Hati Lilian hancur seketika setelah sang suami, "Alen" kembali dari dinas di luar kota membawa seorang perempuan hamil bersama nya.
"Siapa wanita itu mas? Kenapa kau membawanya pulang ke rumah kita?"
Tiga tahun pernikahan Lilian tidak memiliki anak, karena itu ia memiliki untuk mengabdi sebagai menantu, ipar serta istri yang baik di keluarga "Bayron" ia tidak pernah membocorkan tentang siapa dirinya dan siapa keluarganya, sehingga mereka semua menganggap Lilian sebagai yatim piatu yang tunduk dan patuh.
"Dia istri asisten ku, sesuatu terjadi di luar kota, asisten ku meninggal karena menyelamatkan ku dan sekarang istrinya hanya punya aku dan keluarga ini untuk melanjutkan hidup, atas wasiat asisiteku dia meminta ku untuk menjaga anak dan istrinya,"
Dilanda keputusan suami yang begitu menyakitkan, akan kah Lilian tetap bertahan? Apalagi setelah kedatangan wanita itu, Alen selalu mengabaikan nya.
Penasaran? Ayo baca kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Malam itu Lilian bertahan di ruangan gelap tersebut dengan lilin dan juga roti yang diberikan oleh mata-mata sang papa.
"Sabar Lilian, waktu hanya tersisa besok, secepatnya aku harus berpisah dari mas Alen, kurasa sudah cukup balas budiku padanya selama tiga tahun ini, aku sudah memberikan kekayaan dan juga kehidupan mewah untuk keluarga mereka, awalnya aku berfikir kalau ini akan berlangsung selamanya tapi sepertinya cukup sampai di sini saja," ucap Lilian sambil mengigit roti itu dengan air mata yang menetes hangat di pipinya.
Bayangan masalalu di mana Alen menyelamatkan nya kembali terlintas di benaknya.
Keesokan harinya.
Alen benar-benar membuka pintu tersebut setelah pukul tujuh pagi.
"Bagaimana? Kau sudah sadar dengan perbuatan mu? Apakah setelah ini kau akan melakukan hal jahat itu lagi kepada Tasya dan anak nya?" ucap Alen yang saat ini berdiri di hadapan Lilian setelah membuka pintu.
Cahaya matahari menyinari wajah Lilian, kantong matanya terlihat sangat gelap, meskipun tadi malam ia bisa makan dan juga di temani cahaya lilin, bukan berarti Lilian bisa tidur di dalam gudang yang penuh dengan serangga mengerikan itu, ia terjaga sepanjang malam hanya karena takut para serangga menghampiri dan juga mengigit nya.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan?" tanya Alen.
"Mas Alen," panggil Tasya yang saat itu berjalan menghampiri mereka sambil memegang perutnya.
"Kenapa kau datang ke sini? Jalan nya licin, kau bisa terpeleset," ucap Alen sambil memegang lengan Tasya tepat di hadapan Lilian.
"Laki-laki yang sudah menyentuh wanita lain selain istri dan ibunya adalah laki-laki kotor," batin Lilian berkata sambil menatap betapa romantisnya sang suami dengan wanita pelakor itu.
"Aku hanya ingin memastikan apakah mas Alen benar-benar sudah membebaskan kak Lilian dari gudang atau belum?" ucap Tasya sambil memasang wajah khawatir nya.
"Aku kan sudah bilang aku akan membebaskan nya, kau ini terlalu baik dan lemah, jika kau terus menunjukkan sifat-sifat mu ini di hadapan orang, mereka akan berfikir kau sangat mudah di tindas," ucap Alen dengan nada khawatir.
"Inilah diriku, aku tidak bisa menyembunyikan rasa peduli dan khawatir ku kepada orang lain, apalagi kalau aku sudah menganggap mereka seperti saudaraku sendiri," jelas Tasya lagi.
"Sudah selesai pamer nya? Apakah kalian akan terus melanjutkan perbincangan kalian di hadapan ku atau mau aku pergi sekarang agar tidak menggangu?" ucap Lilian dengan wajah datar.
"Kak Lilian, jangan salah faham, aku ke sini hanya untuk memastikan kalau kau sudah di bebaskan, aku semalaman tidak tidur memikirkan bagaimana keadaan mu, aku khawatir karena aku kalian bertengkar dan kau menerimanya hukuman dari mas Alen," ucap Tasya sambil memegang tangan Lilian.
Lilian yang merasakan tangan Tasya menyentuh dirinya segera menepis dengan kasar.
"Pertama, aku lebih muda darimu, kedua aku tidak butuh rasa khawatir darimu," ucap Lilian sambil tersenyum miring.
"Lilian, sudah menerima hukuman seperti ini, kau masih saja tidak memiliki kesadaran sama sekali, apa lagi yang harus aku lakukan agar kau bisa bersikap baik dan masuk akal seperti Tasya?" tanya Alen sambil mencengkram kuat lengan Lilian.
"Bersikap menjijikan seperti nya? Mimpi saja," jawab Lilian.
Plak ...
Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi Lilian, sangking kuatnya tamparan tersebut membuat sudut bibir Lilian mengeluarkan secerca darah segar.
Alen terdiam sambil menatap telapak tangan nya sendiri, dia tidak menyangka kalau dirinya akan melayangkan pukulan terserah ke wajah sang istri yang selama ini tidak pernah sekalipun dia lukai fisik nya.
Ini juga pertama kalinya bagi Lilian menerima tamparan dari Alen, karena selama ini tidak pernah sang suami main kasar seperti itu.
"Bagus, ini sangat bagus," ucap Lilian sambil memegang pipinya dan menatap Alen dengan tatapan tidak menyangka.
"Lilian, aku tidak sengaja, maafkan aku," ucap Alen yang hendak memegang tangan Lilian.
Dengan cepat Lilian menepis tangan Alen dan berlari pergi meninggalkan mereka.
"Tasya, aku sudah melakukan kesalahan, aku tidak seharusnya menampar Lilian," ucap Alen masih tidak menyangka dengan tangan nya sendiri.
"Mas Alen, aku sama sekali tidak bersalah, dia lah yang terlebih dahulu berkata kasar dan juga tidak sopan dengan mu," ungkap Tasya sambil memegang tangan Alen.
"Benar, aku hanya marah, aku tidak memukul Lilian, iya, aku tidak memukul nya, aku hanya marah," ucap Alen gemetar dan kemudian berlalu pergi dari hadapan Tasya dengan hati dan pikiran yang campur aduk.
"Aku akan minta maaf setelah dia tenang," begitu lah ucapan yang terdengar berulang kali di sebutkan Alen saat dia sedang berjalan.
Sementara itu, Tasya kembali merasakan kemenangan telak setelah melihat secara langsung Alen menampar Lilian di hadapan nya.
"Lilian, cepat atau lambat kau akan segera tersingkir dari rumah ini dan aku lah satu-satunya nyonya di rumah ini yang akan menguasai kekayaan keluarga Bayron serta mas Alen." ucap nya dengan penuh senyum bahagia.
"Nak, kau akan punya ayah, kau juga akan lahir di keluarga kaya, tidak sia-sia rencana yang ibu atur selama beberapa bulan ini," ucap Tasya sambil mengelus perutnya.
Author yakin di momen ini para reader akan merasakan kode alam yang author berikan gang geng gong.
Sementara itu, Lilian masuk ke dalam kamar nya, ia mendapati kalau Alen sama sekali tidak masuk ke dalam kamar tersebut sejak ia di kurung di gudang.
"Syukurlah dia tidak masuk ke kamar," ucap Lilian sambil memperhatikan semua barang yang sudah ia bereskan tidak ada yang tersentuh sama sekali, semuanya stay di posisi masing-masing.
Drt ... Drt ... Drt ...
Tiba-tiba, suara getaran ponselnya membuat Lilian sedikit kaget, "astaga, mengagetkan saja," lirih nya yang kemudian meraih benda pipih tersebut.
Itu adalah sebuah panggilan masuk dari seseorang, Lilian segera mengambil ponselnya dan kemudian menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan masuk itu.
Call on
"Lilian, sudah mengirim berkas yang kau mau ke alamat rumah mu?" ucap suara di sebrang telpon.
"Terima kasih Yulia," jawab Lilian dengan suara lirih.
"Tunggu Lilian, jangan matikan telfon nya, aku punya beberapa pertanyaan untuk mu," ucap sosok yang di panggil Lilian Yulia di sebrang telpon.
"Iya," jawab Lilian sambil menunggu pertanyaan yang akan di ajukan wanita itu.
"Kau yakin dengan keputusan ini? Bukan kah sebelumnya kalian saling mencintai?" ucap Yulia merasa sangat terkejut karena tiga hari lalu Lilian menelpon nya, Lilian meminta bantuan agar di buatkan surat cerai.
Ya, Yulia adalah salah satu teman Lilian dan juga Karin saat ini Yulia bekerja di kantor catatan sipil karena itu Lilian sangat mudah meminta bantuan, dalam tiga hari surat perceraian itu sudah selesai di buatkan.
Bersambung ....
rasa rasa enakan kan ketika ada Lilian,,,uang lancar dapur ngebul rumah bersih,,,tapi kalian jahat lupa semua itu sumbernya dari mana dan merdeka' Lilian kalian kelaparan kapokkk Modarrrr,,,Karin tinggal di mana kalau di Jawa Surabaya ,,,naik saja kereta exekutif gubeng gambir,,,jawa tengah naik argo lawu ,,,
👍👍👍👍