Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. "Tidak perlu naik taksi!"
Pagi berikutnya menyapa kota dengan kehangatan sinar matahari yang lembut. Di dapur rumah yang bersih, aroma roti panggang garing dan keharuman buah-buahan segar menggantung di udara.
Nara, yang sudah berpakaian rapi untuk pergi ke kantor, sibuk merapikan meja makan. Seusai rasa bersalah dan haru yang memenuhi dadanya semalam, ia bertekad untuk membalas perhatian suaminya.
Suara langkah kaki yang teratur dari arah tangga menandakan kehadiran Zaid. Pria itu turun dengan kemeja biru muda yang pas di tubuhnya, rambutnya basah rapi, dan aroma parfum maskulin yang khas langsung memenuhi ruangan.
Nara menoleh, mengukir senyum tulus yang memancarkan rasa hangat.
"Selamat pagi, Zaid."
Zaid sempat tertegun sejenak melihat pemandangan di depannya. Nara berdiri di balik meja makan, menyodorkan piring berisi sandwich isi daging dan telur serta segelas jus jeruk segar.
"Selamat pagi," balas Zaid pelan, melangkah mendekat. Pandangannya beralih ke makanan yang tersaji indah. "Kamu bangun jam berapa? Ini... terlalu repot, Nara."
"Sama sekali tidak repot," potong Nara halus seraya menarikkan kursi untuk Zaid. "Ini belum seberapa dibandingkan sup iga yang kamu siapkan semalam. Maaf ya untuk yang semalam, dan... terima kasih banyak. Makananmu enak sekali."
Zaid duduk, menatap Nara yang kini duduk di seberangnya dengan pipi yang sedikit merona. Ada kepuasan samar di benak Zaid mendengar pujian itu. Pria itu meraih sandwich-nya dan menggigitnya perlahan.
"Enak," puji Zaid singkat namun jujur, membuat senyum Nara makin mengembang. "Lain kali kalau ada lembur lagi, kabari saya lebih awal. Supaya saya tidak perlu memasak porsi ganda."
Nara tertawa kecil, nada suaranya terdengar sangat riang. "Siap, Pak CEO! Saya janji tidak akan lupa lagi."
Percakapan kecil itu berlangsung begitu mengalir tanpa ada sekat ketegangan seperti hari-hari sebelumnya. Ketika mereka selesai sarapan, Zaid berdiri dan meraih kunci mobilnya dari atas meja.
"Ayo, saya antar kamu ke kantor," ujar Zaid datar.
Nara menengadah terkejut. "Eh? Tidak usah, Zaid. Aku bisa naik angkutan umum atau pesan taksi online. Jalur kantor kita kan berbeda arah."
"Mobil saya tidak akan kehabisan bensin hanya karena memutar sedikit," potong Zaid tegas, namun tatapannya lembut. "Lagipula, jalanan jam segini ramai. Ayo."
Nara tidak sanggup menolak ketegasan yang dibalut perhatian itu. Ia mengangguk patuh dan merapikan tasnya, melangkah bersisian dengan Zaid menuju garasi.
.
.
.
Siang harinya, suasana di sebuah kafe berkonsep modern di pusat kota tampak cukup senggang. Zaid bersama asisten pribadinya, Anton, baru saja menyelesaikan rapat penting bersama salah satu klien besar.
"Konsep revisi maketnya sudah disetujui, Pak Zaid. Nanti berkas pertanggungjawabannya langsung saya kirim ke seluruh klien," lapor Anton rapi seraya merapikan dokumen di atas meja kayu kafe tersebut.
"Bagus, Anton. Terima kasih," sahut Zaid seraya berdiri dari kursinya. "Saya ke toilet sebentar. Kamu bisa tunggu di mobil atau di sini."
"Baik, Pak. Saya tunggu di area parkir saja," balas Anton.
Zaid melangkah menuju koridor toilet di bagian belakang kafe. Namun, saat ia melangkah keluar dari area rest room, sebuah sosok tinggi berdiri menyandarkan punggung di dinding koridor, seolah memang sengaja menunggunya.
Itu Devino. Pemilik kafe tersebut sekaligus pria yang minggu lalu membuat hidup Nara berantakan.
Devino menatap Zaid dengan pandangan penuh permusuhan dan kecemburuan yang sengaja diperlihatkan. Ia bersedekap, meneliti Zaid dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Zaid, kan?" tegur Devino dengan nada suara yang menyindir dan meremehkan.
Zaid menghentikan langkahnya. Ekpresi wajahnya tetap tenang, tanpa riak emosi sedikit pun. Ia hanya menatap Devino dingin, menunggu pria itu melanjutkan kalimatnya.
Devino terkeh sinis, melangkah satu tapak lebih mendekat.
"Gua kagum sama ketenangan lu. Tapi gua yakin, Nara pasti sudah cerita soal pertemuan kami minggu lalu. Soal kertas perjanjian yang gua kasih ke dia."
Devino memajukan tubuhnya, berbisik penuh tekanan.
"Lu harusnya tahu diri. Nara nggak pernah mencintai lu. Pernikahan lu itu cuma hasil perjodohan konyol orang tua. Kalau lu punya sedikit saja harga diri sebagai laki-laki, lu bakal tanda tangani kontrak satu tahun itu dan lepasin Nara secara baik-baik."
Keheningan melingkupi koridor tersebut selama beberapa detik. Tatapan Zaid tidak bergeming.
Alih-alih terpancing emosi atau marah, bibir Zaid justru mengukir sebuah senyuman tipis, sebuah senyuman yang begitu tenang namun memancarkan keangkuhan yang elegan.
Zaid merapikan lengan kemejanya santai, lalu menatap Devino lurus di matanya.
"Terima kasih atas sarannya," ucap Zaid, suaranya terdengar begitu berat, mantap, dan terkontrol sempurna. "Tapi seingat saya, sebuah ikatan pernikahan mengikat dua orang di hadapan Tuhan, bukan di atas kertas mainan yang disusun oleh seorang pria yang gagal move on."
Devino mendadak membeku. Wajahnya meretas tegang.
"Nara adalah istri saya secara sah," lanjut Zaid dengan penekanan yang dingin dan menusuk tajam. "Kalau dia memang menganggap kertas kamu itu bernilai, dia tentu sudah menyodorkannya pada saya minggu lalu. Tapi nyatanya? Kertas itu ditinggalkan begitu saja di meja tempat kamu duduk, kan?"
Zaid melangkah maju, memangkas jarak dan menatap Devino dari ketinggian yang mendominasi.
"Jangan pernah ukur pernikahan saya dengan standar ego kamu yang kekanak-kanakan. Permisi."
Tanpa menunggu balasan, Zaid melangkah melewati Devino begitu saja.
Devino berdiri terpaku di tempatnya, matanya membelalak lebar, memerah menahan rasa malu dan amarah yang meluap namun tak sanggup ia balikkan. Kata-kata Zaid barusan benar-benar membuatnya mati kutu.
.
.
Dari kejauhan di dekat pintu keluar koridor, Anton yang tadi berniat menyusul bosnya, tanpa sengaja menyaksikan seluruh interaksi tersebut dari balik pilar.
Anton mengangkat alisnya heran, menatap sosok Devino yang tampak emosional dan frustrasi. Siapa pria itu sampai berani memprovokasi atasannya yang terkenal dingin dan berwibawa? Anton mencatat wajah itu dalam ingatannya.
Zaid melangkah masuk ke dalam mobil SUV hitamnya, disusul oleh Anton yang duduk di kursi kemudi.
"Kita langsung kembali ke kantor, Pak Zaid?" tanya Anton seraya menyalakan mesin mobil.
"Ya, kembali ke kantor," jawab Zaid singkat, menyandarkan punggungnya ke kursi penumpang belakang.
Pikirannya sempat melayang pada kejadian di koridor tadi, namun ia dengan cepat mengibaskan ingatan tentang Devino. Pria itu sama sekali tidak layak menyita waktunya.
Tiba-tiba, ponsel di dalam saku jas Zaid bergetar pelan. Zaid merogohnya dan melihat sebuah pesan WhatsApp masuk.
Dari: Nara
["Zaid, nanti sore setelah pulang kantor aku izin mau mampir ke rumah orang tuaku sebentar ya? Ada beberapa buku sketsa dan alat gambar penting milikku yang tertinggal di sana untuk menunjang pekerjaan di kantor. Aku pulang naik taksi saja nanti. Terima kasih!"]
Mata Zaid tertuju pada dua stiker emotikon lucu di ujung pesan tersebut, sebuah pesan gift dan emoticon wajah tersenyum yang begitu menggemaskan. Itu adalah kali pertama Nara mengirimkan stiker bernuansa ceria padanya.
Tanpa sadar, garis-garis tegas di wajah Zaid perlahan melunak. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat tulus terbit di bibirnya.
Rasa hangat menyapu dadanya seketika, mengikis sisa ketegangan yang sempat dihadirkan Devino tadi.
Zaid mengetik balasan dengan cepat:
["Tidak perlu naik taksi. Kirimkan lokasinya kalau kamu sudah selesai, nanti saya jemput di rumah orang tuamu."]
Lewat kaca spion tengah, Anton yang sedang menyetir tanpa sengaja melihat ekspresi atasannya.
Anton membelalak heran. Pria kaku bernama Zaid yang biasanya hanya menatap layar ponsel dengan raut serius atau datar, kini sedang tersenyum sendirian menatap layar benda pipih itu.
Anton berdehem pelan, mencoba memecah keheningan. "Ekhem... Kelihatannya ada kabar sangat baik ya, Pak Zaid? Sampai Bapak tersenyum begitu."
Zaid mendadak tersadar. Ia buru-buru mematikan layar ponselnya dan kembali memasang raut wajah datarnya yang biasa, walau pendar bahagia di matanya tak bisa disembunyikan.
"Bukan apa-apa, Anton. Fokus saja menyetir," ujar Zaid berdehem pelan untuk menutupi rasa canggungnya.
Anton hanya bisa tersenyum-senyum sendiri di balik kemudi. Ia tahu betul, bosnya yang dingin bagai es batu itu perlahan-lahan mulai meleleh oleh seseorang, dan Anton sangat yakin, orang itu tak lain adalah sang istri.
🪻🪻🪻🪻🪻🪻
"Kedekatan sejati tidak selalu tumbuh dari kata-kata manis yang mengumbar janji, melainkan dari rasa saling menghormati, kepastian untuk saling melengkapi, dan keberanian untuk menjaga satu sama lain di tengah bisingnya gangguan dari masa lalu."
🪻🪻🪻🪻🪻🪻🪻
selamat ya Nara dan Zaid semoga samawa ya🙏