NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama di Layar Kaca

"Siapa namamu?" tanya Gabriel pelan saat mobil sedan hitam itu terus membelah keheningan jalan raya.

Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus pada gadis di sampingnya dengan posisi bibir yang dibuat sangat jelas.

Amara memegang alat bantu dengar tua di telinganya, menyimak gerak bibir pria itu baik-baik. Jemari tangannya yang kurus kembali terangkat ragu.

Ia meragakan bahasa isyarat untuk mengeja namanya satu per satu, lalu menyatukan kedua telapak tangannya di dada dengan raut sedih.

Gabriel mengernyit pelan, lalu mengambil sebuah ponsel dari saku jasnya. Ia membuka aplikasi catatan dan menyodorkannya ke hadapan Amara.

"Tulis di sini," ucap Gabriel.

Dengan tangan yang gemetar, Amara mengetikkan namanya di layar ponsel tersebut: Amara Valerie Azalea.

Gabriel membaca tulisan itu, lalu bergumam pelan,

"Amara... nama yang indah."

Pria itu kemudian mengambil alih ponselnya kembali dan mengetikkan sesuatu sebelum memperlihatkannya pada Amara.

Gabriel Alexander Raditya.

Amara membaca nama itu dengan mata membelalak pelan. Ia menatap layar ponsel, lalu beralih menatap pria yang duduk gagah di sampingnya.

Nama yang begitu megah, sangat cocok dengan aura dominan dan tato bunga mawar di lehernya yang tampak anggun sekaligus berbahaya.

"Kita sudah sampai," kata Gabriel begitu mobil berhenti di pelataran sebuah penthouse mewah milik pribadi.

Supir pribadi Gabriel bergegas turun dan membukakan pintu. Gabriel keluar lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya yang lebar ke arah Amara.

"Mari turun. Makanan hangatmu sudah menunggu di dalam."

​Saat Amara turun, kini terdengar langkah kaki samar mendekat.

​"Tuan," panggil asisten pribadinya Gabriel yang bernama Reno.

​"Panggil dokter pribadi ke rumah, lalu pesankan alat bantu pendengar yang baru dan kualitasnya paling bagus. Dan, pakaian baru untuk dia," perintah Gabriel tegas.

​"T-tuan?" Reno terbelalak, menatap heran sosok gadis kurus bergaun lusuh yang berdiri di samping atasan dinginnya itu.

​"Apa?" sahut Gabriel dingin dengan nada mengintimidasi, membuat tato mawar di lehernya terpampang makin tegas.

​Reno langsung tersentak sadar dan menunduk hormat.

 "M-maaf, Tuan! Saya mengerti, akan segera saya urus sekarang juga."

​Setelah Reno bergegas pergi menjalankan perintah, Gabriel kembali menoleh pada Amara yang masih berdiri kaku di sampingnya.

Amara memegang alat bantu dengar tuanya yang berdenging, menatap Gabriel dengan jemari yang terangkat ragu.

​‘Kamu tidak perlu repot-repot...’ bisik bahasa isyarat Amara.

​Gabriel menatap gerak tangan itu, lalu berucap pelan dan jelas agar bibirnya mudah dibaca,

"Alatmu sudah tua. Dan mulai malam ini, apa pun tentangmu bukan lagi sebuah kerepotan."

​Tanpa menunggu balasan, Gabriel memandu Amara melangkah masuk ke dalam penthouse megahnya yang hangat.

Saat pintu penthouse terbuka, berbaris beberapa pelayan yang langsung menunduk hormat. Amara begitu sangat terkejut sekali melihat sambutan itu.

Tubuhnya spontan menegang, melangkah mundur bersembunyi di balik tubuh tegap Gabriel.

"Selamat datang, Tuan Gabriel," menyapa wanita paruh baya berseragam rapi yang berdiri di depan para pelayan.

"Bik Sum, siapkan makanan di meja makan sekarang. Yang hangat dan mudah dicerna," perintah Gabriel singkat.

"Baik, Tuan. Makanan sudah siap di meja," jawab Bik Sum ramah, lalu matanya beralih menatap Amara dengan lembut. "Mari, Nona. Saya antar ke meja makan."

Amara menggeleng pelan, tangannya meremas ujung jas Gabriel yang masih melekat di bahunya. Jemarinya bergerak panik meragakan bahasa isyarat.

‘Aku takut... Banyak orang...’

Gabriel menunduk, memastikan wajahnya sejajar dengan Amara agar bibirnya terlihat jelas.

"Jangan takut. Mereka tidak akan menyakitimu."

Bik Sum yang melihat gerakan tangan Amara tampak bingung.

"Tuan... Nona ini..."

"Dia tidak bisa bicara dan mendengar," potong Gabriel tegas. "Kalian cukup layani dia dengan baik. Jangan buat dia takut."

"A-ampun, Tuan. Baik, saya mengerti," sahut Bik Sum kaget, lalu tersenyum hangat ke arah Amara. "Mari, Nona manis. Makanan hangat sudah menunggu."

Gabriel menepuk pelan bahu Amara, lalu menunjuk ke arah meja makan.

"Ayo makan. Kau sudah sangat lapar, kan?"

Amara memandang gerak bibir Gabriel, lalu mengangguk pelan. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Gabriel menuju meja makan mewah yang dipenuhi berbagai hidangan lezat.

Mereka tiba di ruang makan. Mata Amara membelalak, dia tidak menyangka makanan itu sangat banyak sekali. Aromanya yang menggugah selera langsung menusuk hidungnya.

Gabriel menatap Bik Sum.

"Bik, tolong ambilkan buku catatan kecil dan pulpen di nakas ruang kerjaku. Lalu bawa kemari."

"Baik, Tuan," jawab Bik Sum patuh, lalu bergegas pergi.

Amara mendengar begitu samar sekali. Karena kedua alat pendengarnya memang sudah sangat lama sekali.

Tetapi, dia masih memakainya karena perlu. Tangannya meremas gaunnya dengan canggung saat Gabriel menarikkan satu kursi mewah untuknya.

"Duduklah," kata Gabriel, menggerakkan bibirnya secara perlahan dan jelas agar bisa dibaca oleh Amara.

Amara mengangguk pelan, lalu duduk di kursi empuk itu dengan hati-hati.

"Kau boleh makan apa saja yang kau mau," ujar Gabriel lagi sambil menunjuk hidangan di meja.

Jemari Amara terangkat, mencoba meragakan bahasa isyarat.

‘Ini... terlalu banyak. Untukku semua?’

Gabriel mengerutkan alisnya tipis karena belum paham sepenuhnya.

"Aku tahu kau lapar. Makanlah."

Tak lama, Bik Sum datang kembali membawa barang yang diminta.

"Ini buku catatan dan pulpennya, Tuan."

"Terima kasih, Bik. Sekarang kau boleh kembali," kata Gabriel seraya mengambil benda itu.

Gabriel meletakkan buku catatan dan pulpen di depan Amara.

"Mulai sekarang, tulis saja di sini jika kau ingin mengatakan sesuatu padaku," ucap Gabriel tegas namun lembut, sambil menunjuk buku tersebut.

Amara menatap buku catatan itu dengan mata berkaca-kaca, lalu menatap Gabriel. Ia mengambil pulpen tersebut dan mulai menuliskan sesuatu dengan tangan yang gemetar.

"Terima kasih banyak," tulis Amara di dalam buku catatan kecil itu. Tulisan tangannya tampak agak gemetar, namun sangat rapi.

Gabriel mengambil buku itu, membaca dua kata singkat di sana, lalu menatap Amara.

"Tidak perlu berterima kasih," ujar Gabriel pelan dengan artikulasi bibir yang sangat jelas. "Makanlah dulu sebelum dingin."

Amara mengangguk. Ia meraih sendok dengan ragu, lalu menyuapkan sup hangat ke dalam mulutnya.

Matanya seketika berbinar rasa gurih dan hangat langsung melumuri tenggorokannya yang kering, membuat air mata yang sejak tadi ia tahan menetes membasahi pipinya.

Gabriel memperhatikan gadis itu diam-diam. Senyum tipis terukir di bibirnya, membuat tato mawar di lehernya tak lagi tampak begitu menakutkan.

"Pelan-pelan saja," kata Gabriel lembut. "Tidak ada yang akan mengambil makananmu."

Amara buru-buru menyapu air matanya, lalu mengambil pulpen dan kembali menulis sesuatu di buku catatan itu dengan cepat.

“Kenapa kamu sangat baik padaku? Padahal kita baru pertama kali bertemu.”

Amara menyodorkan buku itu ke hadapan Gabriel dengan tatapan penuh rasa ingin tahu dan kecemasan.

Gabriel membaca tulisan itu, lalu memandang Amara lekat-lekat.

"Karena aku tidak suka melihat seseorang diperlakukan tidak adil," jawab Gabriel tegas dan jelas. "Dan aku ingin kamu merasa aman di sini."

Amara tertegun membaca gerak bibir Gabriel. Dadanya mendadak terasa hangat sebuah perasaan asing yang tak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun hidup di rumahnya sendiri.

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!