendel pintu. Suara gesekan logam membuat lorong ruangan menggema. Emily sejenak menghentikan aksinya. Dia mencobanya lagi secara perlahan.
Beberapa menit kemudian, pintu akhirnya terbuka. Emily pun bernapas lega. Dengan langkah tanpa suara, Emily memasuki tempat itu.
Dia pikir segera menemukan penjara bawah tanah. Ternyata, ia harus membuka pintu lagi. Emily tampak kesal karena rasa penasarannya belum hilang.
"Apa aku harus lanjutkan?" gumamnya.
Emily sejenak berpikir.
Satu menit berikutnya, Emily membatalkan rencananya mencari penjara bawah. Ia melangkah cepat keluar dari ruangan itu dan masuk ke kamarnya.
Di kamar, Emily duduk di sisi ranjang. Ia terus berpikir untuk bebas dari suaminya itu. Namun, lamunannya terhenti ketika mendengar suara ketukan pintu.
Emily bergegas membukanya dan Karin berdiri dihadapannya lalu berkata, "Nona, jangan pernah ulangi lagi. Jika ingin selamat!"
Deg...
Darimana Karin mengetahuinya?
Emily tersadar jika seluruh sudut istana suaminya dilengkapi kamera pengawas.
"Bukan nyawa Nona saja yang menjadi taruhannya. Kami juga!" tambah Karin memberikan peringatan.
"Maaf, Karin!" Emily mengakui telah melakukan kesalahan.
Karin tersenyum dan mengangguk kecil, ia kemudian berlalu.
Emily menutup pintu kamarnya dan menghela napas. Hampir saja dia melakukannya, seandainya terjadi maka orang lain yang menjadi korbannya.
Sejam setelah suaminya pergi, pria itu kembali dan menemui istrinya di kamar.
"Tuan, sudah pulang?" Emily bersikap seperti tak melakukan sesuatu.
"Apa kau ingin aku lebih lama diluar dan kau bebas menemukan sesuatu yang kau mau?" sindir Leon.
Emily tercekat.
"Kau tidak bisa main-main denganku, Emily. Kedua orang tuamu kini berada dalam pengawasanku. Jika kau berani melakukan sesuatu yang tak aku sukai, maka aku tak segan memberikan sebuah pelajaran kecil buat mereka!" Leon berkata dengan nada dingin.
Emily lantas berlutut dihadapan suaminya, ia menundukkan kepalanya dan berucap, "Maafkan saya, Tuan. Saya janji takkan mengulanginya lagi!"
"Ciih, dia memohon ampunan untuk orang lain yang bukan kedua orang tuanya!" batin Leon.
"Tolong, jangan sakiti mereka!" pinta Emily mengangkat wajahnya menatap suaminya.
"Jika kau membuatku marah, maka mereka yang akan menanggungnya!" tegas Leon memberikan peringatan.
"Saya janji, Tuan!" Emily berkata penuh yakin.
-
Sore harinya, Emily mendorong kursi roda suaminya menuju taman belakang. Setibanya, Emily lalu berdiri dihadapan Leon dan membantunya berdiri perlahan.
Sekuat tenaga Emily menopang tubuh Leon agar tak terjatuh. Emily lalu mengalungkan tangan Leon di bahunya dan merangkul pinggangnya. Ia memapah suaminya dengan melangkah pelan.
"Cukup, aku tak mau melanjutkannya!"
Baru beberapa langkah, Leon meminta Emily berhenti.
"Kenapa?"
"Aku bilang tidak mau. Kau masih saja menanyakannya!" kesal Leon menatap istrinya yang merangkulnya.
"Bagaimana Tuan bisa sembuh kalau latihan saja tak mau?" omel Emily.
"Aku rasa aku tak kuat!" Leon mulai menyerah.
"Ternyata, anda lemah juga, ya!" cibir Emily.
"Apa kau bilang? Aku lemah?" Leon terlihat kesal.
"Ya, anda sangat lemah. Lebih baik anda mati saja!"
Ucapan itu meluncur bebas dari mulutnya Emily, ia tak sadar jika kata-katanya mampu menghancurkan dirinya.
Leon mengeraskan rahangnya, ia tak terima dihina dan direndahkan. Ia lalu mendorong tubuh istrinya.
Tangan kiri Emily dengan cepat mencengkeram kuat lengan kanan suaminya biar tak terjatuh. Namun yang terjadi, dia jatuh bukan ke sisi kanannya melainkan jatuh tepat di tubuh Leon yang ambruk ke tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau.
Kedua pasang mata Emily dan Leon sejenak saling bertemu. Degup jantung Emily begitu kencang begitu juga dengan Leon.
Emily segera tersadar dan cepat bangkit. "Maaf!"
Emily lalu membantu Leon duduk dan berdiri. Keduanya hanya terdiam. Tak ada makian dan ocehan dari mulut Leon.
Tanpa suara, Emily kembali memapah Leon melatih kedua kaki pria itu agar kuat berdiri dan berjalan.
Leon sebenarnya masih sanggup berdiri sebentar tanpa penopang. Namun, kakinya terasa lemah dan tak sanggup jika melangkah dan berdiri terlalu lama.
Emily tersenyum senang, Leon tak menyerah. "Sepertinya dalam seminggu Tuan sudah bisa berjalan dengan normal."
"Ya, setelah itu bersiaplah kau menerima hukuman dariku!" bisik Leon.
"Saya sudah membantu Tuan, kenapa saya mendapatkan hukuman?" tanya Emily yang jarak wajah keduanya sangat dekat hanya sekitar 10 centimeter.
"Kau sudah membuatku terjatuh dan menghinaku!" jawab Leon.
"Itu karena kesalahan Tuan yang mau mendorong saya tapi malah Tuan sendiri yang terjatuh," kata Emily tersenyum.
"Jadi, kau juga mengejekku karena aku terjatuh?" Leon menatap istrinya.
Emily menggelengkan kepalanya.
"Kau tetap harus mendapatkan hukuman dariku!" kata Leon tersenyum seringai.
Emily memalingkan wajahnya dan menghela nafas.
Hampir 30 menit berlatih, Emily membawa suaminya kembali ke kamar. Ia membantu pria itu merebahkan tubuhnya di ranjang.
Emily kemudian merenggangkan tubuhnya yang pegal dengan posisi berdiri.
"Apa kau lelah mengajariku?" tanya Leon memperhatikan Emily yang menggerakkan kedua tangannya ke atas kepala dan ke samping.
"Saya dilarang mengeluh, Tuan. Jadi, bagaimana mungkin saya lelah!" jawab Emily tersenyum tipis.