"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Rapat daring dimulai pukul dua tepat.
Di layar, wajah anggota komite pengadaan sekolah tampak kaku. Mereka bukan penggemar Lentera, bukan musuh Danu, dan bukan hakim pidana. Mereka hanya orang-orang yang tiba-tiba harus menjelaskan kenapa pengadaan kasur berubah menjadi keributan publik.
Ketua komite membuka rapat. "PT Arunika Karya Nusantara diminta menjelaskan harga, dokumen uji, dan keberatan terhadap jalur penawaran."
Bima mengambil giliran pertama.
Ia tidak membuka dengan cerita pekerja miskin atau mimpi perusahaan muda. Ia membagikan tabel biaya.
Bahan.
Tenaga kerja.
BPJS.
Tes batch.
Garansi dan pengiriman.
"Harga kami bukan karena kami ingin terlihat baik," kata Bima. "Ini komponen yang bisa dibandingkan. Kalau ada pemasok lebih murah, mohon bandingkan komponen yang sama, bukan hanya angka akhir."
Danu tersenyum di kotak videonya. "Komite tidak membeli kuliah akuntansi. Mereka membeli kasur."
"Kasur yang harganya terlalu murah biasanya tetap dibayar seseorang," jawab Bima. "Bisa pekerja, bisa kualitas, bisa pihak yang diminta membayar di belakang."
Ketua komite mengetuk meja. "Cukup. Kami minta sampel."
Salah satu anggota komite bertanya, "Apakah Arunika bisa menurunkan harga jika volume sekolah besar?"
Bima membuka simulasi kedua. "Bisa turun pada pengiriman dan pembelian bahan massal. Tidak bisa turun pada BPJS, tes minimal, dan upah. Kalau tiga komponen itu hilang, harga memang turun, tetapi risiko pindah ke pihak lain."
Pertanyaan itu mengubah arah rapat. Yang diperdebatkan adalah bagian mana dari harga yang boleh dipotong.
Di ruang pabrik, Hendra sudah berdiri di depan meja potong. Kamera Naya mengarah dari atas. Ada satu sampel Lentera dan satu sampel pesaing anonim yang dibawa komite, bukan dari Arunika.
Hendra memotong keduanya perlahan. Ia tidak menyebut produk lain ilegal. Ia hanya menunjukkan lapisan.
"Ini zona tengah kami. Lebih padat. Sisi ini penguat pinggir. Jahitan ini menahan kain agar tidak menarik busa ke satu arah."
Lalu ia menunjuk sampel sebelah. "Yang ini lebih sederhana. Bisa saja cukup untuk kebutuhan tertentu. Tapi kalau dipakai asrama dengan rotasi berat, komite perlu tes beban, bukan hanya lihat harga."
Seorang anggota komite meminta uji tekan sederhana. Dua staf meletakkan beban di sisi masing-masing sampel. Kamera menangkap perbedaan turunnya permukaan. Cukup jelas untuk membuat ruang rapat diam.
Hendra menukar posisi beban agar tidak ada yang menuduh meja miring. Hasilnya tetap sama. Lentera turun lebih lambat dan kembali lebih rata. Sampel sebelah bekas tekanannya tinggal lebih lama.
"Ini bukan berarti barang lain pasti buruk," kata Hendra. "Ini berarti kalau dipakai penghuni berbeda setiap hari, komite perlu tahu umur pakai yang diharapkan."
Naya memperbesar gambar bekas tekanan. Agar detail yang biasanya hilang di brosur harga terlihat oleh semua orang.
Nadia kemudian bicara.
"Terkait halaman sertifikasi yang beredar, kami hanya menyampaikan anomali format nomor dan sudah menyerahkan salinan kepada komite. Kami tidak meminta komite menyatakan tindak pidana. Kami meminta dokumen tersebut diverifikasi ke penerbit."
Danu tertawa. "Semua dibuat rumit agar harga mahal terlihat benar."
"Kalau sederhana berarti tanpa bukti, kami memilih rumit," kata Nadia.
Komite berunding selama dua puluh menit. Kamera mereka dimatikan. Di ruang pabrik, Dimas mondar-mandir seperti orang menunggu hasil pertandingan. Naya tetap menjaga kamera dokumentasi menyala, tetapi tidak menyiarkan bagian internal.
Hasilnya tidak seperti dongeng.
Ketua komite kembali dan berkata, "Kami tidak memberi kontrak penuh hari ini. Jalur penawaran lama kami hentikan sementara sampai dokumen pemasok diverifikasi. Untuk kebutuhan asrama, komite akan memakai skor teknis terbuka: bahan, uji beban, kapasitas, garansi, dan harga. Arunika boleh masuk daftar uji pasok terbatas."
Danu langsung memotong. "Perusahaan semuda itu tidak punya kapasitas."
Bima sudah siap. Ia membuka halaman kedua.
"Kapasitas aman kami saat ini tiga ratus unit standar per bulan dengan dua sif terbatas. Untuk pesanan sekolah, kami tidak akan menerima di atas angka yang bisa dikirim. Ini daftar pesanan selesai, ini batas produksi, ini kebijakan tidak oversell."
"Kalau kami butuh lima ratus?" tanya anggota lain.
"Kami akan menolak sebagian atau membagi pengiriman tertulis," jawab Bima. "Lebih baik gagal menang tender daripada menang dengan cara membuat murid tidur di lantai karena barang terlambat."
Salah satu anggota komite mengangguk. "Lebih baik angka kecil yang jujur daripada angka besar yang gagal."
Itu bukan kontrak. Tidak ada uang masuk hari itu. Tetapi jalur yang tadinya dikuasai bisik-bisik berubah menjadi tabel terbuka.
Danu mematikan kamera tanpa pamit.
Di ruang pabrik, Dimas mengepalkan tangan. "Dia kabur."
"Dia keluar rapat," kata Naya. "Jangan sebut kabur di materi publik."
"Tapi rasanya seperti kabur."
"Rasa bukan caption."
Raka hampir tertawa. Dua minggu lalu Dimas mungkin sudah membuat potongan video mengejek. Hari ini ia masih kesal, tetapi menunggu kalimat Naya. Itu juga kemenangan kecil.
Bima mengangguk sekali dari depan laptop, tenang.
Raka tidak mengejarnya. Ia justru berkata kepada komite, "Kami menerima keputusan uji pasok. Kalau standar teknis terbuka, kami ikut. Kalau harus bayar biaya di luar dokumen, kami mundur."
Setelah rapat selesai, potongan video uji sampel menyebar. Orang-orang yang kemarin menuduh Lentera mahal mulai membandingkan lapisan dan beban. Sebagian tetap berkata harga murah lebih penting. Tetapi sebagian lain mulai bertanya: kalau untuk asrama, murah berapa lama?
Di gedung lain, jauh dari pabrik Cikarang, sebuah ringkasan internal masuk ke meja Rendra Mahardika.
Nama AKN masih kecil di halaman itu. Namun catatannya membuat Rendra berhenti membaca bagian lain.
Mampu mengubah krisis kualitas menjadi aset merek. Disiplin dokumentasi di atas rata-rata perusahaan baru. Potensi mengganggu kanal furnitur murah dan produk lisensi.
Rendra mengetuk nama itu dengan ujung pena.
"Siapa Raka Pradana?"
Tidak ada jawaban langsung. Tapi pertanyaan itu cukup untuk membuat seseorang mulai mencari.
Di Cikarang, Raka baru selesai menutup laptop ketika telepon Reno masuk.
"Pak Raka," kata Reno. "Saya mau beli satu unit paling mahal."
Raka mengira ia salah dengar. "Untuk ulasan?"
"Untuk ulasan, untuk konten, dan untuk membuktikan apakah kalian berani menjelaskan harga paling gila kalian. Saya bayar sendiri. Enam puluh enam juta rupiah."
Dimas yang mendengar dari samping hampir menjatuhkan ponselnya.
Reno tertawa di seberang. "Tenang. Kalau jelek, saya bilang jelek di depan semua orang."
Raka melihat Bima. Bima sudah membuka kalkulator, wajahnya antara ngeri dan tertarik.
Hari itu mereka tidak mendapatkan kontrak sekolah.
Mereka mendapatkan waktu tampil, daftar pertanyaan, dan risiko dipermalukan di depan orang yang paham kebutuhan sebenarnya.
Raka menyimpan nomor Reno dengan nama lengkap. Panggung seperti itu harus dihadapi sebagai pekerjaan, bukan perjudian ego.
Mereka mendapatkan panggung yang jauh lebih berisik.