Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Setelah menyelesaikan seluruh pembayaran mobil tunai tersebut, Tiyas mengajak kedua orang tuanya menuju ke sebuah mall terbesar di kota.
Tiyas melangkah penuh percaya diri menuju ke sebuah toko emas ternama di dalam area mall.
"Mbak, saya mau lihat gelang yang ini," ucap Tiyas ramah kepada pelayan toko sambil menunjuk sebuah gelang emas putih bertahtakan permata yang tampak sangat anggun di balik etalase kaca.
Ibu menepuk pelan lengan putrinya dengan raut bingung.
"Nduk, apa lagi ini?"
Tiyas menoleh dan tersenyum hangat. "Sekarang, gantian aku membelikan perhiasan untuk Ibu."
"Duh, nduk, tidak usah. Ibu sudah punya, tidak usah beli yang mahal-mahal begini," tolak Ibu halus, merasa tidak enak melihat Tiyas terus-menerus mengeluarkan uang.
"Tidak apa-apa, Ibu," balas Tiyas lembut namun penuh ketegasan.
"Ibu berhak mendapatkan yang terbaik. Selama ini Tiyas belum sempat memanjakan Ibu seperti ini."
Pelayan toko dengan cekatan mengeluarkan gelang cantik tersebut dan memakaikannya ke pergelangan tangan Ibu.
Gelang itu melingkar sempurna, sangat cocok dan menambah kesan anggun pada penampilan ibunya.
"Bagaimana, Bu? Bagus kan? Pas sekali di tangan Ibu," puji Tiyas berbinar-binar.
Ibu menatap gelang di tangannya, lalu beralih menatap wajah Tiyas.
Matanya kembali berkaca-kaca menahan haru. Ia memeluk putri tunggalnya erat-erat di depan toko.
"Terima kasih ya, nduk. Terima kasih banyak," bisik Ibu penuh rasa syukur.
Ayah yang berdiri di samping mereka tersenyum bangga menyaksikan momen tersebut.
Di balik kepedihan atas pengkhianatan Gio, malam itu menjadi saksi kebangkitan Tiyas—seorang wanita tangguh yang kembali menemukan arti kebahagiaan sejati di tengah pelukan hangat keluarga.
Setelah puas berkeliling dan berbelanja, Ayah menepuk pelan pundak Tiyas sambil tersenyum lebar.
"Nah, sekarang giliran Ayah yang mentraktir makan malam!" ucap Ayah penuh semangat.
Tiyas menganggukkan kepalanya dengan ceria. "Siap, Ayah!"
Mereka bertiga melangkahkan kaki keluar dari kawasan mall dan menuju ke sebuah warung legendaris langganan keluarga mereka sejak dulu, yaitu Warung Pak Rinto.
Warung yang selalu ramai pengunjung itu menyajikan aneka hidangan khas yang menggugah selera, mulai dari kupat tahu, nasi goreng, mie goreng, hingga minuman hangat dan segar seperti wedang ronde dan angsle.
Aroma rempah dan tumisan khas kuliner malam seketika menyambut aroma indra penciuman mereka begitu memasuki warung.
"Pak Rinto! Mie goreng satu, rondenya satu ya," pesan Ayah mantap kepada sang penjual.
"Saya kupat tahu satu sama teh hangat ya, Pak," sambung Ibu menimpali.
Sementara Tiyas tersenyum tipis merindukan rasa pedas khas kampung halamannya.
"Saya kupat tahu yang versi pedas banget ya, Pak Rinto, sama es ronde satu."
"Siap, Mbak Tiyas! Ditunggu sebentar ya," sahut Pak Rinto ramah sambil dengan cekatan menyiapkan pesanan mereka.
Sambil menunggu makanan disajikan, Tiyas duduk di antara kedua orang tuanya.
Kehangatan malam itu, suara riuh warung, dan gelak tawa sederhana dari Ayah dan Ibu seolah membalut rapat luka di hatinya, memberinya kekuatan baru untuk melangkah menghadapi apa pun di esok hari.
Mereka menikmati makanan masing-masing dengan penuh kehangatan.
Suasana malam di Magelang yang dingin terasa begitu pas disandingkan dengan hidangan khas Warung Pak Rinto yang melengkapi momen kebersamaan mereka.
Tiyas yang sudah lama sekali tidak makan kupat tahu Pak Rinto memejamkan mata sejenak saat suapan pertamanya masuk ke mulut.
Perpaduan tahu goreng yang renyah di luar namun lembut di dalam, ketupat yang pulen, tauge segar, serta siraman bumbu kacang pedas beraroma bawang goreng yang khas seketika memanjakan lidahnya.
Rasa pedas yang pas dan bumbu gurih khas Magelang itu seolah membawanya kembali ke masa-masa remaja yang polos dan jauh dari rasa sakit hati.
"Bagaimana, nduk? Masih sama kan rasanya?" tanya Ayah di sela-sela menikmati mie goreng hangatnya.
"Masih sama persis, Ayah. Bahkan rasanya jauh lebih enak dari makanan apa pun yang pernah Tiyas makan di restoran mahal," sahut Tiyas tulus sebelum meneguk es ronde segar untuk menetralkan rasa pedas di lidahnya.
Ibu tersenyum lembut menatap putrinya, menyendokkan teh hangatnya pelan.
"Kalau kamu suka, besok-besok kalau pulang ke Magelang, Ibu buatkan sendiri di rumah."
"Beneran ya, Bu?" Tiyas terkekeh ringan, tawa yang kini terasa lebih lepas dan nyata.
Di bawah remang lampu warung sederhana itu, di antara gelak tawa kecil Ayah dan Ibu serta aroma bumbu masakan tradisional, Tiyas menyadari satu hal penting: pengkhianatan Gio dan Mia memang meremukkan pernikahan dan hatinya.
Namun, hal itu justru mengembalikannya ke pelukan orang-orang yang mencintainya tanpa syarat. Dan, dengan dukungan penuh dari Ayah dan Ibunya, Tiyas siap menyusun kembali kepingan hidupnya—menjadi wanita yang jauh lebih kuat, berkelas, dan tak tersentuh.
Setelah selesai makan malam, mereka bertiga pulang ke rumah dengan hati yang jauh lebih ringan dan bahagia.
Sesampainya di halaman rumah, Ayah, Ibu, dan Tiyas dikejutkan oleh keberadaan sebuah mobil SUV hitam mewah yang baru saja dibeli Tiyas sore tadi.
Mobil itu telah terparkir rapi di halaman depan, diantar langsung oleh pihak showroom malam-malam.
Seorang petugas sales turun dari mobil tersebut dan menyerahkan kunci serta berkas-berkas kendaraan kepada Tiyas.
"Terima kasih banyak, Mas. Dan ini tips buat Masnya," ucap Tiyas ramah sambil menyerahkan selembar amplop sebagai bentuk apresiasi atas pelayanan mereka.
"Wah, terima kasih banyak, Bu Tiyas! Selamat menikmati kendaraan barunya," balas sang sales dengan senyum lebar sebelum berpamitan pergi.
Ayah menatap mobil baru itu dengan takjub, lalu beralih menatap putrinya sambil merangkul pundak Tiyas penuh kebanggaan.
"Ayo kita masuk ke dalam, besok pagi kita jalan-jalan pakai mobil baru," ucap Ayah antusias seperti anak kecil yang dibelikan mainan baru. Ibu di samping mereka ikut tersenyum lebar melihat kegembiraan suaminya.
Di tengah suasana hangat malam itu, tiba-tiba ponsel di dalam tas Tiyas berdering nyaring.
Tiyas mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar: Narendra.
Ia segera menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Halo, Naren," sapanya lembut.
"Tiyas, besok aku pulang dari Bali. Aku ingin bertemu dengan kamu," suara Narendra terdengar jelas dari seberang telepon, sarat akan kerinduan dan ketegasan yang menenangkan.
Mendengar nama Narendra, ada kelegaan tersendiri di dada Tiyas.
Pria yang selalu menjadi tempatnya bersandar dan memahami isi hatinya itu akhirnya akan kembali.
"Aku juga, Naren. Besok kita bertemu di rumah makan ayam asap ya. Sekarang aku masih di rumah Ayah di Magelang," jawab Tiyas dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Iya, Tiyas. Titip salam buat beliau berdua ya," balas Narendra ramah.
"Pasti, Naren. Hati-hati di jalan pulangnya besok."
Sambungan telepon pun berakhir. Tiyas menarik napas dalam-dalam, menatap langit malam Magelang yang bertabur bintang.
Dengan kembalinya Narendra dan dukungan penuh dari kedua orang tuanya, Tiyas merasa fondasi hidupnya yang sempat runtuh kini berdiri jauh lebih kokoh dari sebelumnya.
Ayah yang baru saja menutup pagar rumah membalikkan badan, menatap Tiyas dengan raut bertanya.
"Siapa, nduk?" tanya Ayah menunjuk ponsel di tangan Tiyas.
"Narendra, Ayah. Dia ingin bertemu dengan Tiyas. Jadi, besok Tiyas harus kembali ke Yogyakarta," jawab Tiyas jujur, menyembunyikan getar cemas di dadanya.
Ayah berjalan mendekati Tiyas, lalu menepuk pelan bahu putri semata kepangnya itu.
Sorot matanya dipenuhi kebijaksanaan dan rasa percaya yang utuh.
"Iya, nduk. Tidak apa-apa," ucap Ayah lembut namun mantap.
"Selesaikan masalah rumah tanggamu dulu. Waktunya kamu mengambil apa yang menjadi hakmu dan menegakkan kepala."
"Iya, Ayah," sahut Tiyas mantap, menganggukkan kepalanya dengan senyum yang kini tak lagi rapuh.
Ibu mendekat dan merangkul Tiyas dari samping. "Rumah ini akan selalu jadi tempatmu kembali, nduk. Jangan pernah merasa sendiri lagi."
Tiyas menganggukkan kepalanya dan masuk kedalam kamarnya.
Malam itu di Magelang, di bawah atap rumah masa kecilnya, Tiyas tertidur pulas untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Bukan lagi sebagai wanita teraniaya yang meratapi takdir, melainkan sebagai sosok baru yang siap menjemput keadilan di Yogyakarta keesokan harinya.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘