Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Polisi
"Kurang ajar kamu, Kafka. Mencekik istrimu sendiri hanya demi ingin minta rumah ini," seru Ibu Salma setelah berhasil memukul punggung dan kaki Kafka.
Tadi Nasya pulang ke rumahnya untuk menyusul Ibunya. Namun saat akan masuk rumah, Nasya mendengar suara pertengkaran antara kedua orangtuanya. Nasya pun memilih mengintip dan melihat apa yang terjadi. Saat melihat Ibunya dicekik lehernya oleh Kafka, Nasya segera berlari kembali ke rumah Ibu Salma. Nasya melaporkan kejadian itu pada Ibu Salma. Entah kekuatan darimana, Ibu Salma berlari dari rumahnya sambil membawa sapu lidi padahal kakinya sedang sakit.
Saat melihat Aruna hampir kehabisan nafas setelah mendengar ucapan Kafka tentang rumah, Ibu Salma segera memukulkan sapu lidi itu pada punggung dan kaki anaknya. Hingga Kafka kesakitan dan melepaskan cekikan hingga kuncian pada tubuh Aruna. Melihat Ibunya terlepas dari Kafka, Nasya segera menarik tangan Aruna agar menjauh.
"Cari bantuan tetangga, Nasya. Nanti Ayahmu bisa menyerang balik," ucap Aruna dengan nafas tersengal-sengal.
"Tapi nanti Ibu ke..."
"Cepat, Nasya." Aruna melihat Kafka hendak berdiri karena tadi sempat terjatuh karena pukulan dari Ibu Salma. Kondisi badannya yang melemah dan nafasnya belum stabil, dia tak bisa membantu banyak. Sehingga memilih menyuruh Nasya mencari bantuan. Nasya pun segera pergi keluar rumah dengan air mata yang mengalir.
"Ibu tega sekali memukul Kafka? Aku ini anak Ibu. Jangan salahkan kalau Kafka akan balik memukul Ibu," seru Kafka dengan raut wajah memerah karena emosi yang memuncak. Bahkan Kafka sampai mengancam Ibu Salma dengan akan memukul balik.
"Ayo sini lawan Ibu. Aku colok ini matamu biar nggak bisa lihat sekalian,"
Ibu Salma bersiap menyodorkan sapu lidi itu pada mata Kafka. Organ vital yang menjadi sasarannya itu bisa membuatnya selamat. Kafka tidak menyangka kalau Ibunya akan seberani ini. Padahal setiap kali Kafka melakukan kesalahan, Ibu Salma hanya berani menegur dengan ucapan. Namun kali ini Ibu Salma berani menyakiti fisik dengan memukul. Sepertinya Kafka belum juga sadar bahwa perbuatannya sudah keterlaluan.
"Ibu itu harus bela aku. Ini rumah harus jadi milikku sebagai anakmu, Bu. Sebentar lagi aku dan Aruna akan berpisah. Aku tidak mau rumah ini menjadi miliknya. Aku akan menyelamatkan harta keluarga kita," seru Kafka berusaha menarik simpati dari Ibu Salma.
Prettt...
"Nggak percaya Ibu ini. Ucapanmu itu bau bangkai, jangan bawa-bawa mau menyelamatkan harta keluarga segala. Rumah dan tanah ini milik Aruna juga Nasya. Kamu itu cari sendiri sana. Itu kan yang kamu bilang waktu Ibu akan balik nama rumah ini?" seru Ibu Salma mengingatkan Kafka.
"Itu kan dulu, sekarang beda. Aruna ini cuma mau harta keluarga kita aja, Bu. Ibu yang adil dong," seru Kafka tak terima.
"Aku dan Nasya saja tidak kamu beri nafkah, Mas. Jika aku matre atau ingin hartamu, udah aku kuasai itu uang gajimu. Bahkan rumah ini juga aku tak tahu kalau menjadi atas namaku. Nyatanya sekarang apa? Justru aku yang lemah itu malah kamu manfaatkan. Kamu dengan seenaknya menyimpan uang sendiri tanpa peduli denganku dan Nasya,"
"Kamu ingin kita pisah kan? Talak aku sekarang juga, Mas." seru Aruna dengan tatapan tajamnya.
Seruan itu bersamaan dengan suara beberapa langkah kaki orang yang berlari. Ternyata Nasya berhasil membawa warga sekitar untuk membantu Ibu Salma dan Aruna. Mereka langsung mengamankan Kafka yang memberontak. Pak RT pun datang kemudian meminta semua menjadi saksi dari permasalahan ini. Apalagi tadi beberapa warga mendengar dari Aruna bahwa Kafka menginginkan pisah.
"Lepaskan. Nggak usah pegang-pegang," seru Kafka menepis tangan beberapa warga yang menangkapnya.
"Nasya, kurang ajar ya kamu. Bisa-bisanya melaporkan Ayahmu ke warga sini. Dasar anak durhaka," lanjutnya sambil menunjuk Nasya dengan jari telunjuknya.
Bugh...
Aaaa...
"Turunkan telunjukmu itu, Mas." Aruna yang nafasnya mulai stabil pun langsung mengambil sapu lidi bawaan Ibu Salma. Dia langsung memukulkan sapu lidi itu pada tangan Kafka.
"Nasya bukan anak durhaka," lanjutnya.
Nasya memeluk erat Aruna dari samping karena ketakutan melihat kemarahan Kafka. Badan Aruna pun masih bergetar hebat. Dia tak menyangka kalau Kafka akan melakukan hal yang mengerikan seperti ini padanya. Beruntung ada Ibu Salma yang menyelamatkannya. Dia tak bisa membayangkan kalau tidak ada mertuanya. Mungkin nyawanya sudah melayang. Nasya menangis dalam pelukan Aruna.
"Mohon maaf, ini sebenarnya ada apa ya?" tanya Pak RT mencoba untuk menjadi mediator.
"Kafka melakukan KDRT pada istrinya, Pak RT. Tolong laporkan saja Kafka ke polisi," seru Ibu Salma membuat Kafka dan warga memelototkan matanya.
"Ibu apa-apaan sih? Kafka itu hanya ingin melindungi keluarga kita. Kok malah melakukan KDRT," seru Kafka yang langsung protes. Namun Ibu Salma langsung melengoskan wajahnya.
"Ojo percoyo, Pak." seru Ibu Salma dengan menggunakan bahasa daerah yang begitu kental.
"Percaya aja sama aku. Ini lho Ibu kandungnya udah muak sama anaknya sendiri," lanjutnya.
Pak RT melihat ke arah Aruna dan Nasya yang tampaknya masih shock. Ibu Salma kembali menjelaskan permasalahan tentang rumah ini yang sudah menjadi milik Aruna. Kafka tidak terima dan ingin berpisah. Padahal Ibu Salma sendiri yang memberikannya pada Aruna sesuai dengan permintaan Kafka. Tentu saja Kafka merasa kalah dan ingin pergi dari rumahnya sekarang juga karena malu.
"Mas Kafka, sama istrinya jangan sampai melakukan KDRT. Ini bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Jika Mbak Aruna mau, bisa melaporkan kasus ini ke polisi." ucap Pak RT memberikan arahan.
"Apaan sih? Cuma salah paham antara suami istri kok bawa-bawa polisi. Ibu dan Nasya ini lebay banget," seru Kafka menyalahkan Ibu Salma dan Nasya.
"Tapi Ayah tadi cekik leher Ibu," seru Nasya sambil menangis.
"Saya akan mengurus ini di kepolisian, Pak RT." putus Aruna tiba-tiba saat melihat Nasya.
"Jangan main-main kamu, Aruna. Kamu tidak punya bukti," seru Kafka dengan raut wajah ketakutan.
Bawa dia ke kantor polisi, Pak. Nanti saya akan sewa pengacara untuk mengurus ini,
Ha?
Kafka terkejut mendengar apa yang diucapkan oleh Aruna. Menyewa pengacara demi menjebloskannya ke penjara. Melihat leher Aruna memerah karena bekas tangan pun akhirnya warga memilih untuk membantu pihak perempuan. Walaupun mereka sedikit tak percaya jika Kafka bisa melakukan hal itu. Selama ini image Kafka sangat baik di mata warga sekitar. Sehingga rasanya aneh jika melakukan KDRT.
"Aruna, jangan main-main kamu ya. Kamu akan malu kalau punya suami napi," seru Kafka mencoba memberontak dan kabur dari warga.
"Sebentar lagi juga pisah. Itu kan yang tadi kamu inginkan," seru Aruna dengan lirikan sinisnya.
Bagus, Aruna. Jangan lemah,
Habis ini Ibu jodohkan kamu sama cowok ganteng,
Heh...
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪