Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).
Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.
Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Kabar mengenai hubungan "pacaran" antara Barra dan Farra menyebar cepat di antara lingkaran sahabat dekat mereka. Alih-alih menyembunyikan perhatian seperti sebelumnya, Barra justru memanfaatkan status barunya untuk makin terang-terangan memanjakan Farra di sekolah.
Di lorong sekolah menuju laboratorium, Barra tanpa ragu membawakan tumpukan buku tebal milik Farra. Saat jam istirahat, Barra sengaja menggeser kursinya ke meja Farra, menyuapkan buah potong yang ia bawa dari rumah, atau sekadar mengusap pelan puncak kepala Farra di hadapan murid-murid lain.
Sikap protektif dan hangat itu memicu reaksi riuh dari kedua sahabatnya.
"Gila, parah banget," celetuk Ben sembari menggeleng-gelengkan kepala di meja kantin. "Barra Saputra si es batu SMK Kesehatan Hewan, sekarang berubah jadi budak cinta tingkat akut. Farraz, coba tolong cek suhu badannya, takutnya kesurupan."
Farraz terkekeh sembari menyesap es tehnya. "Gak mempan, Ben. Orang kalau udah bucin parah kayak gitu mah susah disembuhin. Dosis farmakologi obat penawar bucin aja belum ditemukan sampai sekarang."
Barra hanya merespons ledekan kedua temannya dengan senyum miring santai. Sebelah tangannya di bawah meja tetap menggenggam erat jemari Farra. Pipi Farra merona merah; di satu sisi ia malu setengah mati ditonton teman-temannya, tetapi di sisi lain ada rasa hangat dan bahagia yang membuncah setiap kali Barra menunjukkan rasa cintanya tanpa ragu.
Namun, tidak semua orang menikmati pemandangan manis tersebut.
Di sudut lorong utama, berdiri Vanessa—siswi populer yang dikenal tajir dan sudah bertahun-tahun mengejar perhatian Barra. Vanessa menatap tajam ke arah Farra dengan kedua tangan yang mengepal erat di sisi tubuhnya. Tatapan matanya sarat akan rasa iri, benci, dan tidak terima.
"Sejak kapan cewek udik kayak Farra bisa dekat sama Barra?" bisik Vanessa sinis pada teman di sampingnya. "Barra nggak pernah mau ngelirik cewek mana pun selama tiga tahun ini, apalagi sampai perhatian kayak gitu. Farra pasti pakai cara kotor."
Vanessa menghentakkan kakinya dengan geram. Rasa dengki yang membakar dadanya membuat Vanessa bersumpah tidak akan membiarkan Farra menikmati posisinya begitu saja di samping Barra.
Usai bel kepulangan sekolah berbunyi, Farra, Gabriella, dan Amelia melangkahkan kaki keluar gerbang menuju coffee shop estetis yang tak jauh dari area sekolah. Sesuai rencana awal, ketiga gadis itu berniat menikmati sore untuk melepas penat setelah seharian berkutat dengan kisi-kisi simulasi UN. Namun, ketenangan yang diharapkan Farra tak bertahan lama.
Baru sepuluh menit mereka duduk dan menyesap minuman masing-masing, gemerincing bel pintu coffee shop berbunyi. Barra melangkah masuk dengan santai, disusul oleh Farraz dan Ben di belakangnya. Tanpa canggung sedikit pun, Barra langsung mengarahkan langkahnya menuju meja Farra dan menarik kursi tepat di sebelah istrinya.
"Loh? Kok kalian bertiga ada di sini?" seru Amelia dengan mata membelalak heran.
Ben menghela napas pasrah sembari menunjuk Barra dengan jempolnya. "Tanya tuh sama bos besar. Kita tadi udah siap-siap mau main game di rental, tapi tiba-tiba ditarik paksa buat ngintilin pawangnya."
Barra tak mengindahkan celotehan Ben. Ia merapatkan kursinya, mengambil telapak tangan Farra di atas meja lalu menggenggamnya hangat. "Aku kan udah bilang pagi tadi, aku bakal mendampingi kamu," bisik Barra lembut di samping telinga Farra, membuat pipi Farra mendadak merona merah.
Gabriella memutar matanya jengah, menyandarkan punggung di kursi dengan raut wajah dramatis. "Aduh, tolong ya... ini kita mau hangout santai, bukan mau nonton pertunjukan drama bucin gratis. Farra, kamu janji mau gosip sama kita, bukan mau bikin kita kena serangan gula!"
Keseruan tak berhenti di situ. Selesai dari coffee shop, rombongan darurat itu berlanjut mall-hopping ke pusat perbelanjaan terdekat. Sepanjang mengelilingi pertokoan, Barra seolah tak bisa lepas dari Farra. Ia merangkul pinggang Farra saat menaiki eskalator, membelikan es krim kesukaan Farra, hingga membawakan tas belanjaan Farra tanpa diminta.
Di depan sebuah toko pakaian, Amelia dan Gabriella berdiri berdampingan sambil menatap sejoli itu dengan tatapan pasrah.
"Mel, jujur ya... aku mual," bisik Gabriella sembari menepuk dadanya pelan. "Barra yang biasanya kayak patung es di kelas, sekarang nempel terus kayak perangko. Sehari pacaran serasa udah nikah sepuluh tahun."
Amelia terkekeh sinis namun gemas. "Sama, El. Lihat tuh si Ben sama Farraz aja udah pasrah ngekor di belakang. Niatnya jalan-jalan bertiga, malah jadi tim pemandu sorak hubungan orang."
Farra yang menyadari tatapan jengah dari kedua sahabatnya hanya bisa tersenyum malu dan sesekali mencubit pelan pinggang Barra agar suaminya mengurangi intensitas kemanjaannya di tempat umum. Namun Barra hanya membalasnya dengan tawa renyah, makin mempererat genggaman tangannya seolah ingin menegaskan pada dunia bahwa Farra adalah miliknya.